Hujan Setahun



Kusampaikan rintihan hatiku yang tengah retak ini, pada malam yang tangiskan rintik hujan. Biar kuhukum diriku berbasah pada setiap tetes-tetesannya. Biar aku sakit, dan menambah sakit yang ada di hati ini.

12 Maret. Aku takkan pernah lupa hari ini. Ya, tepat sehari setelah kita rayakan satu tahun hari jadi kita. Aku takkan lupa, ketika aku meraung di bawah deru sang hujan, menjerit dan menangis. Mendengar cetar suaramu dan egomu yang demikian kutakuti, dingin sikapmu yang tak pernah kuingini, seakan menghapus binar keanggunanmu, tak kulihat sedikitpun kasih sayangmu.

Semangatmu, itu Ceriaku... ^_^



Aku mulai menghitung serpihan embun
Yang sejak kemarin menggugur di taman hati
Sempat sebelumnya hanyalah kabut
Namun kehadiranmu sibakkan fajar
Mengubah kabut menjadi embun
Mengubah gelap menjadi gerlap
Mengubah redup menjadi terik
Mengubah kelabu menjadi pelangi

Ketika Hati Bersimpuh


Oleh: Inu Anwardani


Pada hati yang tertikam
Ada derai yang tertahan
Ada duka yang menghujam
Butiran tasbih memintal Asma
Hadir deru gebu di sana
Merintih pada selaksa cinta
Berwujud amanah yang himpit dada...

Satu demi satu, kukulum hijaiyah-hijaiyah yang terangkai pada mushaf. Kuucap lantun-lantun Kebenaran-Nya pada Kitab Suci. Kucium Quran-ku dengan syahdu. Hening. Khusyuk. Lirih. Pada Ayat-ayat Cinta-Nya, tertabur hatiku menyemai di ladang takwa, berharap kan tumbuh bibit-bibit keimanan segera kutuai.

Ibu, Guru, dan Aku


Oleh: Inu Anwardani

Pagi ini aku ingin menulis sesuatu. Secarik yang sengaja kutulis teruntuk seseorang yang telah membesarkanku dengan penuh arti. Dengan pengorbanan yang sungguh tiada tepi. Seseorang, yang di dalam hatinya tersemat kebahagiaan besar jika buah hatinya bisa meraih mimpinya. Seseorang yang dengan wajah tegar mampu menopang banyak beban meski dalam jerit kehidupan. Seseorang yang senantiasa menyuguhkan kasih sayang yang sempurna, kasih sayang yang dengan lantang tak terbantahkan. Ya, sesosok itu adalah ibuku.

Semesta Cinta


Aku percaya pada datangnya cinta ketika tatapan pertama. Aku sering merasakannya. Betapa mudahnya aku mencintai seseorang hanya dengan melihat, memperhatikan, dan berpapasan. Aku tak tahu, inikah bentuk lain dari cinta ataukah hanya kekaguman biasa. Tapi, bagiku bisa menikmati sejenak cinta yang bersemi meski dalam semenit itu adalah anugerah.

Matemacinta

Siapa yang mengetahui?
Sesungguhnya ada yang tersimpan di sini
Layaknya himpunan pada semesta
Nama itu perlahan mulai kujaga

Berawal dari butir senyum
Kemudian menderet pada rasio kagum
Tiada terdefinisikan
Tutur rindu, hatiku terkombinasikan

Membuncah harap pada satu nama
Bagai volume yang memenuhi ruang benda
Menyulam titik-titik kasih sayang
Sesak cintaku menuju ketakhinggaan

Ingin mengungkapkan rasanya enggan
Tapi nurani kembali bertutur ingkaran
Pada apa persamaan ini kulabuhkan?
Hingga dapat kutemukan penyelesaian

Secara linear aku mencintainya
Namun secara teorema aku telah melanggar-Nya
Sejujurnya aku benci pada aksioma-aksioma
Yang mengharuskanku membuktikan teorema
Tapi aku juga manusia
Yang punya invers kepada insan lainnya

Aku ingin dekat tapi tidak menyentuhnya
Seumpama garis asimtot yang melukis kurva
Aku ingin mengenal dan menyapa
Seperti irisan di dalam himpunannya
Aku ingin berbatas tapi bisa menghargainya
Layaknya limit yang terbatas namun ada nilainya
Aku hanya ingin mengaguminya...

Izinkanlah aku membuka
Jaring-jaring cinta yang mengekang
Pada rasa yang kusembunyikan
Agar cintaku dapat bersembahyang

***

Way Kanan, 11 Maret 2012
Inu Anwardani

Membaca Membahagiakan


Sepertihalnya menulis, membaca juga adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja dipisahkan dari kehidupan. Menulis tanpa membaca merupakan hal fatal karena kita tidak bisa belajar melalui karya-karya banyak orang. Membaca mungkin bisa dilakukan oleh semua orang. Ya, setiap orang bisa menjadi pembaca.

Membaca adalah bentuk apresiasi dari tulisan. Jika tulisan adalah kehidupan yang tertuang dalam bahasa kata-kata, maka membaca adalah melihat kehidupan orang lain bersama suasana emosi yang diciptakan penulisnya. Kerap kali kita membaca sebuah tulisan dan kita tenggelam di dalamnya. Terkadang kita mengambil pelajaran dari tulisan. Ya, banyak keajaiban yang hadir dari suatu kegiatan yang bernama “membaca”.

Menulis Membahagiakan


Bagi saya, menulis adalah menuangkan tinta kehidupan ke dalam kanvas bahasa yang terangkum dalam kata-kata. Oleh karena itu saya mencintai menulis dan membaca. Ketika saya berkata bahwa tulisan adalah hal terpenting bagi hidup saya, maka itu berarti bahwa saya tidak bisa dipisahkan dengan menulis karena tinta kehidupan saya setiap hari harus selalu tertuang.

Menulis itu membahagiakan. Ya, dengan menulis saya bisa mencurahkan segenap apa yang mengganjal sanubari saya. Dengan menulis saya belajar bagaimana menyelesaikan masalah saya. Dengan menulis saya bisa tenggelam dalam lautan emosi yang tanpa sadar tercipta dengan sendirinya. Dengan menulis saya bisa menangis, tertawa, dan juga merenung. Begitu dahsyat yang saya rasakan ketika saya sedang menulis. Seakan saya telah melewati fase kehidupan yang panjang, dan kembali pada garis start begitu tulisan saya terselesaikan. Dan kejadian itu adalah hal yang ajaib bagi saya. Dan itu juga adalah hal yang sangat membahagiakan.


Widget Untuk Blogger FLP

Assalamualaikum, Sahabat? Apa kabar hari ini? Masih antusias menulis, kan? Oke, kali ini saya akan membagikan kepada teman-teman sebuah widget FLP untuk menghias Blog teman-teman. Widget ini saya buat sendiri. Langsung saja, tinggal pilih widgetnya...

Berikut cara memasangnya di Blog: Dasbor > Elemen Halaman > Tambah Elemen > HTML/ JavaScript > Paste-kan script di bawah ini (tinggal pilih widget mana sesuai selera) > Simpan.





Desain Pembatas Buku FLP



Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...