Mengeja, Mengejar, dan Mengejap Untuk Cinta...


Mengeja Untuk Cinta (1)

Ketika sampai waktu, rasa itu hadir sendiri, dengan sejuta tebaran mimpi dan pelangi di hati. Entahlah, kadang aku aneh dengan benda abstrak bernama "Cinta". Entah apalah wujud sejatinya Cinta (entah padat, cair, ataukah gas), yang jelas yang kutahu Cinta itu beracun. Cinta itu bisa meracuni otak siapa saja, mungkin bisa menyebabkan orang kena penyakit gila nomor 5. Mungkin yang dikatakan Habiburrahman ada benarnya, " Dimana-mana yang namanya jatuh cinta itu sama." Iyakah?

EMBUHLAH!! Yang penting dengan naluriku, kunikmati indah-indah ini. Fitrah ini memang begitu membuncah bagi yang merasa. Dan fitrah ini bernama Cinta. Dia menjemput aku yang sudah waktuku.

Ku-eja keindahannya; C-I-N-T-A

Oh, indahnya. Sejuk. Memang sungguh seluruh, ini kukuh, ini mampu menggerakkan hati yang runtuh.

Ku-eja lagi kata itu: C-I-N-T-A

 Yah, kuhirup lagi bau Cinta...

Gambar-gambar Unik






 

 



Biar kita lebih fresh aja. Gambarnya emang unik ya... Bisaan bener orang yang bikin!

Animasi Lucu IPA 1

Photobucket


Hehe, gimana pendapat kamu?  Animasi ini saya buat cuma buat kesenangan aja, ini cuman fiksi. Hehe......

Tentangnya...

By: Inu Anwardani

Tentangnya. Aku membayangnya di sudut subuh penuh kabut. Dengan balutan jilbab putihnya ia berdiri tegap menghadap kiblat di atas sajadah lusuh penuh makna. Matanya tajam surutkan ketidakikhlasan. Getar bibirnya ungkapkan kesungguhan. Dalam fatihah yang membuka rahmah. Dalam rukuk yang penuh tunduk. Dalam sujud yang mewujudkan rasa takut. Dalam salam yang membuka kesejahteraan. Dan doanya yang mengadah penuh pinta dan peluh air mata.

Setelah usai, biasanya dia membangunkanku, ”Akh, tahajud yuk!”

Mereka...

By: Inu Anwardani

Bayangmu kembali tersipu dalam sudut imajiner hatiku. Aku nyengir-nyengir sendiri. Tentangmu, tentang senyummu, tentang jilbabmu, tentang sapaan spesial itu… Ah, aku kembali jadi sarden beku. Proyektor agaknya tengah mereka gambaran klasik kanvas hati kita. Aku mengizinkan sejarah untuk mencatat kisah kita...

* * *

Saat itu, kita bersama. Kau ajak aku terbang dalam nyanyian-nyanyian kebahagiaan dan semburat pink-jingga di pipi dan hati kita. Kita begitu bahagia malam itu. Kamu tentu ingat kan, saat kita jalan berdua di pasar malem? Haha, mungkin orang yang tau akan tertawa melihat kita. Betapa tidak, seorang gadis berjilbab dan seorang ’Itong’ jalan bareng saat pasar malam. Menggelikan bukan? Tapi kutahu sungguh, saat itu buncahan kebahagiaan mengalahkan rasa malu dan keraguan kita.

Setelah kita jalan sana-sini berkeliling lihat barang-barang yang dijajakan ala kadar pasar malam, kuajak kau menaiki Komedi Putar. Awalnya kau takut, tapi akhirnya kau mau juga. Kita memasuki sangkar komedi putar seperti sepasang burung yang kasmaran yang menganggap sangkar sebagai surga. Komedi puta dijalankan. Berputar, berotasi seiring derap adrenalin yang berpacu. Saat sangkar capai titik puncak itu kau menjerit, dan jeritanmu semakin menguat saat sangkar kita dengan sentripetalnya turun dan kembali berputar. Bagai instrumen bethoven yang naik turun. Inilah rahasia gravitasi, kita bagai terbang ayun dan nyawa kita seakan terangkat sejenak. Tak terlukiskan betapa bahagia aku di sangkar itu...

Matematika Fiksi




Naikkan hatimu. Integralkan keberanian itu. Nyatakan padaku! Jangan kau anggap kau ragu. Wujudkan cinta itu. Nol-kan notasi keraguanmu. Integralkan keberanian itu. Nyatakan! Aku begitu sulit untuk jatuh cinta dan juga sulit untuk dicinta. Aku sulit mematematikakan aljabar cinta, karena cinta itu kadang memang sukar untuk dinalar, ditatap, didengar, dan ditulis dalam tetesan tinta penaku. Wujudkan cintamu! Jangan kamu meng-angannya hanya dalam ke-fiksian. Nyatakan! Matematikakan! Jadikan abstraksi-mu padaku nyata adanya.

Determinankan hatiku. Inverskan hatiku. Luluhkan perasaanku hingga singuler dalam harga x himpunan real nyata ungkapanmu. Temukan aljabar cinta di kotak hati yang kusimpan. Temukan! Buat aku bahagia dalam resultan vektormu yang kuat dan dalam. Inverskan hatiku. Transposkan untukku. Determinankan hatimu. Hingga kau kan lihat matriks hati aku dan kamu satu. Aku dan kamu invers. Tidak ada kebohongan. Tidak ada lagi kesinguleran. Tak perlu lagi orang menentukan diskriminan kita karena tak serumit yang mereka bayangkan. Jangan ragu, determinankan hatiku, diferensialkan ciut-mu, nyalakan nyalimu, nyatakan rasamu, buktikan itu dengan harga yang real bukan parsial.

SMS ke-2

By: Inu Anwardani



(Cerpen ini pernah dimuat di Buletin Rohis SMA 1 Bukitkemuning. ‘Zahrotul Islam’ edisi kesepuluh seri “Rumus Canggih”)


Aku berada di sebuah tempat yang entah dimana dan sulit kunama. Belum pernah kukunjungi tempat se-ngeri ini. Entah siapa yang mengantarku ke tempat ini. Tempat ini sepi, sunyi, sendiri, dan tak ada yang menarik apalagi indah di tempat ini. Disini rasanya panas sekali. Membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Matahari itu seumpama lidah-lidah api yang menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau Neraka. Hembusan angin sahara makin membuat panas berlipat dari detik ke detik.


Tiba-tiba bumi menjadi gelap. Mataharinya menghilang. Bintang gemintang berperang seumpama batu yang baru dilepas dari ketapel. Meluncur sana-sini hingga menimbulkan ledakan api yang berkobar. Gunung-gunung melelehkan isi perutnya. Perlahan tempat ini jadi ramai. Jutaan orang berlari dan berjalan bak mayat yang baru bangkit dengan wajah-wajah hancur dan buruk. “Ini Mahsyar.....” bersit hatiku.


Perjalanan Ke Masjid

By: Inu Anwardani


Alkisah ada seorang anak kecil pergi ke masjid bersama ayahnya. Dan tiba-tiba di tengah perjalanan terlihatlah seekor kambing yang sedang makan rumput. Dengan pikiran kecilnya si anak pun berkata,


Anak : Ayah... ayah..., kok Kambing nggak sholat, Yah?
Ayah : Kambing kan binatang, makanya dia nggak sholat!


Si anak kecil pun berpikir sejenak, mencerna apa yang dikatakan oleh ayahnya. Dan tiba-tiba lewatlah seekor monyet. Dengan kepolosannya si anak lantas kembali bertanya,



Tasbih Kecilmu...


By: Inu Anwardani


(Cerpen ini pernah dimuat di Buletin Rohis SMA 1 Bukitkemuning. ‘Zahrotul Islam’ edisi ke-1)


Aku mengenalnya sejak ia SMP. Aku sangat mengenalnya, karena kemanapun ia pergi aku selalu bersamanya. Dia adalah Faris. Dia bukan orang yang kaya, namun ia selalu hidup bersahaja. Dia memang orang biasa, namun jiwanya sungguh luar biasa. Dia bukan Nabi, namun hatinya selalu mengisyaratkan untuk meneladani baginda Nabi Saw, Sang 'Uswatun hasanah' yang seharusnya menjadi idola dan tauladan bagi setiap insan. Faris sungguh tak ingin berpisah denganku, dan aku pun tak ingin terpisah olehnya.


Faris adalah seorang indigo, tapi karena keaktifannya diberbagai organisasi membuatnya banyak dikenal dan disayangi. Namun diantara sekian banyak organisasi yang diikutinya, Rohis menjadi prioritas utamanya. Betapa tidak, islam saat ini membutuhkan generasi yang tangguh, yang mampu menghadapi tantangan perubahan zaman yang notabene telah memojokkan agama ini ke posisi yang paling kelam. Namun betapa kecewanya generasi muslim saat ini seakan 'melempem', patah semangatnya karena terbuai oleh indahnya dunia. Sehingga Faris berkomitmen ingin menguatkan barisan islam.Kalau dulu islam pernah berjaya, itu karena para pendahulunya selalu mempersiapkan generasi muslim yang tangguh, tidak hanya kekuatan fisiknya, tapi juga keimanan mereka. Dari situ Faris berpikir akan menguatkan barisan islam mulai dari aspek keimanan. Ia rasa Rohis lah sarana yang tepat untuk memperkokoh keimanan remaja di SMA-nya.

Bukan Sekedar Mimpi


By: Inu Anwardani


Dari dalam kamarku terlihat bulan mengintipku dari fentilasi jendela kamar. Pendar sinarnya yang meneduhkan menimbulkan keinginanku membuka jendela kamar tuk melihat keindahan taman langit lebih luas. Kulihat langit malam itu. Begitu cerah kukira. Suasana taman langit begitu memesona dengan taburan bintang gemintang di langit-Nya. Bulan yang tadi mengintipku dari fentilasi seakan tak mau kalah dengan terangnya bintang. Ya, bulan itu sedang purnama. Dihadapanku kini terbentang sawah hijau membentang luas. Hawa dingin mulai berhembus pada rerumputan. Dan kesejukan itu pun menelusup melalui hidungku dan kedamaian menjalar di seluruh aliran saraf.


Kulihat lagi taman langit itu, tak ada yang tak seimbang. Allahu akbar… sempurnanya ciptaan-Mu, hingga segalanya tunduk pada-Mu, bertasbih kepada-Mu.


“Yusabbihu lahuma fis sama wait wal ard, wa huwal azizul hakim” (QS. Al-Hasyr : 24)


Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tasbih alam mulai terdengar ditelingaku, karena memang begitulah seharusnya. Hanya jin dan manusia saja lah yang kadang lalai untuk bertasbih memuji Sang Pencipta. Kulihat sekali lagi taman langit itu, tak ada yang cacat, dan penglihatanku pun perlahan dalam kepayahan. Aku payah, Mataku payah, tak ada satu pun yang tak seimbang dan cacat.


“Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah.” (QS. Al-Mulk : 4)

Kupinta Hidayah-Mu


By: Inu Anwardani


(Cerpen ini pernah dimuat di Buletin Rohis SMA 1 Bukitkemuning. ‘Zahrotul Islam’ edisi ke-9. Seri “Seribu Kata Cinta...”)


Ah, dia. Gadis jelita berparas elok berjilbab putih. Aku teringat saat pulang sekolah tadi. Saat ia berkata padaku "Akhi, besok flashdisknya jangan lupa dibawa ya!", ada sesuatu yang lain di hatiku ketika ia memanggilku 'Akhi'. Berdesir, bergetar, dan menelusup direlung jiwaku begitu saja. Kata-kata itu tak bisa kulupakan dan tak bisa kugambarkan. Sepertinya itu adalah kata yang biasa. Tapi entahlah, ada saja bedanya!


Ya, dia lah yang kini mengisi rumah hatiku. Saat tadi satu detik mataku dan matanya beradu. Kutangkap kecantikannya. Mata yang bundar dan bening. Muka yang bersih dengan berbalut jilbab putihnya. Tak bisa kusangkali aku mengaguminya. Dia yang dulu adalah teman sepermainanku dan teman seper'ejek'anku kini telah memenuhi rumah hatiku. Dia yang dulu sering dijodoh-jodohkan oleh teman-teman denganku, kini telah tumbuh dewasa. Dia yang memberi semangat belajarku tumbuh. Dia yang membuat hatiku bergetar ketika namanya disebut. Dia yang seulas senyumnya manis mengembang dan yang sering memanggilku dengan sebutan "Akhi...!". Dia... Dia... Dan Dia. Segala kebaikan wanita ada padanya.

Ketika Menasehati Tak Tengok Diri Sendiri…

By: Inu Anwardani


“Tak ada gading yang tak retak, namun peraturan—ini—sungguh retak sana-sini!”




This entri has been deleted by Owner

Nyore... 61

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Foto Bubar Alumni SMP Tahun 2007

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Animasiku

Photobucket

Hehe.... adegan di atas cuman fiktif. jika ada kesamaan tokoh ataupun lainnya itu emang disengaja. hehe.......


Photobucket

Masa Muda...

Kata orang, masa muda tuh identik dengan masa pencarian jati diri. Kata orang, masa muda adalah masa-masa dimana lagi indah-indahnya menikmati dunia, ampe-ampe kalo di lagu pop tuh mimpinya seindah para dewa (Emang iya???). Kata orang lagi (Emang orang mana sih???), masa muda adalah penentuan keberhasilan dan sebagai agen perubahan. Pernyataan di atas nggak salah-salah amat sih, cos sebagai manusia khususnya pemoeda kerap kali melakukan or berusaha dengan kata-kata orang di atas. Islam saat ini membutuhkan sosok generasi yang tangguh, yang sanggup menghadapi tantangan perubahan zaman yang notabene kini telah memojokkan islam ke sisi yang paling kelam. Coba bayangkan, alangkah indahnya bangunan islam kalo generasi pemudanya adalah kaum terpelajar yang cerdas, memiliki pandangan ke depan yang luas, dan memiliki segudang amunisi untuk mengembalikan izzah islam. Tapi masalahnya nih, para pemoeda sekarang pada ciut ya? Melempem kayak krupuk, nggak sanggup berbuat sebagaimana mestinya pemuda muslim. Kebanyakan pemuda saat ini bisanya cuman ngikutin arus perubahan. Nggak tau itu baik apa nggak tetep diikutin, padahal arus perubahan saat ini sesungguhnya sangat jauh bahkan menentang ajaran islam.

Yang ada di pikiran pemuda saat ini adalah kesenangan, hiburan, gaul, and have fun aja. Hidup mereka hanya untuk hari ini saja. Budaya barat menjadi patokannya. Kamu yang ngakunya umat islam tentunya nyadar kan akan hal ini?! Sehingga tampaklah di hadapan kita generasi islam sebagai generasi yang carut marut, karena selalu mengikuti arus perubahan. Selalu menikmati apa-apa yang dicekoki oleh pihak musuh (orang-orang kafir) dengan senjata ghozwul fikri-nya. Yang menempatkan kemewaha, kemegahan, keindahan, kesenangan, dan budaya barat pokoknya ”The Best Deh!”.

Padahal mah enggak semua kebudayaan barat tuh baek. Malah kayaknya banyak jeleknya ketimbang baiknya. Bener apa bener? Islam tuh engga’ ngelarang umatnya untuk gaul dan bersenang-senang, tapi Asal tetep kekeuh dalam batasan dan aturan islam, ato kalo dalam bahasa gaulnya tuh ”Syar’i”.

Pemuda muslim tuh kudu memiliki komitmen untuk menegakkan barisan islam, bukannya tampil urakan. Pemuda muslim tuh kudu berani, berani menghadapi tantangan dan mampu memecahkan persoalan dengan ide yang matang. Pemuda muslim adalah sosok yang akan membawa perubahan besar bagi agama dan bangsa ini. Pemuda adalah sosok yang siap mengeluarkan manuver-menuver rencana dan ide briliant untuk kesuksesan. Bukannya menghabiskan masa muda hanya untuk kesenangan dan menghambur-hamburkan kesempatan. Inget Fren, masa muda itu datangnya cuman sekali. Raihlah kesempatan yang Allah beri. Sejatinya yang kita butuhkan dalam hidup itu adalah KEBAHAGIAAN bukan KESENANGAN!!!

Coba liat aksi-aksi heroik sodara-sodara kita di Palestina. Sebelum berangkat ke sekolah banyak anak-anak kecil mengumpulkan batu-batu di tas-tas mereka hingga penuh. Trus apa yan mereka lakuin? Mereka bawa batu entu buat ngelempar tu orang Yahudi laknatullah ’alaik. Terus ada juga seorang Ibu yang menasihati anak remajanya, ”Wahai anakku, janganlah kamu pulang ke rumah sebelum menghajar tentara-tentara kafir”, ”Duhai anakku, janganlah engkau pulang sebelum dalam keadaan syahid!”.

Jangan dibilang maen-maen lho, itu beneran! Sungguh, sodara-sodara kita di Palestina memiliki ghirah juang yang tinggi melawan penindasan. Enggak sempet lagi mereka SMS-SMS-an, nggak sempet telpon-telponan. Mereka juga nggak sempet lagi nyantai maen PS kayak yang sering mungkin kamu lakuin. Boro-boro mau seneng-seneng, pas lagi ibadah aja mereka sulit karena takut di brondong oleh moncong-moncong senjata dan bom-bom luar bisasa. Tapi mereka tetep Sholat. Sedang kita? Yang kita lakuin Cuma seneng-seneng bahkan kadang lalai untuk Ibadah kepada Allah. Malah kesenangan itu banyak melanggar bahkan menentang ajaran islam. Contoh kecil aja, Pacaran. Lho kok pacaran??? Iya, pacaran. Sekarang ini yang namanya pacaran udah menjamur dan menjadi hal yang lumrah dalam hidup kita. Kita kadang nglakuin hal seperti itu yang sebenernya islam ngelarang hubungan antara dua insan lawan jenis yang berlebihan.

Allah udah secara tegas ngewanti-wanti manusia lewat firman-Nya di surat Al-Israa (17) ayat 32, “Wa laa taqrobuz zina; innahu kaana faahisyatau wasaa-asabila”. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Ayatnya jelas, larangannya tegas. Jangankan berzina, mendekatinya aja udah dilarang. Trus kok knapa masih juga ngelakuin. Emangnya apa sih yang dirasain pas lagi pacaran? Cuman Have fun aja kan. Apalah arti kesenangan jika dilumuri oleh kenistaan. Inget kenapa yang enak-enak itu dilarang? Karena itu perbuatan setan. Rasulullah juga udah nerangin dalam sabdanya bahwa jika ada seorang laki-laki dan perempuan maka yang ketiganya adalah setan. Nah lho?! Masih mau pacaran???

Sabda Rasulullah,
“Tidak boleh seorang di antaramu berduaan dengan perempuan lain (yang bukan mahramnya).” (HR. Ahmad).

“Sesungguhnya salah seorang di antaramu ditikam dari kepalanya dengan jarum dari besi adalah lebih baik daripada menyentuh seseorang yang bukan mahramnya.” (HR. Thabrani).

Mau kepalamu nanti ditusuk dengan besi? Islam bukannya melarang hubungan antara kaum cewek dan kaum cowok, tapi islam tuh membatasi hubungan antara kedua kaum tersebut agar nantinya tidak terjerumus ke dalam jaring-jaring hitam kemaksiatan seperti contohnya zina, etc. Emang sih, antara laki-laki dan perempuan ntu dari dulunya udah ada perasaan untuk saling mengasihi. And perasaan yang kita sebut cinta tersebut emang sudah ter-set default sejak kita lahir. Tapi..., apakah perasaan suci itu haru and mesti dilampiaskan dalam yang namanya Pacaran??? Enggak kan?! Semestinya perasaan yang seperti itu jangan berlebihan , harus mampu melawan hawa nafsu. Dan perasaan cinta itu tertinggi hanya untuk Allah, Sang Maha Pencipta Cinta. Trus kalo kita dimana kita tempatkan rasa cinta yang tertinggi???

Wahai Mujahid Muda, masa mudamu dipertaruhkan demi tegaknya agama ini. Hilangkanlah kesia-siaan yang dapat menundamu untuk keberhasilan. Manfaatkanlah masa mudamu dengan sebaik-baiknya yang datangnya Cuma sekali.

Mulai sekarang manfaatkanlah waktu muda yang tinggal sebentar ini. Jauhkanlah diri dari perbuatan dan perkataan yang nggak ada gunanya. Peliharalah sholat! Jagalah mata, mulut, telinga, serta kemaluan dari kesiaan. Semuanya itu adalah amanah. Mata kita adalah amanah. Langkah kaki kita adalah amanah. Umur yang diberikan Allah adalah amanah. Amanah adalah ruh agama ini. Tidak sempurna iman seseorang bila tidak amanah, demikian kata Rasulullah.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda, “Allah SWT akan memberikan naungan kepada tujuh golongan manusia pada hari kiamat. Di mana tidak ada naungan ketika itu kecuali naungan Allah:
1. Imam (pemimpin) yang adil
2. Pemuda yang terdidik / terlatih sejak kecil dalam menyembah Allah
3. Seseorang yang hatinya terpaut pada masjid
4. Dua orang yang saling mengasihi karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena Allah
5. Seorang yang dirayu berbuat keji oleh seorang wanita yang cantik, lantas menolak dengan kata lembut, “Aku takut kepada Allah”
6. Seorang yang bersedekah dengan bersembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya
7. seorang yang mengingat Allah waktu bersunyi-sunyi, lantas meleleh air matanya
(Hadits Shahih Bukhari / Muslim)

Masa Muda by Edcoustic

Masa muda usiaku kini
Warna hidup tinggal kupilih
Namun aku telah putuskan
Hidup di atas kebenaran
Masa muda, penuh karya untuk-Mu Tuhan
Yang aku persembahkan sbagai insan beriman

Kini jelas langkah hidupku
Ilahy jadi tujuanku
Apapun yang aku lakukan
Islam slalu jadi pegangan

So, Apapun yang kamu lakukan, Hidup ai atas Kebenaran!!!!

Rohis Oh Rohisku...

By: Inu Anwardani



Beberapa tahun yg lalu genderang kerang berkumandang kencang. Yang sulutkan api kebersamaan, ukhuwah, keterikatan, kesolidan, kepedulian dan juga cinta.

Pertama kali aku brgabung di rohis yg kurasakan ialah seakan temui rumah baru, meski waktu itu hanya ada 3 orang ikhwan hasil rekrutan dari siswa baru. Saat itu (waktu aku kelas X) kurasakan masa-masa indahnya sekolah. Aku begitu mencintai rohis. Mbak Juli waktu itu mnyebutku ikhwan penerus rohis plg smangat, karena menurutny aku militan, meski kadang badung, males, malu2an, dan sering dimarahin (hehe,,). Bgitu juga tmen2 kelas X lainya (yg akhwat2) bgitu semangat jika bicara rohis. Nggak keliat sezarah kesah kalo bicara rohis. Oleh karena itu kakak2 & mbak2 rohis saat itu mengharap byk & bsar trhdp kami. Trutama saat kami memimpin rohis selanjutnya. Di angan mreka pasti rohis saat kami memimpin akan jauh lebih baik karena dianggap kreatf dan solid.

Perlahan masa jabatan mereka habis. Menyisakan byk knangan, hasil, dan kebaikan yg tak dipungkiri yg jd conth, introspeksi. Dan jbatanpun kmi emban dg sgenap trobosan & brilian fikiran. Tapi aneh sngguh2 aneh, benar2 BERES, tak sperti yg diinginkan. Solid itu hilang. Kbersamaan itu musnah. Ukhuwh itu sirna entah knapa. Apa yg ikhwan slah atau yg akhwat? Atau kkak2 kelas 3 yg salah? Atau jangan2 faris yg jadi sebab? Astagfrullah, aq suudzan & tdk tengok diri sndri. Jadilah rohis era tahunku biasa mlah lbih buruk dari sblumya. Antar anggota sungut2an saling salah menyalah. Sok lbih baik & bnar sndiri. Akhrnya yah jadilah, beginilah saudara2. Rohis yg katanya pnuh smangat, kreatf, MANA? Yg katnya militan, solid, hebat, MANA? Mana ruhiyah ruhul jadid itu? Mana? Mana amanah itu? Janji itu?

Bhkan smpai skarang, saat jabatan brada di ujung penggal & trsisa bberapa hari masih ada amanah yg blm tr laksanakn. Blm trealisasikan. Mana tnggng jawab ku, mu, kita, akhi, uhti? Jika sudah sprti ini patutkah qt myesal & brtnya siapa yg paling salah? Jangan hnya bsa myalahkan! Cari solusi!

Ah, Waktu makin habis. Tahu2 sudah kelas 3. Jabatan akan dilepas. Amanah msih mnggantung. Sesal tak brujung. Ingin mngulang hanyalah mimpi. Inilah bukti, saksi, bahwa ada hamba yg bodoh, lalai, trlena. Astagfrullah... :-(

Maaf mbk yeni, mbk juli aq nggak sprt kyk dulu. Maaf kak feri aq nggak bisa sehebat stangguh kak feri. Maaf kakak2 faris: kak hadi, mbk mey, kak hajri, etc aq dah ngelakin amanah ini. Maafin bu rodhiah untuk titah yg kadang dienggankan. Maaf kak aan, mbak evi, aq nggak bisa jaga nama baik dakwah ini. Aq nggak skuat karisma kalian. Maafin tman2, untk aq yg bodoh, angkuh, sombong, lagi trlena. Maafin semua, maaf untuk jabatan yg dimainkan. Maaf rohis, aku nggak cukup brbakti untuk kamu. Afwan semua..., afwanin ibnu untuk semua amanah dakwah yg disiakan & biarkan. Maaf akhi uhti.... Maaf... Maaf! Maaf, Allah, ampuni aku!

Maaf allah! Afwan.. Afwan semua, maaf...

Dan penyesalan itu ada di akhir!

Inget Waktu SMP, heu.....

Sobat, Mana Mungkin aku bisa lupain kalian semua. Luv U All!!!

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Sementara ini baru ini aja Foto yang bisa ku upload, yang laen menunggu. Cos cuma ini aja yang ada di dataku. Siapa yang ada aku minta ya...............

Subhanallah…, Qt Luar Biasa!!

By: Inu Anwardani

Photobucket

Manusia itu adalah makhluk yang paaaaling perfect, paling sempurna. nggak kayak binatang yang cuman diberi nafsu oleh Allah. Nggak juga kayak malaikat yang selalu patuh kepada Tuhannya karena memiliki akal yang superfisial dan wujud yang nggak terlihat.

Allah nyiptain manusia sangat sempurna dengan empat fitrah. Yaitu akal, hati, nafsu, and nggak ketinggalan nurani. Akal Allah kasih ke manusia biar bisa mikir, diberikan hati untuk merasakan, nafsu cenderung ke sifat negatif, dan nurani yang mengarah pada pilihan manusia untuk memilih yang terbaik.

Dengan sifat di atas, manusia dapat melebihi derajat mulia seperti malaikat, atau malah jauh lebih hina dari binatang. Ya tergantung manusia itu sendiri yang memilih jalan hidupnya dengan lebih mengutamakan nafsu atau tidaknya.

Yups, nggak ada kan disini yang pengen jadi binatang? Tapi ada lho yang yang karena memperturutkan hawa nafsu dan akhirnya ampir sama tu olang dengan binatang. Contohnya, berawal dari iseng and coba-coba dia mulai ngerokok, terus ikut-ikutan judi, minum-minuman, terus narkoba, terus berzina, terus... terus dan terus-terusan. Nggak dia liat lagi ajaran islam tuh kayak gimana. Makanya, kita sebagai seorang muslim jangan sampe salah pergaulan dan ngikutin apa aja yang enak-enak dan seneng-seneng di zaman yang udah luar biadab dan luar binatang ini. Padahal mah nggak semua yang enak-enak dan senang itu bisa ngebuat hidup jadi bahagia, malah kadang banyak sengsaranya. Tul nggak?

Rumus Canggih

“Alif lam mim. Sesungguhnya kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang yang bertaqwa.”

(QS. Al-Baqarah : 1-2)

By: Inu Anwardani


Al-Qur’an. Sebuah kata yang udah amat akrab di telinga kita. Siapa sih yang nggak kenal Al-Qur’an? Sebuah kandungan kalam illahi. Sebuah samudera ilmu yang nggak bakal pernah habis untuk digali. Isinya adalah Firman Allah. Nggak ayal isi kandungannya, keindahan bahasanya, ketepatan kandungan yang sesuai dengan final ilmu pengetahuan. Jelas Al-Qur’an nggak mungkin bisa dibuat oleh manusia.

Al-Qur’an tu rumus cangguh deh! Semuanya ada! Rumus tentang keimanan, kebahagiaan, pernikahan, perdagangan, keadilan, kemanusiaan, adab, bahkan rumus tentang ramalan. Tentang peristiwa Big Bang, terbelahnya bulan, langit tujuh lapis, peristiwa dalam rahim ibu, adanya terusan Suez dan Panama, tentang turunnya hujan and masih banyak lagi deh yang nggak bisa disebutin satu persatu mukjizatnya. Nggak salah kalo deh Al-Qur’an tuh sebagai samudera ilmu.

Disamping itu, Al-Qur’an juga adalah kitab yang paling keren. Coba apa ada kitab lain yang ada tata caranya dalam membacanya? Allah merintahinh kita membaca Qur’an dengan tartil. Ada aturannya. Tajwidnya. Lagunya. Adab-adabnya. Biar enak di dengernya. Makanya nggak salah kalo kita dengerin orang yang lagi ngaji gimana gitu..., rasanya masuk banget ke dalem hati kalo dihayatin. Auara Al-Qur’an tu bisa ngehipnotis kita untuk merenung, nangis, tegar, dan bahagia. Pokoknya al-Qur’an the best deh!

Sebagai hamba Allah kita semua kudu baca dengan rajin tu Al-Qur’an. Selain baca tulisannya baca juga terjemahannya. Wah, pokoknya kalo baca terjemahannya pasti bakal ketagihan deh karena keindahan bahasanya. Kalo nggak percaya buktiin aja sendiri! Al-Qur’an saking hebatnya bisa ngebuat seseorang yang mentadaburinya memberikan kekuatan pada yang lemah, mengingatkan bagi yang lupa, ngasih semangat pada orang yang males dan memberi inspirasi bagi orang yang pengen maju.

Masalahnya nih, berapa banyak sih kamu baca Al-Qur’an dalam sehari? 1 juz, 3 lembar, satu halaman, satu ‘ain, or nggak sama sekali? Cuma kamu sendiri deh yang tahu. Syukur deh kalo kamu selalu nyentuh Al-Qur’an tiap hari. Coba liat diri kita, mulut kita banyak ngelantunin Al-Qur’an atau lagu-lagu lain? Yang kita dengerin banyak Al-Qur’an atau yang lain? Banyak baca terjemahan Al-Qur’an atau baca novel bagus yang tebal? Yups, Cuma kita sendiri juga yang tau. Semestinya kita harus lebih banyakkan Al-Qur’an-nya ketimbang yang lain.

Karena kita udah terlalu terbuai ngikutin arus. Tanpa sadar kita tuh udah dibodohi dan diracuni dengan hal yang berbau “enak” dan lantas ninggalin jauh-jauh islam. Padahal tahu nggak kamu, yang bakal nolong kita di akhhirat nanti adalah Al-Qur’an yang kita baca itu! Bukan lagu-lagu, bukan buku, bukan. Rasulullah pernah bersabda,

“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim)

Di akhirat nanti nggak bakal ada gunanya selain ibadah. Salah satunya Al-Qur’an. Siapa yang banyak ngebaca Qur’an, so pasti dapet pahala yang gede and dapet syafaat dari lantunan Qur’an yang pernah kita baca. Dan sebaliknya, buat kita yang nggak pernah mau baca ya wassalam, nikmatin aja siksaannya. Kita kan di dunia udah disuruh ngebaca, “IQRA!” dalam surat Al-Alaq.

Mbaca Qur’an juga pahalanya gede lho, sabda Rasulullah; “Bukanlah kukatakan alif-lam-mim itu satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf, mim satu huruf. Masing-masing huruf diberi pahala sepuluh kebajikan “ (Al-Hadits)

Kata Muhammad Iqbal, perumpamaan membaca Qur’an itu, setiap hari selalu bertambah makna dan kedalaman isi yang akan selalu kita temukan. So, jangan berhenti untuk terus mengkaji Qur’anmu sedikit demi sedikit, kalau bisa malah tiap hari! Selain itu kita akan lebih yahut lagi kalo mengetahui sejarahnya, kodifikasinya, dasar-dasar sistem yang digunakannya, mukjizat- mukjizatnya, juga tata bahasanya. Wuih, Qur’an emang bener-bener samudra ilmu deh!

Seorang penulis Italia, Laura Ceccia Vaglieri berkata, “Bacalah buku ini (Al-Qur’an ), ia tidak membosankan, bahkan dengan mengulang- ulang membacanya akan bertambah kecintaan kita. Ia memberikan perasaan hormat yang mendalam dan juga wibawa.” Nah lho, orang barat aja buktinya mbaca Al-Qur’an, masak kita enggak?!

So, sebelum kamu-kamu nyesel karena nggak sempet memahami kitabmu sendiri, buruan baca deh Al-Qur’an. Karena dengannya kita bisa Full Barokah di dunia dan bahagia di Akhirat. Yok kita ngaji!!!

““Yang terbaik diantara kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an”

(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ashabus Sunan)

$ $ $

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...