Mengeja, Mengejar, dan Mengejap Untuk Cinta...


Mengeja Untuk Cinta (1)

Ketika sampai waktu, rasa itu hadir sendiri, dengan sejuta tebaran mimpi dan pelangi di hati. Entahlah, kadang aku aneh dengan benda abstrak bernama "Cinta". Entah apalah wujud sejatinya Cinta (entah padat, cair, ataukah gas), yang jelas yang kutahu Cinta itu beracun. Cinta itu bisa meracuni otak siapa saja, mungkin bisa menyebabkan orang kena penyakit gila nomor 5. Mungkin yang dikatakan Habiburrahman ada benarnya, " Dimana-mana yang namanya jatuh cinta itu sama." Iyakah?

EMBUHLAH!! Yang penting dengan naluriku, kunikmati indah-indah ini. Fitrah ini memang begitu membuncah bagi yang merasa. Dan fitrah ini bernama Cinta. Dia menjemput aku yang sudah waktuku.

Ku-eja keindahannya; C-I-N-T-A

Oh, indahnya. Sejuk. Memang sungguh seluruh, ini kukuh, ini mampu menggerakkan hati yang runtuh.

Ku-eja lagi kata itu: C-I-N-T-A

 Yah, kuhirup lagi bau Cinta...

Gambar-gambar Unik






 

 



Biar kita lebih fresh aja. Gambarnya emang unik ya... Bisaan bener orang yang bikin!

Animasi Lucu IPA 1

Photobucket


Hehe, gimana pendapat kamu?  Animasi ini saya buat cuma buat kesenangan aja, ini cuman fiksi. Hehe......

Tentangnya...

By: Inu Anwardani

Tentangnya. Aku membayangnya di sudut subuh penuh kabut. Dengan balutan jilbab putihnya ia berdiri tegap menghadap kiblat di atas sajadah lusuh penuh makna. Matanya tajam surutkan ketidakikhlasan. Getar bibirnya ungkapkan kesungguhan. Dalam fatihah yang membuka rahmah. Dalam rukuk yang penuh tunduk. Dalam sujud yang mewujudkan rasa takut. Dalam salam yang membuka kesejahteraan. Dan doanya yang mengadah penuh pinta dan peluh air mata.

Setelah usai, biasanya dia membangunkanku, ”Akh, tahajud yuk!”

Mereka...

By: Inu Anwardani

Bayangmu kembali tersipu dalam sudut imajiner hatiku. Aku nyengir-nyengir sendiri. Tentangmu, tentang senyummu, tentang jilbabmu, tentang sapaan spesial itu… Ah, aku kembali jadi sarden beku. Proyektor agaknya tengah mereka gambaran klasik kanvas hati kita. Aku mengizinkan sejarah untuk mencatat kisah kita...

* * *

Saat itu, kita bersama. Kau ajak aku terbang dalam nyanyian-nyanyian kebahagiaan dan semburat pink-jingga di pipi dan hati kita. Kita begitu bahagia malam itu. Kamu tentu ingat kan, saat kita jalan berdua di pasar malem? Haha, mungkin orang yang tau akan tertawa melihat kita. Betapa tidak, seorang gadis berjilbab dan seorang ’Itong’ jalan bareng saat pasar malam. Menggelikan bukan? Tapi kutahu sungguh, saat itu buncahan kebahagiaan mengalahkan rasa malu dan keraguan kita.

Setelah kita jalan sana-sini berkeliling lihat barang-barang yang dijajakan ala kadar pasar malam, kuajak kau menaiki Komedi Putar. Awalnya kau takut, tapi akhirnya kau mau juga. Kita memasuki sangkar komedi putar seperti sepasang burung yang kasmaran yang menganggap sangkar sebagai surga. Komedi puta dijalankan. Berputar, berotasi seiring derap adrenalin yang berpacu. Saat sangkar capai titik puncak itu kau menjerit, dan jeritanmu semakin menguat saat sangkar kita dengan sentripetalnya turun dan kembali berputar. Bagai instrumen bethoven yang naik turun. Inilah rahasia gravitasi, kita bagai terbang ayun dan nyawa kita seakan terangkat sejenak. Tak terlukiskan betapa bahagia aku di sangkar itu...

Matematika Fiksi




Naikkan hatimu. Integralkan keberanian itu. Nyatakan padaku! Jangan kau anggap kau ragu. Wujudkan cinta itu. Nol-kan notasi keraguanmu. Integralkan keberanian itu. Nyatakan! Aku begitu sulit untuk jatuh cinta dan juga sulit untuk dicinta. Aku sulit mematematikakan aljabar cinta, karena cinta itu kadang memang sukar untuk dinalar, ditatap, didengar, dan ditulis dalam tetesan tinta penaku. Wujudkan cintamu! Jangan kamu meng-angannya hanya dalam ke-fiksian. Nyatakan! Matematikakan! Jadikan abstraksi-mu padaku nyata adanya.

Determinankan hatiku. Inverskan hatiku. Luluhkan perasaanku hingga singuler dalam harga x himpunan real nyata ungkapanmu. Temukan aljabar cinta di kotak hati yang kusimpan. Temukan! Buat aku bahagia dalam resultan vektormu yang kuat dan dalam. Inverskan hatiku. Transposkan untukku. Determinankan hatimu. Hingga kau kan lihat matriks hati aku dan kamu satu. Aku dan kamu invers. Tidak ada kebohongan. Tidak ada lagi kesinguleran. Tak perlu lagi orang menentukan diskriminan kita karena tak serumit yang mereka bayangkan. Jangan ragu, determinankan hatiku, diferensialkan ciut-mu, nyalakan nyalimu, nyatakan rasamu, buktikan itu dengan harga yang real bukan parsial.

SMS ke-2

By: Inu Anwardani



(Cerpen ini pernah dimuat di Buletin Rohis SMA 1 Bukitkemuning. ‘Zahrotul Islam’ edisi kesepuluh seri “Rumus Canggih”)


Aku berada di sebuah tempat yang entah dimana dan sulit kunama. Belum pernah kukunjungi tempat se-ngeri ini. Entah siapa yang mengantarku ke tempat ini. Tempat ini sepi, sunyi, sendiri, dan tak ada yang menarik apalagi indah di tempat ini. Disini rasanya panas sekali. Membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Matahari itu seumpama lidah-lidah api yang menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau Neraka. Hembusan angin sahara makin membuat panas berlipat dari detik ke detik.


Tiba-tiba bumi menjadi gelap. Mataharinya menghilang. Bintang gemintang berperang seumpama batu yang baru dilepas dari ketapel. Meluncur sana-sini hingga menimbulkan ledakan api yang berkobar. Gunung-gunung melelehkan isi perutnya. Perlahan tempat ini jadi ramai. Jutaan orang berlari dan berjalan bak mayat yang baru bangkit dengan wajah-wajah hancur dan buruk. “Ini Mahsyar.....” bersit hatiku.


Perjalanan Ke Masjid

By: Inu Anwardani


Alkisah ada seorang anak kecil pergi ke masjid bersama ayahnya. Dan tiba-tiba di tengah perjalanan terlihatlah seekor kambing yang sedang makan rumput. Dengan pikiran kecilnya si anak pun berkata,


Anak : Ayah... ayah..., kok Kambing nggak sholat, Yah?
Ayah : Kambing kan binatang, makanya dia nggak sholat!


Si anak kecil pun berpikir sejenak, mencerna apa yang dikatakan oleh ayahnya. Dan tiba-tiba lewatlah seekor monyet. Dengan kepolosannya si anak lantas kembali bertanya,



Tasbih Kecilmu...


By: Inu Anwardani


(Cerpen ini pernah dimuat di Buletin Rohis SMA 1 Bukitkemuning. ‘Zahrotul Islam’ edisi ke-1)


Aku mengenalnya sejak ia SMP. Aku sangat mengenalnya, karena kemanapun ia pergi aku selalu bersamanya. Dia adalah Faris. Dia bukan orang yang kaya, namun ia selalu hidup bersahaja. Dia memang orang biasa, namun jiwanya sungguh luar biasa. Dia bukan Nabi, namun hatinya selalu mengisyaratkan untuk meneladani baginda Nabi Saw, Sang 'Uswatun hasanah' yang seharusnya menjadi idola dan tauladan bagi setiap insan. Faris sungguh tak ingin berpisah denganku, dan aku pun tak ingin terpisah olehnya.


Faris adalah seorang indigo, tapi karena keaktifannya diberbagai organisasi membuatnya banyak dikenal dan disayangi. Namun diantara sekian banyak organisasi yang diikutinya, Rohis menjadi prioritas utamanya. Betapa tidak, islam saat ini membutuhkan generasi yang tangguh, yang mampu menghadapi tantangan perubahan zaman yang notabene telah memojokkan agama ini ke posisi yang paling kelam. Namun betapa kecewanya generasi muslim saat ini seakan 'melempem', patah semangatnya karena terbuai oleh indahnya dunia. Sehingga Faris berkomitmen ingin menguatkan barisan islam.Kalau dulu islam pernah berjaya, itu karena para pendahulunya selalu mempersiapkan generasi muslim yang tangguh, tidak hanya kekuatan fisiknya, tapi juga keimanan mereka. Dari situ Faris berpikir akan menguatkan barisan islam mulai dari aspek keimanan. Ia rasa Rohis lah sarana yang tepat untuk memperkokoh keimanan remaja di SMA-nya.

Bukan Sekedar Mimpi


By: Inu Anwardani


Dari dalam kamarku terlihat bulan mengintipku dari fentilasi jendela kamar. Pendar sinarnya yang meneduhkan menimbulkan keinginanku membuka jendela kamar tuk melihat keindahan taman langit lebih luas. Kulihat langit malam itu. Begitu cerah kukira. Suasana taman langit begitu memesona dengan taburan bintang gemintang di langit-Nya. Bulan yang tadi mengintipku dari fentilasi seakan tak mau kalah dengan terangnya bintang. Ya, bulan itu sedang purnama. Dihadapanku kini terbentang sawah hijau membentang luas. Hawa dingin mulai berhembus pada rerumputan. Dan kesejukan itu pun menelusup melalui hidungku dan kedamaian menjalar di seluruh aliran saraf.


Kulihat lagi taman langit itu, tak ada yang tak seimbang. Allahu akbar… sempurnanya ciptaan-Mu, hingga segalanya tunduk pada-Mu, bertasbih kepada-Mu.


“Yusabbihu lahuma fis sama wait wal ard, wa huwal azizul hakim” (QS. Al-Hasyr : 24)


Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tasbih alam mulai terdengar ditelingaku, karena memang begitulah seharusnya. Hanya jin dan manusia saja lah yang kadang lalai untuk bertasbih memuji Sang Pencipta. Kulihat sekali lagi taman langit itu, tak ada yang cacat, dan penglihatanku pun perlahan dalam kepayahan. Aku payah, Mataku payah, tak ada satu pun yang tak seimbang dan cacat.


“Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah.” (QS. Al-Mulk : 4)

Kupinta Hidayah-Mu


By: Inu Anwardani


(Cerpen ini pernah dimuat di Buletin Rohis SMA 1 Bukitkemuning. ‘Zahrotul Islam’ edisi ke-9. Seri “Seribu Kata Cinta...”)


Ah, dia. Gadis jelita berparas elok berjilbab putih. Aku teringat saat pulang sekolah tadi. Saat ia berkata padaku "Akhi, besok flashdisknya jangan lupa dibawa ya!", ada sesuatu yang lain di hatiku ketika ia memanggilku 'Akhi'. Berdesir, bergetar, dan menelusup direlung jiwaku begitu saja. Kata-kata itu tak bisa kulupakan dan tak bisa kugambarkan. Sepertinya itu adalah kata yang biasa. Tapi entahlah, ada saja bedanya!


Ya, dia lah yang kini mengisi rumah hatiku. Saat tadi satu detik mataku dan matanya beradu. Kutangkap kecantikannya. Mata yang bundar dan bening. Muka yang bersih dengan berbalut jilbab putihnya. Tak bisa kusangkali aku mengaguminya. Dia yang dulu adalah teman sepermainanku dan teman seper'ejek'anku kini telah memenuhi rumah hatiku. Dia yang dulu sering dijodoh-jodohkan oleh teman-teman denganku, kini telah tumbuh dewasa. Dia yang memberi semangat belajarku tumbuh. Dia yang membuat hatiku bergetar ketika namanya disebut. Dia yang seulas senyumnya manis mengembang dan yang sering memanggilku dengan sebutan "Akhi...!". Dia... Dia... Dan Dia. Segala kebaikan wanita ada padanya.

Ketika Menasehati Tak Tengok Diri Sendiri…

By: Inu Anwardani


“Tak ada gading yang tak retak, namun peraturan—ini—sungguh retak sana-sini!”




This entri has been deleted by Owner

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...