Bukan Sekedar Mimpi


By: Inu Anwardani


Dari dalam kamarku terlihat bulan mengintipku dari fentilasi jendela kamar. Pendar sinarnya yang meneduhkan menimbulkan keinginanku membuka jendela kamar tuk melihat keindahan taman langit lebih luas. Kulihat langit malam itu. Begitu cerah kukira. Suasana taman langit begitu memesona dengan taburan bintang gemintang di langit-Nya. Bulan yang tadi mengintipku dari fentilasi seakan tak mau kalah dengan terangnya bintang. Ya, bulan itu sedang purnama. Dihadapanku kini terbentang sawah hijau membentang luas. Hawa dingin mulai berhembus pada rerumputan. Dan kesejukan itu pun menelusup melalui hidungku dan kedamaian menjalar di seluruh aliran saraf.


Kulihat lagi taman langit itu, tak ada yang tak seimbang. Allahu akbar… sempurnanya ciptaan-Mu, hingga segalanya tunduk pada-Mu, bertasbih kepada-Mu.


“Yusabbihu lahuma fis sama wait wal ard, wa huwal azizul hakim” (QS. Al-Hasyr : 24)


Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tasbih alam mulai terdengar ditelingaku, karena memang begitulah seharusnya. Hanya jin dan manusia saja lah yang kadang lalai untuk bertasbih memuji Sang Pencipta. Kulihat sekali lagi taman langit itu, tak ada yang cacat, dan penglihatanku pun perlahan dalam kepayahan. Aku payah, Mataku payah, tak ada satu pun yang tak seimbang dan cacat.


“Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah.” (QS. Al-Mulk : 4)



Aku jadi teringat waktu kecil, saat itu aku suka sekali menghitung bintang. Saat usia 5 tahun terdapat 5781 bintang saat itu. Aku jadi penasaran berapakah bintang saat ini? Aku pun keluar rumah dan mencoba tuk hitung bintang, 1, 2, 3, 4, 5, … dan tiba-tiba 10 meter di atas kepalaku ada kabut asap. Asap yang bergumpal-gumpal itu berjalan ke bawah mendekatiku, 5 meter, 4 meter, 3 meter… dan tiba-tiba asap itu telah bergelut menyelimutiku. Aku batuk, aku sesak dibuat oleh benda sialan tak berguna itu. Satu detik kemudian aku melayang, gamang, meninggalkan jasadku. Aku bingung apa yang telah terjadi padaku? Apa aku sudah mati? Kurasa tidak!


Aku terus melayang jauh menuju sebuah negeri yang entahlah apa namanya ini. Aku tak tahu lagi inikah mimpi ataukah ilusi? Apakah aku sudah mati? Kurasa tidak!


Makin lama aku pun makin tinggi. Pun makin dekat aku dengan bulan, dan semakin mudah bagiku untuk menghitung bintang. Aku rasa tubuhku tak lagi bermassa, ringan, dan terus melaju menaklukkan langit ketujuh.


Merasa ada yang aneh dengan apa yang terjadi padaku aku pun berontak. Aku belum ingin mati. Aku tak ingin gelap. Aku tak ingin seperti ini. Namun berontakku pun percuma, umpatanku percuma. Tak ada gunanya karena aku tetap melayang dalam kesunyian yang kudus, aku tak bisa keluar dari alam yang entahlah apa namanya ini. Aku benci ini, aku ingin kembali ke duniaku!


Tiba-tiba entah dari mana asalnya sayup-sayup suara aneh terdengar dan diikuti dentuman keras dari relung jiwaku. Aku terdiam, aku terpasung mendengar suara sayup itu. Suara itu begitu mengiris-iris qalbu, mengaduk-aduk seluruh perasaanku. Hingga sayup suara itu mendekatiku dan terdengar jelas.


“Fabiayyia ala irobbikuma tukadziban?” demikianlah bunyi suara itu. Semakin dekat dan kuat, lebih dekat dari telingaku, lebih dekat dari jantungku hingga membuatku pesakitan. Aku tahu betul suara itu, suara itu adalah ayat pada surat ke 55 Ar-Rahman yang artinya: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”


Suara itu terus terdengar dan diulang-ulang sebagaimana dalam surat Ar-Rahman. Namun aku tetap terpasung, bibirku kelu tak bisa digerakkan menjawab ayat tersebut. Tak bisa aku menyebutkan segala nikmat-Nya yang telah telah kudustakan dengan lakuku…


Tiba-tiba suara sayup-sayup itu mulai menghilang. Ya, menghilang. Oh tidak, bukan suara itu yang menghilang dariku. Tapi aku yang menjauh dari suara itu hingga suaranya menghilang karena aku makin melayang tinggi dengan sangat cepat. Saat kutengok ke arah belakangkuaku terkejut melihat suatu pusaran besar yang menyeramkan. Oh tidak, inilah ‘Black Hole’… lubang hitam yang yang mampu menyedot benda-benda angkasa itu berputar dan aku pun tersedot. Aku tak bisa membayangkan sebelumnya bahwa black hole begitu menyeramkan bak neraka seperti ini. Aku makin dekat dengan pusat pusarannya. Kulihat benda-benda angkasa juga mulai tersedot ke dalamnya. Dan……


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..!”


* * * *



“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..!”


Aku seperti pesakitan. Nafasku seakan terhenti. Dan di puncak ketakutan itulah tiba-tiba aku terjaga. Rupanya aku bermimpi. Tapi apa benar ini mimpi? Kalaupun ini mimpi pastilah bukan sembarang mimpi. Pastilah ini mimpi yang dikirimkan oleh seribu malaikat untuk memperingatkanku tentang tanda-tanda kehidupan sejati yang tertulis dalam Lauhul Mahfuzh di atas 'Arsy. Aku semakin yakin akan tanda-tanda itu. Aku teringat suara tadi di mimpi yang menurutku bukanlah lagi sebuah mimpi. Apakah maksud dari mimpi itu? Apa karena aku yang kurang bersyukur?


"Ooo, baru sekarang kau sadar bahwa selama ini tak bersyukur? Kau itu kurang bersyukur, teman! Inikah perlakuan manusia sebagai khalifah di bumi hingga tak tahu lagi siapakah yang memberi karunia? Sadarkah kamu bahwa ibadah yang kamu lakukan itu tiada sebanding dengan limpahan rahmat-Nya? Ingatkah kamu bahwa esok adalah hari kelahiran Nabimu? Sudahkah kamu jadikan ia tauladan tertinggi bagimu? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" lubuk hatiku yang terdalam tiba-tiba menghujamiku dengan kata-kata itu.


Ah, mukaku penuh dengan keringat. Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Kubuka jendela kamarku, taman langit gelap tanpa bintang. Bulan pun masih tersesat dibalik mega-mega itu. Dihadapanku tak ada sawah yang luas, yang ada hanyalah deretan rumah-rumah tetangga. Ah, mimpi. Selalu saja menampakkan suatu keindahan dan ketakutan yang tak mungkin. Lihatlah taman langit itu, tak seindah dalam mimpi. Yang ada hanyalah rupa yang muram, suram, dan guram.


* * * *

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...