Kupinta Hidayah-Mu


By: Inu Anwardani


(Cerpen ini pernah dimuat di Buletin Rohis SMA 1 Bukitkemuning. ‘Zahrotul Islam’ edisi ke-9. Seri “Seribu Kata Cinta...”)


Ah, dia. Gadis jelita berparas elok berjilbab putih. Aku teringat saat pulang sekolah tadi. Saat ia berkata padaku "Akhi, besok flashdisknya jangan lupa dibawa ya!", ada sesuatu yang lain di hatiku ketika ia memanggilku 'Akhi'. Berdesir, bergetar, dan menelusup direlung jiwaku begitu saja. Kata-kata itu tak bisa kulupakan dan tak bisa kugambarkan. Sepertinya itu adalah kata yang biasa. Tapi entahlah, ada saja bedanya!


Ya, dia lah yang kini mengisi rumah hatiku. Saat tadi satu detik mataku dan matanya beradu. Kutangkap kecantikannya. Mata yang bundar dan bening. Muka yang bersih dengan berbalut jilbab putihnya. Tak bisa kusangkali aku mengaguminya. Dia yang dulu adalah teman sepermainanku dan teman seper'ejek'anku kini telah memenuhi rumah hatiku. Dia yang dulu sering dijodoh-jodohkan oleh teman-teman denganku, kini telah tumbuh dewasa. Dia yang memberi semangat belajarku tumbuh. Dia yang membuat hatiku bergetar ketika namanya disebut. Dia yang seulas senyumnya manis mengembang dan yang sering memanggilku dengan sebutan "Akhi...!". Dia... Dia... Dan Dia. Segala kebaikan wanita ada padanya.



Tak mampu kulupakanmu dengan kenangan dalam ceria canda tawa kebahagiaan. Sampai-sampai aku takut jika harus kehilanganmu. Sampai-sampai sebelum tidur pun aku selalu menghadirkan senyummu. Sepertinya senyummu adalah obat penghantar tidurku. Rasa ini indah kurasa, namun kadang mengekang dan menjadi beban bagiku. Ya Allah, rasa ini fitrah ataukah ujian buatku? Apa setan kah yang merasuki pikiranku? Tapi mengapa mereka berhasil?


"Assalamu’alaikum warahmatullah!" suara salam terdengar


"Astaghfirullah..." ucapku tersentak ketika salam terdengar dari suara imam usai sholat. Aku tertinggal dua rakaat karena memikirkan dia?! Malunya aku yang sedari tadi hanya berdiri ketika imam telah rukuk, i'tidal, serta sujud. Bodohnya aku hingga tak terdengar lagi suara imam itu. Hinanya aku hingga dalam sholat masih bisa berbuat maksiat.


Aku terhenyak ketika beberapa anak kecil yang sholat di shof kedua mengejekku. Aku begitu malu pada mereka. Aku yang sudah dewasa harusnya tidak ada kesalahan dalam sholat. Namun aku tidak rukuk, i'tidal, serta sujud saat imam telah bertakbir karena memikirkan seorang hamba. sedang mereka meskipun ribut dalam sholat tetapi masih mengikuti imam. Betapa bodohnya aku yang kalah dengan anak kecil...! Dan aku begitu tercuga’ ketika anak kecil itu berkata,


“Iiiih..., kakak itu nggak bisa sholat ya??? Masak dari tadi nggak ngikutin imamnya!” lirih seorang bocah kecil
“Iya ya, kakak itu aneh...!” sahut yang lain


Aku terhenyuh mendengar kata-kata polos bocah-bocah itu. Aku hanya diam mendengar kata-kata yang begitu mencuga’iku dari mulut kecil mereka. Aku mengutuk diriku sendiri. Dan dalam ketidak khusyu’an dan salah ini aku langsung membatalkan sholat ini dan mengulang dari awal. Kuangkat takbir. Kucoba fokuskan sholat ini dalam bacaan suci yang menggetar bibir. Dalam Fatihah yang mengawal bacaan. Dalam rukuk yang penuh penghambaan. Dalam i’tidal yang penuh penghayatan. Dalam sujud yang penuh kesyukuran. Alhamdulillah, agaknya aku bisa sedikit khusyu’. Tiba-tiba terbayang sebuah senyuman indah di otakku yang tak lain adalah senyum gadis itu. Astaghfirullah, Mulailah bacaan sholatku ngalor-ngidul dan salah-salah. Namun kucoba menepis bayangan aneh itu. Tapi senyum itu hadir kembali. Membuat hati berdesir lagi dan lagi. Mengapa bayang itu selalu hadir? Dosakah aku dengan pikiran yang sebetulnya bukan diriku yang memikirkan? Ya, pikiran itu datang tiba-tiba. Apakah karena setan yang telah berhasil merasuki katidakberdayaanku? Tapi mengapa mereka berhasil? Embuh! Beruntungnya sholatku kali ini tak salah dalam gerakan meski tak khusyu’. Kuucapkan salam di akhir sholat itu. Dan dalam doa aku memohon pada Robbi,


"Ya Allah, ampunilah aku jika aku salah..., yang tidak bergetar hati ini ketika disebut asma-Mu. Selagi Engkau yang Maha Pengampun yang ampunannya seluas langit dan bumi maka ampuni hamba yang bodoh, tolol, dan terlena ini... Allah, mengapa aku jadi begini? Hilang kekhusyu'an dalam sholatku. Sungguh aku takut akan laknat dan murka-Mu. Ya Allah, berilah hidayah kembali padaku. Berilah cahaya di atas dan di bawahku, beri aku cahaya di kanan dan kiriku, beri aku cahaya di depan dan belakangku, ya Allah... beri aku cahaya-Mu... sesungguhnya sholatku, hidupku, matiku sejatinya hanya kupasrahkan pada-Mu, Penciptaku! Amin!"
* * *

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...