Matematika Fiksi




Naikkan hatimu. Integralkan keberanian itu. Nyatakan padaku! Jangan kau anggap kau ragu. Wujudkan cinta itu. Nol-kan notasi keraguanmu. Integralkan keberanian itu. Nyatakan! Aku begitu sulit untuk jatuh cinta dan juga sulit untuk dicinta. Aku sulit mematematikakan aljabar cinta, karena cinta itu kadang memang sukar untuk dinalar, ditatap, didengar, dan ditulis dalam tetesan tinta penaku. Wujudkan cintamu! Jangan kamu meng-angannya hanya dalam ke-fiksian. Nyatakan! Matematikakan! Jadikan abstraksi-mu padaku nyata adanya.

Determinankan hatiku. Inverskan hatiku. Luluhkan perasaanku hingga singuler dalam harga x himpunan real nyata ungkapanmu. Temukan aljabar cinta di kotak hati yang kusimpan. Temukan! Buat aku bahagia dalam resultan vektormu yang kuat dan dalam. Inverskan hatiku. Transposkan untukku. Determinankan hatimu. Hingga kau kan lihat matriks hati aku dan kamu satu. Aku dan kamu invers. Tidak ada kebohongan. Tidak ada lagi kesinguleran. Tak perlu lagi orang menentukan diskriminan kita karena tak serumit yang mereka bayangkan. Jangan ragu, determinankan hatiku, diferensialkan ciut-mu, nyalakan nyalimu, nyatakan rasamu, buktikan itu dengan harga yang real bukan parsial.


Buatlah aku bahagia. Ciptakan nuansa yang tanpa adanya kecurigaan dan rahasia antara kita. Bayangkan dirimu, kamu itu hebat. Awali hari kita dengan kesenangan sejati. Urutkan kebahagiaan-kebahagiaan yang akan kita lewati nanti. Hingga urutan itu menjadi suatu rentetan aritmatika indah dunia dalam pelangi di ufuk hati kita. Deret kita indah, cerah, seumpama barisan Fibonacci yang mencetus rahasia 'golden ratio'-nya Tuhan di alam, bunga, hexagonal, nektar, dan di kanvas Leonardo da Vinci saat melukis Monalisa. Ya, geometri kita takkan terpengaruh rasio.

Dan lihatlah! Lihatlah di titik itu. Cinta kita telah berukir di langit sore saat pancarkan sinarnya. Cinta kita telah cipta kebahagiaan, kedamaian, dan aura ketenangan di jiwa. Senja itu menyatakan nilai optimum fungsi kita, Sejati. Adakah kau lhat pesona ini sebelumnya? Tentu tidak!

Itulah gambaran cinta kita. Sebuah imajiner dalam wujud nyata. Sebuah metafor betapa indahnya cinta kita nanti. Sebuah permisalan. Sebuah refleksi. Sebuah relativitas masa hari esok yang kan indah kita lalui. Masihkah ragu itu menerpamu?

Epilog:
Determinankan hatiku. Inverskan hatiku. Luluhkan perasaanku hingga singuler dalam harga x himpunan real nyata ungkapanmu. Temukan aljabar cinta di kotak hati yang kusimpan. Temukan! Temukan!


0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...