Mereka...

By: Inu Anwardani

Bayangmu kembali tersipu dalam sudut imajiner hatiku. Aku nyengir-nyengir sendiri. Tentangmu, tentang senyummu, tentang jilbabmu, tentang sapaan spesial itu… Ah, aku kembali jadi sarden beku. Proyektor agaknya tengah mereka gambaran klasik kanvas hati kita. Aku mengizinkan sejarah untuk mencatat kisah kita...

* * *

Saat itu, kita bersama. Kau ajak aku terbang dalam nyanyian-nyanyian kebahagiaan dan semburat pink-jingga di pipi dan hati kita. Kita begitu bahagia malam itu. Kamu tentu ingat kan, saat kita jalan berdua di pasar malem? Haha, mungkin orang yang tau akan tertawa melihat kita. Betapa tidak, seorang gadis berjilbab dan seorang ’Itong’ jalan bareng saat pasar malam. Menggelikan bukan? Tapi kutahu sungguh, saat itu buncahan kebahagiaan mengalahkan rasa malu dan keraguan kita.

Setelah kita jalan sana-sini berkeliling lihat barang-barang yang dijajakan ala kadar pasar malam, kuajak kau menaiki Komedi Putar. Awalnya kau takut, tapi akhirnya kau mau juga. Kita memasuki sangkar komedi putar seperti sepasang burung yang kasmaran yang menganggap sangkar sebagai surga. Komedi puta dijalankan. Berputar, berotasi seiring derap adrenalin yang berpacu. Saat sangkar capai titik puncak itu kau menjerit, dan jeritanmu semakin menguat saat sangkar kita dengan sentripetalnya turun dan kembali berputar. Bagai instrumen bethoven yang naik turun. Inilah rahasia gravitasi, kita bagai terbang ayun dan nyawa kita seakan terangkat sejenak. Tak terlukiskan betapa bahagia aku di sangkar itu...


Usai menaiki komedi putar tiba-tiba hujan turun. Meski tak begitu deras tapi cukup membuat suasana pasar malam menjadi sepi. Kita berteduh di salah satu tempat yang menjual makanan. Kita duduk di warung itu. Suasana malam itu cukup dingin, tapi adanya kamu membuat kehangatan. Kata pemilik warung bakso dan mie ayam itu hujanlah yang membuat warungnya sepi. Kita memesan mie ayam. Sembari menunggu mie ayam tersaji segelas teh hangatkan tubuh kita. Semangkuk mie ayam akhirnya tersaji juga. Inilah waktu-waktu yang kudamba, yang kutunggu-tunggu: bersamamu, saling menatap, saling memandang, duduk bersama, dan bercerita yang indah-indah. Oh... sesuap mie menjadi tambah nikmat karenamu. Kita bercanda bersama, kulihat pipimu tersemburat warna merah muda. Aku malu melihatnya, karena pipiku pun ikut berwarna. Kulihat lagi indah wajahmu, kamu sungguh cantik dengan jilbab birumu. Tak kusangkali aku mencintaimu. Jika teman se-SMP tahu jelas kita akan diledek oleh mereka, mereka akan berkata, ”Cieee..... cieeeeee........, Ehemm!!”. Untungnya tidak ada yang melihat.

”Kamu ganteng banget sih...” ujarmu.

Aku lantas seakan melayang mendengar katamu. Sungguh itu begitu menyanjungku. Hatiku mulai berpacu. Beranjak. Hangat-hangat di pipi begitu terasa. Aku tak mau kalah, kupuji juga dirimu, ”Jilbabnya anggun benget lho...”

Kamu lantas merona dan tersenyum. Senyum ini adalah senyum terindah yang pernah kulihat. Sejuta bau cinta menyemai kita. Aku seakan berada pada ruangan yang penuh warna, selaksa warna-warni hexadesimal yang beragam jenisnya. Kebahagiaan merasuk seluruh, pesonaku padamu sungguh menghentikan akal sehat. Saat itu tak terpikirkan oleh kita bahwa hujan yang rintik ini akan menjadi saksi. Saksi di hadapan Tuhan. Kebahagiaan terkadang membuat kita lupa akan sesuatu. Iya, Sesuatu. Beruntung kita selalu dijaga oleh-Nya. Dia masih menyayangi kita...

* * *

Itulah kisah kita dulu. Kita sok-sok sudah seperti orang dewasa saja. Tapi jadi orang dewasa itu agaknya menyenangkan juga, ya?! Memang fitrah manusia itu indah. Terlebih fitrah itu yang pertama kalinya: Cinta monyet-monyetan!!! Ternyata kita yang pendiam ini bisa melakukan hal tidak seharusnya dilakukan demi cinta. Oh... bodohnya kita!


0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...