SMS ke-2

By: Inu Anwardani



(Cerpen ini pernah dimuat di Buletin Rohis SMA 1 Bukitkemuning. ‘Zahrotul Islam’ edisi kesepuluh seri “Rumus Canggih”)


Aku berada di sebuah tempat yang entah dimana dan sulit kunama. Belum pernah kukunjungi tempat se-ngeri ini. Entah siapa yang mengantarku ke tempat ini. Tempat ini sepi, sunyi, sendiri, dan tak ada yang menarik apalagi indah di tempat ini. Disini rasanya panas sekali. Membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Matahari itu seumpama lidah-lidah api yang menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau Neraka. Hembusan angin sahara makin membuat panas berlipat dari detik ke detik.


Tiba-tiba bumi menjadi gelap. Mataharinya menghilang. Bintang gemintang berperang seumpama batu yang baru dilepas dari ketapel. Meluncur sana-sini hingga menimbulkan ledakan api yang berkobar. Gunung-gunung melelehkan isi perutnya. Perlahan tempat ini jadi ramai. Jutaan orang berlari dan berjalan bak mayat yang baru bangkit dengan wajah-wajah hancur dan buruk. “Ini Mahsyar.....” bersit hatiku.


Tiba-tiba di tengah laut timbul sebuah pusaran hitam yang mengerikan. Air laut habis disedot pusaran itu. Pusaran itu makin meluas, luas sekali, hingga memakan permukaan bumi. Milyaran orang berkumpul mengelilingi pusaran itu. Dan seketika muncul dari pusaran itu sebuah bola bersinar redup. Kemudian makin terang dan membesar. Akhirnya dengan cepat bola itu amat besar bagai matahari yang jatuh ke dunia. Menimbulkan panas yang sangat-sangat hingga mampu mengeringkan keringat, seakan matahari berada sejengkal di atas kapala. Bola pijar itu kemudian meledak begitu hebatnya. Ledakannya seakan menulikan telinga. Seperti gunung berapi yang sedang erupsi. bahkan jauh lebih mengerikan.


Semua orang lari tunggang langgang. Mengharap dirinya selamat akan bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia yang hampir membinasakan mereka. Ada diantara mereka yang jatuh, tercabik, bahkan hangus terkena ledakan bola pijar itu. Ledakan itu begitu dahsyat. Ledakan itu mengeluarkan cairan berwarna oranye yang hampir mirip dengan magma dari dalam bola pijar tersebut. Panas cairan itu bisa-bisa melebihi jutaan derajat celsius.


Namun aku tidak termasuk di dalamnya. Aku terus berlari secepat mungkin. Orang-orang pun banyak yang berlari, namun tak sedikit yang hancur tubuhnya oleh cairan bola pijar panas itu yang terus merambah mengejar seperti ombak.


“Sholat… sholat... sholat…!” seru seseorang.
“Ha, Sholat? Apa tidak gila? Dalam keadaan begini harus mesti sholat?” tanyaku heran.
“Ya, sholat… sholat…! Tuhan murka pada kita karena tak syukuri nikmat-Nya! Inilah awal kehancuran dunia. Sholat….!” Seru yang lain.
“Ya, sholat… sholat……!” sahut mereka serempak.


Tanpa basa-basi mereka semua mengangkat takbir. Aku terdiam terpasung. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Cairan panas itu semakin mendekatiku! Aku tak ingin hangus oleh cairan itu! Membayangkannya pun aku sudah tak sanggup. Aku tak ingin mati. Sedang aku tak kuat lagi berlari. Sedang sekarang aku berada di ujung dunia yang aku sendiri berada di jurangnya. Di jurang itu hanya ada ruang yang hitam menakutkan. Dunia terasa datar bertepi tak bulat. Apa aku harus terjun ke lambah hitam ini? Apa aku harus mengikuti mereka? Apa mereka gila? Atau aku yang gila? Ataukah inilah yang namanya kiamat? Ah, dan di puncak kebingingan itulah aku putuskan ikut mengangkat takbir. Cairan panas aneh itu memangsaku begitu kuangkat takbir, dan............


“Aaaaaaaaaaaaaa..........”


Satu detik kemudian tiba-tiba aku terjaga. Kulirikan pandangan kearah jam. Pukul 04.30 dini hari. Masya Allah, Apakah maksud dari mimpi ini? Apakah ini teguran Allah untukku karena tak pernah sholat tepat waktu di saat subuh? Ya, aku yakin Allah menegurku melalui mimpi yang bagiku bukanlah lagi sebuah mimpi. Mimpi ini seperti mimpi seorang Sufi. Perlahan kubuka handphone-ku. Ternyata ada 2 SMS yang masuk.


Kubaca isinya. Yang pertama dari salah satu teman Rohis yang membangunkan untuk sholat tahajud. Aku nyengir zebra, mana mungkin aku bisa bangun, sedangkan hape-ku dalam keadaan silent! Kemudian kubaca SMS yang kedua. Pengirimnya tak kukenal, begini isi SMS yang kedua;


Dari Abu Hurairah r.a: “Tidak ada sholat yang lebih berat bagi orang munafik daripada sholat subuh dan ‘Isya, dan andaikan mereka mengetahui pahalanya, tentu mereka akan mendatanginya meskipun dalam keadaan merangkak.” (HR. Bukhari & Muslim)


SMS kedua itu menjadi sebuah pecut bagiku, tamparan bagiku, dan muhasabah buatku. SMS itu tentu akan menggetarkan hati setiap orang yang membacanya. Tapi SMS itu juga adalah sebuah cahaya teguran untukku selain mimpi tadi. Subuh ini aku mendapat pelajaran yang amat berharga dari Allah. Mulai saat ini aku bertekad untuk tidak menjadi orang munafik dengan melalaikan sholat subuh.


Adzan subuh mulai berkumandang. Meski dingin menyergap tetap kulangkahkan kaki ke masjid. Di perjalanan berulang-ulang aku beristighfar. Bintang-bintang benderang menghisi langit subuh. Pun juga bulan, terpaan sinarnya memberi kedamaian bagi setiap insan yang bangun saat fajar. Angin-angin subuh mengelus lambai pepohonan. Tasbih alam mengiringi lantunan adzan yang syahdu. Dalam hati aku berterimakasih kepada pengirim sms kedua yang sampai kini belum kuketahui siapa ia sebenarnya.


* * *

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...