Tasbih Kecilmu...


By: Inu Anwardani


(Cerpen ini pernah dimuat di Buletin Rohis SMA 1 Bukitkemuning. ‘Zahrotul Islam’ edisi ke-1)


Aku mengenalnya sejak ia SMP. Aku sangat mengenalnya, karena kemanapun ia pergi aku selalu bersamanya. Dia adalah Faris. Dia bukan orang yang kaya, namun ia selalu hidup bersahaja. Dia memang orang biasa, namun jiwanya sungguh luar biasa. Dia bukan Nabi, namun hatinya selalu mengisyaratkan untuk meneladani baginda Nabi Saw, Sang 'Uswatun hasanah' yang seharusnya menjadi idola dan tauladan bagi setiap insan. Faris sungguh tak ingin berpisah denganku, dan aku pun tak ingin terpisah olehnya.


Faris adalah seorang indigo, tapi karena keaktifannya diberbagai organisasi membuatnya banyak dikenal dan disayangi. Namun diantara sekian banyak organisasi yang diikutinya, Rohis menjadi prioritas utamanya. Betapa tidak, islam saat ini membutuhkan generasi yang tangguh, yang mampu menghadapi tantangan perubahan zaman yang notabene telah memojokkan agama ini ke posisi yang paling kelam. Namun betapa kecewanya generasi muslim saat ini seakan 'melempem', patah semangatnya karena terbuai oleh indahnya dunia. Sehingga Faris berkomitmen ingin menguatkan barisan islam.Kalau dulu islam pernah berjaya, itu karena para pendahulunya selalu mempersiapkan generasi muslim yang tangguh, tidak hanya kekuatan fisiknya, tapi juga keimanan mereka. Dari situ Faris berpikir akan menguatkan barisan islam mulai dari aspek keimanan. Ia rasa Rohis lah sarana yang tepat untuk memperkokoh keimanan remaja di SMA-nya.



Faris bercerita padaku bahwa semalam ia bermimpi tentang sebuah kecelakaan yang dahsyat. Sungguh mimpi yang aneh. Aku hanya diam saat Faris mengatakan itu dan tidak berkomentar. Entah apalah maksud dari mimpi itu.


* * *


Pagi yang cerah. Setiap orang menatap hari dengan penuh gairah. Begitu juga Faris, ia telah siap pergi ke sekolah dengan semangat membuncah. Ia bayangkan pagi itu akan bertemu teman-teman yang sesemangat, se-ghirah, dan juga seperjuangan dakwah disekolah, sehingga mampu menjadi mentari bagi impiannya.Sebelum berangkat ke sekolah tak lupa ia berhiaskan wudhu. Dia pun tak lupa mengajakku. Sinar mentari perlahan mulai naik. Dengan wajah berseri Faris menaiki bus menuju SMAN 1 Bukit Kemuning, sekolahnya. Selama perjalanan yang kurang lebih memakan waktu 30 menit ia sempatkan membaca Al-Matsurat. Kitab kecil yang berisi dzikir dan doa Rasulullah di pagi dan petang itu ia dapatkan dari sang Murabbi saat liqo' mingguan. Ketika sampai pada ayat: "Qulhuwallahu ahad", tiba-tiba...


"Blegggaarrr..."


Sebuah motor terpelanting pecah. Inalillahi, seluruh penumpang terperanjat ketika sebuah mobil sedan menabrak motor tersebut. Kepala pengendara motor itu pecah, mengeluarkan darah yg sangat banyak. Ah, namun sayangnya bus ini telah berlalu dari tempat kecelakaan tersebut. Semoga orang tersebut segera tertolong. Kulihat Faris, ia segera menyelesaikan bacaan Al-Matsuratnya kemudian beristighfar.


* * *


Ah, rasanya waktu berjalan sangat cepat. Namun yang kuherankan adalah Faris. Sejak tiba hingga saat pulang sekolah ini yang ia lakukan hanyalah menemui sahabatnya dan meminta maaf. Entah apa yang ada di benak Faris saat ini. Dasar orang indigo...


Sudah 30 menit hujan mengguyur kota ini. Dan sampai sekarang tak satupun bus jurusan Bukit-Bardatu yang melintas. Aku dan Faris telah lama kedinginan menunggu bus di halte ini. Selang beberapa menit, bus yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kami pun menaiki bus tersebut. Aku duduk bersama Faris di bangku paling depan berdekatan dengan sang sopir. Hujan semakin deras mengguyur jalanan 'Sang bumi ruwai jurai'. Terdengar nafas lantunan dzikir yang keluar dari mulut Faris. Derasnya hujan semakin menambah kekhusyu'an dalam memuji asma-Nya. Licinnya jalanan membuat bus sulit dikendalikan oleh sang sopir. Setelah melewati terminal induk Tulung Buyut hujan pun reda. Tak lama lagi kami tiba.Terlihat dihadapanku motor Yamaha Vixion melaju kencang bak kesetanan. Sopir yang panik melihat motor tersebut langsung banting stir dan berpindah jalur ke kiri. Namun naasnya, bus yang kami tumpangi tercebur ke dalam jurang. Seluruh penumpang panik. Kulihat Faris, ia tetap melantunkan kalimat "Laa ilaha ilallah...". Bus ini pun terus meluncur ke tempat yang lebih rendah dan....


"Blegggaarrr..."


Bus pun menabrak sebuah pohon besar di lereng jurang tersebut. Seluruh penumpang berhenti menjerit. Tanda-tanda kehidupan semakin menghilang. Kulihat lagi Faris, dengan nafas yang mulai tersengal ia masih mengucapkan kalimat "Laa ilaha ilallah", meski kulihat kepalanya mengeluarkan banyak sekali darah. Dari sorot matanya, ia yakin akan surga. Surga yang menghujam deras dari dalam dada, karena perjuangan dakwah yang pernah ia lakukan itulah ia yakin akan surga-Nya, bahkan 'ainul yaqin kukira. Karena Allah takkan menyiakan amal kebajikan seseorang meski hanya sebesar biji dzarah. Darah yang keluar dari kepala Faris pun makin banyak, Aku pun juga berlumuran darah, darah yang tak lain adalah darah Faris.


"Aku bingung harus bagaimana, aku tak bisa menolongmu sobat. Maafkanlah aku yang tak bisa memberimu hidup lebih lama, karena aku bukanlah Tuhan. Maafkanlah aku yang tak bisa menghindarkan kecelakaan ini darimu, karena aku bukanlah jimat. Maafkanlah aku, meski aku berjumlah banyak, aku ini lemah, aku ini kecil. Aku tak bisa berbuat apa-apa untukmu. Karena aku hanyalah tasbih kecil kesayanganmu...


"Terima kasih Faris, engkau telah membawaku keliling dunia bersamamu. Terimakasih untuk selalu menyebut nama Allah disetiap kesempatanmu bersamaku. Aku pasti akan sangat merindukan orang-orang sepertimu"


Aku masih berada dalam dekapan tangan Faris. Nafasnya seakan terhenti. Dengan nafas tersengal Faris mengucapkan "Asyhadu ala illaha ilallah, wa asyhadu anna muhammada rasulullah". Seketika itu tak kurasakan lagi detakan urat nadinya. Kulihat Faris tersenyum. Senyum indah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kalimat tauhid dan tasbih melayang bersama ruh dan impiannya yang suci ....


* * *

3 komentar nih!:

Nanda Hanyfa mengatakan...

Subhanallah...
Merinding an mbacanya..
Subhanallah, subhanallah..
Allahuakbar, Laaillahailallah, Subhanallah...

Inu Anwardani mengatakan...

Yups, Kita must kudu always remember Allah! hehe... blog nanda akhi dah tau.....!!! ^_^

Nanda Hanyfa mengatakan...

Ih..
Males lah..
Kan belum jadi..
Isyin ane..
hhehehe..

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...