Tentangnya...

By: Inu Anwardani

Tentangnya. Aku membayangnya di sudut subuh penuh kabut. Dengan balutan jilbab putihnya ia berdiri tegap menghadap kiblat di atas sajadah lusuh penuh makna. Matanya tajam surutkan ketidakikhlasan. Getar bibirnya ungkapkan kesungguhan. Dalam fatihah yang membuka rahmah. Dalam rukuk yang penuh tunduk. Dalam sujud yang mewujudkan rasa takut. Dalam salam yang membuka kesejahteraan. Dan doanya yang mengadah penuh pinta dan peluh air mata.

Setelah usai, biasanya dia membangunkanku, ”Akh, tahajud yuk!”


Ah, dia. Meski membayang, tapi gambar itu tampak nyata. Rekaan impi bagai siluet senja di pagi buta. Entah kenapa, mengingat lagi tentangnya kadang kebahagiaan. Kadang penyesalan. Dan kadang juga kepurukan. Sudah kucoba tuk lupakan, tapi hingga kini masih belum mampu dienyahkan bahkan diredam dengan diam. Kadang terlintas di hatiku, ”Bukankah dia sudah berhasil melupakanmu? Bukankah dia menyuruhmu untuk tinggalkan masa lalu? Kamu itu BODOH!!!”

Tentang dia. Anganku kembali terbang melayang, melambung, jauh tinggi: tentangnya. Bagai loncatan ke dunia astral—tubuhku tak lagi bermassa. Dia lagi dia lagi yang berperan dalam tangga nada dentingnya hati. O.... dia yang membangkitkan semangat ini. Dia yang mampu menerbitkan mentari di hati. Dia yang hadir dengan pelangi, yang kuatkan langkah kaki dan azzam diri. Dianginnya nuansa sepi sirna kala senyumnya sapa pagiku. Dia, yang buatku kali pertama merasa indahnya ’fitrah’ manusia.

Ah, senyumnya. Candanya. Sapaan spesialnya. Renyah tawanya. Cengeng, manja, dan kibar jilbabnya yang meng-aura itu. Dia mampu menyihir siapa saja dengan satu kali pesona. Membikin imajinasi seakan mencipta ratusan bait puisi. Membawa jiwa tuk menggapai Lauhul Mahfudz-nya cinta di ’Arsy.

* * *




Kini hari telah berubah. Langit kembali kelabu saat kudengar kenyataan pahit itu. Kidung-kidung duka menjadi teman hari-hariku, bagai episode epilog kematian yang mengekang. Aku merajam diriku sendiri—ufuk senjaku kulempari dengan segenggam batu. Aku saat itu seakan gila. Perasaan tak percaya pada kenyataan terus menjajah, memborgol, mendongkol, dan membelengguku di suatu ruangan entah di kotak hati.

Aku paling benci saat datangnya pagi. Bagiku datangnya pagi bagai menyambut hidup layaknya mayat hidup. Aku lelah. Tiap berangkat sekolah kulalui seakan seorang tawanan yang hendak dibawa ke tiang gantungan. Terlebih jika harus bertemu dengan wajahnya—wajah yang pernah kucinta. Aku makin jatuh dalam kelukaan kemayaan.

Sebenarnya aku benci untuk selalu tersenyum, sok tegar di hadapan teman-teman. Padahal kedongkolan hati makin bertambah manasaat kusembunyikan penderitaan ini. Untung aku masih memiliki ’Teman’ yang sungguh, sungguh ia Sahabatku...

”Laki-laki itu adalah makhluk yang paling kuat. Paling tegar. Jangan cengeng dengan hal remeh-temeh yang disukai setan!”

Kini aku mampu berdiri lagi, meski kadang berat menjaga hati menyambut senyumnya yang berseri seperti pelangi...

* * *



”Aku kan mulai mencintaimu lagi, ba’da perasaan yang sempat terhenti jeda...”

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...