One Byte of Heart...




Bismillah, aku jatuh cinta. Sebenarnya ada malu mengakui. Entah kenapa aku bisa merasakan ini lagi. Padahal setelah dirinya pergi kututup hati dan mengandaskan jauh-jauh untuk rasa ini. Tapi fitrah adalah fitrah, ia tidak bisa membohongi hati pemilik hati. Hati pemilik hati juga takkan pernah bisa menolak serta acuh untuk sebuah fitrah.

Sekali lagi da malu mengakui. Tapi jika aku tidak mengatakan ini, kutakut nanti menjadi duka yang tartahan. Inilah kucuran curahan hati, Ukhti... Mungkin jika kamu tahu bahwa aku mencintaimu kamu akan kaget, terkejut, dan tak percaya. Sesungguhnya selama ini aku memendam rasa ini, Ukhti. Sulit bagiku untuk menolak dan menepis hadirmu di tiap sudut-sudut malamku. Bayangmu menikam keluku. Aku susah dibuatnya. Apa yang aku mesti lakukan agar hati ini tak harus resah begini? Haruskah kubawa berlari sekeping hati ini? Tolonglah aku...


Kenapa ya aku bisa jatuh cinta padamu? Apa karena waktu-waktu yang memaksa kita untuk terus bersama, dan timbullah kuncup-kuncup kekagumanku. Kekagumanku padamu menutup mataku bahwa kamu adalah sahabat baiknya, menutup mataku bahwa sesungguhnya aku tidaklah pantas mendapatkan rasa kasih sayang darimu, Ukhti...

Tapi biarlah, meskipun tak ada yang mengetahu selain Allah, meskipun kamu tidak tahu, aku tetap akan mengagumimu. Misalkan nanti kamu tahu bahwa ’Itong’ ini sebenarnya mendambamu, tolong jangan benci aku, tetap jadikan aku seperti aku yang saat ini dihadapanmu. Karena dengan ini saja, sudah membuatku bahagia. Hanya mengagumimu saja, aku sudah bahagia.

Sebenarnya apa ya yang sudah merasuki hatiku hingga aku mampu untuk menuliskan ini? Apa karena setan yang telah berhasil menduduki takhta fikriku hingga aku lemah tuk ikuti api-api dalam kegelapannya? EMBUH! Atau karena aku telah terkena kail cintamu? Hingga selalu mengikuti kemana kayuhan tanganmu yang menghempas dan kadang membuatku sakit. Atau mungkin karena aku sudah menegak khamr cintamu? Hingga tak lagi kurasakan sadar akan nyatanya. Atau malah mungkin kini aku sudah gila, menjadi pemilik nomor ke-n yang menyandang predikat salah kedaden. EMBUH!!!

Duhai Ukhti, jerawat di pipi kananku ini apa bukan pertanda? Cengar-cengir saat menerawangimu ini apa bukan pertanda? Seliter surat ini apa bukan pertanda? Bait-bait kata ini apa bukan pertanda? Miscall-miscall-ku di saat mulai malam apa bukan pertanda? Perhatianku yang tak kuberikan ke orang lain ini apa bukan wujud sebuah rasa? Senyum-senyumku saat pulang sekolah dan berharap dapat menyejukkan hatimu apa itu bukan sebuah pertanda? Ya, pertanda bahwa aku telah kembali mengeja kata C-I-N-T-A. Pertanda bahwa ada aura cinta. Ah, mungkin kamu menganggapnya sebuah hal biasa. Tapi Ukhti, do you love me? Apakah ada sebodoh titik namaku tersemat di dada dalam hatimu? Hanya Allah yang tahu. Sungguh, hanya Allah yang tahu!!! Aku mencintaimu...

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...