Revisi: One Liter of Notes

Yuk, sekarang mari kita coba sama-sama selami sejauh mana keberadaan kita di kedalaman cermin jiwa. Sejauh mana eksistensi diri kita dalam maya. Dan seberapa lupakah kita dengan fitrah kita sendiri... Mulai sekarang kita harus mencoba memurnikan siapa sebenarnya kita...


Rasulullah SAW pernah bersabda,
”Bila engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR Bukhari)

* * * 

Untuk Sufi Fatiya...

Assalamu’alaikum warahmatullah!
Kakak mohon maaf sebelumnya kalo messege ini ngeganggu Sufi. Sufi, kakak sangat senang bisa mengenal Sufi dan menjadi teman saat ini. Dan ada satu hal yang nggak bisa hati membohongi, ingin rasanya kakak menjadi kakak sungguhan bagi Sufi, yang nantinya akan kakak sayangi dan kakak bimbing jalan langkahnya, kakak tuntun titian tiap derap lakunya, kakak ajari dalam kebaikan.



Sufi, kakak bukannya lancang, atau bermaksud menggurui Sufi. Kakak sudah membaca semua notes Sufi dan status-status Sufi. Nggak bisa dipungkiri kalo semua yang Sufi tulis adalah benar-benar terjadi dengan Sufi. I can feel it, kacamata sahabat bisa menerawang isi hati sahabatnya. Kakak bisa merasakan ruh dari tulisan Sufi. Kakak tahu Sufi lagi patah hati. Kakak tahu kalo Sufi nyimpen kekesalan sama seseorang. Dan kakak tahu dendam itu masih mengganjal nyampe sekarang.

Menurut kakak, Sufi terlalu berlebihan dalam mengungkapkan itu. Coba liat aja, setiap hari Sufi selalu mengupdate status tentang kekesalan, tentang kedongkolan terhadap seseorang tentang cinta. Dan tiap hari Sufi lebih dari 5-6 kali update status serupa yang demikian. Lain lagi dengan catatan. Banyak juga catatan tentang diri pribadi dan hal yang Sufi alami—cinta. Sebenernya kakak kagum karena Sufi sangat pinter menulis. Tapi bagi kakak, haruskah hal itu diungkapkan? Sebenarnya yang Sufi inginkan itu apa? Kalo ketenangan, seharusnya Sufi mendekatkan diri pada Allah. Bukan mengekspos suatu hal yang sangat pribadi kepada orang lain, dan mengundang komentar-komentar banyak orang.

Sufi waktu itu pernah bilang sama kakak, “Curhat di facebook itu nggak sepantesnya.”, lhaa terus kenapa Sufi malah terus-terusan lakukan? Bukankah mengumbar hal-hal pribadi itu adalah sama saja membuka aib sendiri dan aurat? Sufi, cukup Allah aja yang tahu hal itu. Nggak perlu Sufi ceritakan ke banyak orang. Kakak tahu Sufi lagi patah hati dengan seseorang, tapi pantaskah, santunkah seorang “Akhwat” bercerita ke ratusan orang tentang auratnya? Pantaskah seseorang menjajakan kesehariannnya, kebaikannya, kesialannya, perasaannya, dihadapan orang lain? Layaknya artis yang senang untuk dikomentari atas masalahnya?

Kakak udah lama mau ngingetin Sufi tentang hal ini, tapi kakak pikir hari demi hari mungkin hal itu akan sirna dengan sendirinya. Tapi, setelah kakak biarkan ternyata Sufi tetap. Adik Sufi, status-status seperti yang sering Sufi kirim sangatlah berpotensi merusak hati yang ngebaca dan Sufi sendiri tentunya.

Sufi juga kudu tahu, facebook itu sebelah surga sebelahnya lagi neraka. Tergantung kita gimana menyikapinya. Facebook bisa jadi neraka kalo waktu kita terjajah karenanya. Facebook bisa jadi neraka kalo kita hanya mencari perhatian orang lain atas apa yang kita lakukan yang kita pamerkan. Yuk kita insrospeksi diri dulu, senenernya motivasi kita fesbukan itu apa. Benar-benar ingin mencari” teman” atau untuk kesenangan doang. Atau ajang untuk unjuk kebolehan dan eksistensi diri. Atau mengharap simpati dari orang dengan kedok pertemanan. Coba kita liat daftar nama-nama teman kita yang ratusan itu, apakah kita membanggakan diri dengan banyaknya teman di facebook dengan berkata, “Ni liat neeh, temen gue banyak!”. Coba kita liat album foto kita, apa motivasi kita yang sebenarnya meng-upload foto kita, hanya sekedar meng-upload atau ingin mendatangkan komentar orang-orang? Liat status-status yang pernah kita update, pantaskah tulisan itu dibaca oleh orang, apa yang kita inginkan setelah meng-update status itu? Ingin diperhatikan, ingin dikomentari, ingin orang lain tahu? Entahlah, hanya kita yang tahu.

Yuk mulai sekarang kita update status kita tentang hal-hal yang bisa ada bermanfaat buat orang tanpa ada satu niat yang terselip dari diri kita seperti sifat riya’, ujub, pamer, minta diperhatikan dan mengharap suatu hal lain. Kita bisa aja meng-update status seperti kata-kata mutiara, tausiyah, atau kalimat motivasi yang nantinya nggak bakal ngerusak hati kita dan yang ngebaca. Malah justru bermanfaat buat semua, dan tentunya kita dapet pahala.

Facebook bisa jadi surga ketika kita memang memanfaatkannya untuk memperolah ilmu-ilmu Allah, contohnya bergabung dengan grup-grup yang bermanfaat semisal grup liqo’, grup belajar islam, grup konsultasi masalah tentang akidah atau ibadah, dan masih banyak grup lain yang bisa buat kita paham bahwa pemahaman kita masihlah kurang tentang islam. Kita juga bisa berdiskusi di facebook tentang suatu masalah dengan banyak orang dan pakar, kita juga disana bisa belajar dan bertanya soal pelajaran. Dan kalo Sufi tahu hal ini jauh lebih menyenangkan dari sekedar fesbukan biasa. Jadi kita fesbukannya nggak sia-sia, ada manfaat yang bisa kita petik masing-masing nggak Cuma kesenangan doang yang kita ambil. Tapi jauh lebih dari itu.. Nahh, sekarang yang jadi pertanyaan sudahkah hal itu Sufi lakukan?

Sekali lagi kakak mohon maaf kalo lancang. Kakak bukannya sok tahu atau pengen mangajari Sufi, bukan. Kakak ngirim messege ini karena kakak sayang dengan Sufi. Kakak nulis pesan ini karena kakak tu meratiin Sufi, kakak nggak kepengen Sufi terjebak nantinya. Tapi kalo Sufi nggak mau dengerin kakak nggak papa. Itu emang hak Sufi. Kakak emang manusia yang dhoif yang mungkin nggak patut didengar ucapannya, nggak patut dicontoh lakunya, dan nggak patut dikagumi kharismanya. Sufi berhak bertindak sesuka Sufi setelah membaca tulisan ini. Tapi Cuma ini yang bisa kakak lakukan. Cuma ini yang bisa kakak persembahkan. Karena kakak sayang Sufi. Cuma ini yang kakak bisa berikan...


Wassalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh!


* * *



Setelah membaca messege itu ada bulir tetesan di balik kacamata yang menatap kata-kata di monitor itu. Sufi sejadinya menangis tak tertahankan. Ia baru tersadar bahwa selama ini ia telah membuka diri terlalu berlebihan di facebook. Ia malah membanggakan apa yang pernah ia tulis itu, tak pernah terbersit rasa sesal setelah memposting tulisan dan status-statusnya. Namun setelah ada messege dari Ihsan, semuanya ia sesali, semua kebanggaan membuka diri ia sesali, ia merasa menjadi orang yang paling bodoh di dunia selama ini. Mengapa sampai bisanya ia sejauh ini, sampai terjerumus dan perosok dalam kemauan nafsunya sendiri. Ia sesali semua status-status yang pernah ditulisnya. Ia mengutuk dirinya sendiri. Ia ingat status-statusnya yang pernah ia bagikan ke teman-teman, ia merasa telah begitu jauh dan sangat berlebihan mengobral dirinya sendiri. Ia juga ingat apa niat yang ia inginkan sesaat sebelum meng-update statusnya, “pengen ada yang ngomentari”, atau paling tidak “ada yang perhatian dengannya”. Dan anehnya ia membanggakannya. 

Mana bisa ia lupakan status-statusnya saat dengan penuh amarah ia luapkan sakit hatinya saat Anas tak lagi mencintainya. Mana bisa lekang dari ingatannya saat ia curhat di notes-nya dengan begitu terbuka dan diketahui banyak orang. Mana mungkin ia bisa ia melupakan foto-foto yang ia upload dengan bangganya, ia sudah tidak lagi malu untuk memajang gambar dirinya di facebook, dalam hatinya ia berkata, “Nih gue!”. Mana mungkin bisa ia lupakan ejekan sumpah serapah pedasnya untuk orang yang suka mengerjainya di facebook, ia tak ingat bahwa ia akhwat, bahwa ia muslimah. Mana mungkin bisa ia melupakan saat chatting dengan orang yang tidak ia kenal layaknya seorang yang berpacaran, dengan kata-kata canda dan mesra yang tidak sepantasnya. Mana bisa hengkang dari ingatannya saat ada seorang cowok yang dengan beraninya menembaknya di facebook. Mana mungkin ia lupa dengan waktu-waktu yang ia dzalimi hanya karena facebook. Ia sangat sering lupa dengan waktu, hingga sore hari baru ia pulang ke kost-an usai dari warnet. Ia juga kadang lupa dengan waktu sholat. Ia lupa dengan Allah. Facebook benar-benar sudah melalaikannya. Akibat kedok pertemanan ombak telah menghempas karang nurani kemanusiaannya.

Wajah Sufi berkucuran penuh air mata. Ia sangat menyesali perbuatannya. Ia berjanji tidak akan pernah lagi melakukan hal yang pernah ia lakukan. Ia tak akan lagi membuka facebook kecuali dalam hal kebaikan. Pesan dari Ihsan benar-benar menjadi tamparan buatnya, menjadi sambaran petir atas berlebihannya ia.

“Astaghfirullah... Astaghfirullahal adzim...” ucap Sufi berulang kali sambil menyeka tangisnya.

Namun ia bersyukur telah diingatkan oleh Ihsan. Ia berterimakasih kerena Ihsan telah menegurnya. Biarlah ia menganggap paling membenci dirinya sendiri hari ini. Yang terpenting hari ini adalah ia mendapatkan yang namanya hidayah. Ya, hidayah! Hidayah yang akan membuatnya tentram. Tanpa beban. Tanpa dendam. Hidayah yang membuatnya sadar akan kebesaran Allah dan pesona Allah. Hidayah yang membuatnya hijrah pada kedekatan kepada Allah. Hidayah yang membuatnya bangkit usai terperosok terlalu dalam. Hari ini ia mendapat pelajaran yang sangat berharga.

Setelah menghapus air matanya Sufi langsung keluar bilik dan membayar kepada penjaga warnet. Mata Sufi berkaca-kaca. Sinar Ihsan menyala-nyala bersemayam di relung jiwanya. Merekahlah kuncup bunga kekaguman di hatinya. Dalam hati Sufi bicara,
“Berawal dari facebook baruku, kau datang dengan cara tiba-tiba...”


* * *
Surat Ihsan pada Fatiya
Penggalan kalimat dalam kumpulan cerita di sekuel Fiksi Ka-Ha-Ce
Oleh Inu Anwardani


0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...