Our Friends and Ours

You And I.mp3

Lembar Teguran (Diary Ukhti Part 5)


Malam ini aku bermimpi tentangnya. Andai saja mimpi itu tak hadi di mimpiku, pasti aku takkan merasa resah dan rusuh begini. Mataku pun mungkin tak sembab gara-gara menangisikisah mimpi yang bagiku bukanlah lagi sebuah mimpi. Mungkin mimpiku semalam akan terjadi hari ini.
Beginilah mimpi itu...

"Elsa... Elsa..." ada sesuatu yang memanggilku dalam mimpi.
"Elsa, " suara itu mengiang kembali di telinga.

Kucari asal suara. Di rerumpunan rumput yang tengah mengeluarkan kapa di kuncupnyas. Di balik batu. Semak-semak. Aku berputar berkeliling mencari sumber suara yang memanggilku itu. Suara itu makin keras mengiang. Aku lantas berlari mengejar suara itu. Kususuri rumput-rumput yang tinggi. Perlahan aku pun lelah. Aku terengah. Aku menghentikan derap langkahku. Aku menghela nafas panjang. Suara itu kembali mengiang. Aku menoleh ke arah belakang. Terlihat sesosok wajah cahaya yang hadir. Subhanllah... benarkah ini dia? Pikirku. Dia yang senyumnya manis mengembang. Dia yang membuatku kagum. Dia yang selalu kupikirkan. Dia yang gagah, tampan, dan berkharisma. Dia yang selalu kutulis dalam diary. Oh...

"Assalamualaikum, Ukhti!,"
Haa.. dia memanggilku "ukhti"? Benarkah ini?
"Assalamualaikum, Ukhti!" dia mengulang salamnya kembali. Aku mengejap dalam pertanyaan hati. Dia tersenyum ikhlas.
"Eee.. Waalaikumsalam..." jawabku.

Pagi Hati


Ketika kubuka pintu subuh. Takjub hati yang tergambar. Subhanallah jiwa yang termekar. Paras wajah subuh seakan penuh dengan kedamaian dan gebu rasa sebuah cinta. Di balik embun di atas kaca. Di antara gelap yang mentabirkan cahaya dan kantuk. Di tengah raga yang setengah terjaga. Ah, subuh memang selalu hadirkan bau akan rindu. Rindu akan sinar-Nya yang kudamba hidayah-Nya. Rindu akan sebuah rasa yang dulu ada namun kini mulai luntur karena futur. Rindu pada bulan-bulan yang indah penuh barakah, rahmah, dan juga maghfirah. Allah, betapa inginnya aku setiap subuh kau paksakan aku untuk bangun. Untuk menyibak selimut futurku kala subuh. Untuk berkelahi dalam gelap serta kabut yang membekap. Aku ingin mengalahkan kebiasaanku, Allah!

Lembar Cemburu (Diary Ukhti Part 4)


Sudah kesekian kalinya aku menulis tentangmu di diary cintaku ini. Baru saja aku melihat, mendengar, dan menyaksikan seseorang gadis berjilbab yang agaknya seorang adik kelsamu di Rohis. Ia mengetuk pintu kelas kita saat kita belajar, dan gadis itu ternyata mencari kamu... Aku masih ingat kata-katanya...

"Assalamualaikum... maaf pak, saya mau manggil kakak yang namanya Duta!" kata gadis itu.
"Ciyeee... suit suit, ada yang nyari Duta rupanya. Siapa itu, Dut?" sontak teman-teman sekelas meledek kamu.
"Hayooo Duta..., ada maen dengan anak kelas sepuluh ya? Hahaa..." kata salah satu orang.

Dan sekian banyak lagi sorakan yang menjurus padamu karena gadi itu mencarimu.

"Waalaikumsalam. Ia silahkan!" kata pak guru Matematika yang sedang mengajar kita.

Kamu pun lantas keluar memenuhi permintaan gadis itu. Yang kutangkap saat itu adalah bahwa ada suatu yang penting antara kamu dan dia. Setelah beberapa saat kamu keluar, kamu masuk kelas lagi mengambil sebuah kunc dari tas-mu dan memberikan pada dia. Aku tahu dari teman sebangkuku, katanya kamu itu adalah seorang BPH Ikhwan dalam Rohis. Jadi yang memegang kunci mushola adalah kamu. Mungkin gadis itu ingin membuka mushola karena ada suatu kepentingan. Kamu sebenarnya tidak salah.

Lembar Kuncup Daun Abadi (Diary Ukhti Part 3)


Apakah seorang pendiam haram untuk jatuh cinta? Pertanyaan naif! Aku juga bisa merasakan fitrah manusia yang satu ini, yaitu Cinta.

Mungkin aku takkan pernah menulis di diary berlembar-lembar tentangmu dan memikirkan yang tidak-tidak andai Allah tak pernah memberiku rasa cinta kepadamu. Sebenarnya ada malu mengakui mengingat diri yang dingin, tertutup, dan pendiam ini. Tapi tak selamanya diam itu emas, kan? Adakalanya untuk berkata mengungkapkan rasa agar emas itu bernilai lebih. Meski hanya dalam tulisan. Kamu tahu kan maksudku?

Langsung saja. Aku... aku telah jatuh cinta denganmu......

Lembar Asa (Diary Ukhti Part 2)



Dear Diary,

Diary, hari ini kembali aku menyentuhmu: benda yang paling kusayang. Hari ini aku kembali menulis tentang sesuatu. Kuharap penaku ini tak melukaimu karena kutulis selalu. Tentang dia.

Tentang dia, aku melihatnya dalam siluet mimpi yang lelap. Dengan terpana aku menatap horison yang penuh makna. Ketampanannya. Keramahannya. Senyumnya. Dan penampilannya yang berkharisma. Dia telah mencuri hatiku. Dan tak bisa kusangkali ternyata aku telah jauh jatuh terperosok dalam rona cintanya.

Lembar Bunga (Diary Ukhti Part 1)



Dear Diary,

Diary, kamu tentu tahu apa yang ada di dalam hati ini dan apa yang tengah kurasai. Aku jatuh cinta, Diary. Aku jatuh cinta! Ya, inilah pertama kalinya aku jatuh cinta. Diary, kau tentu tahu bagaimana rasanya seseorang yang tengah jatuh cinta. Bahagia. Indah. Semuanya jadi tampak indah. Mempesona. Ah, kuyakin tak perlu kuceritakan kau sudah tahu bagaimana rasa seorang yang tengah mendamba cinta, karena berjuta-juta orang mengungkapkan rasa hatinya dalam sebuah tulisan. Dalam sebuah diary.

Aku amat mencintainya, Diary. Tapi kamu tahu nggak dia yang aku cintai itu? Baiklah, aku akan ceritakan.

Wajahnya yang Segera Sirna


Please, bacanya pelan-pelan aja ya... Oya, sebelumnya play dulu music player di bawah ini ya...

SHERINA - LIHATLAH...

* * * * *

Hatiku sedih, hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah
Hatiku bertanya, hatiku curiga
Mungkinkah kutemui
Kebahagiaan seperti disini?



One Day after That....


Di suatu pagi. Kelas yang sepi. Bangku di atas meja yang masih berdiri. Kotak sampah yang penuh dan belum sempat terbuang. Papan tulis yang masih tertulis pelajaran kemarin dan belum terhapuskan. Lantai kelas yang dingin. Terpampang daftar nama-nama siswa piket harian di sebelah papan tulis, tapi pagi ini begitu sepi tak ada yang membersihkan. Meja guru, ia kosong. Taplak meja yang lusuh itu hanya akan menjadi saksi atas ilmu-ilmu yang dengan ikhlas mereka berikan, dengan tulus mereka ajarkan. Di hadapan kita, tersusun berjajar kursi-kursi yang penuh dengan kenangan, warna, dan wajah-wajah sirna. Wajah-wajah yang pernah mengisi kelas dengan nafas, pernah mengisi kelas dengan absensinya, pernah mengambil ilmu dari papan tulis di hadapannya.

Sekarang tataplah lekat-lekat sudut-sudut ruangan kelas yang sepi senyap. Sejenak mungkin kita dihantarkan pada hari-hari yang baru kita lewati. Tertawa bersama, berfoto-foto dengan narsisnya, bernyanyi-nyanyi dengan seenaknya tanpa pernah berpikir bahwasanya ada hari ini. Saat dimana kita terpatung bisu manatap proyektor hati yang tengah mereka ulang semua hal indah yang pernah dan sudah. Kita baru tersadar bahwa perpisahan memang menyakitkan, memang sulit meninggalkan sebuah abstrak bernama kenangan. Terlebih saat dimana SMA, saat-saat terakhir mengecap putih abu-abu, saat terakhir menduduki bangku tempat belajar yang tak akan pernah ada yang seindah ini lagi. Dengan tatap setengah sadar kita mencoba menghadirkan memanggil wajah-wajah kenangan di sudut kelas ini, namun tiap ratusan kenangan yang hadir justru membuat kita tak kuasa menahan rasa. Ya, kita seakan menghirup nada sesaknya rindu, mereka seakan hidup lagi di kelas ini dan ada. Bersama di tengah-tengah kita. Mereka saakan mengajak kita bicara, dan bertanya tentang PR, Soal-soal, tugas, dan pelajaran-pelajaran yang belum dimengerti. Mereka tersenyum, ingin rasanya membagi kebahagiaan bersama kita. Beberapa sahabat menegur kita dengan keramahannya, terasa kental persaudaraan yang tercipta. Namun ada juga wajah sahabat yang tengah sedih karena masalahnya, dan menunggu kita untuk membantunya.

Ice Climbing


Sebelum baca tulisannya, tonton/ klik play dulu ya video-nya...


Video ini pertama saya lihat pas saya ngikut acara “Quantum Learning” di SMPN 1 Baradatu tanggal.... (tanggal berapa ya, lupa deh! Hihi...). “Quantum Learning” adalah sebuah acara motivasi buat para pelajar yang tentunya dan pastinya bikin semangat untuk berbuat, belajar, dan berkorban lebih. Pada ending acara itu ditampilkanlah video ini, sebenarnya video ini sangat sering ditampilkan dalam berbagai acara-acara motivasi, so buat kamu yang udah sering ikut pelatihan or “Quantum Learning” tentunya udah pernah ngeliat video ini (hehe... sotoy! Eh, baksoy aja ding...). Dan pertanyaan yang muncul dari sang trainer sesaat kami nonton video ini adalah, “Apa pesan yang bisa kamu ambil dari video di atas?”

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...