Pagi Hati


Ketika kubuka pintu subuh. Takjub hati yang tergambar. Subhanallah jiwa yang termekar. Paras wajah subuh seakan penuh dengan kedamaian dan gebu rasa sebuah cinta. Di balik embun di atas kaca. Di antara gelap yang mentabirkan cahaya dan kantuk. Di tengah raga yang setengah terjaga. Ah, subuh memang selalu hadirkan bau akan rindu. Rindu akan sinar-Nya yang kudamba hidayah-Nya. Rindu akan sebuah rasa yang dulu ada namun kini mulai luntur karena futur. Rindu pada bulan-bulan yang indah penuh barakah, rahmah, dan juga maghfirah. Allah, betapa inginnya aku setiap subuh kau paksakan aku untuk bangun. Untuk menyibak selimut futurku kala subuh. Untuk berkelahi dalam gelap serta kabut yang membekap. Aku ingin mengalahkan kebiasaanku, Allah!


Kutahu, subuh adalah begitu indah! Tapi kenapa ya ya Allah, hangat yang sejenak lebih manjanjikan bagiku? Apa karena benar-benar diri ini telah begitu jauh dari-Mu? Ya Allah, aku rindu akan belaian-Mu. Aku rindu bau cinta-Mu. Aku rindu Maha rindu-Mu. Aku ingin mendengar isyarat tasbih alam-Mu. Aku ingin mengeca khusyu’-nya guguran kesejukan-Mu. Aku ingin merasa angin nafas-Mu, hingga patahkan kesombonganku. Aku ingin terpana pada-Mu. Aku ingin membuat hati berseri di negeri yang berseri ini. Aku ingin membuang gentingnya hati ini menjadi denting yang mengalun asma-Mu. Aku ingin berbaris dalam himpunan shaff-shaff-Mu yang Maha indah. Aku ingin tenggelam dalam syair-Mu. Aku ingin terjun dari tingkap-tingkap kebiasaanku...

Allah, beri aku cahaya-Mu. Hingga kudapat dengar lagi tasbih burung di pohon imanku. Agar kudapat sentuh anugerah terindahmu dengan tafakurku. Aku tidaklah istiqomah seperti karang yang tegar hempas sang laut. Aku tak se-ikhlas burung yang memberi makan anaknya di sarang ketika pagi. Aku tak seperti lebah yang memberi berjuta manfaat, pelajaran, jutaan ketelitian dan menempelkan serbuk sari. Aku tak sejujur birunya langit-Mu. Aku tak seperti matahari yang tunduk pada-Mu dengan hebatnya, ia membakar dirinya untuk menerangi jagad antero semesta. Tanpa lelah, tanpa kesah, dan ia istiqomah jalani titah-Mu. Ya Allah, kapan aku bisa seperti ciptaan-Mu itu?

Ya Allah ciptakanlah pagi di hatiku. Terbitkan mentari di ufuknya. Ajari aku untuk menjadi manusia yang mendekati tempat sempurna, seperti ayat kauni ciptaan-Mu yang Maha indah dan sempurna. Buatlah aku menjadi aku yang seperti aku yang kukenal dulu: bisa merasakan kedekatan pada-Mu, mencintai hamba-hamba karena-Mu, merasa kesejukan hidupku. Aku ingin kembali seperti hamba-hamba yang Kau cintai. Yang membumbung hati menatap langit-Mu. Lepas hati menatap laut-Mu. Yang menafaskan-Mu kala memandang pemandangan-Mu. Yang selalu berdzikir ketika subuh di hati yang pagi. Adakah yang mampu membuatku berdiri selain hidayah-Mu? Ya Allah, berikan sebuah pagi hati...

* * * * *

Baradatu, 25 Februari 2010
Ketika lemah tanpa-Mu

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...