Wajahnya yang Segera Sirna


Please, bacanya pelan-pelan aja ya... Oya, sebelumnya play dulu music player di bawah ini ya...

SHERINA - LIHATLAH...

* * * * *

Hatiku sedih, hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah
Hatiku bertanya, hatiku curiga
Mungkinkah kutemui
Kebahagiaan seperti disini?



One Day after That....


Di suatu pagi. Kelas yang sepi. Bangku di atas meja yang masih berdiri. Kotak sampah yang penuh dan belum sempat terbuang. Papan tulis yang masih tertulis pelajaran kemarin dan belum terhapuskan. Lantai kelas yang dingin. Terpampang daftar nama-nama siswa piket harian di sebelah papan tulis, tapi pagi ini begitu sepi tak ada yang membersihkan. Meja guru, ia kosong. Taplak meja yang lusuh itu hanya akan menjadi saksi atas ilmu-ilmu yang dengan ikhlas mereka berikan, dengan tulus mereka ajarkan. Di hadapan kita, tersusun berjajar kursi-kursi yang penuh dengan kenangan, warna, dan wajah-wajah sirna. Wajah-wajah yang pernah mengisi kelas dengan nafas, pernah mengisi kelas dengan absensinya, pernah mengambil ilmu dari papan tulis di hadapannya.

Sekarang tataplah lekat-lekat sudut-sudut ruangan kelas yang sepi senyap. Sejenak mungkin kita dihantarkan pada hari-hari yang baru kita lewati. Tertawa bersama, berfoto-foto dengan narsisnya, bernyanyi-nyanyi dengan seenaknya tanpa pernah berpikir bahwasanya ada hari ini. Saat dimana kita terpatung bisu manatap proyektor hati yang tengah mereka ulang semua hal indah yang pernah dan sudah. Kita baru tersadar bahwa perpisahan memang menyakitkan, memang sulit meninggalkan sebuah abstrak bernama kenangan. Terlebih saat dimana SMA, saat-saat terakhir mengecap putih abu-abu, saat terakhir menduduki bangku tempat belajar yang tak akan pernah ada yang seindah ini lagi. Dengan tatap setengah sadar kita mencoba menghadirkan memanggil wajah-wajah kenangan di sudut kelas ini, namun tiap ratusan kenangan yang hadir justru membuat kita tak kuasa menahan rasa. Ya, kita seakan menghirup nada sesaknya rindu, mereka seakan hidup lagi di kelas ini dan ada. Bersama di tengah-tengah kita. Mereka saakan mengajak kita bicara, dan bertanya tentang PR, Soal-soal, tugas, dan pelajaran-pelajaran yang belum dimengerti. Mereka tersenyum, ingin rasanya membagi kebahagiaan bersama kita. Beberapa sahabat menegur kita dengan keramahannya, terasa kental persaudaraan yang tercipta. Namun ada juga wajah sahabat yang tengah sedih karena masalahnya, dan menunggu kita untuk membantunya.

Ingatlah ketika kita belajar bersama untuk menghadapi tantangan Ujian Nasional! Dengan peluh payah susah memaksa diri untuk mengerti semua pelajaran. Kita terkadang belajar hingga larut malam dengan harapan bisa lulus pada sebuah “Ujian” yang sebenarnya justru akan memisahkan kita. Tapi kita tahu, memang itulah jalan kita. Ingat saat kita bimbel, membawa bekal dari rumah masing-masing dan memakannya bersama di kelas, ah... terasa sekali kenikmatannya. Setelah itu kita belajar belajar dan belajar lagi ketika bel bimbel berbunyi. Otak kita seakan di doktrin untuk harus mengerti pelajaran, meski untuk itu ada juga diantara kita yang terkantuk bahkan mungkin tidur mendengar cuapan guru yang kita cintai.

Ingatlah saat kita pulang dari bimbel. Ah, sangat terasa perjuangan dan kelelahan untuk hari itu: pulang hingga sore hari, saat matahari telah meng-emas-kan senjanya. Tapi kita masih menunggu tumpangan untuk pulang dengan ojek ataupun bis, menunggu mobil di tepian jalan di depan sekolah ini. Sangat terasa sekali lelahnya. Langit mulai menampakkan warna jingga dari riak mentari yang melemah. Dan hijau warna pohon-pohon mulai menghitam. Perlahan kita menaki tumpangan untuk menuju pulang ke rumah. Terbersit doa mudah-mudahan letih dan lelah ini terbayarkan dengan indahnya sebuah “kelulusan” . . .

Sekarang, “kelulusan” itu telah kita genggam. Kita senang dan bahagia dengan kerja keras kita yang membuahkan kemanisan, “kelulusan”. Tapi, “kelulusan” itu hari ini menghantarkan kita kembali di kelas ini. Setengah terjaga kita menatap lagi gambaran sahabat-sahabat kita yang di dada terasa membuncah kangen akannya... senyumnya, sedihnya, tawanya, tangisnya, pintarnya, bodohnya, dan juga konyolnya. Segala waktu yang pernah tercipta dan wajah-wajah di ruang ini berpendar-pendar cepat di fikiran kita. Semua kejadian-kejadian bertumpuk di hadapan mata kita, semuanya seakan hidup kembali, di kelas ini...

Namun sayangnya itu takkan pernah ada lagi di zaman ini. Bayangan itu hanya abadi di dinding-dinding kelas, dan hanya bisa dicerna dan dimakna oleh siswa yang benar-benar punya kerinduan yang dalam serta kecintaan yang besar akan kelasnya, dan juga sahabat-sahabatnya.

Lamat laun kita kembali ke dunia nyata. Kelas yang sepi. Lantai yang dingin. Dan dinding-dinding yang masih menyisakan wajah-wajah senyum. Detak detik-detik jam boleh saja kembali menghantarkan kita ke belakang dan kembali pada proyektor masa lalu, namun satu hal yang pastinya terjadi: wajahnya telahlah sirna. Takkan pernah lagi kita jumpai wajah-wajah yang tegar, wajah-wajah yang penuh semangat, wajah-wajah yang murah akan senyuman, wajah-wajah ceria, wajah-wajah paling konyol dari sahabat kita, yang iseng dan yang suka ngejahilin, wajah-wajah yang pintar, pendiam, cerdas, kreatif, wajah-wajah yang jenius serta wajah-wajah yang suka nyontek saat ulangan.

Wajah-wajah dikala duka salah seorang sahabat kita, tangisnya, saat ia tengah lalui berbagai masalah internalnya, dan menunggu kita untuk membantunya, atau paling tidak sedikit meringankan beban yang ia rasa. Ada wajah-wajah yang putus asa namun asa itu bangkit lagi, wajah-wajah luar biasa dan tak akan tergantikan, wajah-wajah yang penuh dengan sambutan hangat. Wajah saat antar sahabat saling bermusuhan, ngambekan, cuekan, dan akhirnya baikan lagi, menjadi sebuah siklus indah yang menghiasi warna persahabatan. Ingatlah wajah sahabat kita yang sedang terbaring lemah di rumah atau di rumah sakit karena sakitnya, ia tidak bisa sekolah. Tentu jika mereka ingin bicara, mereka ingin lekas segera untuk sembuh, untuk kembali melangkah melewati kelas-kelas, piket, membuang sampah, dan belajar seperti adanya kita. Lihatlah wajah sahabat kita yang sayu, yang terlihat pucat, lemah, namun tetap nekat untuk sekolah. Ia masih menghadirkan sebuah senyuman untuk kita meski kita tahu senyuman yang ia berikan itu berat untuk dihadiahkan kepada kita. Tapi terbersitkah di hati kita untuk memikirkannya?

Tahukah kita akan sahabat? Sahabat adalah seseorang yang paling berharga di dunia, ia tak pernah bisa dikalahkan oleh sosok pengganti lainnya karena dia adalah bagian dari segalanya, ia adalah cinta, ia adalah wajah-wajah yang mampu membuat kita hidup dalam kehidupan, ia membuat kita bangkit dalam kebangkitan, sahabat adalah hal yang paling berharga di dunia dan takkan terganti tempatnya karena dia adalah kita, karena kita adalah dia. Dia memberi tahu tentang 5W1H apapun pertanyaan kita. Dia orang tua, dia guru, dia kakak, dia adik, dan dia juga diri kita. Ya, jika kita tahu itu, tentunya kita ingin mengulang dan memutar kembali waktu yang sudah kita lewati, dan memperbaiki pandangan kita bahwa sahabat sangatlah begitu berarti. Ya, semua itu sudah tercatat dalam buku harian sanubari... tapi sayangnya kita tak akan pernah bisa mengulang dari awal kenangan yang tercatat di akhir tahun-tahun kedewasaan, lagi...

* * * * *

Epilog:

Percaya nggak sih kita dengan sebuah perpisahan? Tentu setiap kita tahu bahwa semua hal yang berjudul perpisahan adalah menyakitkan, atau paling tidak menyedihkan. Khalil Gibran pernah berkata, “Cinta tak mengetahui kedalamannya, sampai ada saat perpisahan.” Apa sih emangnya maksudnya? Ah, tentu jika kita sudah melewati One Day after that, baru kita bisa ngerti.

Oops, tapi yang jelas kita saat tamat SMP juga pasti sudah merasakan hal yang satu ini.. Pas SMP kita dengan sahabat kita atau beberapa sahabat kita yang kita cintai berpisah, tentu sebenernya kita nggak menginginkan itu. Tapi karena dasar “Cita-cita”, persahabatan memang kadang mesti harus terpisah. Kita sangat sulit menerima takdir, kecuali pada sebelumnya kita menciptakan/ memberikan sebuah kenangan yang amat indah dan berkesan.

So, mulai sekarang mari kita semua curahin semuanya dengan sahabat-sahabat kita. Kalo perlu simpan kenangan-kenangan itu, jangan biarkan kita mampu melupakan saat-saat putih abu-abu seperti ini berlalu. Ingat hari-hari yang terasa sempurna, andai kita bisa mengabadikan kesempatan itu. Dalam foto, mungkin. Mulai sekarang inget-inget hutang yang mungkin belum terbayarkan karena kita lupa (atau emang karena kitanya yang nggak pengen ngebayarnya, hehe...) sudah saatnya kita lunasi itu. Mungkin selama ini kita belum bisa memberikan kebahagiaan, belum bisa membuat senyum di wajah mereka, sekarang sudah saatnya kita berikan curahan kebahagiaan yang tertunda, sudah saatnya kita membalas kebaikan mereka dengan sepenuh hati, jangan sampai dan jangan biarkan kebersamaan kita yang hanya tinggal beberapa belas ini tersia karena kita melewatinya dengan biasa, dan kita masih punya hutang kebahagiaan dengan mereka. Ya, mulai dari sekarang berikan yang terbaik untuk sahabat kita. Ciptakan suasana hidup yang jauh lebih hidup di kelas kita.

Kita semua tahu kita semua akan berpisah, tapi berikan sesuatu yang terbaik sebelum perpisahan itu datang, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nantinya dengan sahabat kita, dan ketika itu sudah tak ada gunanya lagi penyesalan kita...

* * * * *

By: Ibnu Anwardani
Baradatu, 18 Februari 2010
For all of my friends... ^_^
Kutulis dengan sepenuh hati...

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...