Cerita Hujan tentang Ia


Meski hujan jatuh dengan perlahan, namun guyurannya seakan enggan untuk berhenti. Sudah sekitar sejam ia membasahi bumi. Dan masih ingin terus membasahi malam ini. Langit yang hitam menangiskan karunia Tuhan saat malam yang sepi seperti ini. Dan karunia-Nya jatuh pada tanah yang Ia kehendaki atas hamba yang penuh tunduk, syukur, dan tafakur.

Hujan masih menyirami dengan tiap mili air-air yang subhanallah. Gemercik suara tetesan hujan yang terpantul saat menempa genting dan jatuh dari cucuran atap kemudian memercik pada tanah menciptakan riak kedamaian dan ketakjuban. Bagai tasbih alam yang senantiasa menyucikan asma-Nya dimanapun berada. Aku tidak seperti alam yang selalu ingat untuk menasbihkan binal atas Pencipta. Aku juga tidak seperti burung-burung yang selalu menyambut indahnya ayat-ayat kauni pagi dengan tasbih-tasbih kicau yang merdu. Aku kadang lupa atau yang lebih tepat lagi lalai atau lebih tepat lagi melupakan untuk menafaskan hari dengan tasbih. Celakanya aku lebih sering dan senang mengingat salah seorang hamba yang sesungguhnya dhoif ketimbang –Nya yang khalik. Ampuni jika aku salah, Allah…
* * * * *


Segelas kopi susu malam ini temani belajarku. Entah kenapa rima hujan hadirkan senyummu disini. Masa lalu kembali tergambar dalam siluet malam yang kutantang. Tiba-tiba aku nyengir sendiri menatap aku-aku yang dulu. Tentang hujan, tentang malam yang seperti ini, tentang saat-saat ingin menghadapi UN, semuanya hadirkan lagi cerita tentangmu. Setidaknya malam ini, aku ingin kembali mengenangmu, meski yang kubaca dari buku, “Mengenang masa lalu itu adalah keterpurukan.” tolong izinkan aku...

Tiga tahun lalu, jika saat-saat seperti ini—hujuan dan gerimis tipis, biasanya aku tengah bercanda denganmu. Dalam ketikan teks-teks yang berwarna hitam namun bagi kita begitu penuh warna. Biasanya saat-saat seperti ini, resah hujan yang rintik, kamu minta diajarkan soal-soal matematika yang belum kamu mengerti. Ah, dulu aku memang jagonya matematika. Dan kuajarkan kamu meski hanya dengan media pesan singkat, namun penuh warna.

Biasanya juga, saat-saat seperti ini kita sedang maen miskol-miskolan. Kenapa ya ketika itu kita doyan miskol-miskolan? Ku tak tahu alasanmu. Tapi jika aku ditanya, maka akan kujawab, karena aku bahagia mendengar suaramu. Meski hanya sedetik kamu berucap, “Assalamualaikum...”, itu bisa hadirkan semenit senyumku. Suaramu begitu khas dan kusuka. Dan ketika itu nyawaku seakan terangkat capai lintasi ketujuh langit.

Ya sih, itu memang konyol. Masak hal yang sepele bisa sebegitunya nganggep penuh warna-lah, terbang-lah, cinta-lah, dan singgungan senyum dengan indahnya. Tapi sobat, kau harus percaya keajaiban sebuah cinta. Sebuah wujud “konyol” bisa berubah menjadi bahagia yang tak terkira dan terduga. Tapi jika kau tak percaya, sobat, maka ketahuilah, hal ini hanya bisa dicerna, dimakna, dan diterjemah oleh orang-orang yang tengah jatuh cinta...

Three years ago, gara-gara aku pernah sebangku denganmu, hal-hal yang asing namun indah mulai kukanal. Kata-katamu yang menyejukkan kembangkan wajah untuk tersenyum. Hatiku seakan luas dan ingin tetap disana. Sejuta gombalisasiku buat kau jengkel sumringah hingga kau cubit pipiku. Sejak itu aku tersadar, bahwa inilah kedua kalinya Allah titipkan cinta dibalik bangku meja setelah cinta monyetku ketika SD.

Alcerita kisah kita terus berlanjut. Di bukuku, dulu suka kutulis sajak-sajak yang bagiku bagus, bukan buatanku, aku dulu mana bisa menulis. Suatu kali kamu membacanya, dan dengan serta merta kamu berkata, “Ihh, kamu itu pujangga ya?”, Ah, aku hanya bisa tersenyum karenanya.

Kisah tentang air terus berjalan, berlajut hingga menemui muara. Ketika belajar, ketika guru kita tengah menerangkan, kita malah asyik menukar kertas yang orang lain tak boleh tahu apa isinya. Kita menyebutnya kertas itu “SMS kertas”. Akibat dari SMS kertas itu, berlanjutlah pada sebuah SMS beneran. Berlanjut pada miskol-miskolan. Dan berlanjut pada sebuah perhatian yang mewujudkan rasa sayang. Aku mulai belajar mencintaimu dengan sepenuhnya. Segapai apa yang kubisa. Sebesar apa yang kupunya. Dan sekeping hati yang bisa kupersembahkan adanya.

Karenamu ku bisa berangkat lebih pagi, lewati kedinginan kelas dan lantas mendapat sambutan hangat senyum pagi darimu. Jendela seakan terbuka, aku jadi lebih berani tatap matahari. Kamulah uztadzahku, yang bisa membuatku ber-shaum, dhuha, lail, dan membaca Al-Ma’tsurat. Kamu juga yang membuatku terpaksa namun ikhlas mengeluarkan senyum indah yang paling indah, ramahku yang paling ramah. Sedetikpun tak ingin aku ciptakan kesedihan dan kesahmu. Itulah wujud betapa besarnya cintaku.

Aku jadi kembali teringat. Waktu itu kita suka sekali memakan cokelat tim tam, terpaan angin pagi dan hadirnya kamu membuat cokelat seharga Rp. 500 ini jadi begitu nikmat dan penuh rasa. Seiring berjalannya waktu sahabat di kelas kita mulai tahu apa yang ada antara kita berdua. Mereka malah menyomblangi, menggosipi, ngeledeki kita. Dan kata mereka yang paling kubenci ketika kita kepergok ialah, “Cccciiieeeee... cciiee ciee cciieee.....!!!”. kata-kata itu bagiku menyebalkan—menyebalkan tapi lucu, lucu tapi menjengkelkan, menjengkelkan tapi indah. Ah, entahlah, “Ciee..” emang aneh buatku. Antara bahagia dan kekesalan, tapi indah setelahnya.

Aku belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini, kekaguman seperti ini. Jika aku boleh meminta maka aku ingin selalu merasakan kebahagiaan saat-saat bersamamu. Jika aku boleh berkata, maka aku ingin merasa dan mendapat perhatian yang dengan tulus kamu berikan. Jika boleh hatiku bicara maka ia akan berkata ia ingin melewati hari-hari dengan senyum-senyummu yang menghiasnya. Kamu adalah hal terindah yang pernah ku kecup di dunia.

Satu hal yang paling khas darimu ialah kecengenganmu. Unik bagiku. Pernah suatu ketika ada salah seorang teman yang tak sengaja menyumputkan sepatumu di dalam kotak sampah. Dan karena tahu sepatumu disumputkan, kamu sejadinya menangis. Bermula dari situ aku tahu bahwa kamu itu cengeng. Temanku pernah bercerita, entah ucapannya bisa kupegang atau tidak, katanya ketika kelas VII kamu pernah kehilangan uang seribu rupiah dan menangisinya. Aku terkekeh dalam tawa, ternyata kamu lucu juga...

Dari situ, ku belajar untuk sebisanya mungkin membahagiakan dan tidak menyakitimu.

Pernah suatu pagi ketika Latihan Ujian nasional, kamu belum datang namun sebentar lagi bel dibunyikan. Aku khawatir juga padamu. Tapi akhirnya sesaat sebelum bunyinya bel pertanda masuk, sesaat sebelum kekhawatiran memuncak, kamu hadir juga. Dengan langkah setengah berlari, dengan senyum manis yang kau lontarkan di hadapanku, ku tangkap keindahanmu ketika itu. Sejuk rasanya menatap senyum di pagi itu. Jilbabmu berkibar terterpa angin pagi yang lembut, bagai seorang aktris yang tengah akting dan diberi kipas angin besar di depannya. Belum pernah kulihat senyum seindah ini...

Ketika hendak perpisahan SMP bersama teman-teman, kita waktu itu mengukir nama kita berdua di pohon di depan kelas kita. Harap nama dan kenangan kita abadi di sini. Tak hanya di satu pohon, tapi lebih dari satu pohon yang kita tulis nama kita. Entah saat ini masih adakah nama tersebut. Kupikir saat ini telah tiada dan luntur serta hilang.

Tibalah saatnya kita mengenakan seragam SMA, ternyata kita satu SMA juga. sayangnya tak satu kelas lagi. Tapi tak apa, semi masih mengiringi decak kagumku padamu. Ketika pagi hari, kita berangkat dengan naiki mobil kecil—angkot—, tembus embun-embun yang menyingkap paginya jalanan. Dan sampailah kita di sekolah.

Setelah terus-dan terus air itu berjalan, mengalir, dan menganak sungai. Entah kenapa, gara-gara salahku, semua ini salahku, aliran air kita mengalami koagulasi di muara. Hancur. Disini aku termangu. Kau disana terdiam. Sekali lagi ini salahku. Semua karenaku. Jadilah kita berdua pemegang sebuah wujud rasa yang tak terisyaratkan.

Lamat laun, kekecewaanmu kau ungkapkan. Aku memang pantas mendapatkan apa yang kau pinta. Ngilu rasanya. Terlebih setiap waktu harus bertatap muka dengan makhluk bernama kamu di kelas. Pahit rasanya. Hari-hari pertama di kehidupanku yang baru, kupaksakan untuk mengenyahkanmu. Tapi masalahnya, setiap berangkat ke sekolah aku seakan tidak membawa nyawa. Nyawaku kutinggal bersama kenangan-kenangan SMP yang indah-indah. Futurku memuncak, berkelanjutan, dan tak ada gairah dalam kehidupan. Sahabat-sahabat dekatku bertanya dan berkata-kata, “Ada apa, Nu?”, “Mana Inu yang dulu, yang semangat? Ayo geh...”, “Laki-laki itu adalah makhluk yang paling kuat!”, “Aku salut dengan kamu, kagum juga, nggak semua orang bisa ngelewati masalah seperti ini dengan mulus. Tapi kuharap kamu nggak kayak begini terus.”, “Sakit yang dirasa adalah sebagai penawar dosa.”, “Mana Inu yang kukenal?”, dan lain sebagainya.

Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Padahal disini aku telah mencintaimu dengan berbagai cara. Kini angkot kecil yang antarkan aku ke sekolah, tak lagi lewati embun, tetapi kabut-kabut yang menyesakkan. Kini kita kelas XII, sama-sama sekelas, sama-sama satu SMA, sama-sama hendak hadapi sebuah Ujian Nasional, seperti halnya kita SMP dulu. Tapi waktu takkan mungkin lagi terulang untuk periode yang sama ini. Jadilah aku begini adanya. Aku mulai mencari sahabat saja. Tanpa hadirmu, aku akan mengganti dengan sahabat-sahabatku. Toh dengan mereka, aku jadi lebih bijaksana.

Kenapa aku harus bersedih? Kan emang dari dulu aku bukan sesiapamu. Iya kan? Betapa bodohnya aku.

* * * * *

Epilog:

Aku masih menggoreskan pena pada rumus-rumus matematika dan soal-soal ala Ujian Nasional, ditemani ingatanku padamu. Tapi aku tak mampu menggoreskan rumus cinta. Serta tak bisa aku menarik makna cinta dengan rumus-rumus yang ku hafal di luar kepala. Sampai kapanpun aku tak ingin kalah darimu. Aku ingin juga sepertimu. Akan kujadikan pahit ini sebagai motivasi untukku berubah, untukku mengubah diri, biarkan aku memperbaiki hati. Dan tunggulah saatnya nanti. Terima kasih untuk semua yang pernah engkau beri dengan penuh cinta dan setulus hati...

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...