Pergilah ke Way Kanan-ku...!!


By: Inu Anwardani


Pergilah ke Way Kanan, dan kau temukan Indonesia....

Dari ujung pulau jawa melajulah engkau secepat mungkin di atas selat sunda menuju pangkal dari sumatera. Taklukkan ombak-ombak yang menghempas. Lawanlah angin laut yang mengombang-ambingkan nahkoda seperti kapas. Rasakan percik gemercik debur air laut yang lentik dan membisik. Dan teruslah menaklukkan samudera biru dengan pukauan cakrawala yang membentang di atasnya.

Hingga akhirnya kau kan pijaki sebuah tanah yang ada di batas laut biru itu. Dari tanah yang kau pijak itu berlarilah ke utara, menyusupi mata angin, menerobos dimensi lorong ruang. Hingga akan kau temukan simbol tertinggi daerah ini, Siger. Inilah ibukota tempat ini. Tempat yang mulai menampakkan kemajuan dan ingin menjadi layaknya metropolitan. Namun bukan ini tempat yang kita cari.

Perjalanan belum berakhir. Kita akan menuju ke sebuah tempat yang masih terasa keasriannya, masih terasa berserinya. Ya, kita akan pergi ke utara. Melajulah dengan kecepatan tertinggi, karena perjalanan tidaklah dekat. Pacu! Rasakan angin yang mengibas-ngibas mukamu dan menyisir rambutmu. Taklukkan jalanan dan teruslah ke utara. Arungi jalanan berkelok dan berbukit serta berlubang juga penuh akan tambalan. Tetaplah merajai jalanan di negeri tapis ini.

Dengan kecepatan tertinggi itu lihatlah olehmu di sisi jalan. Maka akan terlihat bayangan kabur putus-putus. Dan rasakan matamu mulai memerah dan berairmata karena angin yang kau tantang. Akan kau sambangi jalanan yang penuh rerimbunan pohon setelah tanjakan itu. Kau telah melewati tanjakan itu. Lihatlah di sekelilingmu! Jajaran bukit barisan terpancang kokoh mengelilingimu. Secepat apapun kau memacu kecepatanmu maka secepat itu pula lah bukit barisan membuntutimu di belakang.

Teruslah melaju ke utara dan tetap merajai jalanan kota ini yang berkelok. Ditemani deburan angin dan teriknya matahari. Ditemani jajaran bukit menggunung. Lewati kebun-kebun kopi yang terkenal dari daerah ini. Tanah lada, cengkeh, sawit, karet, jati beserta karunia Tuhan melimpah lainnya. Lihatlah, di depan, di tugu itu. Pertanda bahwa kau tengah memasuki negeri seribu air terjun. Tempat yang kumaksud.

Sekarang kau telah berada di tempat paling utara di utara tempat ini. Kau tengah memasuki wilayah baru. Langit yang berseri, wajah daerah yang bersanubari. Ya, sebuah negeri tapis berseri, “Air Kanan”. Wilayah yang belum pernah kau kunjungi sebelumnya. Agaknya tempat ini biasa. Tapi sejenak berjalanlah ke arah pasar dan tepat di depan Masjid yang ada pertigaan itu kau belok kanan. Di gang itu kau akan temui rumah kecil yang terdapat pohon alpukat yang mandul tak berbuah di depannya. Tahukah engkau rumah siapa itu? Itulah rumahku. Tempat kelahiranku. Dimana aku dibesarkan. Ketuklah pintu rumah itu. Jangan lupa ucapkanlah salam. Aku yang ada dibalik pintu akan menjawab salam dan menerima siapapun yang bertamu. Tapi ada perlu apa engkau menemuiku?

Orang bilang Lampung adalah Indonesia majemuk. Di tempat ini kau juga akan temukan hal itu. Beraneka ragam tempat dan suku akan kau temui disini. Pilih satu diantaranya! Padang, Palembang, Bengkulu, Sunda, Jawa, Bali, dan lain sebagainya. Itu semua bisa kau temui disini. Tempatku ini bak sebuah lorong yang mampu menuju ke sebuah tempat dimanapun di indonesia.

Di sekitaran rumahku ini adalah kawasan campuran berbagai macam suku. Ada Lampung, Ogan, Semendo, Padang, dan Jawa. Desa ‘Tiuh Balak Pasar’ namanya. Tiuh artinya Desa, dan ‘Balak’ artinya Besar. ‘Tiuh Balak Pasar’ maksudnya sebuah desa yang besar yang ada di sekitaran pasar. Jika engkau berbelok ke arah gang yang satu itu dari rumahku ini, maka disana adalah kompleks perantauan dari Sumatera Barat, khususnya Padang.

Disini akan kau temukan berbagai macam tempat di indonesia. Ikutlah denganku, kau akan ku ajak berkeliling indonesia di tempat ini. Ikutilah aku!

Mari kita ke sebuah jalan bernama jalan Datu. Dari pertigaan ini kita berjalan ke timur 500 meter. Jika kita belok kiri di prapatan ini maka akan kita temukan sebuah tempat bernama ‘Kediri’. Tapi kita tidak berbelok ke kiri, melainkan terus lurus. Setelah melewati PLN itu maka kita akan temukan sebuah tempat bernama ‘Semarang’ dan ‘Solo’. Dan di tengah tempat tersebut terdapat sebuah lapangan sepak bola bernama ‘Lapangan Semarang’, bukan ‘Stadion Jatidiri’ seperti halnya Semarang asli. Setelah melewati lapangan sepak bola itu kita belok kanan di perempatan pedesaan itu. Jika kita berjalan lurus maka kita akan bertemu sebuah tempat bernama ‘Merapi’. Setelah belok kanan kita akan melewati sebuah turunan. Dibawah turunan itu terdapat sebuah kandang babi milik seseorang. Tutuplah hidungmu, karena bau ratusan babi tersebut. Bau tersebut tidaklah enak. Menyesakkan dan ingin muntah.

Setelah melewati bau tidak sedap itu kita akan menikmati keindahan Semarang. Ya, inilah hamparan sawah luas yang ada di tepi sisi jalan ini. Kita berhenti sejenak. Menikmati hijau-hijau sawah yang membentang luas. Nikmati angin-angin yang menerpa padi dan kemudian menerpamu. Hiruplah udara segar wewangian pandan yang keluar dari pandan yang ditanam di sebelah padi itu saat angin menerpa. Hamparan menghijau ini memang selalu menyihir siapapun yang melewatinya. Dan adakah kau tahu siapa yang menciptakan ini? Tahukah kamu siapa yang mengatur dengan segala keteraturannya ini? Yang menciptakan angin, yang menurunkan hujan, yang mengkilatkan petir, yang telah memberimu nikmat, yang masih memberimu hidup? Allah! Allah! Allah!

Mari kita lanjutkan perjalanan. Jika kita terus melaju ke arah jalan itu maka akan kita temukan tempat bernama ‘Madiun’. Tapi kita sekarang kembali ke arah pasar. Dan kita sekarang sudah berada di jalan raya depan pasar. Dari situ kita belok kiri dan disitu kau kan temukan sebuah tempat bernama ‘Pekalongan dan Surabaya’. Memang warga-warga di tempat ini berasal dari daerah Pekalongan dan Surabaya. Berjalanlah sedikit ke arah barat, maka akan kau temukan tempat bernama ‘Jogja’. Ada juga sebuah tempat yang bernama ‘Sidoarjo’.

Teruslah masuk menyusuri jalanan yang agak terjal di tempat ini. Dan setelah berjalan kurang lebih 10 Km maka akan kau temukan sebuah tempat bernama ‘Bali’. Karena memang disinilah tempat banyak perantauan dari Bali. Dan tak ayal masyarakat disini banyak yang beragama Hindu. Jika engkau lihat disekelilingmu maka akan kau lihat binatang-binatang liar yang dilepas begitu saja. Anjing, Babi, Kambing, semuanya dilepas begitu saja. Kadang bergerombol. Terkadang membuat jijik melihatnya. Di ujung jalan itu nampak sebuah pura. Berada di tempat ini bagi orang Bali seakan berada di Bali yang asli. Tempat ini menjadi sangat ramai jika terdapat seorang yang meninggal, karena banyak orang yang melihat prosesi pembakaran mayat yaitu ‘Ngaben’ di tempat ini.

Di sini adalah pangkalan terbesar Bus di Way Kanan, sebuah kabupaten tempatku tinggal. Dan puluh-puluhan bus-bus itu dimonopoli oleh seorang bos yang memang orang terkaya di Bali yang satu ini. Dan kebanyakan sopir dan kernet yang bekerja sebagai jasa angkutan umum itu orang Bali asli. Saking kental berbahasa Bali mereka tak ingin dipanggil dengan sebutan ‘Om’ atau sejenisnya, tetapi ‘Bli’. Jika tidak dipanggil dengan sebutan ‘Bli’, maka Om kernet itu biasanya akan marah. Tapi sebenarnya orang Bali itu ramah dan menghormati orang yang berlainan agama.

Sungguh, Way Kanan memang kaya. Kaya akan manusianya dan juga kaya akan potensi alamnya. Mungkin engkau tertawa saat aku ceritakan tentang nama-nama tempat, tapi yakinlah, ini memang ada. Aku benci orang yang meremehkan daerahku. Aku begitu bangga dengan daerahku. Karena Way Kanan-ku, adalah Indonesiaku...

Demikianlah perjalanan panjang kita. Saatnya kita kembali. Kembali dari dari khayalan mimpi menuju sebuah Lampung. Inilah daerahku. Tempatku. Suatu kali berkunjunglah lagi ke tempatku. Maka akan kutunjukkan sebuah tempat bernama ‘Mesir’, kututurkan sepertihalnya Habiburrahman el shirazy mengupas Mesir di karya-karyanya. Ya, Mesir. Di Way Kanan ini memang ada Mesir. Bukan karena orang-orang di tempat ini perantauan dari negara Mesir, bukan karena di Mesir yang satu ini terdapat Universitas Al Azhar, tapi entahlah, mengapa mereka manamakannya Mesir. Embuh!

Tanah Way Kanan ini, akan menjadi jalan yang terbentang. Semoga saja menjadi penerang nantinya. Semoga hasil buminya, semoga segala apa yang ada di dalamnya, semoga segala potensinya, membuat sejahtera masyarakatnya. Semoga para pemudanya tidak hanya bisa mengikuti sebuah arus—globalisasi, tapi bisa menciptakan arus baru yang inovatif dan membangun Way Kanan ini nantinya, bisa menciptakan karya, bisa memberi untuk tanah ini. Semoga pemimpinnya adil, benar-benar ingin menjadi “Pemimpin” yang berjiwa “Pemimpin” bukan pemimpin yang berjiwa keledai. Ya, semoga... sebutir harapan yang telah ditanam untuk tanah kelahiran, tumbuh dan terus tumbuh hingga hadirkan segala hal yang baik-baik, yang bermanfaat dan hadirkan senyum di hati tapis.

* * * * *

Epilog:

Way Kanan-ku, Indonesiaku!
Setelah ku pergi, aku kan kembali ke ratapanmu
Seka air matamu, bungkam sejenak kepenatanmu
Tunggu pemuda-pemuda yang peduli akan indahmu
Tunggu ia berjuang dengan ikhlas untukmu
Dan saatnya nanti, kau kan menjadi berseri
Seindah, sejuk, dan seperti...
Senyum tapis yang berseri...

* * * * *

[Inu Anwardani: adexinu@gmail.com]

3 komentar nih!:

adi mengatakan...

nice blog.. InshaAllah kapan2 ingin bertandang ke waykanan ini

Anonim mengatakan...

mantaf.......
untaian katanya pas......

yudha franstya mengatakan...

tempatku kok ga ada sih nu?? :-(
hehe

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...