Sebuah Pengharapan Untuk Tanah Ini...


By: Inu Anwardani



Mengawali paragraf tulisan di blog ini, izinkan saya membuat sebuah pengharapan. Andai, negara kita yang indah ini, punya orang-orang yang peduli, orang-orang yang benar-benar cinta, tidak hanya untuk ingin mendapatkan royalti belaka, tapi memang ingin untuk membuat tempat kelahirannya maju. Andai, ilmu-ilmu yang dimiliki pelajar negeri ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dibagi, dan dipublikasikan dalam bentuk teknologi. Andai, negeri ini menggunakan produk sendiri. Andai, disini, tempat kelahiran Soekarno ini punya lagi sesosok pemuda yang baru dengan semangat luar biasa, yang mampu mengubah dunia. Seperti yang pernah Soekarno katakan, ”Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia.”

Andai, negeri yang konon katanya adalah atlantis ini, yang katanya dahulu adalah negeri yang menjadi panutan peradaban dan negeri yang kaya, mempunyai pemimpin yang dahsyat, cerdas, pintar, dan memiliki seni memimpin seperti halnya Rasulullah. Ah, tapi agaknya impi dan harapan saya pudar, terkikis pesimis yang semakin hari semakin menggila. Akhirnya saya berandai saja untuk daerah kelahiran saya... Way Kanan!


Ya, daerah kelahiran saya: Way Kanan! Sebuah tanah yang kaya, melimpah. Kaya akan alamnya dan kaya akan manusia-manusia yang beragam latar belakang dan kedaerahannya. Way Kanan punya segalanya bro! Sungguh, apa yang membuat daerah saya ini untuk tidak maju?

Andai, saya mempunyai daerah seperti Bandar Lampung. Yang memiliki fasilitas pendidikan yang memadai, hingga siswanya dapat berprestasi tinggi tanpa harus pergi ke kota lain untuk mendapatkan pendidikan yang relatif lebih baik.

Andai, saya punya daerah yang dengan kekayaan alam yang dimiliki bisa mensejahterakan masyarakat. Andai, Way Kanan yang katanya banyak terdapat sawit, karet, kopi, lada, dan sebagainya ini, bisa kaya dengan anugerah yang Allah berikan di atas buminya. Andai, Way Kanan saat ini tak lagi ada sosok pengangguran, yakni pemerintah memberi lapangan kerja yang luas, dan yang pastinya setimpal dengan pengorbanan. Andai, semua guru yang masih honorer, yang masih begitu rendah imbalan jasa yang mereka berikan untuk anak-anak Way Kanan ini semuanya diangkat menjadi PNS (tentunya diadakan kualifikasi sebelumnya terhadap cara mengajarnya). Andai, pendidikan di daerah saya ini tak lagi menjadi beban, tak lagi menjadi alat pencekik leher keluarga-keluarga yang susah untuk masa depan anaknya. Ya, pendidikan digratiskan (tentunya gratis dalam tanda kutip dan cetak tebal, pendidikan yang diberikan bermutu). Andai, segenap masyarakat Way Kanan ini, memiliki cita-cita yang tinggi. Andai, segenap masyarakat Way Kanan ini berpikiran maju, tekad membaktikan diri terhadap tanah yang telah melahirkan dirinya. Saya pikir jika andai-andai-an saya itu menjadi kanyataan, maka Way Kana saya ini akan maju. Maju dan terdepan dengan semangat kebersamaan. Masih banyak sebenarnya andai-andai-an saya untuk negeri ini.

Andai, Way Kanan ini, memiliki pemimpin. Saya katakan memiliki pemimpin. Yang komitmen dengan janjinya. Yang tidak hanya meraup uang rakyat-rakyatnya. Yang selalu terjun ke dalam masyarakat. Yang selalu menjadi teladan bagi rakyat-rakyatnya. Yang selalu sholat di masjid. Pemimpin yang mengadakan pembangunan untuk sebuah kemajuan. Pemimpin yang berjiwa pahlawan, yang percaya bahwa diangkat dirinya sebagai pemimpin adalah sebagai amanah, dan akan ditagih kepahlawanannya. Pemimpin yang mengayomi kaum bawah. Pemimpin yang memberi pekerjaan layak dan luas. Pemimpin yang peduli dengan pelajar-pelajar dan dengan pendidikan. Pemimpin yang bangga dengan dirinya sendiri karena dirinya mampu mengubah bangsa. Pemimpin yang dermawan. Pemimpin yang selalu rendah diri terhadap orang lain. Pemimpin yang di mata rakyatnya adalah seorang pemimpin yang disegani dan menyejukkan.

Bukan pemimpin yang seperti kadal. Bukan pemimpin yang seperti pemimpin tikus katakan, ”Berikan gua suara. Maka akan gua korupsiin ni negara”. Bukan pemimpin yang lelet, yang lemot layaknya kerupuk melempem. Bukan pemimpin yang hanya bisa bersenang di atas penderitaan masyarakat kecil. Bukan pemimpin yang bisanya Cuma berkata di depan orang. Bukan pemimpin yang pinter nyogok, bukan pemimpin yang pinter berjanji. Bukan pemimpin yang layaknya anak bayi, apa-apa minta/ nyuruh bawahan. ”Lakukan dan mulai dari dirimu. Kamu yang terjun langsung dan bekerja. Maka rakyatmu tentu akan membantumu tanpa kau pinta...”

Saya pikir pengharapan saya itu tidaklah salah. Itu sah. Dan halal. Kamu-kamu setuju kan?!

Di akhir tulisan yang sangat sederhana ini, saya hanya ingin bertanya, ”Kapan ya Way Kanan saya ini bisa maju?”

* * * * *

[Inu Anwardani: adexinu@gmail.com]

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...