Titik Bertemunya Langit dan Laut



Subhanallah, betapa indahnya laut. Sudah amat lama nyawa ini merindukan pelukan tatap laut. Dan hari ini, aku telah berada di hadapan teduh dan debur ombak laut yang perlahan membasahi kaki. Takjub. Pasir putih yang lembut, terpan ombak kecil itu, kaki yang basah ini, birunya laut ini. Andai punya hati yang seindah kala menatap pantai-pantai ini. Kulihat di kajauhan, kapal-kapal yang berlayar, ada juga banana boat, speed boat yang melaju cepat, semuanya berapung di atas permukaan biru. Gelombang-gelombang riak yang menciptakan kedamaian. Subhanallah... agungnya Engkau Allah! Kulihat lagi dari kejauhan, perbatasan kota itu dengan laut biru, indah sobat! Kata sahabatku, itulah kota kalianda namanya. Ingin segera rasanya aku lepaskan semuanya disini... benamkan disini...

Kuabadikan gambar keindahan laut ini. Aku meminta sahabatku juga untuk memfotoku dengan background keindahan birunya laut ini. Lepas rasanya...

Beberapa sahabatku juga mengajakku untuk menaiki kapal kecil. Ketika kami tanya, ternyata cukup murah menaiki kapal itu, 3000 rupiah satu orang untuk mengantar ke pulau seberang dan kembali lagi. Kapal pun berangkat, meski perlahan, tapi begitu seru. Ada sahabat yang takut karena kapalnya bergoyang-goyang, ada juga yang begitu asyik berpose dan difoto. Aku pun dan menyiakan kesempatan ini, kuabadikan kembali gambar ini: gambar sahabatku, gambar kapal, gambar permukaan laut, juga gambar langit tak mau kalah. Subhanallah... luar biasa!

”Eh liat, itu banana boat. Kita ntar naek itu yuk!” teriak salah seorang temanku.
”Ayo, siapa takut!” jawab yang lain.

Sebenarnya dari kemarin-kemarin aku sudak beritikad ingin menaiki banana yang satu ini, selain cepat dan menegangkan adrenalin, pikirku begitu seru bisa merasakan dan menaiki banana ini. Pokoknya hari ini aku harus naik tu banana, hatiku bicara.

Akhirnya kapal ini sudah sampai di pulau seberang, tapi kami tidak turun, kata sang sopir kapal, jika turun di pulau maka harus membayar 20.000 tiap kepala. So, kami tidak jadi mampir ke pulau itu, melainkan langsung kembali ke tempat awal. Yups, tancap! Kapal kembali melaju, lebih cepat. Rasanya makin ombang-ambing kapal ini. Ruih rendah teriakan dan tawa sahabat mengisi relung kapal. Ada juga sahabat termasuk aku yang main ciprat-cipratan. Ketika percikan air laut masuk ke mulut, kurasakan, ternyata asin bro.

”Eh, coba geh airnya. Asin ya...” ucapku sambil menangkupkan air di tangan lalu memasukkan ke mulut berlagak bodoh.
”E, iya ya asin! Hehe...” kata mereka.

Kapal terus melaju, menyisir lautan dengan percikan di sisi kapal yang gemercik, lentik, dan membisik dengan pukauan cakrawala langit di atasnya. Biru. Subhanallah... tiba-tiba kapal perlahan bergoyang hingga air masuk ke dalam kapal, begitu ombang-ambing hingga yang cewek berteriak. Aku pun tak mau kalah, aku yang tak bisa berenang ini takut juga tercebur ke dalam laut, ketika kapal bergoyang aku langsung membanting badan ke dalam tubuh kapal. Dan sialnya, kakiku terluka, lecet dan membiru. Walah-walah! Biarlah, oleh-oleh ni luka. Tak lama kemudian akhirnya tiba juga kami di tempat awal.

”Woi, kemana lagi kita?”
”Katanya mau naek banana boat?”
”Oiya ya. Yok kesana, mumpung nggak rame.”
”Ayok! Siapa takut!”

Kami lantas pergi ke tempat wahana banana boat. Satu orangnya dikenakan tarif 20.000. kelompok pertama beraksi, melihat mereka, aku ingin segera menaiki tu banana boat. Lihatlah keceriaan mereka, berteriak, menjerit, dan lepaskan semua tawa yang selama ini mengganjal sanubari. Hingga akhirnya mereka jatuh dari banana boats dan mengapung di atas laut.

Sembari menunggu kelompok pertama selesai, aku dan khamdun menjajal berendam di bagian ini, seberapa dalam disini. Oo, ternyata tidak dalam rupanya. Tapi aku tetap takut dengan ketakutanku, yaitu tidak bisa berenang dan takut tenggelam. Akhirnya aku langusng kembali naik ke atas papan apung. Namun sialnya, ketika aku naik (karena tak ada tangganya) kakiku terkait sesuatu yang sepertinya sejenis kawat atau kail, dan ketika kutarik kakiku... Jari kakiku telah berdarah. Cukup banyak darah yang mengalir. Perih rasanya.

”Kenapa Ib?”
”Ini luka, kena sesuatu tadi...”
”Banyak banget darahnya... celupin aja ke air biar darahnya berhenti!” ujar sahabatku.

Kurasakan perihnya saat kucelupkan kaki ke air laut yang katanya elektrolit itu, yang bisa dengan cepat menghentikan pendarahan. Tapi darah ini tak kunjung tersumbat. Pedihnya...

Akhirnya kelompok pertama selesai, maka giliran kelompok kedua, yakni kami. Namun sayangnya baru aku sadari maksimal banana boat hanya boleh dinaiki maksimal 5 orang, sedangkan akulah orang yang keenam. Dan betapa sialnya lagi adalah, uangku raib. Dan akhirnya aku tak jadi menaiki banana boat itu. ”Yaah...” pikirku, layaknya seorang anak kecil yang kehilangan sesuatu yang ia inginkan.

”Ib, kalo nggak naik speed-nya aja!” ajak Nani sahabatku.
”Ah, nggak usahlah kak...”
”Nggak papa, Ib yang motoin kita nanti...”
”Nggak papa, nggak usah. Aku disini aja, lagi pula kakiku luka...”

Akhirnya mereka berangkat, lima orang menaiki banana boat dengan kencangnya. Sedang aku duduk di tepian ini, menatap mereka. Mereka berteriak sekuat-kuatnya, lepaskan dan hempaskan tubuh ketika banana itu jungkirkan mereka berlima. Kulihat keceriaan sahabat-sahabatku itu, masya allah.... senangnya bisa melihat wajah-wajah seperti ini. Dan lebih senang dan indah lagi jika aku juga ikut manaiki boat yang satu ini. Dalam hati aku nyengir kuda, iri, kecewa, juga terdapat setitik pupus kesedihan di hati ini. Tapi aku harus menerima ini semua. Aku memang belum saatnya menaiki banana bersama mereka.

Kulihat kakiku yang kucelup ke dalam air, darah dari luka sobekan itu keluar seiring lembut air yang menerpa kakiku. Perih. Sontak melihat darah yang terus keluar, kuangkat kaki ini dari asinnya air laut. Darah terus menetes perlahan, ku lap darahku yang anyir. Sejenak kulihat kelima sahabatku yang dengan tertawa lepas dan menjerit di atas kecepatan boat. Huft! ”Sabar bro...” hatiku menenangkan.

 





Aku masih duduk di sini, kini aku menatap ke dasar pantai yang dangkal. Terlihat ikan-ikan kecil yang dengan serempak serta kompak berenang dengan indahnya. ”Subhanallah..., ikan itu mengajarkanmu bro!” ucap hatiku. Akhirnya dari kekagumanku pada ikan kecil itu, manghantarkan mata pada laut yang nun jauh disana. Kutatap ujung laut itu yang tanpa batas. Yang membatasi hanyalah pukauan langit bertemu dengan laut. Ya, itulah peraduan laut dan langit yang menyatu. Indah. Kulihat sore itu titik bertemunya laut dan langit. Begitu maha indah rasanya, pesona yang kulihat menciptakan aura berjuta-juta pesona dan ketakjuban, hingga tak lagi kurasa pedihku. Masya allah... aku sebenarnya masih beruntung! Aku harusnya bahagia dan tegar demi sahabatku, demi ceria dan bahagia mereka. ”Laut dan langit lagi-lagi mengajarkanmu bro!” ujar hatiku dengan bijak bahasanya. Ya! Tentu aku harus belajar dari laut, juga dari langit tentang keindahannya. Tentang birunya, tentang langit yang merona, tentang laut yang punya mutiara, tentang titik bertemunya mereka, dan tentang kehidupan. Bahwasanya, ”kehidupan memang begini dan mesti begini, jangan kau sesali, dan jangan kau minta Allah untuk mengurangi beban kehidupanmu, tapi pintalah kepada Allah untuk menguatkan pondasi hatimu.” tegur hati mengajariku.

Di tengah waktu siang dan sore itu, di tengah rasa kesedihan dan pupus, di tengah tawaku yang belum terpecahkan, akhirnya kuputuskan untuk menyanyi. Dengan lirih saja. Ya, bersama debur ombak, hembus angin, laut, dan pukauan langit, ”Anugerah terindah yang pernah kumiliki” keluar dari mulutku...

Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimataku
Warna-warna indahmu

Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Sifatmu nan slalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Setengah sadar dalam nyanyianku yang tak merdu, mataku pun setengah berkaca. Begitu agungnya kebesaran-Mu. Betapa besarnya keagungan-Mu. Ya Allah, aku ingin menatap ini suatu saat nanti...

Akhirnya kelompok kedua, selesai menaiki banana boat. Mereka berfoto-foto, riuh rendah cerita mereka tergambar. Riuh hiruk mereka membuncah. Aku tersenyum melihatnya (rada sepet, hehe...)

“Wuy, pas jatoh tadi sakit bener leher saya.”
“Seru bener ya...”
”Hayo berani lagi naek nggak?”
“Issss, fotoin saya sih.”
“Kamu tadi nimpa saya pas jatoh, sakit tau.”
“Ah, yang paling enak itu duduk di boat paling depan atau paling belakang. Kalo jatoh nggak sakit.”
“Saya nggak mau lagi naek. Benci saya...”

Dan sekian kata-kata buncahan kesenangan dan umpatan kebahagiaan. Subhanallah..., andai....!

Akhirnya dengan Amel aku kembali ke pondokan, sudah kutuntaskan menatap titik bertemu laut dan langit. Sudah kupetik beberapa pelajaran. Dalam perjalanan ke pondokan, hatiku ada tertitik rasa kecewa dan andai-andai-an. Tapi juga aku masih menyanyikan lagu dari miliknya S0 7 itu, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki. Aku berjalan dengan kaki berjinjit, karena kakiku masih luka dan berdarah. Lagi pula aku tak membawa sandal alias ceker ayam. Ingin cepat-cepat kuobati luka di jari ini. Aku tak ingin lukaku ini tersusupi pasir pantai yang amat menyakitkan bila menusuk luka.

* * * * *

Aku berteduh di bawah pondokkan. Betapa kasihannya aku, ternyata tidak ada yang membawa obat-obatan meski hanya sekedar hansaplast sebagai penutup luka. Tapi bagiku, tak apalah. Aku ini laki-laki. Harus remeh dengan sakit temeh. Seorang laki-laki harus bisa manahan sedikit derita.

Aku belum puas dengan apa yang kuambil di pantai ini. Aku ingin lebih bro! Aku ingin merasakan, meminum asinnya air laut. Aku ingin mencebur ke dalam laut. Aku ingin lepaskan semua bersamamu, teman!

Beraksi! Akhirnya aku dan teman-teman bersama berlari ke arah debur ombak. Masuk ke dalam air hingga air capai leher. Aku ingin berenang bro! Tapi sayangnya aku tak bisa. Aku malah kalah dengan Nani, seorang akhwat yang pinter berenang. Aku minder lajunya. ”Bro, bukankah itu pelajaran buatmu?” kembali ucap hatiku.

”Kok bisa sih Nan berenang?” tanyaku.
”Makanya, punya masa kecil itu dimanfaatin...”
”Huu dasar, ya deh tau yang pas waktu kecil suka mandi di pengairan. Hehe...” kataku sekenanya.
”Eee anak aja...”

Apa yang membuatku bisa berenang? Ban kah? Ya, mungkin. Bersama salah seorang teman aku main di atas ban yang ia sewa. Ramai-ramai kami semua ke tengah laut, menguji keberanian akan kedalaman, meski hanya dengan sebuah ban. Dan mulai terasa dingin airnya. Kami urungkan karena kami terlalu takut. Kami kembali ke tepian. Lantas bermain bola, juga bermain menggulingkan teman yang berada di atas ban. Haha, mengerjai itu indah bro! Lucu, dan nyebelin. Seperti kata sahabatku, nyebelin itu indah. Lucu rasanya melihat temanku terjungkir dari ban yang ia naiki. Huhuy!

Hahh,, sudah capek rasanya berenang terus. Saatnya istirahat duduk di tepian. Huuuu, capek. Aku duduk ditemani bersama dede. Dia juga kecapean.

”Eh, aku barusan ngompol.” ucapku dengan leganya.
”Iiiii, kau ni jorok!” ujar dede.
”Haaa... ngompol Ib?” sontak ucap novi terkaget, ternyata ia mendengar ucapanku barusan.
”Iii, Iib jorok!” lanjut Amoy.
”Halah nggak papa lah, wong ngompolnya di pinggir kok. Lagi pula kan ada pepatah yang mengatakan, ”sambil menyelam, buang air” Hehe...” jawabku enteng. ”Eh, ke tengah lagi yok!” ajakku kepada mereka dengan harapan mengalihkan pembicaraan tentang ngompolku. Hehe...

* * * * *

Kami semua meninggalkan pantai mutun. Menuju sebuah mall. Setelah sampai di mall center plaza. Kami turun, mulai deh pada masuk ke dalam mall. Sebenarnya aku ingin mencari buku, tapi setelah keliling-keliling, bersama Amel dan Dede tak satupun kami temukan stand buku. Hah, karena putus asa, akhirnya kami bertiga plus mbak Uut dan Handai kami pergi ke Mall Kartini. Alhamdulillah, ada tempat bukunya. Dan aku dapet satu buku bahasan remaja, judulnya ” Menjadi Remaja Langit”. Ya, aku menyukai langit. Makanya kupilih buku itu. Dan setelah kubaca bukunya, bagus juga.

Setelah dari tempat buku, kami bertiga ketemu dengan si Tio. Rupanya dia di Moka juga, dengan wewe’-nya pula. Lantas kami berempat, aku, amel, dede, dan tio belanja makanan di sana. Diorantg banyak banget belinya. Sedang aku cuman cokelat buat oleh-oleh adikku dan sebuah es krim conello yang kusuka.

Kami kembali ke bis. Setelah menaruh jajanan di mobil, kami pergi lagi menuju gerobak untuk membeli isi perut. Yups, mie ayam! Cukup 5.000 aja, dah bikin perut kenyang. Kita orang terus kembali lagi ke bis, buat nikmatin apa yang tadi udah dibeli. Eeeh, tapi sial lagi. Es krim Conello-ku di embat orang. Dia salah ambil, yang tadinya mau ngambil yang di plastik tio, malah keambil yang ada di plastikku. Waduuuh, sial. But, nggak papa lah. Untuk sahabatku... nggak papa lah, inilah hidup, siapa yang mesti disalahkan? Nggak ada tho?! ”Satu lagi, itu pelajaran buat kamu bro!” ucap hatiku lagi.

Bis melaju, meninggalkan mall. Pergi kembali ke Lampung Utara, ke Way Kanan juga. Perjalanan terhitung cukup lama. Betapa tidak, coba bayangkan, dari ujung lampung menuju ujung lampung satunya. Kira-kira lima jam lagi baru tiba di rumah, dan melepas lelah setelah bersenang-senang.

Sore menjelang. Gurat tatapan senja hadir di ufuk barat. ”Sunset” kata mereka. Ya, sunset memang indah, sama seperti ”Sunrise” yang juga indah, atau setara seperti indahnya langit malam yang penuh bintang. Ya, langit memang indah, memiliki harta keindahan-keindahan yang menginspirasi penatapnya. Sama juga seperti laut, hanya bedanya, laut jarang ditatap keindahannya.

”Nu, liat geh langitnya... foto sih!” ujar Amel sahabatku.
”Duh, memori kameraku abis, Mel! Pake aja punya Tio.” kataku.

Melihat tatapan langit yang memerah dan merona, aku jadi teringat satu janji. Ya, janji Amel. Ah, tapi agaknya dia lupa. Ia kemarin berkata janjinya itu akan ia lakukan hari ini. Tapi agaknya tidak. Ia lupa. Tak apa lah. Biar langit senja yang ia cinta yang menegurnya.

”Satu lagi yang bisa kamu ambil pelajaran dari hari ini bro!” lantang hatiku. Ya, memang benar, langit senja yang merona merah mengajarkanku lagi. Tentang pelajaran kehidupan, tentang kejujuran, tentang persahabatan, tentang keikhlasan, tentang kebahagiaan, tentang janji, tentang perpisahan, tentang kesedihan, dan tentang semua hakikat-hakikat kehidupan.

Perlahan aku ngantuk. Tubuh terasa lelah. Leherku rasanya pegal. Aku lantas duduk di sebelah sahabat yang bernama Dinda. Tapi aku lebih senang memanggilnya dengan sebutan ”Mbak Dinda”. Sebutan itu menurutku pantas untuk dia, bukan karena ia tua atau apa, melainkan sifatnya yang bagiku begitu dewasa. Ya, siapa yang mengusung acara jalan-jalan ini jika bukan Mbak Dinda? Siapa yang mengurusi dengan peluh penat untuk acara ini? Siapa yang mengurusi mobil? Makanan? Juga izin dari pihak sekolah kalau bukan Mbak Dinda? Salut deh ama Mbak Dinda. Sedang aku apa? Maunya tinggal ikut doang. Dari Mbak Dinda aku belajar lagi mengenai keikhlasan, tentang hakikat kehidupan. Aku masih duduk di sampingnya, dalam hati aku seakan mendengar suara Mbak Dinda yang kukarang sendiri,

”Adek, hidup itu adalah perjuangan. Jangan mengambil pamrih untuk apa yang telah kita lakukan. Biarkan Allah yang memberimu limpahan atas apa yang kamu berikan. Adek, ingat ya, berilah apa yang terbaik dan sebanyak-banyaknya, bukan meminta...”

Mbak Dinda memang memanggilku dengan sebutan ”Adek”. Bismillah, semoga Allah membalas kebaikanmu mbak. Mungkin teman-teman yang lain nggak tahu betapa sulitnya Mbak Dinda ngurusi semua ini. Iya sih, nggak semuanya dalam acara ini mbak Dinda yang meng-handle, tapi bagiku Mbak lah yang paling sibuk. Aku ucapkan juga buat sahabatku yang dengan ikhlas membantu dengan hatinya, Dede’, Amel, Tio, juga Rahmat yang udah memberikan andilnya yang besar buat acara ini. Banyak aku mengambil pelajaran untuk hari itu.

Makasih sahabatku atas semua pelajaran yang banyak kuambil dari kalian. Terima kasih. Terima kasih. Nggak ada yang bisa kuucapkan selain kata terima kasih yang banyak, yang besar, yang tak terhitung atas segala anugerah terindah yang kalian semua beri. Makasih.... Allah, makasih Kau sudah berikan aku orang-orang yang sungguh, ia sahabatku...

”Bro, sebenernya masih banyak hal lain yang tanpa kau sadari, itu adalah pelajaran... petik semua pelajaran, pada siapapun, pada siapapun, bahkan pada ikan kecil sekalipun. Oke bro!” ucap hatiku.

* * * * *

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...