Dia yang Kupanggil Laut...




16 Mei. Saat itulah ia terlahir. Setelah 9 bulan nangkring di rahim ibunda, setelah sang ibunda berpeluh payah mengandung dengan penuh kesabaran menunggu sang jabang hadir ke dunia. Akhirnya, tanggal itulah ia hadir ke dunia buah cinta ayah dan ibunda.


Selamat datang di Dunia! Negeri yang “JeyexX” yang siap menyambutmu dengan harapan-harapan yang indah dan penuh cinta. Menangislah dan merengeklah dengan sekuatnya karena jika tidak ibu Bidan akan nyubit kamu... (hehe,,,). Ketika itu, hadirlah senyum manis tanda kelegaan di hati ayah dan ibu. Sang anak yang selama ini dinanti telah siap menatap matahari dengan segudang harapan orang tua begitu terlahir. Sang anak, yang nantinya siap melanjutkan perjuangan orang tua. Yang siap menjadi pemenang dan menapaki hakikat kehidupan.

Sssssssttt!!! (Backsound-nya lagu Pemenang-nya SO 7 yah! ^_^ )

Sinar matahari menyapa bayi dengan kehangatan dan sambutan mesra (Lain lagi kalo pas mendung, or malem. Hehe...) Sang orang tua menyambut datangnya sosok “Putri Kecil”-nya dengan senyuman. Dengan kebanggan dan juga kebahagiaan. Padahal mereka tidak tahu anaknya ini kelak akan jadi apa dan apakah berbakti atau tidak kepada kedua orang tua. Mereka tidak tahu apakah Putri Kecilnya akan Sholehah dan menjalani syariat titah Allah yang diamanahkan melalui kedua orang tuanya. Mereka tidak tahu, apakah putri kecil yang baru terlahir ini kelak mampu membuat bangga, membuat ayah tersenyum lebar, membuat ibu bangga telah melahirkannya. Namun, dengan penuh cinta, kebahagiaan mengalahkan keraguan. Karena dengan cinta, dengan harapan bunda, dengan kerja keras ayahanda, mereka yakin putrinya akan baik dan sholehah. Mereka yakin takkan mungkin si Putri Kecil yang lucu dan manja ini mengecewakan wajah dan langkah-langkah tua kedua orang tua.

* * * * *

Ia terlahir pada tanggal tersebut. Mulai ketika menengah pertama aku mengenalnya. Di penghujung nyawaku di SMP, dia mulai menjadi pengresek hidupku dengan kongekannya yang tertuju untukku. Sumpah, sangat tidak enak rasanya mendapatkan “ciee-cie-an” dari dia dan beberapa sahabatnya yang seka menyindirku “tentang sesuatu”. Aku benci dengan “ciee-cie-an” mereka, aku benci dengan ucapan mereka, tapi anehnya indah. Lucu juga. Dan “cie” itu sanggup menciptakan senyumku ketika mengingatnya, mengingat -dia- yang disana.

Ketika ingin ke mennengah atas. Aku mendaftar ke sebuah SMA yang sama dengan dia. Mendaftar – Test – Pengumuman. Ketika pengumuman penerimaan, dahsyat! Dia menempati peringkat 4. Sedang aku, untung diterima, aku menempati peringkat 70-an. Ketika itu kami semua tertawa dan senang bisa bersekolah di SMA yang kami pilih ini.

Saat itu dia belum mengenakan jilbab. Dan aku iseng-iseng bicara dengannya,

“Katanya janji ya, kalo diterima SMA mau pake jilbab?!” sindirku dengan berlagak dia pernah berjanji denganku.
“Yee, siapa juga yang janji. Orang memang pengen pake jilbab kok!” jawabnya.
“Hehehe...” sepet. Cugak juga. “Oo, syukurlah!” sekenanya.

Hari terus berjalan. Dan secara takdir aku sekelas dengannya. Dan suatu hari kulihat ia mengenakan jilbab. Jilbab putih yang baru kali ini kulihat ia memakainya. Hehe..., nyengir aku saat itu. Sobat ku yang satu ini keren juga.

Dia memiliki 5 orang sahabat yang kemana-mana pasti bersama. Seperti gerombolan semut yang berjalan kemana bersama. Atau layaknya gerombol rambutan yang nangkring di pohon. Mereka menamakan geng mereka SEINNA, cukup unik seperti nama team sepak bola di serie-A liga italia. Tapi mereka ber enam sungguh hebat di mataku, banyak yang kupelajari dari mereka. Mereka banyak mengajarkanku. Aku malah sering bersama mereka, ketika berangkat sekolah, ketika pulang sekolah. Aku laki-laki sendiri, sedang mereka berenam. Hah, teman-teman cowok pada bilang kalo aku banci, gabungnya ama cewek. Hah, tapi biarlah! Bukan masalah, toh kan enak juga dikerumunin enam orang cewek, pikirku enteng dahulu. Haha...

Dari mereka berenamlah yang membuat aku hingga saat ini suka menulis. Ya, tanpa mereka takkan mungkin aku seperti ini. Aku jadi teringat masa-masa awal masuk SMA. Ketika itu aku, dan mereka berenam masuk di organisasi ROHIS. Begitu semangatnya ketika itu kalo mendengar yang namanya ROHIS. Sangat solid, kompak! Dan menciptakan rasa kuatnya ukhuwah antar sesama. Dari situ, dari seringnya bertemu itu, mucul cinta, muncul juga masalah, seteru, ledekan dan juga tawa-tawa. Semua yang menghalang pokoknya dibabat demi ROHIS. Begitu ndenger kata ROHIS, wah, dulu langsung teringat, “PERJUANGAN!”, “Apa sih yang nggak buat ROHIS?”. Sungguh, ghirah awal-awal masuk SMA emang luar biasa. Dan hal terindah bisa bersahabat dengan SEINNA. :)

Suatu ketika, awal-awal masuk SMA. Ketika itu kami—anak-anak alumni SMP—ingin mengadakan reunian. Dan kebetulan di SMA pulangnya lebih awal karena ada suatu rapat dewan guru. Reunian itu bertempat di SMP rencananya. Ketika bel akhir tanda pulang, kami langsung menyebrang jalanan. Namun ada satu sahabat yang tertinggal, dialah yang kusebut “Laut”. Aku dan kelima cewek sudah berada di dalam bus. Sedang Laut masih berada di pintu gerbang sekolah. Dari dalam mobil, lima sahabatnya memanggil-manggil dan mangayunkan tangan agar cepat menyebrang karena bus sudah mau berangkat.

Laut yang masih di seberang jalan tersenyum. Dan lantas menyebrang jalanan yang padat. Namun naas. “BleGggarrr......!!!!”. Sebuah motor menabraknya. Ia terpental. Dan dari dalam mobil kelima sahabatnya menjerit. Keluar segera. Dan menolongnya.

“Laut... Laut!!!!”
“Masya Allah...” dan tangis pun jatuh.

* * * * *

Miris rasanya. Sahabatku yang baik ini ternyata kaki kanannya patah akibat kecelakaan itu. Reunian alumni SMP itu akhirnya dibatalkan. Rencana ingin bersilatuarhim dengan teman—teman SMP namun Allah menakdirkan lain. Aku begitu miris rasanya, sehari sebelum menjenguknya di rumah sakit di kamar aku menangis meratapi keadaanya. Sungguh, tak menyangka akan begini. Terlihat jelas senyumnya sesaat ketika akan menyebrang jalan. Senyum yang khas bahagia. Dia yang manis dengan jilbab barunya. Dia yang katanya ingin menjadi akhwat yang tangguh. Dia yang tidak pelit untuk sahabatnya. Dia yang tegar, seorang sosok Padang sejati. Dia yang suka di kelas ngobrol bersamaku. Dia yang baik. Belum ada sebulan ia mengenakan jilbabnya di sekolah ini, namun Allah telah mengujinya dengan kecelakaan. Masya allah, yang tabah sahabatku... aku mendoakanmu! Ucapku berulang kali ketika itu.

Ia dirawat di rumah sakit Ryacudu. Rumah sakit yang besar. Bersama dua orang teman ROHIS laki-laki aku menjenguknya. Saat itu terlihat ia yang terbujur lemah di atas ranjang rumah sakit. Tangannya diinfus. Kakinya yang patah masih dalam tutupan perban. Katanya sudah diberi semen atau dikasih besi di akinya, atau apalah aku tak mengerti. Saat itu tak ada yang bisa aku katakan. “Masya allah... sahabatku, aku nggak bisa ngomong apa-apa jadinya. Mau tumpah rasanya tangis ini. Tapi kamu masih tersenyum menyambutku dengan tegar. Sisa senyum itu masih kamu sisakan di kamar rumah sakit ini. Tabah ya...”

Berminggu-minggu sahabatku ini sejak kecelakaan itu tidak sekolah. Butuh waktu hingga bulanan baginya untuk sembuh. Aneh saja rasanya tanpa ada dia ketika berangkat dan pulang sekolah. Aneh kelasku tanpa ada dia di depan bangkuku. Berat, menunggu kesembuhan. Lama, menanti lekasnya kepulihan. Ya allah...

Suatu hari ketika ia bisa kembali masuk sekolah. Huf, ada kelegaan juga bahwa sahabatku ini kembali bisa bersekolah. Namun ia masih dengan bantuan tongkat jika berjalan. Kemana-mana berjalan ia menggunakan tongkat itu. Sejak kejadian kecelakaan itu dia hingga saat ini masih belum berani jika menyebrang sendiri di depan SMA, mungkin masih trauma dengan kecelakaan itu.

Mulai pertama ia masuk sekolah lagi, dia sudah harus sibuk karena banyak tertinggal pelajaran. Juga belum harus meminta nilai kepada guru-guru karena ia tidak mengikuti Ulangan ketika ia masih di RS. Aku kasihan dengannya yang dalam keadaan masih belum pulih, berjalan, dengan hati-hati, naik turun tangga, menyusuri kelas, hingga tiba di kantor untuk meminta nilai atas Ulangan yang dia tidak ikuti. Beruntung ada Septi sahabatnya yang suka menemaninya kemana-mana berjalan meminta tugas tambahan nilai.

Masya Allah, hari-hari itu menjadi hari-hari yang luar biasa dalam hidupku. Dia yang tertinggal pelajaran, namun masih bisa menjawab soal-soal kimia, maju ke depan kelas menjelaskan tentang kimia oleh pak Ayo. Dalam keadaan yang masih pincang, ia menjelaskan, ia bicara tentang materi pelajaran kimia meski tertatih. Masya Allah, aku berpikir saat itu apa guru kimiaku ini tidak kasihan menyuruh sahabat yang baru keluar dari rumah sakit untuk meju ke depan kelas? Tapi pak Ayo langsung menjawab pertanyaan di dalam hatiku, dia berkata, “Absensi kehadiran tidak berlaku untuk saya. Lihat, meski sakit dia bisa kan maju, menjelaskan! Dan bagus!” tegas pak Ayo. Sedang aku?

* * * * *

Hari terus berlari meninggalkan kemarin. Kelas 2 SMA aku kembali sekelas dengannya. Kami berdua saat itu menjadi editor buletin ROHIS. Aku dan Laut bergantian tugas untuk membuat, mencari bahan, mendesain, memfotokopi, dan memasarkan ke kelas-kelas. Terasa begitu berat rasanya kerja hanya berdua, tak ada yang lain yang bisa diandalkan. Tapi tak apa bagiku, demi ROHIS. Aku rela berjam-jam di depan komputer, hanya untuk buletin Zahrotul Islam itu. Aku rela pergi ke warnet mencari bahan dengan kocekku sendiri. Aku rela hingga malam larut belum tidur hanya karena menunggu fotokopian, melipat, dan men-strepless buletin itu. Dan aku tahu pasti esok buletin ROHIS ini harus laku keras, dan habis. Dan aku berangkat ke sekolah harus lebih awal untuk memasarkan ke kelas-kelas di SMA. Masya Allah, sangat lelah rasanya meski buletin ini hanya terbit satu kali tiap dua mingggu. Semoga saja Allah memberkahi...


* * * * *

Kemarin terus terlangkahi tertinggal hari berikutnya. Dan tak terasa aku kelas 3 SMA. Dan aku kembali sekelas dengannya. Dan aku tambah lebih mengenalnya. Dia yang suka sekali berkacak pinggang. Jika orang lain meledeknya, pasti dengan sigap ia langsung memasang kuda-kuda kacak pinggangnya dan berkata, “Ngapa? Nggak suka?”, atau “Awas ya...”, atau “Minta dijitak!”, atau “Ih, nyebeliiin...”. Pilih satu diantaranya! Hehe,,, 

Selain itu dia juga sangat bangga menyebut dirinya sendiri imut. Ampun dah! Narsisnya dia! Udah diledek berkali kali kalo dia tuh nyebelin, resek, tapi dia tetep ngeles dengan berkata, “Yang penting Imut! ^_^“. Dan dia sangat sering mengejekku dengan sebutan “JeyyeK”, padahal aku kan imut juga (narsis mode on). Coba deh panggilin tuh Inuyasha-mu, pasti masih imutan aku, kataku suatu kali. Eh, dia malah jawab di hadapan facebooker, kalo aku apa-apanya dengan inuyasha. Hahaha! Selain itu dia suka banget dengan semua berbau korea, nyampe-nyampe bau iler asal dari korea dia suka (hehe, kidding!). film-film korea itu katanya bagus, nggak vulgar, nggak kaya’ indonesia yang jelek. Duh, jadi warga korea aja coba sekalian.

Dia suka juga jika berada di dekatku, suka menarik-narik tasku. Entahlah, padahal taksu jelek luar biadab. Tapi aneh tu orang, doyan banget narik-narik tas orang. Unik. Juga lucu...

Mengenai nama panggilannya, sebenarnya banyak gelar yang ia sandang.

Nanoy. Haha. Apalah maksud dari temen-temenku manggil dia dengan sebutan ntu, dengan sebutan Noy atau nanoy. Paling karena dia mirip madu/ honey, atau mirip beruang yang suka madu. Hehe, nebak-nebak. Aku malah jadi ingat mbak, dan adik-adikku di rumah. Mereka kalo memanggilku di rumah juga dengan sebutan “Noy”, “Mas Noy”, atau kadang juga “Moy”. Entah aku tak tahu maksud mbak dan adikku manggil aku dengan sebutan itu. Mungkin karena diidentikan dengan “Nu (Inu)”, lajunya setelah mengalami transisi superfisial fundamental (apaan tuh?) kata di kerajaan tata nama, akhirnya jadilah, aku dipanggil Noy juga oleh mbak dan adikku. Tapi tak ada yang tahu sebelumnya. Haha!

Kakak. Entah sejak kapan aku memanggil dia kakak. Dari nama aslinya yang Nani Nuraini, menjadi kakak. Yang Allah, jauh banget. Nama aslinya telah berdiferensiasi hingga mencapai titik ekuivalen, lalu dicari inersia-nya, kemudian mengalami titrasi hingga pH-nya 1, lantas bertranspos kemudian dilanjutkan dengan determinan, kemudian dicari rataannya (waduh, makin nggak nyambung!), dan didapatlah panggilan dariku untuknya, “Kakak!”.





Laut. Sea. Apalah aku ini, banyak memanggil orang dengan sebutan-sebutan. Huhuy, tapi nggak papa lah, toh dia-nya mau. Katanya, dia suka dengan Laut. Dia juga ngaku kalo dia pengen jadi laut. Dia juga seorang cewek yang bisa berenang, nggak kayak aku tenggelem di aer. (Aneh dong kalo ngakunya laut, tapi nggak bisa berenang, hehe...) berbeda dengan aku yang suka dengan langit. Dan langit sangat menginspirasi bagiku. Jadilah akhirnya akulah Langit, dan dia lautnya. Ih, lebay ya   ! Berawal dari situ muncullah lagi nama julukan lainnya. Dia kupanggil Ubur-ubur, dan dia tak mau kalah. Dia manggilku dengan sebutan Kepiting. Halah-halah, makin ngawur aja. Tapi lucu juga.

Itulah dia. Unik. Lucu dan juga jeyyek. Seperti apapun nanti, tetep jadilah seperti ini ya sahabatku!


Di atas awan putih menanungi biru permukaannya
Terpekur hati menatap sabda-Nya
Yang Ia tingkapkan di atas bumi-Nya
Gemuruh ombak yang membuncah
Pasir putih yang lembut
Jiwa yang teduk ketika menatapnya
Lepas pantai yang maha indah
Dari kejauhan kupanggil ia, "Laut!"


* * * * *
16 mei 2010
Kutulis ini untuk Kakakku, yang hari ini ulang tahun
Inilah usiamu yang ke-18, love16-mu kembali terulang
Berikan yang terbaik!



Tiup kue-mu yah! hehehe.......


Selamat Ulang tahun kakak!!! ^_^

8 komentar nih!:

Nani Nuraini mengatakan...

Assalamualaikum... syukron jiddan dex... hmm, mau ngomong apa jadinya bingung juga, hehe. oya, mau tau kenapa kakak dipanggil Noy or Nanoy? hmm sebenernya tu panggilan kakak dari kecil, dari sodara-sodara... sebenernya juga bukan nanoy, tapi "Noy", just noy... begete! nah si amoy ikut2an, abis itu yang laen juga... inget2 nih pelajaran sejarah hehe!

Adex INNU mengatakan...

Waalaikumsalam. :l:

Ihh, sejarah dari hongkong. kalo adex dipanggil noy nya mulai pas smp kelas 3 kakak. pokoknya sejarahnya adex bisa dipanggil noy panjang deh! hehehe... (nggak panjang ding!) rupanya ada kesamaan juga kita... tapi bedanya aku imut kakak jeyek! hahaha......... :f:

Nani Kagome hehe mengatakan...

Iz iya sih yang 'item mutung', bangga bener kayaknya ... hehe :h:

Adex INNU mengatakan...

kakak nggak asik ahhh.... :b: :m:

Areep mengatakan...

:c: --> mirip banget ama aye

Inu Anwardani mengatakan...

:e: Opone sing mirip banget mas??

Areep mengatakan...

iki looh avatar sing iki --> :c:
mirip karo aku :g:

Inu Anwardani mengatakan...

Orak ah, kowe lebih mirip sing iki mas, :a: , hehehe.... :f:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...