Idupku



Hidup semakin terasa berat kujalani. Jangan salahkan aku kenapa aku lebih banyak mengeluh. Lebih banyak cengeng. Memang, aku tak patut menjadi laki-laki. Apa dia aku ini? Seharusnya memang tak ada laki-laki yang sepertiku. Bodoh! Goblok! Hancur! Aku benci aku.

Aku tak kuat menahan masalah, yang mungkin bagi orang lain bukanlah sebuah masalah. Aku ini lemah, terpaling lemah diantara makhluk-makhluk paling cemen di atas dunia. Aku cengeng. Tapi sok hebat. Sok baik. Terlalu banyak mengeluh dengan keadaan. Aku mengutuk diriku sendiri. Cowok macam apa aku ini?


Hidup tanpa udara! Demikian layaknya hidupku... hampa. Aku tak tahu mesti bagaimana. Aku tak tahu ketika ku bangun tidur harus apa. Harus mengapa. Aku tak tahu kebebasan itu apa?

Aku sekarang hancur. Aku. Tak lagi sanggup mungkin menatap pagi. Di hadapan mereka, mungkin aku adalah orang yang baik. Orang yang mereka kagumi, mungkin. Tapi sesungguhnya, masya allah... aku terluka. Terluka oleh apa yang kuberikan itu. Kebaikan. Kasih sayang. Senyum-senyumku untuk mereka.

Aku berbohong! Apa guna senyumku itu? Toh itu nyatanya hanya pemalsuku di hadapan dunia. Apa guna kebaikan itu? Toh akhirnya aku tidak bahagia. Apa yang mereka beri untukku? Apa? Kadang aku berpikir bahwa aku terlalu baik untuk mereka. Aku berlebihan dalam berbuat baik, hingga kukorbankan aku sendiri untuk mereka. Tapi apa pernah mereka berkorban sedikit untukku? Setahu akal burukku, tak pernah setetes kebaikannya menempa keningku. Aku bodoh! Paling bodoh di atas dunia ini rasanya. Aku bego! Paling bego dari otak-otak yang tanpa pernah berpikir untuk bertindak.

Saat ini. Saat kubutuhkan wajah mereka. Saat kubutuhkan imbalan itu, tak ada yang bisa membantu. Bertanya sesuatu saja tidak untuk aku yang berubah. Aku ingin perhatian itu. Tak ada sahabat yang hari ini bertanya, ”ada apa denganmu, temanku?”. Atau, ”apa yang aku bisa bantu?”. Atau, ”apa yang kubisa beri untukmu, sahabatku?”. Malah dulu, aku yang sering bertanya kepada sahabatku, ”Apa yang kubisa beri untukmu?”. Aku juga sering dimintai pertolongan untuk mereka. bodoh bukan, aku menawarkan kebaikan. Dan sialnya, tak pernah mereka bertanya, ”Apa yang kubisa beri untukmu?” kepadaku. Pun ketika aku tengah jatuh seperti ini.

Tak ada yang bisa paham akan tingkahku kali ini. Sahabat terbaikku sekalipun. Tak ada sahabat yang bisa kuajak bercerita, entah karena mereka tak mau mendengarkan omongan kosong yang keluar dari mulutku. Tahukah, aku sedih disini? Tahukah, aku menempa masalah? Mungkin dihapadan kalian aku terlihat bahagia, tak ada masalah. Di hadapan kalian mungkin aku tersenyum, bahagia. Padahal sejatinya aku terjajah. Aku benci, kala aku terpaksa tersenyum untuk kalian padahal aku terluka. Aku benci, saat dengan kupaksakan kukorbankan sesuatu dariku untuk kalian, dengan wajah bahagia. Aku benci, ketika dengan terpaksa aku tertawa. Aku benci sikapku ini. Aku benci aku! Aku benci keterlukaanku yang kusembunyikan dengan senyum murahku yang amat konyol...

Aku tak memiliki tempat untuk bercerita. Tak ada seseorang yang pernah berkorban memberikan pundaknya untuk. Tak ada yang bersedia, tanpa kupinta, untuk mendengarkan ceritaku. Mendengarkan yang kukeluh dan yang membuatku terjajah. Aku pusing, sangat! Dengan sahabat lain, mungkin kau boleh bercerita. Tapi kenapa aku tidak diberi kesempatan?

Akhirnya, aku hanya bercerita dengan tulisan. Dengan langkah jariku yang menggores pena di atas kertas. Kuharap mereka akan paham, sedikit peduli denganku. Ah, tapi agaknya tidak! Tak ada sahabat yang mungkin akan membaca tulisanku. Kalaupun ada, mungkin mereka takkan bertanya atas tulisanku. Mereka takkan bertanya, ”Ada apa denganmu, Nu?”, ”Kenapa, Nu?”, atau ”Apa yang kubisa beri untukmu?”, atau ”Kamu boleh cerika ke aku!”. Tak ada! Mana mungkin ada yang kan peduli denganku. Aku benci. Benci kehidupanku yang mesti kenapa begini. Coba aku bisa menjadi seorang yang seperti halnya teman dari sahabatku. Aku cemburu kenapa aku tidak diperlakukan sama...

Tapi biarlah. Biarlah kutulis saja cerita-ceritaku. Tak peduli entahkah mereka kan membacanya. Biarlah aku dibilang ”perempuan”, karena suka menulis diary. Bodo! Biarlah aku menjadi penulis di diary cowok. Aku telah hancur, aku rusak. Dan itu karena mereka. Jangan salahkan aku jika nanti aku jauh dari aku yang mereka kenal dulu. Aku kini seakan menjadi orang terburuk di dunia. Menjadi orang yang paling malang namun tak ada setetes kasihani untukku. Aku hancur. Dan hatiku jauh lebih hancur!

Biarlah aku disini. Duduk di atas teras. Di bawah pohon yang rindang. Biarkan aku menyendiri. Aku inginkan kedamaian, duhai! Aku ingin kebahagiaaaaann.... ah, sejuk rasanya diri ini tersapu angin sore yang berhembus. Kulihat langit di atas. Awan. Burung yang bebas. Indah! Dan akan lebih indah lagi jika aku mati saat ini...

Kadang aku pernah berpikir, untuk berdoa kepada allah. Agar memberikan aku seberat-berat ujian. Agar aku bisa merasakan bagaimana tersiksa ujian terberat, dan pada ending aku bahagia. Kadang juga aku meminta, jika aku baik maka buat aku jadi sebaik-baik manusia. Jika aku buuk, maka jadikanlah seburuk-buruk manusia. Sehancur-hancurnya manusia hingga orang berkata, ”Tak mungkin dia yang sebaik itu bisa jadi gini. Hancur...”. Tak papa aku hancur, dari pada aku tak bahagia. Aku ingin berubah. Dan aku kini telah hancur. Hancur. Dan siapa yang bisa menolongku? Sahabatku kah... entahlah, takkan mungkin ia ingat kepadaku. Mana ada yang peduli denganku... aku ingin mereka tak mengenalku seperti ku yang dulu. Aku ingin berubah dari aku yang dulu... masa bodoh!

Ku masih sendiri. Menyepi. Aku ingin bebas dari kematian hidupku. Aku ingin bahagia. Aku ingin perhatian. Aku ingin punya sahabat. Aku ingin cinta. Aku ingin iman. Tapi aku kini telahlah hancur. Telah hancur, keruh!

”Ya allah beri aku lebih dari sekedar ketegaran. Hatiku kembali goyah, bimbang. Aku tak kuat berada di ’tempat’ ini. Aku tak ingin futur lagi. Kuatkan aku allah! Ujianmu indah, hingga tak lagi kuasa kuangkat takbir. Aku terlalu sering tersenyum dan berbohong untuk dunia. Beri aku yang lebih dari sekedar bisa tersenyum... sok tegar. Agar aku bisa tegak... agar aku bisa berdiri...”

”Aku ingin berada kembali dalam belaianmu bu. Aku ingin manangis. Aku ingin merengek sekencang-kencangnya di pangkuanmu. Aku ingin kau nyanyikan dalam timanganmu. Aku ingin selamanya berada dalam buaianmu. Tak terpikir, aku menyesal hancur begini. Tapi biarkan anakmu bebas. Biarkan nandamu menemukan jati dirinya. Meski esok sore tak kau temu lagi sosok yang pernah kau timang dalam ayunan. Yang pernah kau nyanyikan dalam kidung senja. Yang kau beri susu ninabobo untuknya sebelum tidur. Maafkan aku... aku mencintaimu bu...”


* * * * *

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...