Diary Diary Cinta

Sebuah Roman


Pagi ini terasa begitu indah dan beda. Nuansa kesejukan menyapa hati siapa saja yang memperhatikan. Angin sepoi pagi mengelus-elus lembut dan dingin siapa saja yang diterpa. Embun-embun yang masih menggelantung di udara menampakkan bau basah. Semua yang ada nampak mempesona nan indah. Terutama bagi Duta.

Di matanya, sepercik rasa Surga seakan diberikan Allah untuk pagi ini. Terlebih musim semi yang tengah bertandang di hatinya. Bunga-bunga tengah menebar wanginya di hati Duta. Kuncup-kuncupnya sedang merekah. Di hati Duta bunga-bunga cinta tumbuh tanpa ada yang menyiraminya. Ya, cinta itu datang sendiri tanpa meminta izin. Inilah pertama kalinya Duta jatuh cinta. Ia jatuh cinta pada seorang gadis jelita bernama Elsa. Gadis dengan rupa berseri dengan balutan jilbab yang membingkai indah wajahnya. Manis sekali...


Cinta itu bermula dari sebuah kekaguman. Duta adalah seorang laki-laki yang amat pendiam untuk masalah berhubungan dengan perempuan, hingga ia dijuluki oleh teman laki-lakinya dengan sebutan ”The Most Pendiem Boy”. Dan rasa cintanya kepada Elsa pun belum ada yang mengetahui kecuali dirinya sendiri. Awal mula kekaguman Duta kepada Elsa adalah kecerdasan Elsa yang di atas rata-rata, wajah yang imut lucu, senyum yang mampu menyihir siapapun. Yang jelas di mata Duta, Elsa adalah sosok yang sempurna. Sosok yang membuatnya iri sekaligus bangga. Dan kekaguman itu perlahan berubah menjadi sesuatu rasa yang bernama ’Cinta’. Selain itu, Elsa juga adalah seorang yang pendiam. Tiap istirahat Elsa tak pernah keluar dari ruangan kelas. Yang sering ia lakukan adalah membaca buku, mengerjakan soal, atau menulis diary, demikian yang sering Duta perhatikan. Elsa juga adalah seorang yang agaknya sulit untuk bergaul. Namun itu tak mampu mengubah rasa cinta Duta kepadanya. Di mata Duta, Elsa adalah segalanya. Duta memang seorang yang pendiam, sama seperti Elsa. Namun bedanya, Duta hanya pendiam di hadapan seorang perempuan. Menurutnya diamnya seseorang adalah emas. Diam itu adalah mutiara yang mahal dan terjaga rahasianya, demikian kata Duta.

Duta sendiri sebenarnya bingung juga dengan perasaan cinta ini. Ia bingung mau diapakan cinta ini nantinya. Ia tak tahu apakah Elsa juga mencintainya. Di setiap saat rasa resah menghantuinya manakala tak melihat teduh wajah Elsa. Cemburu menjelma setiap ada seorang laki-laki lain yang hanya berbicara kepada Elsa. Dan kebahagiaan seakan berlipat-lipat ketika melihat senyum Elsa yang luar biasa mempesona. Bagi Duta, Elsa adalah nuansa indah.

Duta sesungguhnya sudah tak sanggup menahan rasa cinta yang amat dalam dan menohok untuk diungkapkan. Sudah lama Duta manahan rasa derita karenanya. Hatinya memaksa untuk mengungkapkan cinta ini. Tak bisa tidak. Dalam hatinya bertumpul jejalan-jejalan yang tak kuat lagi menahan rasa cinta. Sukmanya menuntut. Menuntut cinta untuk segera diungkapkan. Duta sudah tak kuat lagi menahan perasaan yang aneh bernama ”Cinta”. Kadang memang cinta itu aneh dan malah menimbulkan keresahan yang menyiksa penderitanya.

Dalam kecemasan yang sulit berhari-hari, Duta memutuskan untuk nekat mengungkapkan rasa yang ia rasa. Cinta yang ia cinta. Resah yang ia rasa. Namun, masalah yang peling besar adalah Duta sangatlah malu untuk itu. Ia sangat jarang berbicara dengan seorang makhluk bernama ”Perempuan”. Di hadapan perempuan Duta adalah seumpama patung. Dia tak pernah berani berbicara dengan seorang perempuan. Entah kenapa dan apa yang membuat ia begitu malu dihadapan perempuan. Dan akhirnya, Duta memutuskan untuk meminta bantuan kepada teman-teman Rohisnya untuk memberi saran dan pencerahan. Sebenarnya Duta berat ingin bercerita kepada teman-temannya, tapi ia kali ini tak bisa menahan beratnya ’cinta’ itu.

”Ya udah Dut, kalo emang cinta ya diungkapin aja!” seru Tio, wakil ketua Rohis.
”Emangnya islam ngebolehin pacaran?” tanya Duta penasaran.
”Boleh...” jawab Riski, ketua Rohis, enteng.
”Tapi setelah nikah! haha...” lanjut Riski.
”Lha terus kok kalian nyuruh aku ngungkapin ke Elsa? Emangnya aku mau nikah dengan Elsa?”
”Nggak gitu..., islam tu ngebatasin antara cewek dan cowok. Kalo ada rasa cinta antara cewek dan cowok itu mah emang wajar.”
”Terus kudu gimana dong kalo kita cintaaaa banget dengan seseorang?” ”Ya kayak kata Tio tadi, ungkapin. Tapi ngungkapinnya nggak untuk minta dipacarin, tapi sebagai pengobat rasa gelisah yang ndera kamu. Nahh, otomatis kalo udah ngungkapin rasanya kan plong tu, nggak ada lagi yang ngganjel.”
”Terus kalo dia nerima cinta kita, atau dia juga cinta sama kita gimana? Gimana kalo dia nganggep udah jadian?”
”Ya kita nasehatin, kita kasih tau, kita ngungkapin rasa cinta ke dia bukan untuk pacaran, melainkan untuk menunjukkan bahwa kita cinta, itu aja. Terus kita jelasin islam tu nggak ngehalalin yang namanya pacaran. Karena apa? Karena untuk menjaga! Menjaga baik yang cewek maupun yang cowok dari setan, dari dosa, dan dari zina. Allah secara jelas nerangin ke umatnya, ”Wa laa takrobuz zina”. Dan janganlah mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah jalan yang buruk.”
”Emang ada sunnahnya? Ada hadits-nya untuk ngungkapin rasa cinta?” tanya Duta.
”Ada..., aku pernah baca hadits-nya. Kira-kira gini bunyinya. “Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah ia mengatakan rasa cintanya kepadanya.” Gitu bunyi haditsnya. Yang ngeriwayatin adalah Abu Dawud dan Tirmidzi. Adakalanya rasa cinta seseorang itu ngelebihin cinta kepada Sang Pencipta Cinta. Padahal yang mesti kita cintai itu hanyalah Dia Sang Pencipta Cinta, Allah swt. Ada orang yang kalo lagi jatuh cinta selalu nginget orang yang dicinta. Sudah sholat, puasa, dan lain-lain, tapi tetep yang dia cintai selalu ada di otaknya. Nggak bisa lepas seukir nama dari ingatannya. Apapun udah dia lakukan untuk membuang rasa yang nggak baik itu karena takut Allah cemburu, tapi setan selalu memenangkan pertarungan. Dia nggak bisa melupakan. Malah semakin rasa cinta itu dipendam makin bikin dia bertambah kecintaannya, karena mungkin apa yang dipikirkannya sudah didominasi oleh setan yang membujuk untuk terus ingin memiliki. Kamu mau berdosa gara-gara setan terus menghasut kamu untuk memikirkan seorang hamba dan kamu nggak mampu melawan godaan setan itu? Iya kalo kamu bisa menahan dan menepis serta tetep teguh Allah satu-satunya yang kamu cintai.”
“Terus gimana, Ki? Yang kurasain ampir sama dengan yang kamu katain. Entah kenapa aku inget dia, pas sholat, pas belajar. Harus gimana...”
“Jadi, ya tadi. Kamu lupain dia dengan ngungkapin yang kamu rasa ke dia. Pasti dong kalo sudah ngungkapin rasanya tu plong. Nggak ada lagi beban. Nggak ada lagi keinginan untuk memiliki. Kita ngungkapin itu ke dia bukan karena kita ngajak dia untuk pacaran. Bukan. Kita ngungkapin ke dia semata untuk biar kita merasa tenang untuk hari-hari seterusnya. Kita juga nggak perlu minta jawaban dari dia. Inget Dut, cinta yang hakiki kita tu hanya Allah. Nggak boleh satupun makhluk di bumi-Nya lebih kita cintai dibanding Dia.” terang Riski. ”Oooo... jadi cinta tu boleh diungkapin.”
”Iyaaa, tapi kudu jaga-jaga tempat dan waktu harus tepat.” ”Maksudnya, Ki?”
”Pas ngungkapinnya jangan di tempat yang sepi. Jangan dua-duaan. Intinya harus bisa jaga hati, Dut. Sebelum diijab qabulkan, syariat tetap membataskan, gitu kata nasyid 'In Team'.”
”Misalnya...”
“Misalnya pas ngomong ke dia kalo kamu ada rasa, jangan sampe ngungkapinnya di tempat sepi. Contohnya di kelas, kelas kan rame, biar nggak terjadi fitnah. Atau kalo mau yang mudah pake surat.”
”Wah, bingung aku.”
”Kok malah bingung?”
“Aku takut! Aku nggak pernah ngomong dengan cewek, caranya gimana?“
“Langsung aja ngomong kalo kamu cinta, kalo kamu ada rasa sama dia. Gitu aja kok repot.” cerocos Tio, somplak.
”Kalo bingung ya tinggal pake surat aja!” saran Andri.
”Hus, aku malah nggak bisa nulis hal-hal yang romantis, Ndri. Mendingan ngomong langsung.”
”Ya udah istirahat nanti kita betiga bakal bantu kamu deh ngungkapinnya.” kata Andri.
”Jangan hari ini, aku masih belum siap. Besok aja ya...” pinta Duta.
”Ya sudah, terserah kamu.” ucap Tio.

Akhirnya Duta urung mengungkapkan rasa di hatinya kepada Elsa hari ini. Ia mesti bersabar menahan rasa yang menuntut di hatinya dan melawan rasa ketakutan yang luar biasa. Ia harap besok ia berani melawan rasa yang ia takuti selama ini.

Teeeeeeeeeeeettttt .......

Bel tanda masuk kembali berbunyi. Semua siswa kelas XI IPA 1 kembali masuk ke dalam kelas. Guru mata pelajaran Fisika belum juga hadir. Di bangku paling belakang -tempat dimana Duta duduk-, Duta melamuni sesuatu. Matanya menatap sosok jelita yang cantik mempesona. Wajahnya. Senyumnya. Matanya. Jilbabnya. Lentik bulu matanya. Tutur katanya. Selamanya Duta ingin menatap keindahan-keindahan seperti ini.

Di matanya, Elsa adalah bagai butiran permata safir yang paling indah. Permata yang bersih dan bersinar kala diterpa cahaya. Baginya, memandang Elsa adalah lebih indah dari menghabiskan waktu pagi yang sering dilakukannya. Elsa adalah embun-embun yang paling, amat, dan tiada tara menyejukkan hatinya.   Sebenarnya Duta juga bingung kenapa dia bisa jatuh cinta dengan Elsa. Padahal, masih banyak orang-orang yang cantik selain Elsa. Masih banyak gadis-gadis berjilbab lainnya. Masih banyak akhwat-akhwat yang berjilbab. Masih banyak yang semanis dan secantik Elsa. Menurutnya, itulah yang namanya takdir. Baginya cinta itu juga adalah sebuah takdir mubram (takdir yang sudah ditentukan dan tidak bisa diubah seperti halnya jodoh dan ajal). Oleh karena itu yang namanya cinta kadang tak bisa di nalar. Seperti dia yang mencintai Elsa. Meskipun Elsa bukanlah seorang yang aktif di berbagai organisasi seperti Rohis layaknya Duta.

Duta berharap seseorang yang ada di depan matanya kini akan menjadi ratu di baity jannaty-nya kelak. Yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya. Menjadi pelengkap separo agama. Ia berharap hari-hari bahagia kelak akan tercipta untuknya dan Elsa. Ia berkhayal, andai saja ia saat ini adalah seseorang yang sudah dewasa, punya pekerjaan, punya penghasilan, telah mapan, maka hari ini juga ia akan langsung ke rumah Elsa menemui ayah Elsa untuk melamarnya...

”Harits Duta ...”

Duta mengejap. Ia terkejut. Khayalnya sirna. Ia amat tak sadar bahwa bu Nia, guru fisika, telah masuk dan meng-absen siswa. ”Hayooo, ngelamun aja! Ngelamunin Elsa ya? Haha...” sontak Tio sambil mengguncang bahu Duta. ”Harits Duta...” sekali lagi bu Nia mengulang nama Duta. ”Hadir, Bu.” ucap Duta.

* * *

Malam mulai membentangkan selimut hitamnya yang maha luas. Langit malam terlihat begitu bersihya. Bulan sabit itu ditemani dengan ribuan bintang-gemintang yang bersinar cerah dan indah. Kilauan beribu bintang-bintang itu seumpama mata-mata malaikat yang mengintip penduduk bumi. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Tasbih alam mulai terdengar dan terasa. Seiring dengan makin larutnya malam maka semakin terasa sejahteranya dunia. Ya, karunia Allah sangatlah tak hingga untuk hamba-Nya, tak terkecuali pada siang hari dan malam.

Di suatu tempat. Ada sepasang bola mata yang masih belum mau untuk dipejam. Yang membuatnya belum bisa memejamkan mata adalah karena memikirkan seorang hamba bernama Elsa. Kecemasan kembali datang dalam ingatnya. Resah yang ia rasa kembali dan makin menggurita. Semua cintanya kepada Elsa, semua yang ia rasa, dukanya, berkumpul menjadi satu, bertumpuk, dan berubah menjadi keresahan kecemasan ketakutan yang berjejal-jejal. Agaknya rasa tidak enak yang ia rasa mengalahkan kesejahteraan malam ini.

Bagaimana aku besok? Bagaimana kalau dia malah membenciku? Apa yang harus aku lakukan? Bukankah aku orang yang amat pemalu? Bagaimana jadinya aku besok?

Akankah aku berubah menjadi ayam sayur di hadapan Elsa? Atau mungkin malah jadi patung berwujud bebek? Pecundang? Apa yang aku lakukan? Beribu-ribu pertanyaan menohok hatinya. Pertanyan-pertanyaan itu menebas batang leher kemanusiaannya. Dan dia menyerah tanpa daya. Tiba-tiba Duta merasakan sesuatu yang aneh di perutnya. Rasanya sakit. Ngilu. Seperti ada yang menyayat-nyayat hatinya dan menonjok perutnya. Entahlah! Rasa ngilu di perut itu selalu timbul seiring kecemasan yang berlipat.

Perlahan Duta membangkitkan tubuhnya dari baringan. Ia coba keluar rumah sejenak, siapa tahu hatinya agak sedikit tenang dan berkurang gundahnya. Di luar rumah ia berdiri tepat di teras di bawah lampu. Disana ia tatap taman langit yang sedemikian fitri. Beribu bintang. Sabitnya bulan. Suara jangkrik. Kunang-kunang. Elusan angin malam. Pohon-pohon yang bergoyang. Semua yang ia lihat, dengar, dan rasa malam ini cukup mencerahkan gundahnya. Memang, pesona ayat-ayat kauniah selalu saja menciptakan kedamaian di dalam hatinya. Tak bisa ia melupakan ciptaan yang maha indah yang dicipta oleh Sang Maha Pencipta cinta. Tak ada yang menyangkal bahwa Tuhan yang menciptakan siang dan malam hanyalah satu. Bukanlah manusia, bukan dua, juga bukan benda. Tuhan yang patut disembah ialah Tuhan yang memiliki kekuasaan, yang memiliki Firman yang benar, yang memiliki ciptaan, yang memiliki kerajaan. Dia-lah Allah. Sang pencipta. Dia-lah Allah yang paling layak mendapatkan cinta tertinggi dengan sepenuh hati. Subhanallah..., indahnya malam ini, benaknya berkata.

Tiba-tiba mulut Duta bersuara, seperti sebuah nyanyian cinta. Beginilah nyanyiannya;

Suara... dengarkanlah aku!
Apa kabarnya pujaan hatiku?
Aku disini menunggunya,
Masih berharap di dalam hatinya ......1

Wajah Duta seakan bercahaya. Ia mulai menyenyum sendiri. Cengar-cengir tak karuan. Berbunga-bunga. Matanya berbinar penuh cinta. Seperti inilah wujud lelaki yang sedang jatuh cinta pada seorang wanita: tersenyum, mengingat, membayangkan, menghayal, dan sedikit gila. Senyum kebahagiaan tak pernah hengkang dan lekang dari wajahnya.

Duta kembali menatap ke arah bintang gemintang. Diantara begitu banyaknya taburan bintang, ia pilih yang paling terang. Antar tiap titik-titik bintang itu ia sambungkan satu dengan yang lain hingga membentuk seraut wajah. Seraut wajah seseorang yang amat dicintainya: Elsa. Setelah itu di dalam khayalan Duta wajah itu ia lukis senyum Elsa dengan menaruh bulan sabit sebagai senyumnya. Dan jadilah dalam khayal Duta wajah manis Elsa di taman langit. Malam ini jadi semakin indah bagi Duta. Hilanglah semua kecemasan, keraguan, kekhawatiran tentang hari esok. Dalam lamunannya saat itu Duta seakan berbicara dengan Elsa.

”Pa kabar kamu disana, Elsa?”
”Baik!” ”Kamu lagi ngapa?”
”Lagi mimpiin kamu!”
”Kalo boleh tau aku lagi ngapain di mimpi kamu?”
”Kamu lagi ngelukis senyum aku...”
”Oiya...? Kamu cinta nggak dengan aku?”
”Iya, aku cinta!”

* * *

Hari yang indah. Langit yang cerah. Setiap orang menatap hari dengan penuh gairah. Kecuali Duta. Pagi ini ia berangkat ke SMA Negeri 1 Pelangi dengan kegetiran yang mendebar dan cemas. Berdebar karena ia akan mengatakan cintanya dan cemas karena takut tak ada daya di hadapan Elsa. Perlahan Duta melangkah memasuki gerbang SMA Negeri 1 Pelangi. Angin yang agak kencang menyapa rambutnya dan membuat sedikit berantakan, lalu ia rapikan. Tibalah ia di kelas. Begitu masuk Duta langsung diserbu ketiga temannya.

”Gimana Dut, jadi nggak?” ujar Riski.
”Iya Dut, jadi nggak nembaknya?” serobot Tio.
”Siap nggak?” kata Andri. Duta menarik nafas.
”Huf! Nggak nembak Tio, Cuma ngungkapin!” jelas Duta.
”Oiya, lupa!” kata Tio sambil menggaruk kepalanya yang memang gatal karena gak pernah shampoo-an.
”Kapan? Mau sekarang apa nanti?” tanya Andri.
”Jangan sekarang, bentar lagi kan masuk kelas. Istirahat aja!” jawab Duta.
”Bener ya, istirahat nanti?!” nada Tio sedikit mengancam, sambil menggaruk-garuk lagi kepalanya.
”Iya, insya Allah. Tapi aku gugup banget nih!”
”Udah santai aja! Kan Cuma ngungkapin doang.” ucap Riski bijak.
”Nanti bantuin, ya!”
”Iya, ntar kita kasih kode-kode gitu, kalo kamu ribet mau ngomong.” terang Andri.
”Kode apaan? Kode morse? Semaphore? Atau kode pramuka?”
”Ntar liat aja ndiri!” Tio sontak.

* * *

Teeeeeeeettt....!!

Bel tanda istirahat berbunyi. Duta makin gugup. Deg... deg... deg..., jantungnya berdetak cepat. Ia bingung apa yang akan dikatakan pada Elsa nanti. Mungkin Duta nanti akan berubah menjadi bebek di hadapan Elsa.

”Eng... ing... eng...! jadi enggak???” tanya Tio penasaran sambil menepuk pundak Duta.
”Jaa... Jadi!” jawab Duta.
”Tapi aku takut!” lanjut Duta.
”Dah, santai aja. Ntar kita bakal bantuin kok!” ujar Andri meyakinkan.
”Ya udah tunggu apa lagi? Sana!” ucap Riski sambil sedikit mendorong Duta.
”Ya... ya... ya!” Duta akhirnya mulai menghampiri Elsa. Sedang ketiga temannya, Riski, Andri, dan Tio ke luar kelas untuk bersiap memberi kode bantuan andai Duta tak bisa berkata nantinya.

Duta menghambat langkah jalannya, ia amat gugup. Ia tak tahu apa yang nanti harus ia katakan. Ya Allah, beri aku jalan! Akhirnya Duta tiba di meja Elsa. Ternyata Elsa tengah menulis sesuatu di Diary-nya. Gugup Duta makin berlipat dan makin cepat. Perlaha ia tarik nafas dalam-dalam, dan...

”Ee... maaf... Sa, bisa ganggu bentar nggak?” ucap Duta agak terbata. Jantungnya berdetak cepat. Kakinya pun ikut bergetar. Tiba-tiba Elsa pun menoleh ke arah Duta. Seketika itu Elsa pun lantas tersenyum. Matanya berbinar seumpama permata. Wajahnya cerah. Teduh. Baru kali ini Duta melihat senyum paling indah dari aura Alsa.
”Yaaa...?” Elsa Elsa menanya balik sambil menutup diary-nya.
”Bi.. Bisa ganggu bentar nggak?” Duta mengulang pertanyaannya.
”Bisa...!” lirih.
”Aaa... e... aku boleh duduk disini?” pinta Duta seraya menunjuk kursi di sebelah Elsa.
”Boleh...!” lirih sambil tersenyum. Duta mulai salah tingkah. Duta juga bingung kenapa Elsa tersenyum kapadanya. Tapi yang paling ia bingungkan ialah kata apa yang akan ia katakan. “Tanyain dia lagi ngapain!” seru Tio setengah berbisik tertuju ke telinga Duta. Duta mengangguk ke arah Tio.

“Hmm, kaa... ka..mu lagi ngapain?” tanya Duta membuka perbincangan.
“Lagi nulis diary.”
“A... e.. ka.. kamu nulis apa di diary?”
“Aku nulis apa aja tentangku yang aku rasa. Semuanya...”
“Kamu suka nulis?” tanya Duta dengan wajah penasaran yang dipaksakan.
“Ya, aku suka. Karena..., dengan menulis aku bisa ngungkapin apa-apa yang aku mau dan rasain.”
“Ee... kalo boleh tau barusan kamu nulis apa?”
“Rahasia geh...” ucap Elsa sambil memeluk erat diary miliknya dan tersenyum kepada Duta.

Di sudut lain, Riski, Andri, dan Tio mulai mengumpat kesal.

“Alah... lama bener! Gitu aja takut! Ayam...” ujar Andri.
“Iya, kapan nembaknya? Ayam sayur...” kata Tio kesal.
“Hus... nggak nembak! Just ngung-kap-pin!” ucap Riski menekankan.
“Oiya... Ampun BOSS!” kata Tio sambil takzim kepada Riski. Kembali ke Duta. Duta mulai kembali bingung apa yang ia katakan. Beberapa detik lamanya tak terdengar dialog antara Duta dan Elsa. Kemudian terdengar suara batuk dari mulut Elsa. Duta berpikir batuk Elsa itu adalah kode untuknya untuk kembali mengajak Elsa berbicara.

“Ayo Duta, cepet...! jangan lama-lama!” seru Tio dari luar kelas agak membisik, tapi Duta mempu mendengarnya.
“Cepet Duta..., bentar lagi bel bunyi!”
“Gitu aja kok repot!”
“Iya Cepet!!!”
“Cepet Duta!!!!” Riski, Andri, dan Tio sibuk sendiri. Dan akhirnya....

“GubrakkkKKzZZ..............”

Riski, Andri, dan Tio jatuh tersungkur di depan pintu kelas karena mengintip Duta dan bersemangat menyuruh Duta untuk cepat. Seisi kelas tertawa melihat Tio, Andri, dan Riski bertumpuk seperti kue lapis yang lezat. Mereka bertiga akhirnya bangun seusai jatuh dengan rasa malu. Di sudut lain Elsa pun tertawa kecil melihat Tio, Andri, dan Tio terjatuh tadi. Melihat Elsa tertawa Duta pun ikut tertawa, meski ia rasa tawanya sendiri terasa hambar.

“Elsa...” Duta manata perkataannya.
“Iya...!” Elsa menoleh ke arah Duta.
“Aku.... aku... e........” gagu.
“Iya, aku kenapa?” lirih.
“Aku tu......”
“Iya, ngomong aja!” seru Elsa pelan.
“Sebelumnya maaf, aku......”

“UghugkK!!??” Suara batuk kembali terdengar dari mulut Elsa. Kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya.

“EghugkkK.... UghukkK!!!” Elsa menutup mulutnya.

“Elsa, kamu kenapa?” tanya Duta sontak kaget. Elsa hanya melambai tangan pertanda behwa ia tak apa-apa.

“Elsa, kenapa? Ada apa?” tanya Duta kembali. Elsa diam saja.

“Eghuk... EghuKK!!!!” Duta sontak begitu kaget melihat Elsa dengan keras batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Duta cemas. Apa yang terjadi dengan Elsa?, tanya hatinya.

“Elsa, Kamu kenapa?” Seketika itu Elsa langsung jatuh dan pingsan. Diary yang ia genggam jatuh ke lantai. Seisi kelas geger. Usai melihat Elsa terjatuh pingsan, Duta, Riski, Andri, dan Tio langsung menggotong Elsa ke ruang UKS. Namun di tengah perjalanan ada guru yang melihat mereka menggotong Elsa. Guru lantas bertanya,

“Lho, ada apa ini?”
“Ini pak, Elsa pingsan. Dia batuk terus ngeluarin darah!”
“Ya sudah, langsung bawa ke rumah sakit saja. Pakai mobil bapak.” Ujar pak Jihan, Guru matematika.
“Iya, Pak!”

Pak Jihan langsung mengambil kunci mobil dan menghidupkan mesin. Duta yang masih menggotong Elsa mekin cemas, berdebar. Ia merasa menjadi orang yang paling patut disalahkan dalam kejadian ini.

Setelah memasuki mobil milik pak Jihan, mobil pun bergegas menuju rumah sakit. Duta, Riski, Andri, dan Tio pun ikut ke rumah sakit. Perjalanan ke rumah sakit kurang lebih memakan waktu lima menit. Namun waktu lima menit itu terasa amat lama bagi Duta yang kekhawatirannya memuncak. Dalam hari Duta bertutur,

“Sa, yang sabar ya! Sebentar lagi kita sampai. Kamu nggak kan kenapa-kenapa. Kamu pasti sehat. Kamu tu hebat. Kamu mesti bertahan, Sa. Aku cinta kamu..., Sa! Aku cinta...”

Duta melihat wajah mungil Elsa yang cantik. Jilbab putihnya dipenuhi lumuran darah. Mata Elsa masih terkatup. Namun tak mengubah rasa cinta Duta yang amat dalam kepadanya. Duta lihat kembali wajah Elsa. Cantik. Bersih. Indah. Bulu matanya lentik. Mulut mungilnya menyenyum. Duta berharap takkan terjadi apa-apa pada Elsa. Cinta pertamanya...

Akhirnya mereka tiba juga di rumah sakit. Dokter langsung menangani Elsa dengan cepat. Pak Jihan langsung menghubungi orang tua Elsa. Hati Duta bergemuruh.

Belumlah ia mengungkapkan rasa cintanya, namun malah terjadi tragedi yang amat memilukannya. Duta sedih. Hatinya pilu bercampur cemas. Apa yang terjadi pada Elsa? Hari-hari yang ia harapkan akan menjadi akhir dari rasa yang Allah fitrahkan malah berubah, berubah menjadi hari kegetiran yang mencengkam hati dan jiwa Duta. Hari-hari yang Duta harapkan akan kembali indah tanpa ada satupun makhluk di hatinya tak juga tiba, yang ia rasakan ialah hari-hari yang menyengsara. Keinginannya untuk hanya ada Allah di hatinya sirna tertunda. Dan ‘cinta kecilnya’ malah ditakdirkan Allah menuju rumah sakit, entah apa yang kan terjadi kelak.

Hati Duta gundah, gulana, resah, balau, kacau, cinta, dan semua ungkapan-ungkapan yang tidak enak bercokol mendera jiwanya. Semuanya bercampur aduk di perasaannya. Mengiris-iris hatinya. Dan perutnya kembali pesakitan. Namun ketiga temannya dengan lembut mencoba meneduhkan hatinya.

* * *

“Duta, kita keliling dulu yuk! Keliling rumah sakit. Kayaknya tamannya bagus-bagus. Sambil ngeliat orang yang sakit itu gimana saranya. Mau nggak? Elsa mungkin masih lama dirawatnya.” ajak Riski pada Duta mencoba mengajak berkeliling setelah menabahkan Duta.
“Kalian aja lah, aku nunggu di sini aja!” ujar Duta.
“Bener nggak papa kita tinggal?”
“Iya, nggak papa. Kalian aja yang keliling.”

Riski, Andri, dan Tio lantas meninggalkan Duta sendiri. Mereka mulai mengelilingi rumah sakit yang paling baik di kota ini. Mereka lihat taman-taman yang indah dan luas. Bunga-bunga. Rumput-rumput yang tertata rapi. Udara yang sejuk. Mereka bertiga merasakan seakan bukan berada di rumah sakit, melainkan berada di sebuah tempat yang hanya ada keindahan yang menawan mata.

Usai dari taman mereka bertiga lantas melihat-lihat orang yang tengah dirawat di rumah sakit ini. Orang-orang yang baru saja kecelakaan. Orang-orang cacat. Lumpuh. Orang-orang yang masih berusaha melawan sakit parah yang menyerang. Orang-orang yang berusaha bertahan hidup. Dan orang-orang yang masih memiliki semangat hidup meski sulit untuk hidup.

“Nah gitu tuh rasanya orang sakit. Susah. Mau ngapa-ngapa susah. Makanya kita harus syukur terus!” Andri mengajak berbincang.
“Iya, sebenarnya sehat itu mahal. Karunia Allah itu mahal. Makanya kita semua harus bersyukur untuk membayar karunia Allah, sebagai wujud cinta kita, wujud ketundukan kita, dan wujud penghambaan kita pada dzat yang Maha Mencipta.” terang Riski.
“Yups, intinya kita tuh jangan pernah menyerah dengan keadaan, keterbatasan. Kudu tau berterimakasih dengan yang ngasih kita hidup. Siapa Dia??? Allah...” Tio ikut menambahkan.

Tiba-tiba saat mereka asyik berbincang, dari arah depan ada seorang ibu-ibu yang menghampiri dengan agak setengah berlari. Dan Ibu itu lantas berkata,

“Kalian disini ngapain? Apa ada teman yang sakit?”
“Kami disini karena ada teman yang sakit, Bu. E... e, Ibu siapa ya?” ujar Andri.
“Walah..., masak lupa sama Ibu? Ibu aja masih kenal dengan kalian. Kamu Riski. Kamu Tio. Terus kamu Andri. Kan?” kata Ibu itu sambil menunjuk mereka satu per satu.
“Haaa,,, kok Ibu tau?” tanya mereka bertiga hampir serentak.
“Ya iyalah. Ibu ini ibunya Fikri. Masak lupa?”
“Fikri yang mana ya? Soalnya banyak temen yang namanya Fikri.” Kata Andri.
“Wah, kalian ini emang bener-bener lupa. Fikri temen kalian waktu SMP dulu. Masih lupa?”
“Oooo... iya ya! Dah inget, Bu.” Kata Riski.
“Kita bertiga dulu kan sering maen ke rumah Fikri. Ngomong-ngomong gimana sekolahnya Fikri di jawa, Bu? Terus Ibu disini ngapain?” lanjut Riski.
“Fikri katanya nggak kerasan di jawa. Ibu ada di sini ya karena itu, beberapa hari yang lalu di jawa Fikri kecelakaan pas pulang sekolah. Kakinya patah. Setelah di rawat di RS di jawa dia minta pulang ke sini, dan pengen sekolah di sini aja. Mungkin se-SMA nantinya dengan kalian.”
“Ooo.... gitu ya, Bu?! Gimana kalo kita bertiga jenguk Fikri?” seru Tio.
“Boleh. Ibu malah senang. Ayo ikut Ibu!” Ibu Fikri mengantar mereka ke ruangan dimana Fikri dirawat. Setelah tiba di ruangan tersebut, Ibu Fikri langsung bicara dengan Fikri,

“Fik, ini temanmu pas SMP njenguk. Tadi Ibu ketemu di deket taman. Terus Ibu ajak ke sini.” Fikri langsung tersenyum. Senyuman yang khas. Fikri benar-benar masih ingat dengan ketiga sahabat akrabnya sewaktu SMP dulu itu. Seketika Fikri langsung bangun dari baringan.

“Kamu kecelakaan ya. Fik?” tanya Andri basa-basi.
“Ya iyalah kalo nggak kecelakaan ngapain disini. Kalian apa kabar?” ujar Fikri ramah.
“Alhamdulillah, kita semua baik.” jawab Riski.
“Hmmn, kamu apa kabar?” tanya Tio pada Fikri.
“Kalo nggak baik ngapain aku ada disini. Ada-ada aja kamu nih, Yo. Nggak ilang sifat kamu itu dari dulu.” Ujar Fikri.
“Tapi masih untung aku ada disini.” Lanjutnya.
“Emangnya kenapa?” Tio penasaran.
“Waktu itu, pas pulang sekolah motor yang aku pake tabrakan dengan motor tukang ojek. Tukang ojeknya sih yang kebut-kebut, padahal dia bawa penumpang. Terus karena ‘takdir’ ya ojek itu numbur motor yang aku bawa. Kakiku patah. Untung masih selamat.”
“Dasar orang Indonesia, kecelakaan aja masih ngerasa untung.” Ujar Tio.
“Heh, yang penting tiap saat kita harus kudu syukur. Gitu...” seru Fikri.

“Ngomong-ngomong kalian bertiga kok ada disini?” tanya Fikri.
“Sebenernya kebetulan. Tadi di sekolah ada temen perempuan yang sakit, terus kita nolongin nganter ke RS ini. Ya.. terus, ketemu dengan Ibu kamu. Terus kita dianterin ke sini.” Terang Riski.
“Cuma kalian bertiga aja yang nganter perempuan yang sakit itu?”
“Nggak! Ada Duta juga...”
“Siapa Duta?”
“Ah, kamu mah nggak kenal. Karena dulunya nggak satu SMP dengan kita.”
“Ups, tapi aku nanti kalo udah sembuh mau pindah sekolah ke SMA kalian lho...”
“Oye...? Kenapa” sontak Tio.
“Sekolah di jawa nggak kerasan. Kayaknya enak disini aja.”

Perbincangan antara Fikri, Andri, Riski, dan Tio semakin menarik. Terkadang mengenang cerita masa lalu yang bodoh, lucu, dan haru. Juga mereka bercerita tentang organisasi. Tak habis rasanya jika bercerita tentang organisasi, terutama Rohis. Beginilah jika bertemu dengan seorang teman lama: ingin selalu mengenang, bercerita, dan merasa bahagia dengannya.

“Gini nih yang namanya sakit. Nggak enak. Rasanya tu Allah ngehukum kita. Tapi sakit juga sebenernya adalah nikmat. Nikmat buat kita nge-muhasabah diri. Introspeksi diri. Kayak aku ini. Aku ngerasa saat ini karunia Allah itu begitu besar dan mahal. Nggak keitungdengan uang. Dan sekarang pas aku berbaring disini aku tambah yakin dengan Allah. Aku janji akan terus syukur pada Allah. Karena nikmat yang Allah kasih itu melimpah. Pun saat sekarang, saat aku sakit gini, Allah masih ngeberi nikmat; yaitu nikmat hidup. Itu tandanya Allah masih sayang dengan aku, Allah masih ngasih kesempatan buatku perbaiki hidup. Makanya buat kalian, syukuri nikmat Allah. Terutama sehat kalian. Terkadang kita tuh baru sadar saat kita ngerasain yang namanya ‘Sakit’.” Terang Fikri.

Riski, Andri, dan Tio mulai mengerti untuk selalu bersyukur dari seorang teman yang tengah didera sakit, Fikri. Mereka akan selalu bersyukur pada Allah, karena masih banyak di sekeliling mereka yang lebih sulit keadaannya. Seperti yang mereka lihat sebelumnya: orang lumpuh, cacat, busung lapar, kecelakaan, dan sebagainya. Di Rumah Sakit ini mereka belajar, belajar mengenai pentingnya kebersamaan dengan melihat lebih dekat. Bukan hanya bisa bicara saja.

Mengapa bintang bersinar?
Mengapa air mengalir?
Mengapa dunia berputar?
Lihat segalanya lebih dekat
Dan kau... akan mengerti...2

* * *

Di sudut lain Duta masih sendiri duduk di kursi di depan ruangan dimana Elsa dirawat. Dokter sedari tadi belum keluar mengumumkan sesuatu tentang Elsa. Orang tua Elsa pun belum kunjung datang. Pak jihan sudah kembali ke SMA dan memercayai pada Duta sepenuhnya untuk menunggui Elsa sampai orang tuanya datang. Dalam hati Duta makin berlipat rasa cemasnya. Cemas-cemas yang mengintai tentang apa yang akan terjadi sesungguhnya pada Elsa. Cemas-cemas yang bercokol dan tak mau dienyahkan bahkan diredam dengan diam. Rasa cemas itu makin dan tambah berlipat dari detik ke detik. Duta belum sadar bahwa sedari tadi sebenarnya di tangannya memegang sebuah diary milik Elsa. Mungkin karena kecemasannya yang membuatnya terlupa akan diary itu. Ya, saat di kelas tadi tangan Duta seakan bergerak sendiri mengambil diary itu dan membawanya bersamaan saat menggorong Elsa yang pingsan. Sekarang Duta baru sadar yang ada di genggamannya adalah diary milik Elsa. Baca tidak baca tidak baca tidak, pikirnya. Tapi Elsa tadi bilang ini rahasia, pikirnya kembali.

“Baca tidak baca tidak baca baca baca tidak baca. Sudahlah kubaca saja.” Batin Duta berbicara. Dan akhirnya Duta membacanya. Ia buka halaman pertama di diary berwarna pink itu. Tulisannya amat rapi. Beginilah isinya,

Dear Diary,
Diary, kamu tentu tahu apa yang ada di dalam hati ini dan apa yang tengah kurasai. Aku jatuh cinta, Diary. Aku jatuh cinta! Ya, inilah pertama kalinya aku jatuh cinta. Diary, kau tentu tahu bagaimana rasanya seseorang yang tengah jatuh cinta. Bahagia. Indah. Semuanya jadi tampak indah. Mempesona. Aku amat mencintainya, Diary. Tapi kamu tahu nggak dia yang aku cintai itu? Baiklah, aku akan ceritakan. Dia adalah teman sekelasku juga sebenarnya. Dia itu ganteng..., keren, yang jelas dimataku dia itu luar biasa. Kecerdasannya. Keaktifannya di organisasi.
Diary, tak bisa kusangkali aku mengaguminya. Mungkin kamu akan penuh dengan tulisan-tulisanku tentangnya. Tentangnya yang membuatku bahagia. Tak apa kan, Diary?  Diary, sampaikan padanya ya kalau aku cinnnnta padanya. Katakan padanya bahwa aku yang pendiam ini bisa juga merasakan apa itu “Cinta”. Katakan bahwa disini
aku menulis tentangnya. Tentang dia yang mempesona. Diary, sampaikan salamku untuknya ya! Tanyakan apa kabarnya! Ceritakan apa yang kurasa padanya. Pada dia
yang kukagumi. Karena-Nya...
23 Januari
Seribu pertanyaan dan penasaran tertera di hati Duta. Duta penasaran siapakah orang yang Elsa cintai. Duta harap ia yang Elsa cintai itu. Duta kembali membaca pada kalimat, “dimataku dia itu luar biasa. Kecerdasannya. Keaktifannya di organisasi...”. Duta langsung mengambil kesimpulan bahwa yang Elsa cintai itu kemungkinan besar adalah dirinya, atau Riski, atau Andri, atau pula Tio. Karena hanya mereka berempat sajalah laki-laki yang aktif di organisasi di kelasnya. Duta lantas kembali membaca diary milik Elsa.

Dear Diary, Diary, hari ini kembali aku menyentuhmu: benda yang paling kusayang. Hari ini aku kembali menulis tentang sesuatu. Kuharap penaku ini tak melukaimu karena kutulis selalu. Tentang dia.
Tentang dia, aku melihatnya dalam siluet mimpi yang lelap. Dengan terpana aku menatap horison yang penuh makna. Ketampanannya. Keramahannya. Senyumnya. Dan penampilannya yang berkharisma. Dia telah mencuri hatiku. Dan tak bisa kusangkali ternyata aku telah jauh jatuh terperosok dalam rona cintanya. Tentang dia, di dalam kelas kadang aku tersenyum sendiri. Aku bahagia membayangkan aku dan dia bersama: duduk bersama, saling memandang, dan bercerita yang indah-indah. Karenanya mimpi pun jadi terasa lebih indah. Sakit yang kuderita, yang kurasa, seakan hilang sirna begitu saja kala menatap teduh wajahnya dan mendengar renyah tawanya. Meski hanya dalam khayal lamunan.
Sekecil apapun perhatian darinya akan amat membuatku tersanjung kartenanya. Meski semerta perhatian itu bukanlah secara langsung ditujukan padaku. Andai saja aku adalah seorang perempuan biasa yang tak harus berjuang melawan sesuatu yang setiap saat selalu menghantui, menggerogoti, dan kapan saja bisa membinasakanku. Ya, andai aku seorang perempuan biasa!
Kau tahu Diary, bahwa diamku, bahwa dinginnya sikapku, bahwa tertutupnya aku dengan orang lain bukanlah tanpa makna. Aku begini adalah serta-merta demi memperpanjang hidupku dan menjaga dari ketiadagunaan. Karena bisa saja usiaku hanya tinggal beberapa minggu, atau beberapa hari, atau malah hitungan jam. Hanya Allah saja lah yang Maha Tahu.
Diary, jika aku adalah seorang perempuan biasa, aku akan terus berjuang jauh lebih keras dari saat ini, aku akan berjuang lebih dari saat ku sakit ini. Aku akan semangat. Disiplin. Dan akan membuat hidup jauh lebih hidup. Ya, aku akan menjadi ‘Singanya Wanita’ jika tak sedang didera oleh sesuatu bernama, “Penyakit!”.
25 Januari
Duta memahami isi diary itu dengan dalam. Ia makin yakin bahwa Elsa mengidap penyakit yang cukup parah, mungkin. Tapi ia salut pada Elsa, karena Elsa terus dan selalu berjuang melawan rasa itu. Dalam diary-nya Elsa ingin menjadi seorang perempuan yang biasa, tapi dimata Duta Elsa tetaplah luar biasa. Tak terbersit sesuatu yang ‘kurang’ dari aura Elsa.

Duta makin penasaran siapakah seorang yang Elsa cintai. Ataukah dia? Atau Riski, Andri, atau Tio? Dug..dug...dug, bunyi dada Duta gugup. Dan kembali ia buka dan baca diary berwarna Pink itu. Namun ia langsung melangkah beberapa halaman agar dengan cepat mengetahui siapa orang yang Elsa cintai.

Apakah seorang pendiam haram untuk jatuh cinta? Pertanyaan naif! Aku juga bisa merasakan fitrah manusia, yaitu Cinta. Mungkin aku takkan pernah menulis di diary berlembar-lembar tentangmu dan memikirkan yang tidak-tidak andai Allah tak pernah memberiku rasa cinta kepadamu.
Sebenarnya ada malu mengakui mengingat diri yang dingin, tertutup, dan pendiam ini. Tapi tak selamanya diam itu emas, kan? Adakalanya untuk berkata mengungkapkan rasa agar emas itu bernilai lebih. Meski hanya dalam tulisan. Kamu tahu kan maksudku?
Langsung saja. Aku... aku telah jatuh cinta denganmu......
Aku tidak tahu kenapa dan apa yang membuatku kagum dengan peonamu. Sampai-sampai aku takut jika harus kehilanganmu. Rasanya, mimpiku pun jadi lebih indah. Ingatanku tak pernah lekang dengan bayanganmu baik saat terjaga dan pejamkan mata. Senyummu. Wajahmu yang teduh. Tutur katamu. Renyah tawamu. Ah, hadirmu mengalihkan duniaku. Sakit yang kurasa, luka yang kuderita seakan sirna kala memandang teduh wajahmu. Konyol bukan?
Apakah yang sudah terjadi denganku? Apakah karena setan yang telah berhasil bermain-main di dalam hati hingga tak bisa aku jika tidak membayangkanmu? Tapi mengapa mereka berhasil? Apakah karena aku telah menegak khamr cintamu? Hingga tak kurasakan lagi sakitnya? Ataukah karena aku telah terkena kail cintamu? Yang membuatku tak mampu melepas dan akan terasa amat sakit jika kupaksakan melepasnya?
Kadang aku senyam-senyum sendiri karena mengkhayal tinggi tentangmu. Betapa senangnya aku kala melihatmu tampil Nasyid di berbagai kegiatan di sekolah. Betapa bahagianya aku saat dengan kebetulan kita satu kelompok dalam mengerjakan tugas kelompok. Betapa cerianya aku jika kamu menyapaku. Karena kamu, aku jadi lebih tegar meniti tiap jengkal nafas-nafas waktu yang terhunus yang kulalui dengan sebentar ini. Kamu mampu membuatku bahagia meski kutahu ku akan merasakan sakitnya cinta kelak.
Harmonika cinta mengalun syahdu di relung-relung
jiwaku Menciptakan simphoni-simphoni indah menyejukkan jiwa
Nyanyian-nyanyian cinta menggema
Bunga-bunga tumbuh indah di taman-taman hati
Membuatku setengah gila dalam lamunan Yang sepi...

Sebenarnya aku telah bosan bercumbu dengan bayang bayanganmu. Inginku... adalah membuka jendela menyambut pagi yang tenteram dan damai. Meraup butiran cita cinta pada embun yang menyejukkan. Menanti datangnya mentari di dalam hati. Menyambut hari-hari esok yang kan jadi misteri. Aku tak ingin terperosok, jatuh, dan terinjak dalam cinta karenamu. Aku ingin kamu sentuh hatiku. Kau beri perhatian padaku. Kau gapai aku. Sembuhkan sakitku. Bahagiakan aku. Bukan hanya mimpi di atas mimpi.
29 januari
Duta belum menemukan siapa sebenarnya orang yang Elsa cintai. Kemudian ia melangkah pada halaman yang lebih jauh lagi untuk ia baca. Ia baca lembar diary itu.

Sudah kesekian kalinya aku menulis tentangmu di diary cintaku ini. Baru saja aku melihat, mendengar, dan menyaksikan seseorang gadis berjilbab yang agaknya seorang adik kelsamu di Rohis. Ia mengetuk pintu kelas kita saat kita belajar, dan gadis itu ternyata mencari kamu... Aku masih ingat kata-katanya...
“Assalamu’alaikum... maaf pak, saya mau manggil kakak yang namanya Duta!” kata gadis itu. “Ciyeee... suit suit, ada yang nyari Duta rupanya. Siapa itu, Dut?” sontak teman-teman sekelas meledek kamu. “Hayooo Duta..., ada maen dengan anak kelas sepuluh ya? Hahaa...” kata salah satu orang. Dan sekian banyak lagi sorakan yang menjurus padamu karena gadi itu mencarimu. “Waalaikumsalam. Ia silahkan!” kata pak guru Matematika yang sedang mengajar kita.
Kamu pun lantas keluar memenuhi permintaan gadis itu. Yang kutangkap saat itu adalah bahwa ada suatu yang penting antara kamu dan dia. Setelah beberapa saat kamu keluar, kamu masuk kelas lagi mengambil sebuah kunc dari tas-mu dan memberikan pada dia. Aku tahu dari teman sebangkuku, katanya kamu itu adalah seorang BPH Ikhwan dalam Rohis. Jadi yang memegang kunci mushola adalah kamu. Mungkin gadis itu ingin membuka mushola karena ada suatu kepentingan. Kamu sebenarnya tidak salah.
Kamu tahu gimana dan apa yang aku rasa saat ia memanggilmu dan bicara sesuatu padamu? Kamu tahu kenapa aku menundukkan kepala saat gadis itu menyapa dan memanggilmu? Hatiku menangis. Aku cemburu. Malah pernah suatu ketika aku menitikkan air mata karena tak kuasa menahan cemburu itu. Kadang aku bertanya pada Tuhan kenapa cinta yang harusnya indah bisa sebegini menyakitkan. Kurasa Allah tidak adil memberiku penyakit seperti ini. Andai aku seperti gadis yang lain, mungkin aku adalah seorang gadis yang meminta kunci padamu seperti halnya gadis tadi. Aku juga ingin kau panggil dengan sebutan ‘Ukhti’ seperti gadis berjilbab lain yang kau panggil di Rohis. Ah, tapi kau tak bersalah...
kanepa aku harus menyalahkanmu?!
Akhi..., pernahkan kamu mengharapkan sesuatu tapi sampai sekarang ingin itu belum dapat kau genggam? Kau ingin meraihnya tapi kamu sadar kamu sayapmu patah satu? Kau ingin mendaki tapi kau tahu kemampuanmu amat terbatas? Kau mencintai seseorang tapi kau sadar dengahn mencintai dia kau akan amat terluka? Pernahkah kamu merasakan hal itu? Akhi tahu kan itu amat menyakitkan? Lantas kenapa akhi biarkan aku merasakan sakit itu? Kenapa akhi biarkan aku merasakan betapa sakitnya cemburu?
4 Februari
Luruhlah seluruh perasaannya. Ternyata Duta-lah yang Elsa cintai. Membaca kata-kata di diary itu membuat Duta menjadi haru. Ternyata... ternyata ia juga mencintai aku, batin Duta. Duta kembali ingin membaca lembar-lembar di diary itu, ia ingin menemukan kata-kata indahnya cinta yang Elsa tulis. Tentang dirinya...

Malam ini aku bermimpi tentangnya. Andai saja mimpi itu tak hadi di mimpiku, pasti aku takkan merasa resah dan rusuh begini. Mataku pun mungkin tak sembab gara-gara menangisikisah mimpi yang bagiku bukanlah lagi sebuah mimpi. Mungkin mimpiku semalam akan terjadi hari ini. Beginilah mimpi itu...
“Elsa... Elsa...” ada sesuatu yang memanggilku dalam mimpi. “Elsa, “ suara itu mengiang kembali di telinga. Kucari asal suara. Di rerumpunan rumput yang tengah mengeluarkan kapa di kuncupnyas. Di balik batu. Semak-semak. Aku berputar berkeliling mencari sumber suara yang memanggilku itu. Suara itu makin keras mengiang. Aku lantas berlari mengejar suara itu. Kususuri rumput-rumput yang tinggi. Perlahan aku pun lelah. Aku terengah. Aku menghentikan derap langkahku. Aku menghela nafas panjang. Suara itu kembali mengiang. Aku menoleh ke arah belakang. Terlihat sesosok wajah cahaya yang hadir. Subhanllah... benarkah ini dia? Pikirku. Dia yang senyumnya manis mengembang. Dia yang membuatku kagum. Dia yang selalu kupikirkan.
Dia yang gagah, tampan, dan berkharisma. Dia yang selalu kutulis dalam diary. Oh... “Assalamu’alaikum, Ukhti!,” Haa.. dia memanggilku “ukhti”? Benarkah ini? “Assalamu’alaikum, Ukhti!” dia mengulang salamnya kembali. Aku mengejap dalam pertanyaan hati. Dia tersenyum ikhlas. “Eee.. Waalaikumsalam...” jawabku. Dia lantas mengajakku duduk di sebuah kursi di bawah rindangnya pohon. Betapa bahagianya aku saat itu. Di kursi itu aku dan dia bercerita, saling menatap, dan tertawa. Dunia rasanya sangat indah dirasa. Pelangi pelangio hadir dalam mimpi. Bunga-bunga bertebaran di rerumputan. Sungai-sungai kecilmenyapa kaki merasakan sejuknya keindahan mimpi bersamanya. Hilanglah semua kegersangan hati yang mengganjal. Dia mempesona. “Ukhti cantik lho...” Haa, katanya aku cantik? Aku langsung tersipu. Apa benar katamu itu? Apa benar, Duta? “Oya?” jawabku. Dia kembali memujiku, “Iya, sumpah! Kaya’ Cleopatra deh kamu!”. Ah, mendengar katanya aku jadi makin tersipu dan over dalam mimpi. Aku dan duta kembali bersama dalam mimpi. Meski mimpi ini terbilang ‘Lebay’ tapi sungguh, aku mencintai mimpi ini.
Kemudian dengan pelan ia ajak aku tuk berdiri. Aku pun lantas berdiri. Kutatap laket-lekat wajahnya yang tampan. Oh, dia amat mempesona. Dia tersenyum padaku. Tak pernah aku merasakan mimpi seindah ini. Dia lalu meneruh jari telunjuknya di bibirnya tanda aku untuk diam. Kemudian ia ada di belakangku dan menutup mataku dengan tangannya. Aku seakan menyipu malu.
“Ssss...t!” demikian yang kudengar dari mulutnya. Pertanda bagiku untuk diam lagi. Dengan perlahan ia lepaskan tangan yang menutup mataku. Dan aku membuka mataku. Tapi... dan.... Kemana dia? Kenapa aku ditinggal sendiri? Apa maksudnya ini?
Hatiku bertanya-tanya. Tiba-tiba tak ada lagi seorang yang kucinta. Dia begitu cepat pergi dan aku ditinggal sendiri. Dan sekejap alam pun berubah. Pelangi berubah jadi mendung-mendung yang tinggal menunggu waktu tuk jatuhkan hujan. Daun gugur. Sungai-sungai kecil kahabisan airnya. Aku tak tahu sekarang berada di mana dan tempat apa ini namanya. Mungkin inilah yang namanya dunia lebai. O, aku ingin pergi dari tempat ini... Tanah dan pasir menguapkan debu fatamorgana. Dunia terasa amat panas kurasa. Alam mencekam. Aku takut. Ngeri. Nuansa yang kutangkap ialah bau Neraka. Aku menangis disana.
“Kembalikan aku ke duniaku!!!” jeritku.
Dan satu detik kemudian aku terjaga. Rupanya aku bermimpi. Keningku penih simbah peluh ketakutan mimpi. Perlahan kukitarkan pandangan kea rah jam. Pukul tiga dini hari.
Entah kenapa kurasakan detak bunyi jam dinding itu begitu kuat dan makin kuat. Jantungku pun berdebar amat kuat dan makin cepat, seumpama detakan derap langkah malaikat pencabut nyawa yang hendak merenggut nyawa manusia. Aku diam terpasung. Aku pesakitan dan menggigil. “Elsa… inilah waktumu…” entah dari mana asal suara itu menggema. Yang jelas suara itu begitu mengejutkanku dan membuatku takut. Aku makin tak kuasa menahan ketakutan yang mencekam. Jantungku serasa mau copot karena ia makin cepat berdetak. Aku panik. Tapi mulutku seakan terkunci.
Lidahku kelu dan bibir pun membisu. Seluruh tubuh kaku membeku. Kenikmatan dunia jauh berlalu. Kakiku terasa dingin dan bergetar hebat. Mukaku pucat. Aku tak bisa melakukan apa-apa.
Detakan jam terus berbunyi layaknya lonceng kematian yang mengejar. Kepanikanku memuncak. Di dalam kamar ini terasa roh-roh setan iblis berterbangan membujuk, merayu, dan menggangguku. Aku merasa dunia berbeda. Semua ketakutan, semua kegelisahan, kejadian yang pernah kualami berpendar dengan cepat di ingatan dan bercampur aduk dalam rasa. Ayah, Ibu, Saudara, Sahabat. Senyum Ibu, kebaikan Ayah. Dosaku pada mereka. Air mata Ibu. Tawa sahabatku yang pernah kulukai hatinya. Saudara-saudara yang kadang kuacuhkan.
Aaaa. Aku rasanya seakan sudah gila. Kepalaku pusing luar biasa. Bayang bayangan dalam ingatan bagai puzzle-puzzle yang menghipnotis dan membuatku merasakan pesakitan yang dalam. Jauh lebih dalam. Hingga aku tak merasakan apa-apa lagi.
* * *
“Asyhadu ‘ala illaha ilallah…”
Sayup-sayup lantunan suara adzan mengiang. Aku terbangun. Kepalaku masih sedikit pusing. Ternyata aku tidak jadi mati. Untung aku hanya pingsan saja tadi.
Adzan kali ini sangat indah untuk didengarkan. Perlahan kubuka jendela kamar untuk melihat keindahan alam surgawi subuh hari sambil mendengar seruan-Nya yang menyentuh qalbu.
“Assholatu khoirum minan naum…”
Lantunan syahdu itu menuntun kepalaku menatap kea rah langit yang maha luas. Bintang-gemintang. Bulan. Nuansa langit subuh yang bersih dan indah. Ah, aku jadi teringat masa-masa kecil dulu, saat itu aku sangat suka melihat langit.
“Oh Tuhan…, inikah saat ku pergi?” tanyaku dalam hati.
Lamat laun ada tetesan tak berbunyi mengalir di pipi. Ada haru yang dalam dalam jiwa. Di satu sisi aku mencintainya, dan di sisi satunya aku takut laknat-Nya. Ah, yang pasti kan terjadi adalah sebentar lagi aku akan menutup mata. Allah… inikah saat ku pergi?
* * *
Setelah berwudhu dan sholat subuh, ba’da salam aku memohon pada Allah ampunan. Terutama ampunan karena aku yang lebih memikirkan makhluk-Nya ketimbang diri-Nya. Jika Allah mencabut nyawaku saat ini tentu aku belum sanggup.
Meski yang kini aku rasakan
Kutau semua dari-Mu ya Allah
Hidup matiku adalah kuasa-Mu
Sembah sujudku ya Rabbi
Ampuni segala dosaku…

Usai sholat kembali kubuka jendela kamar. Benderang purnama masih menyinari di langit barat. Bintang masih menjadi hiasan langit. Kembali kujatuhkan air mata. Betapa besarnya karunia Allah dan betapa kufurnya aku dengan nikmat-Nya. Betapa banyak anugerah-Nya tapi setengah hati aku syukur. Betapa Maha Besarnya Ia, tapi aku congak dengan tanda-tanda kebesaran-Nya. Astaghfirullah… beri aku waktu lagi, Allah!
Tiba-tiba ada sesuatu yang merembes dari dalam hidung. Kuraba hidungku. Darah. Aku mimisan. Namun aku tak sepanik tadi, langsung ku lap darah yang keluar dari hidung. Dan kembali kutatap jauh mega-mega di langit itu. Astaghfirullah… ampuni aku, Allah! Kembali aku menangis. Hari ini mungkin adalah saat terakhirku merasakan keindahan-keindahan seperti ini.
“Ya Allah… janganlah Kau cabut nyawaku. Masih banyak keagungan-Mu yang belum kusyukuri. Allah… jangan ambil diriku! Masih ingin aku melihat kebesaran-Mu. Allah… jangan ambil nikmat-nikmat itu!”
Dengan perlahan kuambil diary-ku. Dan  kutulis dengan rapi apa yang kurasai mulai dari mimpi hingga kini.
Embun di pagi buta
Menebarkan bau basah
Detik demi detik kuhitung
Inikah saat ku pergi?

05.30 pagi. 7 Februari
* * *

Duta basah air mata membacanya. Ternyata memang dia yang Elsa cintai. Dan Elsa amatlah dalam cintanya kepada Duta. Karena cintanya yang besarlah Elsa mampu menulis berlembar-lembar di diary tentang Duta. Duta amat kagum dengan tulisan-tulisan Elsa yang amat bermakna, puitis, dan nyastra. Sekarang Duta telah tahu mengapa Elsa di sekolah tadi batuk mengeluarkan darah dan lantas pingsan hingga dibawa di rumah sakit ini. Dari kata-kata yang Elsa petikkan sangat jelas ditafsiri bahwa Elsa tengah sakit yang amat parah. Tapi Duta tidak tahu pasti sakit apa yang Elsa derita. Yang pasti, petikan akhir di diary itu bagi Duta adalah sebuah pertanda. Iya, Pertanda.

Duta berguncang hebat. Diary itu masih dalam genggamannya. Hatinya bergemuruh. Air matanya makin deras mengalir. Ia sangat tidak siap menerima jika Elsa pergi. Jangan pergi, Sa! Aku cinta kamu!

“Ya Allah, selamatkanlah Elsa! Selamatkan dia! Selagi Engkau Maha Pengasih maka kasihilah. Selagi Engkau Yang Maha Mengobati maka sembuhkanlah. Ya Allah, kabulkanlah doaku selagi Engkau Yang Maha Memberi...”

Demikianlah doa Duta. Hatinya bercampur aduk perasaannya. Kecemasannya kamin meningkat. Kepanikannya memuncak. Kegusarannya memucuk. Sudah setengah jam Duta menunggu disini, namun dokter belum mengumumkan sesuatu. Orang tua Elsa pun belum kunjung datang. Ya Allah beri jalan!

***

Duta mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk ketika terdengar derap langkah yang agak berlari. Duta menengok ke asal suara langkah itu. Ternyata ada seorang ibu-ibu berjilbab rapi dengan wajah panik. Kontan dalam hati Duta berspekulasi bahwa ini adalah Ibunya Elsa. Seketika Duta langsung mengelap air matanya. Menata kembali raut kesedihan wajahnya, dan...

“Maaf, apa ini ruangan anak saya dirawat?” tanya Ibu itu.
“Elsa dirawat disini.”
“Bagaimana keadaan anak saya? Kamu siapa?”
“Dari tadi dokter belum mengabarkan sesuatu. Saya temannya yang mengantar Elsa ke sini. Saya Duta.”
“Kamu sendiri?”
“Nggak. Sama tiga teman saya lainnya, mereka lagi jalan-jalan sebentar” Suasana hening sesaat.
“Elsa.. kamu gimana nak...” gumam Ibu itu.
“Ibu tenang dulu. Ibu bisa duduk disini. Jangan panik. Dokter akan bertindak cepat dan baik.” Ujar Duta mencoba menenangkan.

Mendengarnya Ibu itu langsung menuruti kata Duta. Namun raut kecemasan masih tertera di wajahnya.

“Kamu sudah lama disini, Nak?” tanya Ibu itu.
“Sekitar setengah jam, Bu.”
“Terima kasih ya sudah mengantar Elsa ke sini. Tadi Ibu ditelepon guru, katanya anak Ibu, Elsa, dibawa ke rumah sakit. Mendengarnya Ibu langsung ke sini. Tapi sayangnya jalanan macet. Makanya Ibu telat.”
“Ee... maaf, Bu! Elsa sebenarnya sakit apa?”
“Sebenarnya dia sakit sudah lama, mulai terkena pas waktu SMP. Elsa itu kena TBC. Parah.” Duta hanya mengangguk perlahan tanda paham. Ibu itu melanjutkan,
“Waktu itu gejalanya Elsa demam berhari-hari. Ibu pikir hanya demam biasa. Tapi setelah diperiksa oleh dokter ternyata Elsa mengidap virus tuberkulosis. Ibu tidak tahu dari mana Elsa terkena TBC. Yang jelas setelah mendengar dokter memvonis Elsa mengalami gangguan di paru-parunya Ibu langsung shock. Mulai saat itu Ibu menyuruh Elsa untuk tidak banyak beraktifitas. Dan Elsa pun menurut, dia tidak pernah keluar rumah selain sekolah. Namun ketika SMS sakit Elsa makin parah, kondisinya melemah. Ia sering mengeluarkan darah kalau batuk. Ibu sebenarnya sudah melarangnya untuk sekolah mengingat kesehatannya yang buruk. Namun Elsa bersikeras ingin sekolah. Ia memiliki keinginan kuat untuk meraih cita-citanya yaitu menjadi Dokter. Akhirnya Ibu nggak bisa memaksakan kehendak Ibu, Ibu menuruti permintaan akan Ibu satu-satunya itu. Hari berganti hari dan kondisi Elsa selalu menunjukkan penurunan, tapi meskipun Ibu tahu tapi Elsa selalu menunjukkan wajah cerah dan semangatnya di hadapan Ibu seakan ia tak menderita apa-apa. Mungkin di sekolah pun Elsa menyembunyikan apa yang sebenarnya ia alami. Ia memang tipe anak yang tak ingin menyusahkan orang lain. Ibu bangga dengan kegigihannya itu, meski mungkin hidupnya tinggal beberapa waktu. Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan!” terang Ibu panjang lebar.

“Nah, Bu! Itu dokter...” seru Duta.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Ibu pada Dokter, pertanyaan khas saat membesuk.
“Masya Allah.. apa anak saya akan baik-baik saja, Dok?” lanjut Ibu.
“Payah! Tapi kami akan berusaha sebisa kami.”
“Apa saya boleh melihat anak saya?”
“Saat ini belum. Kondisi anak Ibu sekarang masih ditangani. Ibu disini saja dulu, nanti jika ada kabar akan saya beri tahu. Sekarang Ibu berdoa saja, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.”
“Terima kasih, Dokter!”

Seketika itu dokter langsung kembali masuk ke ruangan dirawatnya Elsa. Hati Duta masih bergetar hebat: getar antara haru yang sangat dan rasa ketakutan jika harus kehilangan Elsa. Ibu Elsa pun tidak kalah, sampai kini kepanikannya belum redam. Namun perlahan seruan illahi terdengar,

“Allahu akbar Allahu akbar.....”,
“Allahu akbar Allahu akbar.....”

“Maaf bu, saya izin mau sholat dhuhur dulu di mushola ya bu. Saya juga sambil menyusul ketiga teman saya.” pinta Duta.
“Iya” jawab ibu lirih. “Jangan lupa doakan Elsa ya...” lanjut Ibunya Elsa.

Duta langsung menuju mushola rumah sakit. Setelah berwudhu Duta memasuki mushola. Ternyata di dalam mushola sudah ada ketiga temannya. Duta lantas menghampiri.

“Kalian ini kok lama banget kelilingnya?” tanya Duta.
“Maap, tadi kita betiga sambil njenguk temen waktu SMP yang kebetulan lagi dirawat juga disini.” jawab Andri.
“Gimana Elsa? Udah ada kabar belum?” tanya Riski.
“Dokter bilang Elsa kritis. Dia masih koma. Tadi ibunya Elsa udah datang. dia cerita ke aku, katanya, Elsa itu kena TBC yang parah.”
“Masya Allah... kok bisa?” Riski penasaran.
“Nanti abis sholat aku ceritain. Sekarang udah iqamat. Kita sholat dulu.”
“Ya sudah!”

Iqamat mengumandang. Sholat dzuhur ditunaikan. Kipas angin yang besar itu mengeringkan keringat-keringat kecemasan yang Duta rasakan. Duta merasakan kesejukan-Nya, dalam sholat.

* * *

Setelah selesai sholat, mereka langsung menuju ruangan Elsa dirawat. Sambil berjalan Duta menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi pada Elsa. Lima menit berjalan akhirnya mereka tiba di tempat. Dokter tiba-tiba keluar membuka pintu memberi kabar terbaru tentang kondisi Elsa.

“Gimana anak saya dokter?”
“Sampai sekarang anak ibu belum sadar. Paru-parunya sangat parah. Ia kesulitan bernafas.”
“Izinkan saya masuk, Dok!”
“Silahkan, tapi hanya sebatas melihat.”
“Terima kasih, Dok.”

Sejurus kemudian mereka semua memasuki ruangan Elsa. Duta semakin tak kuasa menahan tangis melihat Elsa terkujur lemah di atas ranjang rumah sakit. Ia miris. Jika terjadi apa-apa ia takkan bisa memaafkan dirinya sendiri, meski itu bukan salah Duta, melainkan takdir Tuhan.

“Kamu harus bangun, Nak! Kamu harus bangun.” Bisik ibu disebelah Elsa. Lamat laun dan perlahan jemari Elsa bergerak. Secuil harapan hadir. Elsa mulai membuka matanya. Dilihatnya kipas angin yang berputar pelan tepat di atas kepalanya bagai kematian sudah dihadapan mata. Hidungnya mencium bau obat-obatan khas rumah sakit yang tidak ia suka. Elsa tersadar, namun mulutnya belum bisa mengeluarkan kata apapun. Yang berbicara adalah tangisan yang meleleh dari matanya.

“Kamu siuman, Nak. Syukurlah...”
“Umi.”

Sedetik kemudian elsa bernafas semakin dulit. Nafasnya tersengal. Matanya kunang-kunang. Tubuhnya terasa sangat lemas dan lemah. Mulutnya bergerak seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa. Ibunya yang tanggap langsung mamanggil dokter. Sementara duta dan teman-temannya membimbing elsa.

“Sa, istighfar, Sa! Ingat Allah!” seru duta.
“Nyebut, Sa! Syahadat!” tambah riski.

Begitu datang dokter langsung bertindak cepat. Namun elsa masih kesulitan bernafas. Dan sisa-sisa nafasnya kian henti dan terputus. Nyanyian-nyanyian kegetiran maut menyeruak di ruangan itu. Seisi panik. Gugup. Dan bercampur aduk. Ibu, Duta, dan Riski memberi isyarat untuk elsa untuk mengatakan kalimah Allah.

“Allah... Allah...”

Hanya itu yang mampu keluar dari bibir elsa. Setelah tu, tak ada lagi isyarat gerak maupun kata yang menandakan elsa masih ada. Jantung tak lagi berdetak dan gelombang otak tak lagi berfrekuensi. Dunia seakan berhenti beberapa saat di ruangan itu. Terlihat elsa tersenyum.

* * *

“Akhi, aku nggak papa kan pergi?”
“Iya, nggak papa. Tapi semuanya sedih...”
“Ini kan takdir Allah.”
“Iya, bener, ini semua takdir Allah.” jeda “Sa, aku mau ngomong sesuatu.”
“Apa?”
“Akhi ingin jadi penjaga senyummu… yang selamanya akan mengenangmu. Mengenang segala tentang sifat spesialmu. Elsa… biarkan aku menjadi penjaga senyummu! Yang indah…”
“Meskipun aku sudah nggak ada. Kenangan akhi terabadi dalam diary. Diary yang selama hidupku menjadi teman sejati. Akhi, biarkan aku menjadi penjaga suaramu. Suaramu nan merdu, ramah, dan lembut. Terlebih ketika bernyanyi nasyid. Ohh… biarkan aku menjadi penjaga suaramu akhi… meski suaramu kini takkan kudengar lagi…”
“Aku cinta kamu!”
“Oya?”
“Bener, karena Allah! Kamu itu cantik!”
“Ngomong-ngomong aku ini udah akhwat belum ya?”
“Elsa itu akhwat kok. Akhwat yang selalu ada di hati akhi... selamanya.”
“Mmm, akhi, yang ada di tangan akhi itu diary aku ya?”
“Iya, tadi nggak sengaja kebawa ama akhi. Elsa pinter banget sih nulisnya. Puitis. Hehe...”
“Nggak juga kok, cuma curahan hati. Diary itu akhi simpen ya, karena aku dah nggak bisa jaga diary itu lagi. Mau kan?”
“Akhi akan jaga diary ini. Janji!”
“Makasih akhi…”

Duta seakan berbicara dengan Elsa dalam lamunannya yang separuh tak percaya. Duta menghapus air matanya yang begitu deras membanjirkan sungai kesedihan. Namun ia sudahi. Inilah takdir illahi.

Duta menutup pintu kamar dimana Elsa dirawat. Elsa telah meninggal. Ia berjanji akan mengabadikan cinta. Dia semakin yakin, bahwa ada cinta yang paling tinggi. Ya, cinta yang hanya dimiliki pencipta cinta. Pemilik cinta. Dan pencabut nikmat cinta. Yakni Allah, Duta semakin yakin bahwa apapun bentuknya cinta di dunia akan musnah, takkan kekal. Ia berharap, suatu saat nanti akan bertemu Elsa lagi. Meski hanya di dalam mimpi…

* * *

Kalo ada yang salah dalam tulisan mohon ditegur yah, cos ane masih cetek ilmu dan masih belajar nulis-menulis.

* * *

Inu Anwardani
Ditulis di Baradatu
Pas kelas XI SMAN 1 Bukitkemuning tahun 2008 (Uhh, ternyata dah lama yah...)
Salam,  ^_^

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...