Ukhti Cinta

 
Pagi yang indah. Hari itu adalah hari yang penuh dengan sejuta sambutan alam nan menyejukkan. Kota Tokyo, kota yang demikian indah. Terlebih musim dingin yang tengah menyemai seantero jepang. Jepang sungguh memesona...

Angin mulai berhembus membawa udara dingin dengan tasbih. Salju-salju yang jatuh dari langit pun menghujam bumi dengan tasbih. Sakura yang tumbuh di depan pelataran itu berselimutkan putihnya salju, ketika angin datang gugurlah daunnya beserta butir-butir salju nan lembut. Dan semuanya bertasbih. Pagi itu adalah pagi yang luar biasa....
Ya, pagi itu adalah pagi yang luar biasa. Segenap alam menyambutnya dengan kejadian yang mendamaikan jiwa. Terlebih bagi Nadia, ini adalah pertama kalinya ia menukmati musim dingin. Di tempatnya, di Indonesia mana ada musim dingin, mana ada butir salju yang membuatnya kagum dengan ciptaan illahi.

Jepang, kini adalah tempatnya berpijak. Negara yang indah. Negara yang maju. Negara yang mencuatkan peradaban meski sejatinya adalah negara yang kecil, namun orangnya sungguh luar biasa. Tokyo, juga adalah kota yang luar biasa. Bangunan-bangunan nan indah berjajar, kota-kota, jalanan yang tertata rapi. Semuanya menunjukkan kebudayaan dan ketertaatan pada adat yang eksotik. Setiap bangunan, mengkhaskan bau jepang yang begitu mencirikan. Ukiran, bangunan, rumah-rumah menggambarkan nuansa klasik budaya jepang yang elegan.

Pagi itu nadia merasa menjadi manusia seutuhnya. Mulutnya terus berdzikir mengucapkan kalimah suci atas nikmat pagi yang diberikan Allah untuk hari ini. Ia mengagumi pagi ini, salju yang turun, rumput-rumput yang mulai tertimbun oleh putihnya salju, sakura, dan matahari yang terbit dengan malunya. Meski mendung, berkabut, namun hati Nadia terus bahagia. Hatinya berbinar, bercahaya, penuh rasa, penuh warna, juga sepertinya ada cinta di hatinya...

Angin mulai berhembus padanya. Nadia membenarkan jaket paltonya, juga membenarkan syal yang membalut lehernya, ia kedinginan. Begitu kedinginan. Betapa tidak, orang asia tenggara mana ada yang tahan hidup di daerah yang dingin, bahkan sangat dingin. Berita di televisi jepang mengatakan bulan ini temperatur udara mencapai lima derajat celcius. Apa tidak gila??? Orang indonesia mana ada yang kuat.

Nadia terus berdzikir di bangku halte terminal tokyo ini. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti mencari hadirnya seseorang. Tak lama kemudian sesosok orang yang ditunggu oeh Nadia pun terlihat dari kejauhan. Dari jarak lima puluh meter Nadia sudah tahu bahwa yang memakai jaket warna hitam itu adalah Anas. Orang yang ia tunggu. Dari bangku yang ia duduki, Nadia melempar senyumnya. Dibalik balutan jilbab anggun dan syal biru yang dikenakannya nampaklah seorang akhwat yang begitu memesona bagi Anas.

Tak lama kemudian tibalah Anas di hadapan Nadia. Anas tangkap senyum manis Nadia. Manis. Namun anas langsung beristighfar.

”Assalamualaykum...”
”Waalaikumsalam warahmatullah...”
”Udah lama nunggunya ya?” Ujar Anas pada Nadia.
”Cukup lama sih. Aku aja dah kedinginan banget. Tapi nggak papa. Aku dari tadi merasakan keindahan kota tokyo disini. Ternyata jepang itu indah ya...”
”Hehe... maap deh kalo kalo nunggunya lama. Oyah, ini belum seberapa. Ada yang lebih indah lagi nuansanya daripada di terminal ini.”
”Oyah???”
”Iya. Ntar deh sebelum ke Universitas Tokyo untuk penelitian tesis kita mampir dulu ke Omigara. Disana suasana alamnya lebih alami dan luar biasa. Surga dunia deh... kalo aku kesana, damaaaaaaiii banget rasanya...”
”Jangan lebai ah Nas, sebagus apa sih Omigara ituh?”
”Kalo kamu kesana Nad, pasti kamu juga bakal merasakan hal yang sama. Damaiii. Mau gak kesana?”
”Boleh!”

Nadia dan Anas adalah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Universitas Malaysia. Mereka ke jepang dalam rangka melakukan penelitian untuk tesisnya. Kebetulan Nadia dan Anas ditugasi oleh pembimbing mereka melakukan penelitian di jepang. Karena sama-sama asal indonesia mereka berniat bersama-sama melakukan penelitian agar tidak tersesat dan lebih mudah. Lagi pula si Anas sendiri pernah selama enam bulan tinggal di jepang. Jadi sedikit tahu seluk-beluk tentang jepang. Nadia begitu berterima kasih kepada Anas sudah mau bersama melakukan penelitian, karena Nadia sendiri begitu buta tentang jepang. Di jepang ini, Anas adalah orang yang diandalkannya. Meski mereka bukanlah siapa-siapa, hanya seorang mahasiswa yang kenal dan bertemu sesaat di University of Malaysia. Mereka bukan satu SMp, satu SMA, atau satu propinsi. Tapi mereka sudah cukup dekat meski baru kenal seminggu lalu.

Dari terminal Yokohara mereka berdua naik mobil Bus jurusan Yisahama – Nishino. Di perjalanan Nadia lihat keindahan kota tokyo, lampu-lampu yang memenuhi warna kota meski sudah pagi. Kabut yang tebal. Dan suasana hati yang dingin namun tetap berdzikir atas kekaguman. Nadia tangkap kecantikan pagi jepang saat itu. Di kaca Bus itu yang mengembun, Nadia menuliskan sebuah kata dengan jarinya di atas kaca yang mengembun. CINTA! Ya, kata itu yang ia tulis. Entah apa maksud dari Nadia menulis kata CINTA. Apakah ia sedang jatuh cinta? Entahlah... yang jelas hari-hari yang ia lalui di jepang seminggu ini ia hadapi dengan ketenangan, kenyamanan. Karena ada Anas yang membantunya.

”Ukhti udah nyampe. Kita turun disini.”
”Haaa ukhti?” Nadia melongo.
”Iya, kenapa?”
”Nggak papa, heran aja.” Nadia tersipu dipanggil ukhti. Rona merah di wajah tak bisa disembunyikan olehnya.
”Kok heran?”
”Biasanya manggilnya kan, ”kamu”.”
”Hehe... nggak papa dong! Kamu kan pantes dipanggil gitu. Di Universitas kamu juga dipanggil ”Ukhti” kan sama ikhwan-ikhwan genit Malaysia? Hehehe....”
”Hehehe... bisa aja kamu nih. Ah, tapi sama aja. Apa bedanya ukhti sama perempuan lainnya? Sama aja tho...”
”Sama sih. Tapiiiii, ada deh pokoknya bedanya.... kalo aku mah, gak pantes dipanggil akhi-akhi-an. Hihi...”
”^_^.... Jadi turun gak nih?”
”Jadi jadi....!!” ucap Anas langsung turun dari Bus itu bersama Nadia.

Mereka berjalan sebentar menuju Bukit Omigara. Belum tiba saja, Nadia sudah tersenyum dengan pesona bukit Omigara yang menyejukkan jiwa. Nadia tak menghentikan senyumnya. Dari sini saja sudah indah, apalagi kalau sudah di atas sana. Ohh, Sejuk sejuk sejuk! Hatiku penuh cinta.... ucap Nadia dalam dada.

Setelah berjalan kaki selama lima menit tibalah mereka di bukit Omigara. Sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi, namun cukup untuk melihat seluruh kota Tokyo dengan pesonanya. Ya, memang sangat indah dan menawan melihat keindahan jepang dari tempat ini.

Nadia lihat dari ketinggian itu. Ia berdiri di bawah pohon Aukaria yang indah. Dari sana ia lihat pemandangan kota Tokyo dari ketinggian, udara yang dingin, awan-awan mendung yang sedemikian dekat dengannya, ia juga lihat jembatan Nakasawa yang membelah kota Tokyo, di bawah jembatan Nakasawa mengalirlah sungai Hasinbe Yama yang membuat kota Tokyo makin bangga memilikinya. Ya, sungai Hasinbe Yama adalah sungai kebanggaan sebagian masyarakat jepang.

Disana, di tempat Nadia berada, ia tangkap kecantikan paras nuansa jepang. ia lihat titik-titik butir salju yang turun. Ia genggam salju itu. Ia rasakan keajaiban yang Allah berikan sungguh menawan. Di hadapnya, ia tangkap sihir Maha Cinta yang sungguh tak ada tandingannya. Dia yang menciptakan segala musim dan cuaca, Dia yang menjatuhkan hujan dan segala apa yang ada di angkasa, Dia yang menciptakan keindahan alam surgawi seperti apa yang ia rasakan saat ini. Sungguh, Nadia seakan merasakan berada di Surga.

”Anas, ini bukan dunia. Ini seperti negeri khayalan mimpi.... begitu indahh!!” ucap Nadia pada Anas.
”Apa kataku. Kamu pasti nggak nyesel kuajak kesini.”
”Iya! Aku seneng banget bisa ada disini. Subhanallah.... memang ciptaan-Nya tiada tara. Luar biasa. Dan aku nggak mau kehilangan penglihatan, aku inginn terus bisa melihat kebesaran-Nya. Ya, aku ingin selalu dan selalu merasa kebesaran-Nya dekat denganku. Aku ingin bertasbih memuji-Nya. Seperti burung-burung itu Anas. Seperti salju-salju yang turun itu. Seperti angin dingin itu. Seperti pohon sakura yang bertasbih selalu seiring butir putih yang bertakhta di setiap helai daun dan tangkainya. Subhanallah....”

Anas melihat Nadia begitu takjub dengan suasana alam yang ada di hadapannya. Ia lihat Nadia begitu menukmatinya. Wajah Nadia begitu ceria seperti bunga yang tengah merekahkan mahkota dan memancarkan warna dan sinarnya. Nadia seperti bunga. Begitu bahagia, bebas, merdeka, dan aura yang terpancar dari riak wajah Nadia adalah keimanan. Keimnanan yang dibalut oleh kecantikan yang menawan. Tak ayal Anas pun mulai mengagumi terhadap sesuatu yang dimiliki Nadia. Entah sesuatu itu apa. Apakah sesuatu itu bernama cinta? Entahlah, hanya Anas dan Allah yang tahu.

Nadia begitu damai rasanya. Ia lepaskan segenap kekalutan yang mengganjal sanubarinya selama ini dan ia benamkan disini bersama keindahan yang seakan permadani terhampar. Anas menangkap wajah kebebasan Nadia, saking merasa damainya berada di temppat itu, Nadia berdiri di atas lututnya kemudian kedua tanggannya digenggam ke atas seperti melepaskan segala kepenatan yang ada. Nadia terasa bebas, damai, dan tenteram. Anas sempatkan mengambil gambar Nadia ketika itu, Nadia terlihat lucu. Imut juga.

”Anas, terima kasih sudah mengajakku ke alam surgawi ini...”
”Ya! Sama-sama. Itung-itung refreshing otak.”
”Anas ke bawah sakura itu yuk!”
”Ngapain?”
”Foto-in aku!”
”Iiiiihh, akhwat ini narsis juga rupanya.”
”hehehehe.....”

Mereka berdua tengah berada di bawah sakura yang tiap beberapa menit menggugurkan daunnya. Duduk di bawah pohon itu. Rumput yang basah, bunga yang bermekaran, sakura yang gugur, Oooohh.... alam menyambutnya dengan cinta.

”Nas, tahu nggak duduk di bawah pohon ini aku jadi inget sama film Inuyasha. Aku suka banget dengan film itu. Dan sangat lama aku ingin duduk di bawah sakura. Ternyat begini rasanya. Aku sekan seperti Kagome duduk disini... ya akulah Kagome dari Indonesia. Hehe...” ujar Nadia tanpa beban.
”Wihh... seneng dengan Inuyasha ya? Hmm... kalo aku kurang suka ukhti. Lebih suka Naruto daripada Inuyasha. Ukhti kayaknya penggemar berat Inuyasha nih..”
”Emang iya!”
”Kalo ukhti Kagome-nya, trus Inuyasha-nya siapa???”
”Hehe... siapa ya? Gak tau deh!! Udah ah, kita berangkat ke universitas yuk. Sebentar lagi jam setengah sembilan, kita bisa telat kalau disini terus.” ajak Nadia. Padahal sesungguhnya di dalam hati Nadia ingin mengatakan, ”Inuyasha-nya saat ini kamu, Nas!”. namun Nadia urungkan.

* * * * *

Nadia sudah tiba di apartemennya. Setelah pulang dari Universitas Tokyo menemui pembimbing penelitiannya ia begitu terasa lelah. Sejenak ia ingat apa-apa yang telah ia lakukan di hari ini. Ia renungkan apa yang telah ia lakukan di hari ini.

Tiba-tiba Nadia menangis. Ada butir bening mengalir di pelupuk matanya yang jernih. Ia teringat sesuatu. Ya ia baru tersadarkan sesuatu...

”Ya Allah... ampunkan hamba-Mu. Sungguh begitu hinanya hamba-Mu ini. Mana petuah suci itu? Mana adab-adab yang sudah lama kuterapkan? Mana kesucian yang kutanam? Mengapa bisa aku terlupa dan tak tersadarkan ya Allah... ampunkan aku ya Allah...” suara lirih keluar dari mulut mungil Nadia.

Nadia hari itu teringat hal yang telah dilakukannya dengan Anas di hari ini. Nadia tidak sadar bahwa yang berjalan dengannya adalah seorang laki-laki, dan mereka selalu berdua seharian ini. Bukankah dalam agama itu dilarang? Mana kesucian yang selama ini dia jaga? Mana nasihat-nasihat murabbi yang sering didengarkannya? Akhwat jalan bedua? Kok bisanya?

Nadia menyesal hari itu. Ia seakan menjadi wanita yang terburuk di dunia. Ia seakan mengotori dirinya yang selama ini selalu menjaga kesucian. Ia rasanya seakan tertipu daya oleh setan. Dan telah mengotori sifat yang telah ia tanam sejak ia SMA. Kesucian. Ya, kesuciannya seakan ia kotori dengan berdua dengan Anas. Ia telah mendekati zina. Dan sialnya kok bisa Nadia lupa bahwa itu dilarang? Kok bisa ia tak sadarkan bahwa itu dilarang? Akhwat macam apa ia? Akhwat macam apa? Titah-titah agama bagaimana bisa terlupa oleh keindahan sesaat? Mana islam di dirinya? Mana jiwa akhwatnya? Mana tausiyah-tausiyah yang selama ini mengajarinya tentang adab? Mana doktrin-doktrin yang dulu ia percayai bahwa seorang laki-laki dan perempuan dilarang berduaan dan ketiganya tak lain dan tak bukan ialah setan? Mana? Mana? Mana Nadia???

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menggugat jiwanya. Rasanya ia sudah tak lagi memiliki hati dan nurani. Hatinya mulai terselipi sesosok nama. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia menangis seraya meminta ampun kepada Allah Swt. Ia mohon kepada-Nya agar diberi kehati-hatian dan bisa terus menjaga pandangan, nafsu, khalwat, dan terus diberi petunjuk dimanapun dan kapanpun berada. Karena tak ada satupun yang dapat memberi petunjuk selain dari pada Allah Swt.

”Ampunkan aku ya Allah! Aku ini hina, maka muliakanlah. Aku ini rapuh, maka kuatkanlah. Aku ini mudah tertipu, maka dampingilah aku dengan cahaya malaikat-Mu di sebelahku. Aku ini lemah, maka kuatkanlah. Aku ini mudah terpedaya, maka selagi engkau yang Maha segala berilah aku cahaya. Berilah aku ketguhan jiwa. Ya Allah, selagi engkau Maha pengampun maka ampunkanlah hamba. Berikan aku kesempatan untuk terus dapat mentadaburi ayat-ayat cinta-Mu. Dan berilah kesempatan bagiku untuk terus memperbaiki diri dari hari hari ke hari. Dari detik ke detik. Ampuni aku ya Allah.....”

Hehe.... bersambung dulu yaaa!!! Bingung mau nerusin nulisnya kayakmana. Buntu.... ^_^

* * * * *


8 komentar nih!:

HaciGo Nanie Hikaru mengatakan...

Assalamualaikum. Buat adex, nih kakak kasih dua jempol hehe!
bagus cerpennya, yang paling bikin menarik adl latarnya, di jepang... huhuy keren!
eh, tapi kok bawa2 inuyasha-nya kakak sih??? hehe apalah,,,, :h:

Adex INNU mengatakan...

Waalaikumsalam warahmatullahhh....

dua jempolnya adex terima kak. hahaha.... :d:

sengaja latarnya bikin di jepang, biar gak biasa aja, kalo habiburrahman kan di jepang, nah kalo adex di jepang dong. hehe

sengaja, Q sengaja pengen bawa2 inuyasha, biar dirimu iri. hahaha :f: :a:

HaciGo Nanie Hikaru mengatakan...

habiburahman di mesir kali dex, bukan di jepang ! huuu

Iz nyebelin... dasar!
kakak ga iri tuh, wek! :e:

Inu Anwardani mengatakan...

Maab, salah tulis komennyya, maksud adex ya itu, di mesir. hahaha.... :e:

Baru tau ya bahwa adex mu ini nyebelinnn??? :c: :h:

elehhh... yang benerrr??? :f:

Areep mengatakan...

Waaaah panjang banget, baru setengah baca ude ngantuk :i:

Inu Anwardani mengatakan...

Hehehe.......... cerpen ane emang panjang2 mas, cocoknya dibukukan biar enak dibaca. kalo di mblog yo nggak penak. ngantuk. :e: hehe...

Areep mengatakan...

:g: yang punya lapak marahhh.. kabuur aaaaaah :f:

lampung way kanan mengatakan...

terimakasih bang kunjunganya di blog ku http://www.waykanan.info/ salam kenal kembali

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...