Ketika Cinta Bermatematika

KCB (Ketika Cinta Bermatematika) hehe,,,




Al-kisah, al-cerita, al-konon dan dahulu kala banget. Ada sesosok yang bernama Matem dan juga ada sesosok lain yang namanya Tika. Mereka berdua ketika kecil adalah sahabat yang amat akrab. Melebihi dari akrabnya Patrick dan Spongebob. Mereka juga sangat dekat. Ngelebihi dekatnya kaki kiri dan kaki kanan, hehe. Mereka juga sahabat yang saling mencintai. Melebihi cintanya Khairul Azzam dan Anna Althafunissa dalam film Ketika Cinta Bertasbih (haha, lebay ah!). Yup, pokoknya mereka berdua sejak kecil sudah saling kenal, saling akrab, saling dekat, dan saling menyayangi.

Pas mereka SD, tepatnya di SD Negeri 1 Eksakta, mereka adalah andalan guru-guru mereka. Boleh dibilang mereka berdua adalah anak emas tiap guru yang mengajar. Matem dan Tika selalu deh dapetin gelar jawara kelas tiap pembagian raport.

Hari berganti hari. Bulan berganti tahun. Dan tahun pun berkumpul, menjadikan mereka berdua remaja dan berada pada tahun kedewasaan. Yap, mereka mulai mengenal apa itu cinta. Ciee...

Ceritanya mereka sekarang udah SMA. Dan mulai tertarik dengan lawan jenis. Tika sedari kecil sudah mencintai Matem sepenuh jiwa. Dengan kata lain Matem tuh first love-nya Tika and till the end always love Matem forever forever gitu loh. (hehe, apasih...) namun, sampai saat ini Tika belum pernah mengungkapkan isi hatinya pada Matem. Dan Tika sendiri belum tahu apakah Matem juga mencintainya. Ia ragu, ia cemas, ia takut kalau Matem tidak mencintainya. Ia juga khawatir jika Matem tidak mencintainya nantinya, maka semua pengorbanan dan harapannya yang ia bangun sejak SD dulu akan percuma. Ia takut jika ia menyatakan cinta maka kelak akan membuat sakit dirinya sendiri karena Matem menolak. “Ya Allah, tolongin Tika. Plisss! Jangan buat hati Tika bergejolak dan rusuh begini. Apakah dia cinta sejati Tika selama ini?” doa Tika dalam hatinya. (Hmm.... so sweet!)

Relung hati Tika kadang bernyanyi-nyanyi senandung cinta yang kian melukis cinta di hatinya...

Apakah itu kamu, apakah itu dia
Selama ini kucari tanpa henti
Apakah itu cinta, apakah itu cinta
Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati

Hari-hari di SMA semakin berat dijalani oleh Tika karena ia terus memendam cintanya. Ia selalu memikirkan Matem. Ia belum berani tuk mengungkapkan. Nilai harian, tugas, dan ulangan Tika berkurang karena ia kurang fokus, fikiran yang biasanya memikirkan pelajaran kini terusik karena memikirkan Matem. Ia yang biasanya paling pintar di kelas kini menjadi biasa. Memang, kadang hadirnya cinta itu mengurangi sedikit kecerdasan.

Keesokan harinya Tika terlihat lebih tegar berangkat ke sekolah. Ia punya itikad akan menembak Matem dengan panah cinta di hatinya. Ehh,, tapi pas udah nyame di sekolah Tika liat di depan matanya sendiri Matem lagi becanda asyik di depan kelas dengan Fiska. Matem dan Fiska lagi ketawa-ketawa, terlihat lagi tarik-tarikan buku. Ada cemburu dalam hati Tika. Seketika Tika langsung masuk ke kelas, ia benar-benar merasa cemburu. Rasanya ia mau nangis. Sediiih banget...

Dalam hati Tika berkata, “Heuheu... padahal aku mau bilang sesuatu ke kamu. Tapi belum apa-apa aku udah cemburu. Padahal asal kamu tahu, kamu itu cinta pertamaku. Kamu juga cinta yan selalu ada di hati aku. Kamulah yang bisa membuat aku jatuh dan mencinta. Tapi kenapaaa...??”

Perlahan ada tetesan air mata dari pelupuk mata Tika. Ia sedih. Tapi langsung ia hapus air mata itu. “Aku gak boleh cengeng. Aku harus memperjuangkan cintaku!” ucap Tika. Tika berjanji akan menembak Matem hari ini apapun yang terjadi. Ya, ia harus berani.

Istirahat pertama Tika usahain untuk ketemu dengan Matem dan langsung ungkapin cinta. Ehh, tapi begitu pas istirahat tiba, nampaklah Matem lagi ngasih sesuatu seperti hadiah/ kado pada seorang cewek yang namanya Biologi. Hiks hiks, kali ini Tika bener-bener cemburu. Lebih cemburu dari yang tadi. Tika menangis sejadi-jadinya. Ia basah oleh air mata. Hatinya benar-benar terluka adanya. Ia sudah putus asa. Sepertinya Matem telah menemukan cintanya sendiri, dan telah melupakan kisah kecil dulu yang bagi Tika adalah sebuah kenangan terindah. Yang takkan terlupa. Takkan lekang oleh waktu. Tapi kenapa? Kenapa Matem mendekati gadis lain? Apa karena Tika kurang cantik? Apa karena Tika kurang pintar? Apa karena memang Matem tak pernah menganggapnya apa-apa dan tak ada setitik ruang untuk Tika di hatinya? Apa karena Matem tak tahu Tika mencintainya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menjajah hati Tika dan menebas batang leher kemanusiaannya. Tika terus menangis.

“Ohh Langit, kenapa sih cinta itu nggak adil? Aku sakit dan terluka disini. Ohh Matahari, kenapa sih cinta itu menyakitkan? Padahal kan seharusnya menyenangkan. Kenapa sih cemburu itu menyakitkan? Oh Dunia, tolong sih dengerin kata hatiku, aku cinta dengan dia. Bener-bener cinta. Apa aku salah memelihara cinta ini sejak lama? Aku bener-bener cinta ama dia. Tapi kok cinta nggak adil ya. Kenapa cinta itu nggak adiiillll????” gemuruh suara hati Tika.

Keesokan harinya Tika lalui hidup seakan tanpa nyawa, ia ke sekolah tanpa ada semangat sedikitpun. Ia rasakan mentari seakan tak terbit lagi. Ia rasakan di dunia ini tak ada yang menyayangi. Ia terlihat begitu sedih dan meratapi cintanya yang luntur. Kesedihan Tika begitu ketara, setiap orang yang melihatnya akan tahu bahwa Tika sedang bersedih hari ini.

Matem melihat riak kesedihan di wajah Tika. Matem menghampiri bangku Tika dan bertanya,

“Kenapa?? Kok keliatannya sedih?” ucap Matem pada Tika.
Tika terkejut melihat Matem di sampingnya. Namun ia bisa mengendalikan dirinya.
“Ahh, nggak papa.” Kata Tika setengah cuek pada Matem.
“Ihh, nggak mungkin. Muka kamu sedih banget lho keliatannya. Mau cerita masalahmu?”
“Ga usah deh!”
“Ayolah. Kamu kan temen baik aku dari kecil, masak nggak mau sih cerita. Apa yang kamu rasakan aku juga harus rasakan.”
“Baiklah, aku mau cerita. Tolon kamu dengerin baik-baik yah cerita aku. Karena mungkin setelah ini gak ada lagi cerita dari aku untuk kamu. Begini, aku, mencintai seseorang.” Tika menghela nafas.
Matem terlihat kaget. Tika melanjutkan,
“Tapi sayangnya sampai saat ini dia belum tahu aku mencintai dia. Aku udah berusaha untuk menyatakan cinta ke dia. Tapi aku nggak kuasa karena melihat dia seakan kagi deket dengan cewek lain. Ya, aku ngeliat dia lagi berdua dengan cewek lain di depan mata aku sendiri ketika aku lagi mau nyatain cintaku. Aku cemburu mati ama dia. Aku sakit. Tapi dalam hati aku cinta mati dengan dia. Sungguh! Aku sedih sekarang. Aku nggak tahu apa yang bisa mengobati kesedihanku.”
“Oh, begitu ceritanya. Ya sudah. Sabar ya, kamu masih punya aku disini. Aku rela jadi sandaran ketika kamu sedang lelah, jatuh, dan bersedih. Aku kan sahabat kamu, aku janji akan mengobati kesedihanmu.”
“Janji?”
“Janji!” jeda. “Mmmm... ngomong-ngomong kamu nggak mau nyari cinta yang lain? Yaa... selain dia maksud aku.”
“Untuk saat ini belum. Aku masih mau bersedih dulu. Biar dia tahu, aku sayang banget ama dia. Asal kamu tahu matem, dia itu cinta pertamaku, dia juga cinta monyetku, dia yang mengisi hatiku sejak aku mengenal apa itu sekolah dasar. Jadi sulit bagiku untuk melupakan.”
“Ohya???” ada keterkejutan yang sangat dalam hati Matem.
“Iya!”
“Kalo boleh tahu siapa sih orang yang kamu cintai itu?”
“Kamu Matem! Hiks hiks hiks.....” tangis Tika kembali pecah. Air matanya deras mengalir.

Ada keterkejutan yang sangat dalam raut wajah Matem. Ia tak seakan tak percaya. Ucapan terakhir Tika bagai sambaran petir yang menyengat dirinya.

“Aku??? Kamu nggak salah, Ka?” ucap Matem.
“Ya kamu. Aku nggak salah.”
“Tapi aku nggak sedang mendekati cewek lain, aku juga nggak mencintai gadis lain seperti yang kamu ceritakan. Aku adalah aku, masih sama seperti yang kamu kenal dulu...”
“Bohong! Buktinya, tadi pagi aku lihat kamu lagi becandaan ama Fiska. Terus pas istirahat aku liat kamu ngasih kado hadiah ke Biologi. Kamu suka kan dengan biologi? Ya kan?”
“Bukan! Yang kamu liat itu salah. Benar-benar salah. Pas pagi-pagi itu si Fiska ngembil buku PR ku seenaknya dari tas, ya aku larang. Bukunya mau aku ambil, eh dia malah lari-lari, trus aku kejer dan kuambil buku PR itu. Kamu nggak usah salah paham dulu. Naah, yang pas istirahat itu lain lagi ceriitanya. Sebenernya bukan aku yang ngasih hadiah, melainkan Akuntansi si ketua OSIS. Dia itu ternyata suka sama Biologi, dia pengen ngasih hadiah ke Biologi tapi nggak punya keberanian. Lantas dia nyuruh aku deh buat ngasihin hadiahnya ke Biologi. Jadi kamu nggak usah cemburu yaa....” terang Matem.
“Tapi aku nggak bisa percaya begitu aja ma kamu. Aku dah cemburu secemburu cemburunya. Aku ngerasa cinta itu nggak adil. Aku benci kamu!”
“Ya Allah..., kenapa kamu mbenci aku? Salah aku apa? Asal kamu tahu, aku ini juga cinta sama kamu!” jeda. “Aku ini sayang sama kamu. Aku menjaga cinta yang dulu waktu kecil sudah kita ukir bersama. Kamulah cinta pertamaku, Tika. Kamu aku jaga di hati ini. Sebenarnya aku juga sudah berusaha ingin mengungkapkan cinta ini pada kamu. Tapi, yang terjadi adalah seperti yang kamu rasakan saat ini. Asal kamu tahu, aku ini juga pernah ngerasain gimana itu cemburu. Aku ini juga pernah ngerasain gimana sakitnya hati ini cemburu. Ya, waktu itu aku punya niat mau nyatain cinta ini ke kamu. Tapi sayangnya, waktu itu salah satu teman baikku, si Kimiya, lagi Pedekate sama kamu. Kimiya bilang ke aku bahwa dia suka sama kamu, dan minta bantuin aku untuk memuluskan pedekatenya. Sontak aku tidak setuju. Tapi akhirnya ia jalan sendiri, ia mulai mendekatimu. Dan mungkin tanpa kamu sadari, kamu setengah peduli juga padanya. Dan itulah puncak kecemburuanku. Aku sakit. Tahukah kamu bahwa aku juga pernah meraakan apa yang kamu rasakan? Nggak kan! Nggak ada yang tahu kecuali hati kecilku yang hanya untukmu...”
“Berarti kamu mencintai aku juga?”
“Ya. Masih mencintaimu. Tika adalah bagian dari hidupku. Tanpanya, apalah artinya aku.”
“Aku sayang kamu, matem!”
“Aku juga sayang. Aku ingin terus mengabadikan cinta ini. Biar semua orang tahu, aku mencintaimu.”
“Terus kita pacaran nih?” ledek Tika.
“Iiiiiihh... terserah deh, mau pacaran apa nggak. Hihi... sekaran apus deh air matanya. Nggak usah sedih lagi, karena banyak orang yang mencintaimu di dunia ini.”
“Ya akhi matem. ^_^”

Cerita Matematika akhirnya berakhir bahagia. Kisah Matem dan Tika terus berlanjut ketika mereka duduk di bangku kuliah. Kemudian berlanjut lagi. Dan ternyata mereka berjodoh, mereka menikah. Mereka hidup bahagia dengan melahirkan sejuta anak sungai ilmu yang tak henti untuk terus digali oleh cabang-cabang ilmu lainnya. Matematika, adalah sebuah eksakta yang paling urgen di kehidupan dunia. Tanpa matematika, maka tak ada ilmu yang mencerahkan dan mengubah kehidupan umat manusia seperti saat sekarang ini.

*******


Bandar Lampung, 18 Oktober 2010
Inu Anwardani

7 komentar nih!:

hacigo hikaru mengatakan...

yang anak matem laen yah... cerpen aja pake matem2an... hehe
eneng2...

julicavero mengatakan...

klo cinta bermatematika agak susah sob...hehe..

Inu Anwardani mengatakan...

@Kak Hacigo:

Huuuu..... sirik aja wek. Coba dirimu bikin cerpen ceritanya tentang anak mau ngelahirin. hehehe.... pisss bu bidan! ^_^ :f

Inu Anwardani mengatakan...

@Julicavero:

Hehehe..... tapi seru juga kok!!! :d:

sTarS mengatakan...

hehe^_^

Inu Anwardani mengatakan...

Paan nyengir-nyengir???? :n:

Anonim mengatakan...

seru... jadi ingat masa kecil...

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...