LUAR BIASA



Ya, kata itu yang saya bisa katakan. Begitu banyak yang mesti saya ambil pelajaran dari kampus baru yang saya miliki ini. Sedikit bercerita pada dunia, bahwa saya bangga bisa bersekolah, menuntut ilmu, dan bertemu dengan orang-orang yang LUAR BIASA disini.

Di kelas kuliah matrikulasi bahasa saya memasuki kelas potensial, boleh dikatakan kelas favorite untuk mata kuliah bahasa inggris semester 1. Kelas matrikulasi ini berasal dari bermacam-macam fakultas alias mahasiswanya campuran. Dari seribu limaratusan mahasiswa hanya diambil dua kelas potensial. Yap, disana berisi anak-anak yang sesuai dengan katanya, “POTENSIAL”.


Pertama masuk, saya sedikit sombong, “Ah, kayaknya orangnya biasa-biasa aja. Nggak ada yang spesial dari wajah teman sekelas saya, malah seperti orang yang nggak pinter.” Tapiiii, ternyata saya salah. Malah disana saya sangatlah kecil, begitu banyak yang pintar berbahasa inggris. Speaking mereka begitu lancar, dosennya saja hampir kalah kalau beradu cepat. Pokoknya di kelas saya saya begitu merasa bodoh dalam bahasa inggris, saya minder. Mereka semua begitu cerdas berbahasa. Padahal kalau dilihat dari wajah, tak ada tampang pintarnya, malah dia terlihat bodoh, tapi ternyata dia itu luar biasa. Ada lagi yang di kelas hobinya menggambar, perawakannya kalo orang way kanan bilang “agak ongok-ongok” tapi ketika ditanya oleh dosen dia bisa, dan mampu menjelaskan dengan benar. Ada juga yang hobinya setiap di kelas bermain terus, sok perhatian dengan cewek-cewek, ngebanyol melulu, nyampe dosen yang killer itu terkekeh mendengar hal konyol dari dia yang gokil. Tapi apa coba, dia adalah orang yang paling aktif di kelas. Buktinya dia pintar, sangat pintar malahan. Dia bisa berkata, menjawab, menerangkan dan beralasan dengan guyonan yang aduh..., sakit perut. Akhirnya saya sadar, bahasa inggris saya belum ada apa-apanya dibanding mereka. Dan saya akan berusaha kuat terus belajar untuk menyaingi/ mengimbangi kecerdasan mereka yang luar biasa.

Satu hal yang dapat saya ambil pelajaran,” janganlah memandang remeh orang lain, karena belum tentu kita lebih darinya.” Ingat men!

Ada lagi cerita tentang sahabat saya yang ketika berangkat dari rumahnya menuju kampus dia selalu mengendarai sepeda sederhananya, mengayuh dengan kesabarannya. Padahal dari rumah menuju kampus sangatlah jauh. Kira-kira lebih dari 6 kilo meter jarak dari kampus ke rumah. Saya sering melihat dia ketika sore hari pulang mengendarai sepedanya dengan berpeluh, mengayuh rantai sepeda, ia bertahan dengan takdirnya. Ia tak malu. Tak sedikitpun ia malu berjalan di atas jalan tol yang lebar, yang kendaraan lain menggunakan motor. Ia tak malu dengan mahasiswa lain. Ia malah tabah dan bertahan dengan semuanya. Semoga Allah memberkahimu saudaraku...

Ada lagi cerita nih.

Pernah nggak kamu berpikir bahwa kepintaran/ kecerdasan seseorang dapat dilihat dari wajah seseorang tersebut? Pernah nggak berpikir kalo wajah yang seperti ini pasti dia pintar? Yap, biasanya nih ya, orang yang memiliki potensi kepintaran/ kecerdasa dapat dilihat dari wajahnya. Setujuu??? Bagus!

Tapi nih ya, anggapan saya yang saya yakini sejak hipotesis SMA saya itu kini terbantahkan (ceilaa). Ya, bahwasanya orang yang pintar dapat dilihat dari wajah itu sekarang terbantahkan. Buktinya, saya punya seorang sahabat laki-laki yang begitu cerdas dalam semua pelajaran. Dia nggak ganteng, nggak keliatan pinternya de, malah kalo seorang akhwat ngeliat dia malah mungkin memvonis dia sebagai preman/ orang yang nggak bener. Tapiiii, anda salah! Dia itu orang yang LUAR BIASA. Bahasa inggris, TOP bener. Mulai dari speaking, grammar, writing, TOEFL, etc. Bahasa arabnya, yahud dah! Kalo disuruh ngomong bahasa arab udah ketara orang arab asli. Setara ilmunya mirip dosen (hehe, lebay) Dan ilmu-ilmu yang laen dia paham. Di kelas matrikulasi bahasa inggris dia masuk kelas potensial alias kelas yang dikhususkan untuk yang pintar-pintar. Kemudian matrikulasi bahasa arab dia juga masuk di kelas yang potensial alias CERDAS. Pertama kali sih saya liat dia biasa.

Tapi setelah ada temennya yang cerita ke saya, saya langsung berubah pandangan. Ternyata dia itu dulunya berasal dari pondok modern gontor, dan disana dia memang orang yang pinter. Dia pas di gontor masuk di kelas”Excelent”. Atau dalam kata lain kelas terbaik dari yang terbaik di gontor, yang isinya adalah anak-anak yang pintar di segala lini macam pelajaran dan akhlaknya juga terjaga. Jadi, kelas excelent itu isinya adala orang-orang pilihan yang memang punya kecerdasan di atas rata-rata. Nggak salah dia pinter banget. Tapi saya yang nggak abis pikir adalah, kenapa kok dia bisa cerdas banget begitu??? Padahal nggak ada tampangnya sama-sekali untuk jadi pinter.

Mungkin itulah artinya Allah memberi kelebihan di atas kekurangan yang lain. So, pelajaran kedua: “Lihat ke dalam nurani, begitu banyak manusia yang pintar di dunia ini. Dia mungkin luput dari matamu, tapi sesungguhnya dia dekat denganmu dan ada kecerdasan yang luar biasa dimilikinya.”

Ada lagi cerita yang membakar semangatku.

Dia adalah asli orang ternate. Sangat jauh bukan? Dia merantau dari ternate sana dan akhirnya menginjakkan kakinya di lampung. Di lampung, tepatnya di Panjang daat itu dia hanya tersisa uang sebesar sepuluh ribu rupiah, sangat sepeser bagi seorang perantau. Uang sepuluh ribu itu akhirnya ia belikan roti untuk pengganjal perut, dalam sehari ia hanya makan sekali. Dia sendiri, dan untuk memenuhi tuntutan hidup / makan dia harus mau tidak mau bekerja. Tidak bisa jika tidak bekerja. Segala hal yang dapat ia kerjakan ia kerjakan, mulai dari kuli angkut, tukang bangunan, berjualan, dan lain sebagainya. Begitu berat pokoknya liku hidup yang ia jalani, keras, dan tajam. Seorang anak perantauan dari pulang seberang nan jauh merantau pergi ke lampung. Sendiri pula.

Walhasil, hari demi hari mengantarkannya ke sebuah universitas, yakni IAIN lampung. Ia berkuliah disana, sambil bekerja. Ya, dia bekerja untuk kuliahnya sendiri. Akhirnya dengan kerja kerasnya dia mendapatkan beasiswa full selama kuliah hingga lulus dari gubernur ternate. Luar biasa. Sebuah kebanggan yang tiada tara.

Di kampus dia juga luar biasa. Kuliahnya bagus. Amat pandai berbahasa arab. Organisasinya keren. Sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Tanpa bantuan sedikitpun dari orang tua. Dan akhirnya atas kerja kerasnya dia mendapatkan beasiswa lagi untuk melanjutkan studi S2-nya di madinah. Subhanallah...

Semua orang yang mendengar ceritanya akan sangat bangga dan kagum. Dia memang luar biasa. Selama ini dia belum pernah menemui keluarganya di ternate sana sejak pertama kali menginjakkan tanah lampung. Sudah terhitung 7 tahun dia berpisah dengan keluarga. Ah, sangat mirip dengan kisah Azzam dalam KCB. Semoga Allah memberkahimu kak! Lanjutkan perjuanganmu....

1 komentar nih!:

my box mengatakan...

terharu

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...