Surat


Hai! Pa kabar? Semoga kamu selalu sehat disana yah. Semoga setiap waktu yang kamu jalani disana makin membuat kamu betah dan dewasa. Hmm, udah lama yah kita nggak bertegur sapa. Udah lama kita nggak saling bertemu. Bahkan, berkomunikasi lewat hal termudah pun kita sudah jarang. Lewat telepon, lewat internet, kita juga sudah jarang berhubungan lewat semua itu.

Teman, kenapa ya, aku kok suka berpikir kalo disana kamu mungkin sudah lupa dengan aku. Kamu sudah lupa dengan kisah yang sudah kita lukis bersama. Aku malah berfirasat disana kamu dah nemuin sosok yang baru: sosok yang menggantikanku. Ah, mudah-mudahan itu semua Cuma firasat yang nggak bener adanya.
Teman, inget nggak pas waktu kita kecil. Kira-kira umur kita dulu masih lima tahunan. Waktu itu, aku sama kamu memang kurang akrab. Atau lebih tepatnya akulah yang suka bikin jengkel dirimu. Aku ingat bener, pas waktu itu di sebelah surau di deket rumah kita, kamu membawa tiga balon. Kalo nggak salah inget waktu itu ada balon warna hijau, biru, dan kuning. Aku mendekati kamu dengan wajah senyum, tadinya aku mau minta maaf dan berjanji nggak bakal gangguin kamu lagi. Eh,,, tapi kamu langsung menyambutku dengan kejengkelan khas anak kecil. Aku tahu aku bukan sahabatmu pas masih kecil. Karena di hadapanmu aku selalu salah, akulah yang sering membuat kamu jengkel, membuat kamu marah, kesel, dan nggak suka. Aku juga tahu aku bukanlah orang yang pantes berteman dengan kamu karena aku orang miskin, nggak kayak kamu yang kaya. Yang semua mainan yang kamu mau bisa kamu miliki.

Kembali ke cerita, saat aku mendekati kamu mungkin kamu sudah curiga aku akan ngerjain kamu dan ngambil balon punyamu.

“Ngapa kesini-kesini?” ucapmu dengan khas jengkel.
“Nggak papa.” Aku ngengir.

Tiba-tiba ada angin yang kencang menerpa kita. Dan angin-angin itu menerbangkan satu balon yang kamu pegang, yaitu warna kuning.

“Haaaa....” kamu terkejut. Balonmu itu menggelinding di bawah tangga sebelah surau.
“Tenang. Aku ambilin!” ucapku menenangkan.

Aku mulai mengejar balon punyamu. Dan akhirnya kudapatkan balon itu. Namun sialnya ketika balon itu kutangkap balon itu langsung pecah. Kamu sejadinya nangis. Aku menghampirimu. Kemudian membawa pecahan balon berwarna kuning padamu.

“Ng.. ng... nngg...” tangismu.
“Yah, balonnya pecah.” Ucapku sambil nyengir bersalah.
“Gara-gara kamu balonnya pecah..... dst!” kamu memarahiku sejadi-jadinya. Waktu itu aku jadi tambah buruk di hadapanmu.

*****

Ah, itu masa lalu. Setelah bertahun-tahun berlalu tak terkirakan rupanya kita saling mencintai ketika kedewasaan menjemput kita. Aku mencintaimu dan kamu pun menyambut cinta itu. Namun kini kita berpisah, jauh, dan tak tahu detik ini kamu sedang apa? Kamu bagaimana kabarnya? Kamu masih ingat aku nggak ya disana? Kamu masih menyimpan namaku nggak ya? Atau jangan-jangan kamu sudah mengganti aku dengan yang lain? Ah, aku hanya berharap kamu kamu masih menyimpan namaku di lubuk hatimu. Aku juga selalu berharap kamu disana sehat yah.

Asal kamu tahu disini aku selalu mendoakan kamu. Aku masih ingat detail kenangan-kenangan bareng kamu. Aku disini masih menjagamu, menjaga namamu di hatiku agar tak tersentuh yang lain. Tahu nggak, pecahan balonmu waktu itu masih kusimpan, masih ada di museum benda-benda kenanganku. Permen yang kamu kasih waktu sma masih ada dan belum juga kumakan. Aku ingat persis, permen itu adalah permen darimu yang kamu berikan dengan senyum terindahmu. Yang paling kusuka dari permen itu adalah kata-katanya, “I Love U” demikianlah yang tertulis di permen yang bisa ngomong itu. Jika aku rindu kamu, jika aku rindu kamu aku selalu liatin permen itu, dan tiba-tiba aku nyengir sendiri. Betapa lucunya aku ya, nyangar-nyengir sendiri, dan begitu lebay karena menyimpan permen yang mungkin bebarapa minggu lagi akan kadaluarsa karena telah kusimpan sangat lama.

Ah, kamu disana boleh melupakan aku. Aku Cuma berharap disana kamu masih cinta atau paling tidak masih kenal dengan aku. Itu aja udah cukup bagiku untuk tersenyum; tersenyum bahagia.

Tahu nggak, pas aku nulis surat ini hari sedang hujan yang gemerintik. Pas cinta pertama kali menyemai kita hujan adalah waktu yang paling kita suka untuk bercerita. Ya kan? Hehe. Tapi sekarang kita udah Cuma temen. Cuma temen kan?! Ya, itu yang kamu pinta dariku.

Tapi kalau boleh bercerita setiap hari aku ingin bertanya tentang kabarmu. Tentang sedang apa dirimu. Ah, pokoknya dari dulu cinta ini nggak pernah kurang. Nggak pernah kurang perasaan yang kupendam sejak kamu putuskan kita berteman aja. Yah, aku Cuma bisa terima aja kamu bilang itu.

Kuharap kamu hari ini baik-baik aja deh. Semoga harimu makin baru, dan dipenuhi bunga bahagia. Disambut dengan langit bitu yang baru. Disambut dengan mentari baru. Dan di setiap hari baru aku kan selalu bertanya di langit hatiku seperti seakan kamu ada di hadapanku, “Hai! Pa kabar?!” ucapku sambil tersenyum di horison ilusi yang semu.

*****

Tulisan iseng, masih belajar nulis. So buat yg baca ini cuma fiksi sepenuhnya. Jangan dianggep ini terjadi bener ma saia. haha.

16 komentar nih!:

Hacigo Selalu Keren mengatakan...

Haha, ayo nulis lagi... yang banyak ya, buat hiburan kakak hehehehehe :k:

Adex INNU Lebih keren dari yg di atas, hehe mengatakan...

Bayar gehhhh..... haha... :n:

Hacigo Tetep Paling Keren mengatakan...

ihhhhhh bayarnya pake jitak yaaa....
:f:

Ikusa Keren banget deh! mengatakan...

Yoh jitak aja nggak papa, teruss.... biar benjol. hihi...


jangan jitak geh, aturan kasih coklat lagi... biar adex koleksi. haha :d:

Pokoknya Hecigo lebih keren mengatakan...

hmmmh kesenengan dikasih coklat terus... mbok ya gentian... kakak yang dikasih arumanis hahahahaha :k:

Pangeran Ikusa, haha mengatakan...

Apaan masak "HECIGO", sorakin kakak, hhuuuuuuuu....... jeyek! :f:

nggak mau ah kalo arumanis, payah nyarinya... :e:

Putri Hikaru nih, paling keren sedunia hahahaha mengatakan...

eh, salah ya... yo maap khilaf... biasa aja geh ketawanya, ga usah pke ngences segala hahahaha :k:

apa donk kalo bukan arumanis??? :c:

Ikusa the Prince of Handsome, haha... mengatakan...

Haha.... Putri hikaru, lucu juga.

Ihh siapa juga yang ngences, Pangeran Ikusa pantang ngences. Kalaupun ngences, encesnya adalah tambang, karena bisa menjadi obat manjur bagi rakyat jelata. hahaha. :f:

Hmmn, terserah! :n:

Hikaru The Coolest Princess huhuy mengatakan...

halah... eneng toh? obat apaan???

Pangeran ikusa ap? kebagusan, pangeran kuskus nah, cocok! hahahah :f:

Pangeran Ikusa Tetep Istoqomah mengatakan...

Kenapa nggak sekalian aja kak ngejeknya pangeran ingusan. hiks hiks. :a:

Hikaru Tetep paling keren mengatakan...

nah, cup bukan kakak lho yang ngomong... hehehe
eh, mana? kok belum nulis nulis again??

Ruba Sambyah Way Kanan mengatakan...

buat ade Inu Anwardani yang paling keren se-WK
Teruskan kecintaanmu untuk selalu dan selalu menulis,Inu adalah calon Andrea Hirata-nya way kanan.semoga Suxses selalu.

Inu Anwardani mengatakan...

To Hikaru paling keren :d: :

Ya ya ya..... :n: Tuh dah nulis lagi. hehe...

Inu Anwardani mengatakan...

To Ruba :

Makasih sudah mampir di blog saya. Aminnnnn!!!! mudah2an.... :d:

Ruba Sambyah Way Kanan mengatakan...

adex inu aku pengin belajar sm adex buat tampilan blog seperti punya adex, Bolehkah? apa adex masih di rumah Baradatu?Trim's

Inu Anwardani mengatakan...

Boleh kok. Tapi saya msih di bandar lampung, blm pulang kampung krna masih UAS kuliah. :c:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...