Sakit

 
Lekas sembuh, Dinda
Lekaslah sembuh
Selagi udara masih mengalir dalam dada
Dan terang senyum harapan belum sirna
Kandaskan doa yang terhambur ke sana

Cepat sembuh, Dinda
Cepatlah sembuh
Selagi bintang masih menerangi
Selangi langit masih menemani
Engkau yang layu dalam pembaringan

Segera pulih, Dinda
Segeralah pulih
Ketika lunglai memasungmu dalam sakit
Dan derai nyiur tanda kehidupan tinggal sedikit
Allah tengah mengampunimu, Dinda

Cepat bangkit, Dinda
Cepatlah bangkit
Terbitkanlah senyum untukku
Buatlah harapanku terangkat untukmu
Berikan pertanda hidup untuk diriku

Segera bangun, Dinda
Segeralah bangun
Merekahlah layaknya bunga indahkan tamannya
Cerialah layaknya burung mengicau di atas sangkarnya
Melawan keras kehidupan yang membelantarakannya

Bangunlah engkau dari pembaringan, Dinda
Dan sambutlah embun pagi dengan berani

* * *

Way Kanan, 19 Desember 2011

Futur, Pergilah


Sang ketenangan menggedor-gedor jiwa. Sudah sangat lama sukma ini merintih merindukan dekap sang rasa bernama kebahagiaan, ketenangan, dan keimanan. Sudah cukup jauh aku berlari dari keteduhan hidup yang membahagiakan. Aku resah. Tiada yang dapat kulakukan selain memikirkan apa yang harus aku lakukan. Aku heran, entah mengapa diri ini semakin jauh dari ketentraman. Apakah ini manifestasi dari jauhnya aku dari Tuhan?

Putricia Humaira Kauniah



Oleh: Inu Anwardani

Cinta itu adalah warna yang me-nyala-kan hitam dan putih menjadi hidup. Cinta laksana pelangi yang memiliki merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Cinta selalu siap memberi warna dari sketsa sang kanvas. Dengan sedikit sentuhan kelembutan, dengan sedikit goresan kasih sayang, dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian, dan kanvas itu dibingkai oleh relief yang diukir penuh kebersihan dan ketelitian. Maka, akhirnya cinta itu kan menjadi karya cipta terindah maha sempurna. Warna merah yang meneguhkan sikap amanah. Warna jingga yang membikin mata hati selalu terjaga. Warna kuning yang membuat jiwa bening. Warna hijau yang meneduhkan segala bentuk galau dan kacau. Warna biru yang menetapkan hati untuk selalu tawadhu. Warna nila yang membawa ukhuwah menjadi takwa. Dan warna ungu yang menuntun hidup untuk selalu bersatu. Itulah cinta yang sesungguhnya. Berawal cinta, berujung syurga...

Instrumental Reflections


Kunyalakan pemutar musik dari handphoneku. Dan kemudian kumainkan lagu instrumental "Sundial Dreams"-nya Kevin Kern. Lagu itu pun mulai bersenandung mengiringi hati yang mulai tenggelam. Entah kenapa seperti ada yang tidak tenang dalam diriku malam ini. Resah. Mungkin aku tengah cemburu. Gundah. Mungkin sebuah pil pahit buatan Sang Cinta tengah kurasa.

Kembali instrumental di handphone menyenandungkan karya suara yang mencoba menenangkan gundah jiwa. Perlahan, setiap harapan seakan memudar. Perlahan, bunga impianku satu per satu kian berguguran. Engkau yang kini ada disana. Engkau yang coba untuk kuraih hatinya. Engkau yang menyinari tiap jejak langkahku hingga aku bercahaya. Engkau yang melagukan simphoni untuk menghidupkan rasa sepi. Namun kini kau segera lepas dari jangkauku. Sayapmu kini siap mengepak ke persinggahan lain. Bukan lagi di hatiku...

Bintang


Titik-titik cahaya terang yang berserakan itu terlihat begitu menentramkan. Layaknya jutaan lentera yang hidup di pelataran kegelapan. Terang. Meneduhkan. Titik cahaya itu  ada yang terang ada juga yang redup. Kerlip cahayanya berserak-serak di kanvas langit malam, mengumpul membentuk suatu gugusan yang dinamakan rasi bintang atau konstelasi.  Ya, kau menyebut titik-titik cahaya itu dengan nama “Bintang”.

Selirih Tasbih




Bulan itu terlihat sempurna. Begitu teduh rasanya berada di bawah naungan purnama bulan dan sapuan angin sepoi malam. Pohon bergoyang-goyang, laksana sebuah lambaian sang Dirigen yang menderu. Sejahteranya malam ini seakan mengalun hingga ke hati. Begitu menyentuh sanubari karunia Allah yang ada di depan mataku ini.

Ramadhan


Bulan ramadhan selalu kukenang
Kunantikan saat-saat muhasabah
Lukisan alam ikut berbagi
Suasananya membawa jiwa tenggelam
Tenggelam dalam khusyuk ibadah
Menjemput cinta illahi

Quran di tangan
Aku renungkan
Terlalu banyak yang belum kuamalkan
Pagipun petang
Tiada kulepasn menjemput keridhoan dan keampunan

Tenggelam dalam khusyuk ibadah
Menjemput cinta illahi...

Bulan ramadhan biarkan daku
Berkelana di indahnya rahmat Allah
Bila berakhir tetapkan daku
Beribadah sebanyak bulan ramadhan

Ya Allah bimbinglah diriku
Meraih seluas kasih-Mu...

Ayat Ayat Matematika

By: Inu Anwardani

 

Tahukah kita dengan konsep bilangan nol? Yap, nol adalah bilangan yang pertama kali dicetuskan oleh ilmuwan besar muslim bernama Al-Khawarizmi. Bilangan nol terletak sebelum angka satu dan setelah negatif satu, yang melambangkan bilangan kosong yang tidak memiliki harga. Bilangan nol juga adalah bilangan yang unik, saking uniknya, jika kita jumlahkan atau kurangkan suatu angka dengan bilangan nol, maka akan menghasilkan angka itu sendiri.

Fatihah Cinta

 
Dengan menyebut namamu yang penuh kasih serta sayang tiada tepi
Penuh puji kuhamburkan pada pencipta semesta alam
Telah Ia turunkan wanita terindah di dalam keabadian
Yang penuh dengan cinta, pengorbanan, dan kasih sayang
Yang menguasai kuatnya ikatan batin dari cintaku
Bahwa engkaulah bahagiaku...

Menjadikan Hidup Layaknya Mentari


Lihat binar mentari yang jatuh ke bumi,
Merasuk ke ruang-ruang melalui celah-celah
Hingga seketika nampak dunia bercahaya,
berwarna, dan terlihatlah segala keindahan dan rupa

Udara Cinta



Waktu demikian cepat menerbangkan detik-detik masa kemarin. Bagai angin menerbangkan dedaunan kering dari rantingnya. Sang udara yang meneduhkan itu, membawa pesan kata-kata dibalik dedaunan yang diterbangkannya. Sebuah kata-kata yang tak bisa dilukiskan dengan ungkapan, sebuah kata-kata yang tak bisa disembunyikan meski dalam merahasiakan. Sebuah kata-kata yang dalam raut bahasa wajah selalu tertafsirkan ceria, bahagia, indah, dan membuncah. Ya, itulah “udara cinta” yang tengah bertandang di dalam hatiku...

Mencintai, dicintai
Fitrah manusia
Setiap insan di dunia
Akan merasakannya
Indah, ceria, kadang merana
Itulah rasa cinta...

Senandung Tahajud


Betapapun seluruh kata kuungkapkan, kututurkan, kusebutkan dengan kata terindah, sungguh itu semua tiada arti dibanding keindahan-Mu yang sesungguhnya. Betapapun kata-kata kurangkum, kukumpulkan, untuk kubacakan kebesaran-Mu yang Kau beri, maka sungguh mungil itu semua dibanding kebesaran-Mu yang sesungguhnya. Aku kecil ya Allah, tak sanggup kuhitung anugerah-Mu yang tlah Kau beri. Tak sanggup kugambarkan betapa Indahnya ciptaan-Mu. Tak sanggup aku melampiaskan pada kata-kata betapa Maha Agung-Nya Engkau. Keagungan-Mu ya Allah, berada di atas segala-galanya...

Embun Cinta-Nya

 
Hari ini si Ari dapet surat cinta nih. Duuh, dia gugup banget mau bacanya, soalnya surat yang dia pegang adalah dari seorang cewek yang dia MOS beberapa hari lalu. Oya, sebelumnya kita kenalin dulu siapa Ari. Ari tuh seorang cowok yang cukup religius, agak pendiem, tapi pinter. Dia juga salah seorang anggota OSIS dan Rohis. Ini baru pertama kalinya dia dapet surat dari seseorang cewek. Duuh... kebayang kan gimana gugup sekaligus senengnya dia?!

Perlahan dia baca amplop berwarna pink itu. Dari Fitri, demikian yang tertulis di pojok kiri amplop surat. ”Fitri itu yang mana ya?” pikir Ari masih bingung yang mana sebenarnya Fitri itu, soalnya banyak sekali adik kelas yang ia MOS beberapa hari lalu. Ari makin gugup, dia belum berani ngebuka surat itu. Dia ingat pas pulang sekolah tadi, si Sari temennya ngasih surat itu. Dengan diberani-beranikan akhirnya ia buka amplop tersebut, daannn.... fiuh, akhirnya ia buka juga surat itu.

Gini nih bunyinya surat tersebut,

Kata Kata Cinta


Sesak rindu membelenggu. Akankah hadir di hadapku, sesosok bidadari terakhir itu. Adalah dia yang kujaga... di dalam hati...

Duhai malam, isyaratmu tak jua mengantarku pada senyumanku yang biasa kuberikan pada dunia ketika ia masih ada. Langit, birumu kini jarang hadir bersanding dengan awan putih nan suci. Bintang, terangmu sudah langka kulihat, terganti dengan sepi hidupku yang begitu rancu. Aku merindunya, Duhai pemilik hati!

Andai Aku Menjadi

Aku adalah orang yang seneng dengan hal yang gratisan, atau paling nggak murah. Salah satunya ialah ngenet gratisan di telkom. Disana kita cukup ngejogrok bawa notebook dan dalam sekejap dan dengan sepuasnya kita bisa ngenet sepuasnya. Disana tersedia sinyal Wi-Fi makanya bisa konek, juga disediain tempat colokan buat ngecas laptop/ notebook.

Senandung Jilbab Adikku


Pagi yang mendung. Namun pagi ini juga adalah pagi yang indah karena berjuta embun berguguran dari langit. Embun, yang menciptakan kedamaian bagi yang menatap gugurannya dan merasakan dingin serpihannya. Matahari masih enggan tuk menyinari bumi dengan cahayanya. Suara katak masih bersua ria, sambut menyambut, mereka berdzikir menyambut pagi nan indah. Mereka bersyukur atas musim hujan yang allah kucurkan, mereka bersyukur, mereka berdzikir memuji pencipta yang menurunkan rizki hujan seiring berjuta limpahan rahmat-Nya.

Hari ini hari minggu. Jam telah menunjukkan pukul 07.00, namun masih saja pagi yang indah ini bersenandung dengan kesejukannya. Pagi ini seakan mengajak berjuta orang untuk melihat ke kedalaman hati. Menyelami ke dalam fitrah yang suci. Yap, pagi ini bertasbih… “Andai setiap pagi bisa merasakan pagi yang seperti ini.” ujar Anggi dalam hati.

Ulang Tahun Terindah


Tiga. Dua. Satu. “Fiuh....” kutipu kue ulang tahun itu. Dan seketika hatiku seakan bahagia. Senyum mengembang di bibirku. Kuucapkan segenap doa agar di umurku yang baru ini akan lebih berkah dan lebih baik lagi dari tahun sebelumnya.

Di kamar kosanku, ada banyak sekali kado. ada yang besar dan juga kecil. Perlahan kubuka satu persatu kado mulai dari yang paling besar. Kusobek-sobek bungkusnya, dan, isinya adalah sebuah speaker aktif komputer ukuran sedang yang nanti bisa kubuat mendengarkan musik jika bosan di kosan. Kubukan lagi kado berikutnya, isinya adalah sebuah baju kemeja yang bagus, yang keren jika dipakai olehku. Aku senang. Kubuka lagi kado berikutnya, bungkus kadonya terlihat kecil, yang memberi adalah “Airin”, orang yang kucintai, namun sepertinya ia hanya menganggapku teman biasa saja, tak lebih. Yah, aku kan terus mencintainya, meskipun cinta tak harus memiliki. Setelah kubuka isinya adalah benda yang memang saat ini begitu kuinginkan. Yap, isinya adalah sebuah jam tangan, berwarna hitam, yang bentuknya elean dan aku idam-idamkan. Aku amat bahagia.

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...