Andai Aku Menjadi

Aku adalah orang yang seneng dengan hal yang gratisan, atau paling nggak murah. Salah satunya ialah ngenet gratisan di telkom. Disana kita cukup ngejogrok bawa notebook dan dalam sekejap dan dengan sepuasnya kita bisa ngenet sepuasnya. Disana tersedia sinyal Wi-Fi makanya bisa konek, juga disediain tempat colokan buat ngecas laptop/ notebook.

Disini, di telkom inilah tempatku memadu ilmu dan kesenangan. Disini tempatku mencari data-data kuliah tanpa harus kuatir memikirkan biaya internet, karena disini gratis, hehe. Disini juga tempatku kalau bosan dan mencari hiburan seperti ngeblog atau fesbukan. Maklum, kantong anak kosan sangat pas-pasan. Jadi patut disyukuri ada tempat seperti ini yang menyediakan Wi-Fi area dengan gratis dan sangat nyaman.

Tapi disini juga sering kutemukan kisah yang memilukan, bukan memilukan sih, tapi miris di mataku. Pernah suatu hari saat aku sedang ngenet disini, ada seorang yang membawa motor kemudian berhenti di parkiran hotspot. Ia membawa keranjang yang berisi beberapa kotak makanan. Umur orang itu kira-kira 23 tahunan. Ternyata ia menawarkan makanan yang ia bawa pada pemakai hotspot. Ia mendekati barisan hotspot pertama. Ia berkata sambil menenteng keranjang yang berisi kotak-kotak styrofoam berisi nasi itu,

“Maaf mbak paket hemat nasi plus friedchicken Cuma enam ribu lima ratus.” Dengan senyum ramah.
“Oh nggak.” Ucap pengguna hotspot itu sambil menidakkan tangan.

Penjual itu tak menyerah. Ia menawarkan pada pengguna hotspot nomor dua. Dengan senyum ia menawarkan lagi, “Maaf mas paket nasi plus friedchicken spesial hemat Cuma enam ribu lima ratus...”. “Maaf enggak.” Kata pengguna hotspot nomor dua. “Makasih ya mas...” ucap penjual itu dengan terus menenteng keranjangnya.

Ia tak bosan menawari. Ia datang pada pengguna hotspot nomor tiga, yaitu aku. Dengan kata-kata yang sama seperti tadi ia manawarkan padaku, “Mas paket nasi plus fried chicken spesial hemat Cuma enam ribu lima ratus.” Kulihat wajahnya, demikian kuingat wajahnya hingga saat ini. Sepertinya ia sedang kesusahan. Sebenarnya aku berat untuk menolak seseorang yang berjualan dengan keikhlasan. Dan kulihat keikhlasan padanya. Kulihat kesungguhan itu padanya. Ya allah, aku tak sanggup menolak, tapi aku sedang tidak punya uang.

Akhirnya hanya gerakkan tanganku tanda tidak padanya sambil kusinggungkan senyum untuknya. “Enggak?! Makasih ya mas...” ujarnya. Kemudian dia terus menawarkan ke pengguna hotspot nomor empat, lima, dan enam. Namun tak ada satupun yang membeli dagangannya. Ya Allah.... aku memikirkannya saat itu. Andai aku menjadi sosok dia, apakah yang aku rasakan? Mungkin aku sudah putus asa karena tak ada yang membeli.

Saat itu aku sejenak berhenti browsing, pikiranku masih melayang memikirkan orang tadi. Aku begitu mengingat wajahnya. Sungguh, jika saat itu aku punya uang maka akan kubeli nasi miliknya. Sungguh, aku adalah orang yan paling tak kuasa jika menolak orang yang berjualan yang membuat hatiku terketuk. Sungguh, aku sangat terketuk saat itu. Aku berdoa, ya allah... berilah rizki pada orang itu, berilah pembeli untuknya, maafkan aku tidak membeli dagangannya. Amin...

Pedagang, adalah pekerjaan yang mulia di mataku. Alangkah banyaknya kisah tentang pedangang yang mampir secara langsung di mataku. Dan semuanya membuatku miris, kasihan, dan iba. Betapa tidak enaknya ketika dagangan mereka tidak laku. Penjual adalah mulia di mataku. Andai aku jadi mereka, mungkin aku telah menjerit dan menyerah berada di posisi itu. Ya allah... berilah sejuta kasih dan sayang-Mu pada hamba-Mu yang berjualan dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa...

Amin!

***

Bandar Lampung, 8 Januari 2011
Inu Anwardani

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...