Senandung Jilbab Adikku


Pagi yang mendung. Namun pagi ini juga adalah pagi yang indah karena berjuta embun berguguran dari langit. Embun, yang menciptakan kedamaian bagi yang menatap gugurannya dan merasakan dingin serpihannya. Matahari masih enggan tuk menyinari bumi dengan cahayanya. Suara katak masih bersua ria, sambut menyambut, mereka berdzikir menyambut pagi nan indah. Mereka bersyukur atas musim hujan yang allah kucurkan, mereka bersyukur, mereka berdzikir memuji pencipta yang menurunkan rizki hujan seiring berjuta limpahan rahmat-Nya.

Hari ini hari minggu. Jam telah menunjukkan pukul 07.00, namun masih saja pagi yang indah ini bersenandung dengan kesejukannya. Pagi ini seakan mengajak berjuta orang untuk melihat ke kedalaman hati. Menyelami ke dalam fitrah yang suci. Yap, pagi ini bertasbih… “Andai setiap pagi bisa merasakan pagi yang seperti ini.” ujar Anggi dalam hati.

Anggi melihat pagi ini sebagai hari yang membuat hatinya masuk ke dalam bawah sadar nurani, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Entah kenapa, Anggi saat ini jadi begitu merindukan seorang Kakak yang kini tak lagi disampingnya, melainkan jauh pergi meraih ilmu di Ibukota propinsi Lampung, yakni Universitas Lampung. Dulu Anggi bersyukur bisa berpisah dengan kakaknya, karena baginya takkan ada lagi orang yang mengatur-atur dirinya. Atau dengan kata lain Anggi bisa bebas semaunya malakukan apa-apa. Namun entah kenapa, begitu tak biasa, Anggi sangat…. sangat… sangat merindukan kakaknya…

Nanda Alfath Ridho Kusuma. Itulah nama kakaknya yang saat ini kuliah di Universitas Lampung jurusan Pendidikan Fisika semester satu. Kakaknya adalah orang yang jenius, ia dapat masuk di universitas tersebut dengan jalur PMDK alias tanpa tes. Sejak Nanda pergi menuntut ilmu, tinggallah Anggi dan Ibu di rumahnya yang jauh dari kota Bandar Lampung itu. Ayahnya sudah lama meninggal, sejak Nanda SMP mereka sudah ditinggal oleh pemimpin keluarga. Sejak Ayah tiada, Nanda adalah pengganti seorang Ayah bagi Anggi.

Pagi yang dingin, nuansa yang sejuk, dan kaca yang berembun. Dari dalam rumah Anggi terdiam di depan kaca jendela. Dalam hatinya ia berkata, “Hmm… kalo pas masih ada Kak Nanda, pagi-pagi kayak gini aku ama kak Nanda lagi ngapain ya….”. “Ahaa, pasti lagi becanda-becandaan di kamar, gelitik-gelitikan, ketawa-ketawa, dan yang nggak ketinggalan Kak Nanda pasti nyubit pipi aku…” sukma Anggi menjawabnya sendiri.

Perlahan ada butir bening yang mengalir dari pelupuk mata Anggi. Ia terharu, sungguh betapa ia merindukan masa-masa itu, merindukan hadirnya Kakak. Sesungguhnya Ia sangat membutuhkan hadirnya seorang Kakak yang bisa menghiburnya ketika ia sendiri, ketika ia hampa, ketika ia kesepian di rumah.

“Sekarang mana kak Nanda? Mungkin baru pulang sebulan lagi, atau dua bulan lagi. Lama bangeeet, Anggi udah kangen. Kaaakk, Anggi kangeen… pulang geh kak! Pulaaaang...” jerit Anggi dalam hati.

Pagi yang dingin, dan rumah yang dingin tanpa hadir seorang Kak Nanda. Di atas kaca yang berembun, Anggi menulis sebuah kata dengan jarinya. “Anggi Luv Kak Nda”, demikian yang Anggi tulis di atas kaca. Anggi tak bisa membohongi hatinya bahwa ia sangat rindu belaian kasih dari seorang Kakak. Anggi tak bisa membohongi dirinya bahwa ia sangat merindukan wajah teduh Kakak yang senantiasa hadir di hadapannya dengan kasih sayang. Dan Anggi tidak bisa membohongi nuraninya, bahwa ia rindu setengah mati pada kak Nanda. Meskipun ketika dulu, saat pertama Nanda pergi Anggi malah bersyukur karena bisa hidup bebas. Tapi sesungguhnya rasa yang menurutnya bisa ‘bebas’, malah merenggut dirinya kepada kehampaan hati.

Aku rindu setengah mati kepadamu…
Sungguh ku ingin kau tahu,
Aku rindu setengah mati…

Kembali tetesan air mata jatuh membasahi kegersangan hati. Hatinya berkata bahwa Anggi telah rindu setengah mati. Ah, Anggi jadi ingat, saat bersama dengan Nanda.

Waktu itu, ketika Anggi jatuh sakit karena kecelakaan, hanya Nanda lah yang menungguinya dengan setia di rumah sakit. Nanda lah yang selalu menemaninya di kamar rumah sakit yang kecil. Nanda lah yang menghiburnya, yang membuatnya bisa terenyum dan tertawa. Kak Nandanya lah yang menyuapinya ketika ia malas untuk makan di rumah sakit. Nanda lah yang tak henti memberikan motivasi pada Anggi untuk sembuh. Nanda juga lah, yang ketika malam terus menunggui, mengelus-elus rambut Anggi hingga Anggi tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit. Mana bisa Anggi melupakan semua hal itu, mana bisa.

Kembali ada tetesan air mata yang keluar dari pelupuk Anggi. Ah, pagi ini semakin membuka ingatan-ingatannya tentang Kak Nda yang baik hati.

Anggi kembali ingat, ketika Anggi kesusahan belajar Fisika Kak Nanda lah yang dengan sabar mengajarinya. Anggi ingat, bagaimana susahnya Nanda mengajarinya belajar mengendarai motor. Anggi ingat, ketika ia selalu minta tolong pada Nanda ketika ada kesusahan dalam tugas mengetik Ms Word. Anggi ingat ketika ke warnet selalu mengajak Kak Nandanya. Anggi ingat semua, semua kesusahannya apapun itu ia selalu minta tolong pada Kak Nanda. Dan Nanda tidak pernah sekalipun menolaknya.

Perlahan ada gemuruh di dalam hatinya. Air mata tak henti membasahi wajahnya nan bersih. Semua ingatan-ingatan berpendar cepat di otaknya. Anggi sudah tak kuasa menahan tangis-tangisnya. Tangis-tangisnya pecah yang menandakan puncak dari kerinduannya pada Nanda. Ia merasa banyak melakukan salah pada kakaknya...

* * *

Anggi telah menghapus air matanya. Gadis cantik yang rambutnya panjang terurai itu sedang menghidupkan komputer, ingin membuka file-file milik Kak Nanda. Siapa tahu itu bisa mengobati rasa rindunya saat ini. Selama ini Anggi belum pernah membuka data-data pribadi milik Nanda.

Ketika komputer sudah muncul tampilan dekstop, Anggi langsung membuka windows explorer. Ia cari folder milik Nanda yang bertempat di Local Disk (D) > Nanda Alfath >Data Pribadi > Rahasia neeh! > Jangan Dibuka-buka > Huuu, ngeyel ya... >Ya udah deh, buka aja nggak papa, hehe... >

Anggi bergumam dalam hati, “Iiiiiihhh, kak Nan ini kurang kerjaan banget deh bikin folder kok banyak-banyak. Hihi.... lucu!”

Dari folder tersebut ada lagi subfolder-subfolder, yakni: All Photos, Nasyid Gue Banget, Document Nda, Nda Narsis, Video Motivasi, My Software, Nets, dan lain sebagainya.

Anggi mulai membuka sebuah folder dengan nama “Nda Narsis”, entah kenapa Anggi tertarik untuk membuka folder tersebut. Setelah mengklik ganda, maka terbukalah gambar-gambar yang subhanallah, cukup ganteng. Anggi hanya cengar-cengir saja melihat foto-foto kakaknya yang ternyata cukup narsis juga di depan kamera. Anggi lihat foto kakaknya yg dengan full style saat berfoto dengan sahabat dekatnya. Anggi juga lihat foto kakaknya saat mandi di air terjun Angsa yang narsis abis. Anggi juga lihat foto close up kakaknya yang lucu, senyumnya manis, dan kali ini terlihat agak ganteng. Anggi juga membuka gambar Kakaknya yang sedang berfoto bersama dirinya sendiri yg lucu. “Hahaha….. kak Nanda. Baru tahu aku kak Nanda itu rupanya narsis juga. Aduh aduh! Kakakku itu lucu benget gayanya.” Gumam Anggi dalam hati.

Setelah puas membuka folder “Nda Narsis”, Anggi lantas membuka sebuah folder musik milik Nanda di folder “Nasyid Gue Banget”. Di urutan pertama kumpulan file lagu itu ada lagu yang berjudul “Aku Ingin Mencintai-MU”, dan Anggi langsung mem-playlist-nya. Anggi membuka winamp-nya. Dan dari speaker terdengarlah sebuah musik dengan intro sebuah piano yang mengalun merdu nan indah, seperti pagi ini. Nadanya begitu enak untuk didengar. Mendengar nada awalnya saja, Anggi langsung menyukai lagu tersebut. Anggi mulai amati lirik lagu tersebut,

Tuhan betapa aku malu,
Atas semua yang Kau beri,
Padahal diriku terlalu sering,
Membuat-Mu kecewa…

………….

Aku ingin mencintai-Mu setulusnya
Sebenar-benar aku cinta
Dalam doa dalam ucapan dalam setiap langkahku…

Baru pertama kali mendengar Anggi langsung jatuh cinta dengan lagu ini. Dia senang bisa mendengar lagu ini. Dia juga tidak bosan mem-play ulang lagu ini ketika ia sudah habis.

Seiring dengan lagu yang terus bersenandung, Anggi semakin asyik membuka folder-folder pribadi milik kakaknya. Sekarang Anggi sedang melihat file-file di folder “All Photos”. Di sana ada subfolder yang namanya “Akhwat”, Anggi membukanya. Anggi terkejut melihat foto seorang perempuan berjilbab disana yang dengan anggun terlihat. Ada banyak foto dengan wajah yang sama, namun berbeda gaya. Dalam hati Anggi berkata, “Untuk apa ya kak Nda nyimpen foto ini? Mmm, jangan-jangan ini pacarnya kak Nda. Ah ga mungkin ga mungkin, mana mungkin kak Nda pacaran. Hmm, pasti ini adalah foto cewek yang kak Nda sukain. Hehehe…. Ketahuan ya. Rupanya kak Nda itu bisa juga jatuh cinta. Hahaha…. Awas ya kalo kak Nda pulang, Anggi cubit karena gak pernah cerita kalo naksir cewek. Haha…” Ucap Anggi terkekeh.

Anggi sudah merasa bosan melihat file-file milik Nanda, ia sudah cukup mengetahui rahasia-rahasia yang Nanda simpan. Dalam hati ia tertawa. Sekarang saatnya ia online di facebook. Ia sambungkan PC-nya ke internet. Dan dengan sekejap ia telah membuka situs jejaring social terbesar di dunia tersebut.

Setelah login, Anggi langsung meng-update statusnya, “Kak Nanda….. pulang dong!!! Anggi kangeeen!”. Dengan mengupdate status itu ia harap kak Nandanya membacanya dan bisa segera pulang.

Ah, Anggi jadi teringat sesuatu. Ya, Nanda pernah bercerita bahwa ia memiliki sebuah blog di internet. Dan Anggi ingin berkunjung ke blog tersebut. www.nanda-fath-one.blogspot.com , itulah alamat blog Nanda. Setelah masuk ke homepage blog tersebut, Anggi langsung membaca satu persatu tulisan disana.

Tiba-tiba Anggi tertarik dengan sebuah tulisan yang berjudul “Untuk Adikku”. Anggi klik link tersebut. Ia baca dengan perlahan, beginilah tulisan tersebut…

Teruntuk Adikku yang kusayangi sepenuh hati...

Kakak membuat tulisan ini cuma pengen ncurahin perasaan yang sedang Kakak rasakan. Tak penting kamu akan membacanya atau tidak suatu saat nanti. Tapi Kakak harap, jika kamu membaca tulisan ini suatu saat nanti, kamu bisa tersentuh.

Hai Anggi! Apa kabar adikku yang cantik? Masihkah kamu seperti dulu. Yang suka bohong sama Kakak. Yang suka ngelawan sama Kakak untuk kepuasanmu. Yang suka ngomel kalo permintaanmu nggak dituruti. Yang suka kelayapan maen ke tempat temenmu sampe pulang sore dan diomeli sama ibu. Ah, mudah-mudahan adikku yang satu ini sudah berubah.

Tapi Kakak pengennya kamu berubah lebih baik. Bukan makin buruk. Kakak ingin suatu saat ada keajaiban yang datang, dan mengenal adik Kakak satu ini jadi orang yang santun, yang bisa membuat Kakak jatuh cinta dengan kamu. Ya, Kakak inginkan kamu baik: nggak suka maksa untuk kesenangan kamu, nggak doyan ngabisin uang buat belanja, nggak suka telpon-telponan dengan orang yang nggak jelas nyampe nyita waktu belajarmu, nggak suka dua-duaan, nggak macem-macem deh pokoknya. Kakak ingin kamu itu tampil cantik! Yang Kakak maksud cantik adalah hati, sifat, akhlak, dan pakaianmu mencerminkan keanggunan sejati.

Ohya! Kamu waktu itu pernah pake pakaian muslimah pas ada acara talk show ramadhan yang diadakan oleh sekolahmu. Tadinya kamu nggak mau ikut, eh tapi akhirnya kamu mau juga ikut karena itu adalah acara yang wajib diikuti karena pas ramadhan. Hmm, pagi itu Kakak bener-bener terkejut ngeliat kamu pake jilbab rapi, kamu bener-bener cantik waktu itu. Kakak langsung jatuh cinta sesaat waktu ngeliat kamu, kamu beda, auranya sudah seperti akhwat-akhwat. Jilbab segi empat yang berwarna putih, baju panjang berwarna pink bergaris biru muda, dan rok berwarna putih yang membuatmu pagi itu layaknya menjadi akhwat satu hari. Kakak terkejut melihat penampilanmu hari itu, saking tak tahannya Kakak mencium keningmu melihatmu yang cantik. Mungkin kamu kaget melihat Kakak menciummu, tapi itu adalah wujud rasa sayang Kakak ke kamu dan wujud harapan Kakak andai bisa melihatmu berpakaian rapi seperti ini setiap hari. Ya, andai.

Waktu itu Kakak tak segan mengantarkanmu ke sekolah, Kakak bonceng dirimu. Di perjalanan kamu bilang, “Kakak, pelan-pelan aja geh bawa motornya. Ntar jilbabku rusak!”. Hehe, Kakak nyengir. Akhirnya Kakak turuti permintaanmu. Dalam hati Kakak berdoa, “Jika hari ini ia bisa terlihat cantik, maka berilah ia setitik kecantikan sejati dari-Mu, Sang Maha indah. Biarlah ia dengan sendirinya mengerti tentang kesucian. Bagai air mengalir yang dengan sendirinya temui muara. Ya Allah, berikan setitik hidayah padanya suatu saat nanti, agar ku dapat melihatnya lebih cantik sejuta kali... karena dia berhijab... Amin!”

Itulah harapan Kakak suatu saat nanti padamu. Kakak ingin melihatmu berjilbab rapi adikku. Tapi kapan ya hal itu tercipta? Apa mungkin kamu mau memakai jilbab? Kakak pikir malah memikirkannya saja tidak pernah hadir di benakmu. Kakak pesimis. Terlebih setelah tahu kamu itu doyan pacaran. Apa jadinya nanti kalau kamu pakai jilbab tapi masih saja berduaan, harusnya berubah kan?!

Ah pokoknya Kakak pesimis. Kakak kecewa setelah Kakak tahu kamu ternyata sudah pacaran 12 kali. Kakak kecewa kenapa Kakak baru tahu sekarang hal itu. Kakak kecewa karena Kakak nggak bisa menjaga kamu. Kakak kecewa dengan kamu. Tapi kecewa Kakak itu selalu Kakak sembunyikan di hadapanmu. Kakak suatu kali pernah ingin marah di hadapan kamu saat Kakak tahu kamu abis dua-duaan, tapi manisnya wajah lugu kamu mematilkan Kakak. Kakak nggak sanggup marah di depan kamu. Kakak nggak sanggup membuat kamu sedih. Dan Kakak akhirnya nggak berani menegur kamu. Biarlah kekecewaan Kakak Kakak pendam di dalam doa-doa yang setiap malam Kakak panjatkan. “Ya Allah, jagalah adikku. Jagalah ia ketika dekap penjagaanku tak sampai padanya. Jagalah ia ketika lisanku tak mampu menasihati tutur langkahnya. Jagalah ia ketika tak kutahu sekarang ia tengah berbuat apa. Jagalah ia, lindungilah ia ketika tak mampu bagiku untuk terus menjaganya. Kau lah yang Maha penjaga. Jagalah ia ya Allah! Kumohon ketika tak sampai tanganku meraihnya kau bisa meraih tangannya yang mungkin salah mengambil langkah. Ya Allah, jagalah, jagalah, jagalah. Jagalah adikku ketika aku tak mampu merengkuhnya…. Amiin..!” Kakak kadang suka memendam di setiap malam penghantar tidur Kakak, Kakak memikirkan, kok bisa ya adik Kakak begitu? Apa salah Kakak. Kakak sejadinya menangis hingga Kakak tertidur. Dan ketika pagi Kakak sudah lihat kembali cahaya senyummu yang manja itu. Di dalam hati Kakak selalu bertutur dan berujar andai adik Kakak ini bisa berubah, nggak doyan senang-senang dan pacaran melulu kerjaannya. Habis pikiran Kakak terkuras memikirkan itu melulu. Kakak sedih kenapa kamu nggak kunjung berubah. Kakak kecewa. Tapi se-kecewa apapun Kakak, Kakak kan tetap sayang dengan kamu.

Kakak sayang kamu, Anggi! Dengarkanlah rintihan harapan Kakak untuk kamu. Yang menginginkan kamu tumbuh lebih baik dan dewasa. Kakak adalah pengganti ayah buatmu. Kakak ingin kamu tak salah arah, hanya itu. Hanya itu...

Itulah sebuah tulisan di blog Nanda yang ditulis untuk adiknya. Setelah membacanya Anggi langsung menangis sejadi-jadinya. Ia terharu membaca rintihan tulisan kakaknya yang ditulis untuknya. Membacanya, membuatnya ingin berubah seperti apa yang Nanda harapkan. Ya, Anggi bertekad kuat akan berubah. Entah kenapa kerinduan Anggi pada kakanya makin kuat. Anggi makin rindu dengan Nanda kakaknya. Pagi terus bersenandung, burung-burung menasbihkan kauniah pagi dengan kicaunya seraya mengajarkan pada manusia untuk bertasbih atas nikmat hidup yang telah diberi.

* * *

Setelah membaca tulisan di blog Nanda, Anggi seperti bersikap lebih santun. Ia berjanji akan benar-benar berubah. Pacarnya yang saat ini telah ia putuskan, ia bilang pada pacarnya bahwa ia ingin hidup lebih mulia. Sejak saat ini ia bertekad akan tinggalkan hidup yag suka senang-senang, dan berusaha totalitas berubah untuk lebih baik lagi.

“Nggi, dah tau belum? Kakakmu seminggu lagi mau pulang lho...” sontak ucapan Ibu mengagetkan Anggi.
“Iya bu?” ucap Anggi antusias. “Anggi dah kangen berat bu ma Kakak. Anggi pengen curhat sama dia. Anggi pengen buat Kakak seneng. Anggi pengeenn... banyak deh, Bu!”
“Wah seneng bener kayaknya yang mau ketemu sama Kakak. Tapi sabar ya, seminggu tuh nggak sebentar lho. Tujuh hari lagi. Jadi musti sabar...”
“He’eh Bu, seminggu kelamaan. Kenapa coba nggak besok aja Kakak pulang. Huh... nyebelin.” Keluh Anggi.
“Kalo besok ya kakakmu ndak bisa lah. Kan UAS-nya belum selesai. Kalau seminggu lagi baru sudah selesai semua dan mulai libur. Sabar...”
“Iya iya deh. Eh, Bu, kalo Anggi pakai jilbab gimana ya?” ujar Anggi mencoba bicara tentang jilbab pada Ibunya.
“Ya cantik lah!” jawab Ibu singkat.
“Ya iyalah, secara Anggi kan emang cantik. Hihi. Tapi maksud Anggi, Anggi pengen pakai jilbab.”
“Wah bagus itu. Ibu seneng dengernya. Tapi kok tiba-tiba kamu pengen pakai jilbab?”
“Hmmn, ini bu, anu... Anggi pengen kasih kejutan buat Kak Nanda. Anggi pengen berubah.”
“Bagus deh. Ibu izinin kamu pakai jilbab. Tapi kapan kamu mulai pakai jilbab? Lebih cepat lebih bagus lho...”
“Hmm, mulai minggu depan aja bu. Lagi pula bikin seragam sekolah yang khusus dipake jilbab kan nggak sebentar.”
“Bagus. Kakak kamu pasti senang bisa lihat kamu berubah. Ibu juga seneng kamu mau pakai jilbab.”
“Makasih, Bu!”

Ada angin segar yang mengalir di hati Anggi. Ibunya telah mengizinkannya jika ia berjilbab. Anggi kan mulai menata diri untuk semakin baik lagi. Seminggu lagi kakaknya pulang. Ia ingin memberi kejutan bahwa ia telah berubah, bahwa ia telah berusaha menjadi sosok gadis cantik yang kakaknya harapkan selama ini.

* * *

Hari ini Nanda akan pulang. Anggi sudah tak sabar ingin menunjukkan pada kakaknya bahwa hari ini ia sudah berjilbab. Hari ini Anggi sudah terlihat berjilbab rapi menunggu kepulangan kakaknya. Baju berwarna biru panjang dengan garis putih, jilbab segi empat berwarna putih dengan rapi membingkai wajahnya, rok hitam baru yang ia pakai semakin menegakkan kata-kata yang pernah kakaknya tulis, bahwa Anggi sudah mirip seperti akhwat. Anggi terlihat manis sekali hari ini, namun ia merasa kurang pede. Berulang kali ia datang pergi ke arah cermin, menghadapkan penampilannya di depan cermin untuk melihat dirinya sudah cantik atau belum.

“Ihh, kok bolak-balik liat cermin terus? Sudah cantik kok!” rayu Ibu.
“Hehe. Anggi ngerasa kayak ada yang kurang aja gitu bu. Mungkin karena kurang pede aja ya bu karena pertama kalinya make jilbab. Hehe...” jawab Anggi tersenyum pada Ibu.
“Nggak ada yang kurang kok. Anak Ibu hari ini sudah kayak bidadari yang baru lahir. Cantik, manis, dan anggun.”
“Iiiihh, Ibu lebay deh mujinya. Eh, bu, Kak Nanda kapan nyampenya? Kok jam segini belum nyampe?”
“Iya yah kok belum nyampe. Biasanya kalo berangkatnya jam tujuh pagi jam segini sudah nyampe. Apa macet ya?”
“Nggak tahu deh bu. Kita tunggu aja. Mungkin sebentar lagi...”
Anggi menunggu kedatangan Nanda di ruang tamu rumahnya. Ia sudah tidak sabar memberi kejutan pada kakaknya dan dengan tersenyum bangga telah mengenakan jilbab. Di belakang Ibu sedang memasak sayur lodeh kesukaan Nanda. Setiap pulang Nanda selalu dibuatkan makanan favorit oleh Ibu, tanda sayang seorang Ibu pada anaknya tak pernah luntur.

Nanda pulang menaiki sebuah motor yang ia dapatkan karena hadiah. Ya, waktu itu Anggi, Nanda, dan Ibu mengikuti sebuah jalan sehat yang berhadiah utama sepeda motor. Dan tanpa diduga-duga kupon undian milik Ibu disebutkan berhak mendapatkan hadiah utama. Karena Nanda kuliah, Ibu memberikan sepeda motor itu pada Nanda. Anggi hanya bisa ngedumel melihat Ibu memberikan sepeda motor itu pada Nanda, bukan padanya.

Anggi sudah sangat bosan menunggu terlalu lama. Ia mulai gusar karena kakaknya belum tiba tiba juga. Perlahan ada panggilan masuk ke telepon rumah, Ibu mengangkat gagang telepon itu. Setelah Ibu berbicara dengan seseorang yang ada di telepon, mata Ibu mulai berkaca. Gagang telepon itu terjatuh ke lantai.

* * *

Anggi dan Ibu telah tiba di rumah sakit. Begitu ada yang menelpon bahwa Nanda kecelakaan mereka berdua seketika menuju rumah sakit yang dimaksud. Anggi dan Ibu menangis melihat Nanda terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Dokter bilang kaki kiri Nanda patah, dan kepalanya gegar otak. Sedari tadi Nanda belum kunjung sadarkan diri.

Anggi dan Ibu begitu panik dengan keadaan ini. Mereka tak mendapat pertanda apapun bahwa Nanda kecelakaan, bahwa Nanda ditabrak oleh mobil dari belakang, hingga Nanda terkujur lemah di rumah sakit. Setelah mendengar dari Dokter bahwa kemungkinan hidup sangat kecil, Ibu langsung pingsan. Ibu tak kuasa mendengar bahwa putra kesayangannya akan diambil.

Sedangkan Anggi terus terisak, ia menangis tak henti-henti. Hari ini ia ingin memberi hadiah pada kakaknya namun yang terjadi adalah kakaknya kecelakaan parah. Air mata terus mengalir membasahi jilbab putihnya yang baru. Perlahan ia dekati kakaknya yang belum juga sadar. Ingin rasanya ia memeluk erat kakaknya yang kini begitu ia cintai dan ia sayangi di dunia ini. Namun apalah daya, Anggi hanya bisa memegang tangan Nanda. Anggi lihat alat kedokteran yang menunjukkan detak jantung itu, sangat lemah, dan bisa saja gelombang frekuensi itu berhenti. Tapi Anggi sungguh tak ingin kakaknya pergi. Anggi ingin meminta maaf pada kakaknya. Anggi ingin membuktikan pada kakaknya bahwa ia sudah berubah. Anggi ingin memperlihatkan pada kakaknya bahwa ia telah berjilbab rapi. Anggi ingin memeluk kakaknya. Anggi ingin mengatakan pada kakaknya bahwa ia cinta setengah mati, bahwa ia menyayangi Nanda sepenuh hati.

Anggi mendesah. Ada yang bergemuruh di lubuk hatinya, ia sangat tak ingin kehilangan kakaknya. Ia ingin berteriak sekencang-kencangnya bahwa ia menyayangi kakaknya. Dalam sanubarinya ia merintih, “Ya Allah jangan ambil kakakku!”
Perlahan anggi tengok alat medis yang mengecek detak jantung itu. Terlihat hampir bergerak lurus. Anggi histeris. Ia dekatkan wajahnya pada sosok Nanda. Anggi berkata pada kakaknya,

“Kakak, Kakak harus tetap hidup. Harus! Kakak harus tetap hidup, Kak! Anggi sayang Kakak. Anggi sekarang sudah berubah, Kak. Anggi sudah pakai jilbab, Kak. Anggi juga sudah nggak suka ngebantah kata-kata Ibu. Anggi juga udah nggak mau pacaran lagi, Kak. Kak, Kakak bangun, Kak! Kakak harus hidup. Harus hidup... harus hidup... Anggi sayang Kakak. Anggi nggak mau kehilagan Kakak. Anggi sekarang sudah pakai jilbab, kak. Anggi sudah pakai jilbaaab...” ucap Anggi mendesah pada Nanda.

Tiba-tiba Nanda membuka matanya, dan melihat sosok adiknya yang sudah memakai jilbab rapi. Nanda tidak bisa dengan jelas mendengar kata yang diucapkan Anggi, tapi Nanda sepertinya mengetahui maksud ucapan Anggi. Perlahan terdengar liri dari bibir Nanda seraya tersenyum lemah yang dipaksakan,

“Alhamdulillah...”

Setelah itu terlihat garis detak jantung berjalan lurus. Gelombang di otak sudah tak lagi berfrekuensi. Perlahan Nanda mengatupkan kedua matanya. Anggi memecah tangisannya yang terdalam. Ia terisak. Ia merasa menjadi orang yang paling sedih di atas dunia.

“Anggi sayang Kakak. Kakak harus hidup, Kak! Kakak harus hidup... harus hidup... harus hidup...” ucap Anggi berulang kali seakan tak percaya bahwa kakaknya telah diambil oleh-Nya.

Perlahan dunia terasa menjadi gelap semua...

Dirimu adalah hartaku yang paling berharga
Izinkan sekali saja
Kutunjukkan diriku seperti apa yang kau harapkan
Sekali saja
Sekali saja kak!

Akuingin mencintaimu selamanya
Sehina apapun diriku kuberharap untuk bertemu denganmu

* * *

Kutulis untuk Adikku tercinta, Diana Lisa Zain. Mas sayang kamu. Tetep kukuh ya memakai cadar kesucianmu. Dan teruslah berbuat baik untuk kehidupanmu. Dengerin deh lagu 'Kini Kamu Tlah Dewasa'-nya Justice Voice. Lagu itu buat kamu.

Kutulis juga cerpen ini teruntuk sahabat-sahabatku yang baru berhijrah, jaga terus jilbabmu yah! Indah Kartika Sari, Aulia Dwi Safitri, Diah Mutiara, Anggi Agnestesia, dan semua temen-temen yang kesebutin sudah berhijrah mengenakan kebesaran suci seorang muslimah sejati.


* * *


Bandar Lampung, 1 Januari 2011
Inu Anwardani

2 komentar nih!:

Ummu Rafif mengatakan...

Cadar??susah nggak ya memulainya??
mudah-mudahan suatu saat aq bisa memakainya,Aamiin.....

Inu Anwardani mengatakan...

Mungkin sulit untuk memulainya. Tapi untuk hidup yang lebih mulia, insan sejati tentunya akan menebas segala alasan untuk menuju apapun perintah-Nya. :c: Selamat Berjuang yah...

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...