Ayat Ayat Matematika

By: Inu Anwardani

 

Tahukah kita dengan konsep bilangan nol? Yap, nol adalah bilangan yang pertama kali dicetuskan oleh ilmuwan besar muslim bernama Al-Khawarizmi. Bilangan nol terletak sebelum angka satu dan setelah negatif satu, yang melambangkan bilangan kosong yang tidak memiliki harga. Bilangan nol juga adalah bilangan yang unik, saking uniknya, jika kita jumlahkan atau kurangkan suatu angka dengan bilangan nol, maka akan menghasilkan angka itu sendiri.


Disamping keunikannya itu, ternyata nol adalah angka yang sial. Kalau orang di luar negeri menyebut angka 4 dan angka 13 yang sial dengan tanpa alasan, maka kali ini IslaMika menyebut nol sebagai angka sial dengan argumen yang matematis. Ciee... hehe...

Nol disebut sial karena jika nol dioperasikan akan menghasilkan angka nol pula. Jika sebuah angka kita kalikan dengan nol maka hasilnya adalah nol (baca: sial). Jika angka nol kita bagi dengan angka berapapun, pasti hasilnya adalah nol pula. Demikian juga jika sebuah angka kita bagi dengan nol, maka hasilnya adalah tidak ada alias tidak terdefinisi. Coba saja kalau nggak percaya temen-temen bawa kalkulator, maka disana akan tertulis pesan “E” jika mengoperasikan bilangan dengan nol. “E” artinya adalah Error, yang artinya setiap bilangan yang dioperasikan dengan nol akan berakibat kesalahan, atau fatal. Banyak juga sebenarnya pendapat dari pakar matematika tentang konsep bilangan nol, disana terjadi beberapa perbedaan, namun pada hakikatnya setiap bilangan yang dioperasikan (kali / bagi) dengan angka nol, maka hasilnya adalah Error.

Dari sini kita bisa ambil kesimpulan tentang sebuah konsep ketuhanan. Kita lihat di kehidupan nyata, ada orang yang di dalam hidupnya tidak memiliki kepercayaan/ atheis. Kita bisa analogikan kehidupannya dengan bilangan nol. Mereka itu membagi dan mengalikan kehidupan mereka dengan bilangan nol yang sudah pasti “Error” dan salah nilai kebenarannya. Maka bisa dipastikan mereka yang tidak memercayai adanya tuhan itu adalah mereka yang salah dalam mengambil jalan hidupnya. Mereka merasa angkuh seakan mereka yang melahirkan dan menurunkan mereka ke dunia adalah dirinya sendiri. Padahal seluruh pakar ilmuwan di dunia ini telah sepakat bahwa keberadaan tuhan adalah suatu kebenaran yang hakiki. Ilmuwan menyatakan bahwa adanya Tuhan adalah suatu postulat. Postulat yakni kebenaran tertinggi yang sudah tidak bisa disalahkan, kebenaran yang pasti benar. Jadi Tuhan itu pasti ada. Orang Atheis, yang mempercayai tiada Tuhan sudah pasti salah memilih kehidupannya.

Atheis gugur. Berikutnya ada juga kepercayaan yang menyatakan bahwa ada lebih dari satu tuhan, atau dalam kata lain ada banyak tuhan di agamanya. Jika kita analogikan, misalkan saja Tuhan itu ada dua. Maka sudah pasti kepercayaan itu salah, karena jika tuhan itu ada dua maka antara tuhan yang pertama dan tuhan yang kedua pasti saling merasa kuat. Merasa yang paling berkuasa. Dan mereka bertengkar dan berseteru maka hancurlah dunia. Lalu kalaupun mereka tidak berseteru, atau dalam kata lain antara tuhan satu dan tuhan dua saling bekerja sama, misalnya: yang satu menciptakan langit yang satunya menciptakan planet-planet. Yang satu ngurusin rezeki, yang satunya ngurusin pahala. Yang satu ngurusin surga, yang satu ngurusin neraka. Ah, terlalu ribet. Ini semakin mengeksiskan bahwa tuhan itu pastilah lemah, mengapa? Karena masak dalam mengerjakan sesuatu saja harus dibantu, masak harus bagi-bagi keraan. Harusnya kan Tuhan itu adalah Zat yang paling kuasa, memiliki takhta tertinggi, memiliki kebesaran, dan bisa mengerjakan segala apapun yang ada di alam semesta. Maka, sudah barang tentu sosok tuhan itu adalah Zat yang Maha Satu. Ahad.

Lantas, siapakah yang sesungguhnya Maha satu? Dialah Allah. Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Yang memiliki kekuasaan, yang memiliki keagungan, yang memiliki kebesaran. Dialah Allah, yang satu-satunya Maha Pemberi petunjuk, Maha Menciptakan hamba-hamba-Nya, Maha menciptakan ayat kauniah dan kauliah-Nya. Sungguh, Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan Iradat-Nya...”(QS. Ar-Ruum : 25) 

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya di udara selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.”(QS. Al-Qalam : 19)

So, tafakurilah ayat-ayat cinta-Nya. Ayat kaluliyah (Al-Quran) dan ayat kauniah (pencptaan-Nya) sebagai tanda cinta kita kepada sang pencipta hidup dan alam semesta: Allah SWT.

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...