Gerbang Kebahagiaanku


Semuanya berawal dari keriuhanmu yang memecah pagi. Ketika itu, engkau baru saja dari terminal usai membeli sebuah koran. Dengan wajah yang berias suka cita kau bergegas menunjukkannya padaku.

"Ibuuuu..., liat bu. Alhamdulillah Nia keterima SNMPTN. Nia jadi kuliah tahun ini, Bu. Ini dia nama Nia..." ucapmu sambil menunjuk namamu di koran itu dengan antusias.


Dan seketika aku sangat senang melihat engkau diterima. Terlebih melihat kebahagiaanmu yang membuncah itu, makin membuatku larut dalam syukur yang dalam. Syukur bahwa anakku satu-satunya ini bisa berkuliah tahun ini. Meski, untuk biaya hidup kuliahmu nanti aku dan ayahmu harus berjuang lebih pagi, lebih keras, dan lebih penuh pengorbanan lagi.

Engkau diterima di pilihan kedua, yakni fakultas Pertanian Jurusan Agroekoteknologi. Tidak sesuai yang aku harapkan karena harapanku adalah engkau diterima di FKIP Fisika. Tapi engkau meyakinkan keraguanku,

"Ibu, nggak diciptakan yang namanya fakultas kalo nggak ada pekerjaan yang bisa menampung mahasiswanya. Bu, rezeki Nia di fakultas Pertanian. Izinin Nia yah. Kalaupun Nia diterima di FKIP Fisika apakah ada yang bisa jamin begitu wisuda langsung mendapat pekerjaan? Sekarang ini Fakultas keguruan makin banyak saingan. Bu, sekali ini aja, Nia minta izin, Nia mau kuliah di Pertanian..."

Dengan kata-katamu itu aku pun luluh. Kuizinkan akhirnya engkau kuliah disana. Memang benar katamu, tidak diciptakan sebuah Fakultas jika tidak ada pekerjaan yang bisa menampung mahasiswanya. Dan benar juga bahwa tidak ada yang membedakan Fakultas ini dan Fakultas itu. Engkau benar, dan aku mengizinkanmu...

Waktu kian cepat berlalu seperti angin menerbangkan dedauan dari pohonnya. Atau begitu cepat bagaikan air yang mengalir dari hulu hingga muara. Masa-masa SMA-mu kini sudah kau tinggal dan tengah menjalani tahun kedewasaan. Ya, tidak terasa kini engkau ternyata sudah semester enam.

Mengingatmu yang kini jauh disana terkadang membuatku menjadi rindu. Membuatku menjadi terharu, sedih, bahkan bingung serta pusing. Bagaimana tidak rindu? Engkau adalah anak satu-satunya, dan demi masa depan engkau meninggalkan aku dan ayahmu. Sebagai orang tua aku terkadang ingin sekali bertemu denganmu meski nyatanya jarak memisahkan. Betapa rindunya aku ketika sudah dua bulan engkau tidak pulang kampung. Betapa rindunya ketika engkau bercerita lewat telepon bahwa sebentar lagi KKN dilaksanakan dan selama tiga bulan tidak bisa pulang. Ah, tak tergambarkan betapa rindunya aku padamu, engkau yang anakku satu-satunya, engkau anak perempuan yang kadang membuatku khawatir apa-apa akan terjadi padamu disana. Sering kutitipkan air mata rindu ini ketika menengadah doa kepada-Nya, kupanjatkan pinta agar engkau dijaga oleh-Nya ketika penjagaanku tak sampai. Dan kukirimkan kata hatiku supaya engkau sedikit bisa lebih hemat disana. Kuharap di dalam mimpi dapat engkau mendengarnya. Kuhamburkan juga doa agar aku dan ayahmu bisa terus membiayaimu kuliah.

Mengingatmu juga kadang membuatku terharu. Betapa tidak, katamu, jadi mahasiswa itu sangat melelahkan. Setiap hari dicecari dengan tugas-tugas. Berangkat pagi dan pulang hingga petang. Belum lagi ketika malamnya engkau porsir waktu dengan mengerjakan tugas-tugasmu itu. Engkau merintih. Tapi sabar sayang, engkau pasti bisa melewatinya dengan baik. Betapa inginnya aku agar engkau cepat menjadi sarjana. Ya, sarjana. Gelar itu dapat menyejukkan hati dan mengeringkan keringat ayah ibu yang jatuh selama ini. Pengorbanan kan terasa lunas jika membayangkan kelak engkau akan mengenakan pakaian toga. Wisuda, cepat-cepatlah engkau wisuda, Anakku! Jadilah engkau Sarjana. Ya, Sarjana. Dan sambutlah matahari lebih berani.

Mengingatmu juga terkadang membuatku menjadi sedih. Aku jadi teringat ketika pertama kali aku dan ayahmu mengantarmu ke kota, melepasmu yang sendiri demi cita-cita. Kami mencarikan tempat tinggal untukmu dan membelikan segala perlengkapan kosan dan segala sesuatu untuk kehidupan barumu. Kami melepasmu. Dan sejak itu rumah terasa sepi tanpa hadirnya dirimu. Aku hanya ditemani ayahmu. Tiada lagi yang membantu ayah dan ibu membersihkan sayur-sayuran dan menjualnya di pasar. Dan tiada lagi wajah yang selalu menghiasi isi rumah dengan cerianya, dengan ceritanya, dengan candanya, dan dengan hadirnya hadirmu, duhai Anakku.

Mengingatmu juga sering membuatku menjadi pusing, bingung. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Jikalau aku boleh berkata, maka aku sesungguhnya aku ingin marah kepadamu. Jika aku bisa bicara, sesungguhnya aku ingin bilang agar engkau sedikit memperhatikan konsidi orang tuamu disini, Nak. Namun, aku tak bisa marah di hadapanmu ketika engkau meminta dan meminta lagi. aku tak bisa marah ketika melihat wajahmu dan beningnya bola matamu. Aku tak kuasa marah di hadapmu. Naluri keibuanku mematahkan segala kesulitan yang menghimpit dada, aku selalu mengabulkan apa yang kau pinta meski dengan berhutang sekalipun. Kau tak tahu itu kan? Sengaja kurahasiakan karena tak berani kuungkapkan padamu. Disini aku susah. Tak habis pikir aku mengapa engkau semakin hari semakin merasa kurang. Pahamilah orang tuamu disini, pahami ibu, Nak!

Aku jadi teringat masa-masa pertama kali engkau kuliah. Ketika itu, tiap bulan aku menjatahmu empat ratus lima puluh ribu rupiah. Dan itu sangat cukup bagimu. Bahkan di akhir bulan ketika pulang kampung kau sempatkan untuk membeli oleh-oleh, atau jika masih tersisa engkau akan mengembalikannya padaku. Ah, betapa terharunya aku jika mengingat masa itu...

Namun seiring perlahan-lahan merambahnya waktu, dan kebutuhan ekonomi yang demikian meningkat, mulai kau tinggalkan masa yang membuat ibu terharu padamu. Ya, kau tidak pernah lagi membelikan oleh-oleh atau mengembalikan uang jika tersisa. Bahkan kenyataannya malah kau minta tambah kiriman uang. Dan kini engkau sudah tidak mau memasak sendiri lagi seperti ketika awal kuliah. Kau lebih senang membeli lauk yang sudah jadi di warung. Katamu, biaya kebutuhan sekarang jauh lebih besar ketimbang masa awal kuliah, dan karena alasan terlalu banyak tugas kau tidak punya waktu lagi untuk memasak sendiri. Benar begitukah, Anakku?

Ketika menginjak semester dua, engkau minta padaku untuk dibelikan laptop. Katamu sangat susah mengerjakan tugas-tugas kuliah jika tidak ada laptop, dan repot jika harus meminjam laptop teman atau pergi ke rental komputer untuk mengerjakan tugas. Intinya kau minta aku membelikanmu komputer lipat itu. Akhirnya, dengan berat nafas aku kabulkan permintaanmu itu. Dan aku harus meminjam uang untuk membelikanmu laptop, karena mana ada aku uang sebesar itu. Lagi pula sayur-sayur di kebun kita sedang mengalami masa sulit.


Hari-hari terus berlanjut melangkahi detik-detik kemarin. Engkau seakan semakin serakah tidak lagi melihat kondisi aku dan ayahmu disini. Kau minta dibelikan modem. Kemudian minta dibelikan printer. Ah, hari demi hari semakin kulalui dengan kepayahan. Seakan ada yang mencekik leher ketika kau pinta ini itu dengan mengambek atau menggertak kuliahmu. Aku tak tahu apa jadinya jika pintamu tidak kuturuti.

Selanjutnya kau minta dibelikan dispenser, supaya tidak repot jika mau minum air dingin dan panas. Berlanjut engkau minta dibelikan televisi. Kemudian minggu berikutnya minta kipas angin. Masya Allah, alangkah banyaknya pintamu, duhai Anakku. Aku tak tahu bagaimana kehidupanmu sekarang jika aku berkunjung ke kosanmu. Mungkin, engkau sudah menjadi anak yang bergelimang kemewahan dan ingin selalu dilayani. Tidakkah engkau ingat bagaimana isi rumah kita? Tidakkah engkau ingat bahwa televisi di rumah kita adalah dari pemberian Budemu. Tidakkah engkau ingat bahwa rumah kita sangat sederhana, tidak ada kulkas, tidak ada kipas angin, bahkan tidak ada kendaraan yang bisa dipakai di rumah kita.

Beberapa waktu kemudian engkau kembali membuat ulah. Ya, kau minta dibelikan handphone baru. Apa yang bisa aku lakukan? Mengabulkan pintamu atau menolak keinginanmu. Akhirnya kuserahkan semuanya pada Rabbi, "Ya Allah, senantiasa aku berdoa meminta penjagaan-Mu bagi anakku. Jadikanlah ia anak yang sholehah yang berbakti dan menghormati orang tuanya. Ya Allah jangan biarkan waktu mengubahnya menjadi anak yang berubah. Tetapkan ia menjadi anakku yang seperti dulu, yang baik, yang santun, yang ramah, yang seperti dia yang kukenal dulu..."

Ah, barangkali engkau memang sudah berubah. Tapi satu yang harus kau ingat, Anakku. Janganlah engkau lupa daratan, janganlah engkau lupa pijakan. Lihatlah segalanya sebagimana adanya dirimu yang sesungguhnya. Kembalilah ke dirimu yang fitrah, dirimu yang kukenal itu. Yang seutuhnya mencintai, menghargai, dan menghormati ayah ibumu. Kembalilah layaknya burung yang pulang ke sarang. Kembalilah layaknya layang-layang yang diturunkan ketika petang.

Seperti apapun engkau, kau tetap anakku. Akulah tempat kembalimu. Duduklah di pangkuanku dan akan kuajari kau bahasa perasaan. Melihat engkau baik, adalah hadiah terindah bagiku. Ya, hanya baik. Dan melihatmu bisa bahagia adalah keteduhanku. Melihat engkau bisa tersenyum adalah mentari bagi duniaku. Engkaulah gerbang kebahagiaanku. Maka baik-baiklah engkau disana. Tiada yang lebih membahagiakanku selain melihatmu berhasil di kuliahmu. Dan melihatmu memakai pakaian toga...

* * *

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"

......1
* * * * *

1: Puisi berjudul "Surat dari Ibu" Karya Asrul Sani.
________________

Bandar Lampung, 8 Juli 2011
Inu Anwardani

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...