Bintang


Titik-titik cahaya terang yang berserakan itu terlihat begitu menentramkan. Layaknya jutaan lentera yang hidup di pelataran kegelapan. Terang. Meneduhkan. Titik cahaya itu  ada yang terang ada juga yang redup. Kerlip cahayanya berserak-serak di kanvas langit malam, mengumpul membentuk suatu gugusan yang dinamakan rasi bintang atau konstelasi.  Ya, kau menyebut titik-titik cahaya itu dengan nama “Bintang”.
 
Jika kau hadir disini, pastilah engkau begitu bahagia. Karena bisa melihat jutaan bintang-bintangmu yang bertebaran di atas malam. Terlebih bintang-bintang kali ini berada di titik yang paling terang. Kondisi dimana corak bintang begitu sempurna untuk dinikmati. Hingga sinarnya mengalahkan cahaya sang bulan. Sungguh menentramkan.

Ah, malam ini aku jadi teringat dirimu. Masihkah engkau suka melihat bintang di langit? Masihkah engkau mengadu kepada sang bintang untuk bertanya masalahmu? Masihkah engkau jadikan taman bintang di langit sebagai syurga bagi duniamu? Oh, kuharap setiap jentik waktu yang terlewati disana membuatmu tak lupa dengan langitmu. Meski kita telah jauh.

Aku ingat, betapa cerianya wajahmu kala menatap bintang-bintang di langit. Kau tersenyum, dan juga tertawa. Seakan sang bintang itu berbicara padamu dan membisikkan kata cinta yang tak kuketahui apa bunyinya. Kau tampak begitu bahagia di bawah naungan cahaya bintang, suasana seperti itu yang membuatmu jadi nampak lebih ayu. Kadang juga kau menangis di hadapan kerlip bintang-gemintang. Mengadukan cerita dan masalahmu yang begitu berat untuk dipikul. Bertanya pada sang bintang mengapa masalah datang bertubi-tubi, hingga kau merasa tak sanggup lagi untuk hidup di dunia ini, hingga sempat kau katakan lebih baik engkau mati. Astaghfirullah...

Bintang selalu menemanimu di saat bahagia dan sedihmu. Dulu, aku suka menemanimu duduk bersama menyaksikan keindahan langit malam. Sambil menatap, tertawa, dan bercerita yang indah-indah. Kala itu kau berkata bahwa kau menyukai rasi bintang Orion. Sebuah rasi yang dibentuk oleh beberapa bintang sebagai penunjuk arah barat. Aku lantas bertanya mengapa kau pilih rasi bintang Orion. Katamu, Orion memiliki filosofi di dalam hidupmu. Empat bintang yang bersinar paling terang di rasi bintang Orion adalah simbol orang-orang yang kau cintai.

“Bintang yang itu aku anggap Papa. Yang itu Abang. Yang itu nenek. Dan yang di sebelahnya itu aku.” Ujarmu dengan lirih seraya menunjuk ke arah langit.

Dalam jawabanmu tak kau sebut nama Mamamu. Aku tahu, itulah masalahmu. Bukan karena kau tak punya ibu. Tapi keretakan dalam keluargamu yang membuatmu hanya bisa tertegun dan kehilangan kasih sayang. Tanpa kau ceritakan bagaimana rasanya aku tentu sudah tahu bagaimana sedihnya jika orangtua menceraikan cintanya. Tentu sakit. Tentu kecewa. Dan tentu kau ingin teriak sekuat tenaga seakan bisa melepas beban yang selama ini didera.

Kau tinggal bersama papa, abang, dan nenekmu. Kau memang lebih dekat dengan papa daripada Mama. Mamamu sudah tak tinggal di rumahmu sejak empat tahun yang lalu. Satu tahun yang lalu mamamu meneleponmu, mengabarkan bahwa kau kini sudah punya adik. Mendengarnya hatimu langsung hancur seketika. Tiada kabar apa-apa ternyata Mamamu disana sudah menikah lagi. Dan kini sudah punya anak. Mungkin ketika itu keping-keping sayangmu untuk seorang ibu telah berserakan dan hancur. Luntur seiring kekecewaanmu  yang lahir sejak kabar pertama keretakan itu.

Kukatakan padamu, "Jika Orion adalah cinta sejatimu, maka cintailah ia dengan sepenuh hati dan jiwa. Namun jangan lupakan bintang-bintang yang lain. Kau juga harus mencintainya. Karena tanpa yang lain tentu langit malam akan sepi, dan keindahan bintang tidak dapat dinikmati."

Mendengarnya kau tersenyum padaku, dan kubalas juga senyummu. Aku lantas mengajakmu untuk kembali melihat pada bentangan langit. Hening. Sejenak kita menikmati teduh titik-titik cahaya yang berkelip-kerlip di atas sana. Khusyuk. Tiba-tiba...

"Ada bintang jatuuuuhh..." teriakmu antusias memecahkan keheningan. Aku pun tersentak. Memang baru saja ada bintang yang jatuh, indah sekali. Layaknya bola api yang terjatuh dan berubah-ubah warna sebelum menghilang di ufuk kegelapan.

"Iya ada bintang jatuh. Indah sekali." jeda "Kata orang, kalau kita melihat bintang jatuh maka permintaan kita akan dikabulkan. Kamu mau mau minta apa?"
"Kamu duluan yang minta..." jawabmu.
"Baiklah. Aku mau meminta agar tidak pernah ada lagi kesedihan yang hinggap di hati sahabat-sahabatku, di hati orang-orang yang aku cintai." jeda. "Sekarang giliran kamu!" ucapku.
"Aku mintanya di dalam hati aja." ujarmu sambil kemudian memejamkan mata. Seolah di dalam hati kau berdoa khusyuk untuk sesuatu yang sangat ingin untuk terkabulkan. Kau pejam mata. Kuamati engkau. Perlahan desiran angin menyentuh rambut panjangmu dengan lembut, seakan rambutmu melayang-layang. Kau terlihat begitu ayu ketika itu. Dan kunikmati keindahanmu di bawah naungan bintang-gemintang. Sejenak kau tersenyum. Dan kemudian membuka mata pertanda kau sudah memenjatkan keinginanmu yang kau titipkan melalui bintang jatuh itu.

* * *

Menggali masa lalu tentang dirimu tidak akan pernah habis adanya. Kini sudah tiada engkau di sini. Engkau telah jauh di pulau nun di sana. Kadang aku merindukan romantisme kita masa silam, yang mengukuhkan ingatanku pada kekaguman untuk seorang perempuan yang berhati tegar, berjiwa besar, dan yang selalu menghadapi masalahnya dengan sabar. Dan masalah-masalahmu itu satu per satu terlewati dengan kelegaan dan kebahagiaan.

Aku memang hanya sahabatmu. Aku tidak tahu kerinduanku padamu kali ini adalah wujud kerinduan untuk sahabat atau wujud kerinduan tanda cinta. Aku bingung. Mungkin ada benarnya kata pepatah bahwa sesungguhny hanya Cinta lah yang dapat mengartikan apa itu Cinta yang sebenarnya.

Ah, kali ini aku tak ingin berseteru dengan cinta. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. Namun karena jarak memisahkan kita maka kutitipkan kata-kata dariku pada pesona bintang-gemintang yang bersinar di malam ini,

"Teruslah engkau bersinar dan teruslah engkau berpijar. Bintangmu tidak hanya ada di malam hari, namun ketika pagi bintangmu juga terbit sebagai matahari. Janganlah engkau berhenti menjadi sang penatap bintang. Karena bintang yang menguatkanmu menjadi sosok perempuan yang tegar. Jika kesedihanmu datang kembali, jika masalah kembali menghampiri, maka datanglah engkau ke syurga duniamu. Ya, yakni bintang-bintangmu. Di situlah kan kau temu bahwa masalah kan membuatmu jadi lebih baik..."

* * * * *

Bandar Lampung, 7 September 2011
Inu Anwardani
Lagi belajar bikin cerita 'kata-kata hati'. Hehe...

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...