Instrumental Reflections


Kunyalakan pemutar musik dari handphoneku. Dan kemudian kumainkan lagu instrumental "Sundial Dreams"-nya Kevin Kern. Lagu itu pun mulai bersenandung mengiringi hati yang mulai tenggelam. Entah kenapa seperti ada yang tidak tenang dalam diriku malam ini. Resah. Mungkin aku tengah cemburu. Gundah. Mungkin sebuah pil pahit buatan Sang Cinta tengah kurasa.

Kembali instrumental di handphone menyenandungkan karya suara yang mencoba menenangkan gundah jiwa. Perlahan, setiap harapan seakan memudar. Perlahan, bunga impianku satu per satu kian berguguran. Engkau yang kini ada disana. Engkau yang coba untuk kuraih hatinya. Engkau yang menyinari tiap jejak langkahku hingga aku bercahaya. Engkau yang melagukan simphoni untuk menghidupkan rasa sepi. Namun kini kau segera lepas dari jangkauku. Sayapmu kini siap mengepak ke persinggahan lain. Bukan lagi di hatiku...


Awalnya aku kagum. Kemudian suka. Kemudian cinta. Kala itu aku bertanya pada alam semesta, inikah cinta yang indah itu? Atau bahagia yang kurasa ini hanya sementara dan berujung pada sakit nantinya? Namun tiada jawab. Kuharap bahagia yang kurasa ketika itu tidak akan pernah menoreh kecewa. Melainkan bisa terus seperti ini: aku mengagumimu dan kau menyambutnya dengan kehangatan mentari pagi.

Entah kini aku harus menangis atau bagaimana. Aku memang bukan siapa-siapamu. Kita juga tidak memiliki hubungan apapun. Namun malam ini seakan aku begitu tersiksa oleh suatu rasa yang memenjarakan. Sepertinya tanganku kan bertepuk tanpa suara. Ternyata kau sudah memilih yang lain.

 Kau memang indah. Kau cantik nan juga anggun. Semua orang pun mengatakan begitu. Setiap orang sepertinya ingin mendekat semua kepadamu. Layaknya sangkar yang selalu dihinggapi burung yang terbang. Atau kau seperti bunga yang banyak dihinggapi oleh kumbang yang mencintai manis dari kelopaknya. Tahukah engkau, aku adalah seekor burung yang juga ingin hinggap dan menyapa sangkar hatimu. Aku juga layaknya kumbang yang berlomba menuju mahkota dan kelopak untuk mendapatkan nektar dari bungamu. Oh, tidakkah engkau melihat aku yang ada disini? Dan tidakkah engkau peduli pada sekeping hati disini yang menanti senyum ikhlas darimu, yang menunggu belas kasih dari perhatianmu, yang mengharap mentari dari kasih sayangmu. Sudah begitu lama aku menanti sambutan cinta darimu.

Dinda, pernahkah engkau membayangkan sesuatu yang paling diinginkan tapi terbatas untuk meraihnya? Pernahkah engkau ingin menggenggam sesuatu tapi yang kau inginkan tak kunjung datang? Dan pernahkah kau ingin untuk terbang ke atas langit namun kau segera sadar kau tak punya sayap? Mungkin seperti itulah adanya diriku saat ini. Jika kau menjadi diriku, apakah engkau akan membiarkan diriku terkungkung dalam kesedihan? Apakah engkau akan membiarkan diriku terus menunduk dalam ratap kepiluan? Dan apakah engkau akan selamanya mengabaikan aku yang disini terus mengagumimu meski di dalam diam dan juga lamunan? Dinda, tolong bebaskan aku dari penjara yang membuat diriku menghukum diri sendiri karena tidak kuasa menahan takdir yang digariskan di atas tangan. Takdir yang berujar bahwa engkau tidak memilih aku...

Senandung terus berbunyi, seakan memutar-mutar kembali ingatanku padamu. Menggali kembali jejak keindahan yang pernah kurasakan bersama hadirmu. Senyumku sejenak terangkat, namun di hati kemudian terasa sesak. Mengingat dirimu yang pernah menyebut namanya. Siapa? Kak Tahta? Ah mungkin kalian berdua sudah berada di gerbang kebahagiaan. Ya, mungkin aku cemburu. Cemburu pada dia yang lebih baik. Cemburu pada dia yang telah kau pilih. Dan cemburu karena aku tak mendapatkan bunga terindah yang begitu kuinginkan sebagai penghias bumi cintaku.

Padahal dari dirimu aku belajar untuk mencintai. Padahal dari dirimu aku belajar untuk menghargai. Aku belajar untuk berkorban lebih dengan kesemestaan yang kupunya. Dan aku belajar untuk memberikan sebaik mungkin di hadapanmu. Meski untuk semua yang kusembahkan itu mungkin tidak berharga apapun di matamu. Ah, sampai detik ini kaulah pencipta senyum dan tawaku...

Aku hanyut dalam renungan. Alunan instrumental semakin menenggelamkanku dalam keterasingan. Kini aku sudah tak tahu cinta itu apa dan bagaimana. Aku pasrah untuk semuanya. Namun untukku bangkit hanya engkaulah yang dapat menggerakkannya.

Aku butuh kamu...

* * * * *

Bandar Lampung, 13 September 2011
Inu Anwardani

"Belum tentu sebuah tulisan itu merupakan hal yang terjadi pada penulisnya. Penulis itu merdeka..."

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...