Selirih Tasbih




Bulan itu terlihat sempurna. Begitu teduh rasanya berada di bawah naungan purnama bulan dan sapuan angin sepoi malam. Pohon bergoyang-goyang, laksana sebuah lambaian sang Dirigen yang menderu. Sejahteranya malam ini seakan mengalun hingga ke hati. Begitu menyentuh sanubari karunia Allah yang ada di depan mataku ini.


Angin nan lembut itu menyepuh tubuhku, seakan membisikkan selirih tasbih kebesaran-Nya. Mengalunkan getar-getar syahdu di dalam kalbu. Hati terasa seakan ingin mengiba, dan tangis mulai pecah kala mata menengadah ke atas, melihat purnama bulan yang begitu sempurna.

Bulan yang sempurna itu mengisyaratkan bahwa kini sudah berada di tengah ramadhan. Aku jadi sangat merindukan kebersamaan berpuasa di tengah-tengah keluargaku tercinta.  Tahun ini aku belum merasakan indahnya kebersamaan itu sejak puasa pertama. Ada hal yang membuatku tidak bisa pulang ke kampung. "Huft..." kuhela nafas. Beginilah jadi Mahasiswa, jauh dari orang tua, begitu rindu dengan ayah dan ibu.

Seketika ada yang mengalir di pelupuk mataku. Kuresapi semua kerinduan-kerinduanku. Terasa sesak di dalam dada.

Fantasi melayang mengingat masa kanak-kanak di kampung ketika ramadhan datang. Begitu senangnya hati ketika bersama kawan-kawan menjalankan bulan puasa dengan riang gembira. Belajar untuk bisa menahan makan, belajar berpuasa meski tak mudah untuk menjalaninya. Bertekad full puasa agar diberi hadiah oleh orangtua. Memukul-mukul kentongan dengan teman masa kecil membangunkan orang sahur. Menghidupkan petasan dan kembang api ketika orang-orang sedang tarawih. Makan dengan sembunyi-sembunyi di siang hari. Ah, dunia kecil yang begitu kurindu. Teringat pula ketika buka bersama di masjid kami memasukkan sisa makanan bukaan ke dalam kantong plastik ketika yang lain sedang sholat maghrib. Mengaji tadarus di surau dengan ustadz seusai sholat subuh. Menyanyikan lagu sholawat dan juga senandung islam bersama-sama. Ah, sungguh masa kecilku dulu begitu hidup makna puasa yang sesungguhnya.

Kemudian berpendar lagi di dalam memori tentang ramadhan bersama keluarga. Yang melangitkan ingatan masa-masa remaja yang penuh keislaman di dalam rumah. Membangkitkan romantisme dengan ayah ibu adik kakak saat puasa. Ayah yang membangunkan anak-anaknya ketika sahur. ibu yang membuatkan nasi goreng untuk anak-anaknya agar mau sahur. Perlahan air mataku menetes, terbayang wajah ayah dan ibu di pelupuk mata.

Jadi teringat betapa sulitnya ayah membangunkan anak-anaknya, termasuk aku, yang masih nyaman mendekap selimut di dalam kamar. Yang lebih memilih untuk tidak makan sahur karena masih ngantuk. Namun ayah tanpa kenal bosan mengatakan berulang-ulang,

"Nak, sahur itu keberkahan. Banyak manfaatnya daripada tidur. Puasa kita tidak sempurna jika tidak makan sahur. Ayo bangun, ibu sudah membuatkan nasi goreng."

Teringat pula aku pada Zaki, si bungsu yang masih belajar berpuasa. Ia masih begitu berat untuk puasa, hanya iming-iming hadiah dari ibu lah yang membuatnya bisa menahan laparnya. Zaki langsung tidur seusai sholat subuh, padahal ayah sudah mengatakan bahwa tidur setelah sholat subuh itu tidak baik. Aku sering membalikan Zaki kembang api agar ia tidak tidur lagi setelah subuh. Dan kembang api itu kami bakar di depan teras rumah. Kami sekeluarga riang menyaksikan hujan api yang ada di dalam genggaman.

Saat masa remajaku, biasanya seusai subuh kawan-kawan mengadakan marathon keliling kampung. Sambil menghidupkan petasan dan juga kembang api. Dan baru ketika jam enam kami baru kembali pulang ke rumah. sesampainya di rumah, kulihat ayah masih tadarusan di ruang tamu. Tiap usai sholat subuh ayah selalu mengaji, dan baru berhenti mengaji jika matahari pagi telah berdiri. Jika  Oh ayah, engkau memang pelitaku.

Teringat saat waktu berbuka bersama keluargaku. Ibu yang telah membuat hidangan menyajikan semua di atas meja. Kurma, kue-kue, kolak, es buah, gorengan, dan semuanya  menjadi sajian yang bersahabat di bulan puasa. Dan ketika bedug maghrib bersuara itulah saat-saat yang paling membahagiakan jiwa. Ya, hidangan-hidangan khas buka puasa itu pun kami nikmati dengan lahap dan semangat. Hidangan buatan ibu sungguh tiada duanya. Dan kebersamaan seperti ini terus hadir di bulan ramadhan di keluargaku. Kebersamaan-kebersamaan yang demikian kurindu.

Setengah sadar imajinasiku tenggelam di masa ramadhan di kampungku dulu itu. Kini aku berada di Bandar Lampung yang jauh dengan kampungku. Kutatap lagi rembulan purnama itu, kembali tetes-tetes air mata jatuh. Romantisme berpuasa di kampung begitu berbeda dengan tempat di mana kini aku berada. Sendiri. Menyepi. Saat sahur aku selalu sahur sendiri, tiada seorangpun yang menemani, tiada yang membangunkan untuk sahur, tiada juga yang membuatkan santapan untuk makan sahur. Pun ketika berbuka puasa aku sendiri. Sungguh kenikmatan khusyu' di dalam ramadhan tahun ini kurang bisa aku rasakan. Ternyata berpuasa jauh dari keluarga ialah satu hal yang cukup menyiksa. Kerinduan akan kebersamaan dengan orang tercinta kadang membuat waktu sahur dan berbuka menjadi waktu menangis, menjadi waktu-waktu muhasabah, karena rindu dengan mereka.

Belum lagi ibadah-ibadah bulan ramadhan yang belum sepenuhnya bisa kumanfaatkan. Apa yang bisa aku banggakan dari ramadhan tahun ini? Belum banyak yang aku lakukan untuk ramadhanku. Dan terlalu banyak yang belum kuamalkan untuk amaliahku. Di ramadhan yang ke lima belas ini tadarusku belum beranjak dari juz tiga belas. Berbeda dengan ayah, pastilah ia saat ini telah khatam satu Al-Qur'an. Sholat tahajudku hanya berbicara di lima malam pertama, selebihnya waktu tahajud itu diisi oleh dengkuranku di atas ranjang. Seusai sholat subuh pun kini aku lebih sering melanjutkan untuk tidur kembali. Dan ketika pagi ibadah Dhuha aku lewatkan. Infak dan sedekah masih sedikit untuk bisa disebut sebuah amal. Sungguh tiada yang bisa kubanggakan, tiada amal yang bisa kuandalkan hingga ramadhan ke lima belas ini. Menyesal rasanya, kenapa aku begini, ya Allah?

Sendiri menyepi
Tenggelam dalam renungan
Ada apa aku?
Seakan ku jauh dari ketenangan 1

Aku bodoh, dan aku terlena. Aku akui bahwa aku benar-benar lalai. Aku yang sebelum ramadhan bertekad akan mengkhatamkan Al-Qur'an minimal satu kali tapi nyatanya sampai saat ini belum lewat dari juz tiga belas. Aku yang sebelum ramadhan bertekad akan menjaga sholat malam, tapi mana buktinya? Aku yang ketika ramadhan datang berjanji akan memanfaatkan momen puasa sebaik-baiknya, tapi mana buktinya? Aku sungguh lemah dan lalai dengan janjiku sendiri, ya Allah... Keistiqomahanku meleleh layaknya lilin yang terbakar. Ketekadan untuk memberikan persembahan bahwa ramadhan ini adalah ramadhan terbaikku, malah luruh seiring hari-hari yang kulewatkan. Tak ada lagi yang bisa kukatakan. Aku luruh, aku menyesal, aku lemah. Dan aku mengaku, aku tidak bisa memanfaatkan ramadhan yang Kau beri padaku, ya Allah...

"Duhai Ramadhan, maafkanlah kami, engkau datang dengan sejuta pahala menjanjikan namun kami memberikan kekecewaan. Ya Allah, maafkanlah aku. Yang belum bisa merengkuh takwa di bumi ramadhan.  Berikanlah aku kesejukan ramadhan di dalam jiwa. Kuatkanlah hatiku agar terus dapat mengejar amalan hingga akhir ramadhan. Di sisa ramadhan ini, istiqomahkanlah aku ya Allah... Dan buatlah aku bisa berpuasa di tengah-tengah keluargaku tercinta. Ya Allah, berikanlah pada kami semua pridekat takwa. Amin, amin, amin... Allahuma amin..."

Aku basah air mata.

* * * * *

1: Sendiri Menyepi by Edcoustic

* * * * *

Merenung @ Pelataran Masjid Islamic Center Bandar Lampung
Sungguh tiada yang lebih indah dari 'Suara Hati' ketika ia menegur, menyadarkan, dan mengingatkan tentang sebuah fitrah kehidupan.

Pertengahan Ramadhan 1432 H
Inu Anwardani
http://adexinu.blogspot.com

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...