Futur, Pergilah


Sang ketenangan menggedor-gedor jiwa. Sudah sangat lama sukma ini merintih merindukan dekap sang rasa bernama kebahagiaan, ketenangan, dan keimanan. Sudah cukup jauh aku berlari dari keteduhan hidup yang membahagiakan. Aku resah. Tiada yang dapat kulakukan selain memikirkan apa yang harus aku lakukan. Aku heran, entah mengapa diri ini semakin jauh dari ketentraman. Apakah ini manifestasi dari jauhnya aku dari Tuhan?


Ya Allah... Bantu aku untuk bisa hadir dalam taman-taman cahaya-Mu. Untuk bisa senantiasa merasakan kembali air syurga kenikmatan dalam imanku. Untuk bisa mencicip indahnya kebersamaan dengan orang-orang yang luar biasa. Aku merasa sempit ya Allah, aku merasa sepi...

Telah demikian lama. Telah demikian lama aku hinggap pada bumi kekerdilan yang memasungku pada penjara kekhilafan, kesalahan, dan kealpaan. Aku tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Yang kurasa, aku sendiri, aku sepi. Tiada sepercik semangat yang membuatku bisa bangkit dan berdiri.

Aku tahu hanya pada Allah-lah harusnya ku kembali. Namun, aku tak tahu harus dari mana aku mengepakkan sayap dan kemana harus menuju tempat. Mungkin sayapku telah patah. Atau aku tak lagi memiliki sayap. Yang kupunya ialah sekeping hati yang telah sepi dan teramputasi oleh kesunyian yang tiada arti. Aku sepi.

Dimanakah cahaya kasih-Mu? Dimana kan kutemu kebahagiaan seperti yang pernah kurasa dahulu? Aku ingin berteriak setinggi langit, "Dimana engkau, duhai Ketenangan???"

Selaksa embun telah menantiku setiap pagi. Namun kuhiraukan dengan acuhku kepadanya. Matahari selalu menyambutku di fajar hari, namun kubiarkan saja ia benderang tanpa makna hingga ia tenggelam, hingga ia terbenam. Malam, telah menyapaku dengan laungan adzan. Serta sambutan bintang dan bulan tak pernah kutafakuri. Waktu yang kupunya terasa tiada makna, tiada artinya.

Kemana harus kucari Cahaya? Pesona-Nya seakan pudar di hatiku. Mungkin ada terselip dengki dalam nuraniku. Telaga di dalam jiwa yang harusnya bening dan jernih kini telah terkotori. Mana kebeningan hatiku? Mana kejernihan batinku? Mana keikhlasan perbuatanku? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menumpuk menggedor-gedor jiwa.

Aku sadar ternyata diri ini telah demikian terperosok dalam Futur. Hari demi hari terjalani dengan kehidupan yang perlahan luntur. Keimanan lamat laun pudar. Kecerdasan seketika tergantikan kemalasan. Aku ingin berteriak sekuat-kuatnya, "Wahai Nyawa, lebih baik kau keluar dari pada kau membuatku terpuruk dan terperosok begini!"

Mendesah. Ada embun di pelupuk mata. Aku tak ingin membohongi di depan banyak orang dengan senyumku, dengan ceriaku untuk mereka sedangkan aku tengah terseok. Aku ingin menjalani hidupku sendiri bukan menjalani hidup orang lain.

Meski terseok, aku akan mencari lagi cahaya dan hidayah yang mampu membuatku bangkit dan melesat. Untuk hidupku yang kembali berwarna. Untuk duniaku yang bahagia. Untuk itu, pergilah kau, Futur!

* * *

Bandar Lampung, 10 Desember 2011
Merenung dalam penjara hati...

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...