Lingkar Penaku...


Pasca acara Milad FLP Lampung, Mba Lilih Muflihah selaku Ketua FLP Wilayah Lampung langsung menugasi kami untuk membuat sepotong tulisan curhat terkait acara milad kemarin, harapan untuk FLP, impian, dan apa yang diinginkan dari FLP. Berikut tulisan yang saya buat...

Buku itu seakan mengadahkan tangan seraya berdoa. Layaknya seseorang yang tengah bersimpuh di hadapan Tuhannya. Ada yang menarik batinku untuk meraihnya. Seketika, buku itu telah berada dalam genggaman. Lembar-lembarnya terbuka. Ada gemuruh dalam jiwa. Kucium sudut buku yang tengah bersimpuh itu. Kuhirup bau cinta yang tersembunyi di balik tinta yang tercetak. 

Perlahan dengan kudus kudengar, ia membisikkan doa. Dan panjat-panjat doa yang keluar ternyata ialah untai-untai kata yang tersusun di dalam buku tersebut. Doa tersebut melantunkan setiap dan segenap lini sisi kehidupan. Menafsirkan segala corak semesta kehidupan dalam segi bahasa. Dalam bentuk tulisan. Dan terkumpul menjadi satu yang disebut dengan sebuah Buku. 

Ah, betapa tertariknya aku setiap kali menatap sebuah buku. Bagiku, setiap kali melihat buku seakan buku tersebut memanggil-manggil. Ia seperti hidup. Saat ia menengadah, seolah-olah ia layaknya tangan yang menengadah meminta aku untuk mengambilnya, membacanya, menekurinya, dan meminta aku untuk tenggelam dalam lautan kata-katanya. 

Berbicara tentang kata-kata, aku mengartikannya sebagai sebuah gerbang tanpa batas yang mampu mengantarkan pada berjuta kehidupan, keadaan, dan kemungkinan. Ia mampu membuat hati terhempas. Ia bisa menciptakan deru gebu yang menyuarakan jerit sang melata. Ia juga dapat menggambarkan kesenangan, melukiskan kebahagiaan, serta segala wujud cinta dapat ia persembahkan. Kata, dapat menyuarakan berbagai kesemestaan rasa—suka dan duka—tertuang dalam kalimat dan paragraf yang bereuforia kesempurnaan.

Kata-kata menciptakan kekuatan yang membuat aku mengaguminya. Aku mengagumi tulisan. Aku mengagumi kata-kata yang terangkai. Setiap barisan alfabet yang tersusun dengan apik selalu menghasilkan harmonisasi keindahan kata. Dan aku adalah sang penikmat kata-kata itu. 

Namun, aku tidak bisa selamanya hanya menjadi penikmat keindahan tulisan. Aku juga ingin menjadi perangkai paragraf. Kupikir tentu akan sangat mengasyikkan jika dapat menciptakan menggoreskan kata-kata yang mampu mengubah dunia, yang mampu mengubah peradaban. Berangkat dari sebuah pena, aku ingin menjadi seorang penulis. Berawal dari sebuah senjata tajam bernama pulpen, aku ingin menjadi seorang cerpenis. Dan dari sebuah laptop semoga kelak kan tercipta karya novel nan spektakuler. Semoga.
Dalam perjalalanan langkah, kutemukan sebuah perkumpulan bagi pecinta perangkai kata. Sebuah tempat yang orang-orangnya adalah pengagum sastra. Sebuah tempat dimana harusnya aku menemukan diriku. Singkat kisah aku bergabung bersama mereka. Awal-awal bergabung aku merasa sangat bahagia. Karena aku merasa kehidupan baruku dalam dunia lingkar pena akan segera menjadi nyata. Gelutku bersama pena dan tulisan akan semakin banyak. Mimpi-mimpi terasa semakin dekat untuk menjadi Penulis. Ya, penulis yang memberdayakan dan berkarakter. Subhanallah... jika diingat, ketika itu mataku selalu berbinar mengingat impianku akan menjadi penulis besar kelak. 

Bagiku, menjadi seorang penulis adalah pekerjaan mulia. Indahnya ketika jemari ini bisa menuangkan butir-butir kebaikan dalam goresan tinta. Indahnya ketika ada yang membaca dan mengapresiasinya. Dan indahnya ketika dapat terus memberikan manfaat kepada orang lain lewat kata-kata. Penulis itu mulia. Karena keikhlasannya dalam menulis menggambarkan riak kemilau mutiara hatinya. Penulis itu abadi. Meski secara biologis ia telah mati, namun sesungguhnya ia tetap terus hidup. Tulisannya selamanya tetap bisa dibaca, dikenang, dan hidup abadi. 

Perlahan nan pasti, perkumpulan pena yang kuikuti itu kian mengecil. Manusianya perlahan hilang layaknya seleksi alam. Mungkin penggenggam pena yang telah hilang itu sudah lelah menjadikan penanya sebagai senjata. Atau mungkin penggenggam pena itu hilang karena lingkar pena yang ada ketika itu membosankan, tidak mengasyikkan, dan kurangnya rasa keakraban dan mengenal. Namun aku tetap bertahan. Aku tetap setia menjadi penggenggam pena.

Satu tahun berlalu. Lingkar pena sudah berusia sebelas tahun. Gebyar disiapkan. Penggawa-penggawa pena yang jumlahnya tak sampai sehalaman kata-kata, merumuskan langkah untuk jejak di hari esok. Tercipta sebuah mahacipta bernama “Jejak untuk Sebuah Esok”. Yang merefleksi kembali kebangkitan penggenggam pena dari ketertiduran. Yang menggagas kembali kerja besar untuk Lampung nan karya. Yang menggebrak hari esok dengan sebuah jejak.

11 desember. Hari itu datang juga... 

* * *

Lelah letih seketika tergantikan. Semuanya telah terbayar dengan kepuasan. Persiapan yang kurang matang seketika datang keajaiban yang menjadikan gebyar menjadi matang sempurna. Gebyar telah usai. Lingkar pena duduk dalam lingkaran. Aku tersenyum. Semua tersenyum. Baru kali ini kurasakan kebahagiaan setelah peluh dan kesah terkeluarkan untuk kerja keras selama ini. Baru kali ini kurasa, merasakan puasnya bekerjasama dengan orang-orang yang luar biasa yang mampu menghasilkan kerja besar. Tiada lagi yang dapat terkatakan, aku sangat bahagia ketika itu. Aku merasakan persaudaraan yang demikian erat. 

Jejak untuk sebuah esok mengajarkanku bahwa hidup itu berproses. Butuh rasa persaudaraan dan komitmen untuk membuat lingkar pena jadi mengaum dan membumi. Lingkar pena butuh persaudaraan yang seperti ini... 

Kulihat senyum kalian
Kulihat tawa kalian
Akankah kita bisa selalu seperti ini?
Ataukah kita akan tumpul kembali?
Apakah kita bisa terang lebih tinggi?
Ataukah gelap ditelan temaram bumi? 

* * *

Inu Anwardani
Bandar Lampung, 15 Desember 2011 Pukul 23:25
Teruntuk FLP-ku, selamat ulang tahun! Aku mencintaimu.

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...