Semangatmu, itu Ceriaku... ^_^



Aku mulai menghitung serpihan embun
Yang sejak kemarin menggugur di taman hati
Sempat sebelumnya hanyalah kabut
Namun kehadiranmu sibakkan fajar
Mengubah kabut menjadi embun
Mengubah gelap menjadi gerlap
Mengubah redup menjadi terik
Mengubah kelabu menjadi pelangi

Ketika Hati Bersimpuh


Oleh: Inu Anwardani


Pada hati yang tertikam
Ada derai yang tertahan
Ada duka yang menghujam
Butiran tasbih memintal Asma
Hadir deru gebu di sana
Merintih pada selaksa cinta
Berwujud amanah yang himpit dada...

Satu demi satu, kukulum hijaiyah-hijaiyah yang terangkai pada mushaf. Kuucap lantun-lantun Kebenaran-Nya pada Kitab Suci. Kucium Quran-ku dengan syahdu. Hening. Khusyuk. Lirih. Pada Ayat-ayat Cinta-Nya, tertabur hatiku menyemai di ladang takwa, berharap kan tumbuh bibit-bibit keimanan segera kutuai.

Ibu, Guru, dan Aku


Oleh: Inu Anwardani

Pagi ini aku ingin menulis sesuatu. Secarik yang sengaja kutulis teruntuk seseorang yang telah membesarkanku dengan penuh arti. Dengan pengorbanan yang sungguh tiada tepi. Seseorang, yang di dalam hatinya tersemat kebahagiaan besar jika buah hatinya bisa meraih mimpinya. Seseorang yang dengan wajah tegar mampu menopang banyak beban meski dalam jerit kehidupan. Seseorang yang senantiasa menyuguhkan kasih sayang yang sempurna, kasih sayang yang dengan lantang tak terbantahkan. Ya, sesosok itu adalah ibuku.

Semesta Cinta


Aku percaya pada datangnya cinta ketika tatapan pertama. Aku sering merasakannya. Betapa mudahnya aku mencintai seseorang hanya dengan melihat, memperhatikan, dan berpapasan. Aku tak tahu, inikah bentuk lain dari cinta ataukah hanya kekaguman biasa. Tapi, bagiku bisa menikmati sejenak cinta yang bersemi meski dalam semenit itu adalah anugerah.

Matemacinta

Siapa yang mengetahui?
Sesungguhnya ada yang tersimpan di sini
Layaknya himpunan pada semesta
Nama itu perlahan mulai kujaga

Berawal dari butir senyum
Kemudian menderet pada rasio kagum
Tiada terdefinisikan
Tutur rindu, hatiku terkombinasikan

Membuncah harap pada satu nama
Bagai volume yang memenuhi ruang benda
Menyulam titik-titik kasih sayang
Sesak cintaku menuju ketakhinggaan

Ingin mengungkapkan rasanya enggan
Tapi nurani kembali bertutur ingkaran
Pada apa persamaan ini kulabuhkan?
Hingga dapat kutemukan penyelesaian

Secara linear aku mencintainya
Namun secara teorema aku telah melanggar-Nya
Sejujurnya aku benci pada aksioma-aksioma
Yang mengharuskanku membuktikan teorema
Tapi aku juga manusia
Yang punya invers kepada insan lainnya

Aku ingin dekat tapi tidak menyentuhnya
Seumpama garis asimtot yang melukis kurva
Aku ingin mengenal dan menyapa
Seperti irisan di dalam himpunannya
Aku ingin berbatas tapi bisa menghargainya
Layaknya limit yang terbatas namun ada nilainya
Aku hanya ingin mengaguminya...

Izinkanlah aku membuka
Jaring-jaring cinta yang mengekang
Pada rasa yang kusembunyikan
Agar cintaku dapat bersembahyang

***

Way Kanan, 11 Maret 2012
Inu Anwardani

Membaca Membahagiakan


Sepertihalnya menulis, membaca juga adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja dipisahkan dari kehidupan. Menulis tanpa membaca merupakan hal fatal karena kita tidak bisa belajar melalui karya-karya banyak orang. Membaca mungkin bisa dilakukan oleh semua orang. Ya, setiap orang bisa menjadi pembaca.

Membaca adalah bentuk apresiasi dari tulisan. Jika tulisan adalah kehidupan yang tertuang dalam bahasa kata-kata, maka membaca adalah melihat kehidupan orang lain bersama suasana emosi yang diciptakan penulisnya. Kerap kali kita membaca sebuah tulisan dan kita tenggelam di dalamnya. Terkadang kita mengambil pelajaran dari tulisan. Ya, banyak keajaiban yang hadir dari suatu kegiatan yang bernama “membaca”.

Menulis Membahagiakan


Bagi saya, menulis adalah menuangkan tinta kehidupan ke dalam kanvas bahasa yang terangkum dalam kata-kata. Oleh karena itu saya mencintai menulis dan membaca. Ketika saya berkata bahwa tulisan adalah hal terpenting bagi hidup saya, maka itu berarti bahwa saya tidak bisa dipisahkan dengan menulis karena tinta kehidupan saya setiap hari harus selalu tertuang.

Menulis itu membahagiakan. Ya, dengan menulis saya bisa mencurahkan segenap apa yang mengganjal sanubari saya. Dengan menulis saya belajar bagaimana menyelesaikan masalah saya. Dengan menulis saya bisa tenggelam dalam lautan emosi yang tanpa sadar tercipta dengan sendirinya. Dengan menulis saya bisa menangis, tertawa, dan juga merenung. Begitu dahsyat yang saya rasakan ketika saya sedang menulis. Seakan saya telah melewati fase kehidupan yang panjang, dan kembali pada garis start begitu tulisan saya terselesaikan. Dan kejadian itu adalah hal yang ajaib bagi saya. Dan itu juga adalah hal yang sangat membahagiakan.


Widget Untuk Blogger FLP

Assalamualaikum, Sahabat? Apa kabar hari ini? Masih antusias menulis, kan? Oke, kali ini saya akan membagikan kepada teman-teman sebuah widget FLP untuk menghias Blog teman-teman. Widget ini saya buat sendiri. Langsung saja, tinggal pilih widgetnya...

Berikut cara memasangnya di Blog: Dasbor > Elemen Halaman > Tambah Elemen > HTML/ JavaScript > Paste-kan script di bawah ini (tinggal pilih widget mana sesuai selera) > Simpan.





Desain Pembatas Buku FLP



Hingga Paragraf Terakhir

Oleh: Inu Anwardani

Kumasuki kamar yang sudah lama tak kukunjungi itu. Kuhidupkan lampu. Kubuka jendela kamarnya. Terlihat senja sedang bersenandung. Cahaya matahari tengah membiaskan lembayung ke seluruh penjuru langit. Teduh. Sang bayu yang hadir setelah hujan turun membuat dunia seakan berwarna kuning keemasan. Cahaya kuning keemasan itu menyepuh rumah-rumah, pepohonan, jalanan, serta dinding-dinding gedung tinggi perkotaan. Sungguh suasana yang menakjubkan. Di balik jendela ini, kusaksikan Kebesaran Allah yang tergambar dalam ayat kauniah-Nya ketika senja. Maha Suci Engkau...

Lingkar Penaku...


Pasca acara Milad FLP Lampung, Mba Lilih Muflihah selaku Ketua FLP Wilayah Lampung langsung menugasi kami untuk membuat sepotong tulisan curhat terkait acara milad kemarin, harapan untuk FLP, impian, dan apa yang diinginkan dari FLP. Berikut tulisan yang saya buat...

Buku itu seakan mengadahkan tangan seraya berdoa. Layaknya seseorang yang tengah bersimpuh di hadapan Tuhannya. Ada yang menarik batinku untuk meraihnya. Seketika, buku itu telah berada dalam genggaman. Lembar-lembarnya terbuka. Ada gemuruh dalam jiwa. Kucium sudut buku yang tengah bersimpuh itu. Kuhirup bau cinta yang tersembunyi di balik tinta yang tercetak. 

Foto Agenda Milad FLP Wilayah Lampung

11 Desember 2011 lalu FLP Wilayah Lampung merayakan ulang tahunnya yang ke-11. Dengan mengusung tema "Jejak untuk Sebuah Esok" FLP mengundang Mas Ali Muakhir sebagai pengisi puncak acara, yakni pelatihan menulis cerita anak. Selain itu FLP Wilayah Lampung juga mengadakan perlombaan lain, diantaranya lomba menulis puisi dan cerpen, serta lomba membaca puisi. Berikut beberapa foto agenda acara Milad FLP Wilayah lampung yang ke-11.

Selayang Pandang FLP Lampung


Apa sih FLP itu?

FLP singkatan dari Forum Lingkar Pena, sebuah organisasi pengkaderan penulis. FLP merpukana wadah bagi para penulis, yang ingin menjadi penulis, dan berminat pada dunia kepenulisan. Pengkaderan FLP menekankan pada pembinaan keIslaman, kepenulisan, dan keorganisasian.

Gerbang Kebahagiaanku


Semuanya berawal dari keriuhanmu yang memecah pagi. Ketika itu, engkau baru saja dari terminal usai membeli sebuah koran. Dengan wajah yang berias suka cita kau bergegas menunjukkannya padaku.

"Ibuuuu..., liat bu. Alhamdulillah Nia keterima SNMPTN. Nia jadi kuliah tahun ini, Bu. Ini dia nama Nia..." ucapmu sambil menunjuk namamu di koran itu dengan antusias.

Nge-blog + Nulis = Blogger Sejati


By: Inu Anwardani

Sebuah Motivasi untuk Blogger Indonesia…

Percaya nggak percaya setiap kita adalah penulis. Itulah yang dikatakan Bobby de Porter di bukunya ‘Quantum Learning’. Menulis adalah suatu hal yang sangat mudah. Semua orang tahu menulis. Sejak SD kita sudah belajar untuk menulis. Namun nih, apa yang pengen kita tulis nggak selalu semudah tangan untuk menggoreskan tinta pena, atau semudah jemari kita menekan tuts-tuts keyboard.

Nulis itu pada dasarnya sama aja dengan bicara. Semua orang pun bisa kalo Cuma bicara. Anak kecil, remaja, kakek-kakek, om-om, dan ilmuan pun pinter bicara. Bicara itu nggak nuntut status sosial kita di masyarakat. Entah dia pejabat, entah dia pemulung, dan entah dia orang gila sekalipun, hehe... Nahh, gitu juga dengan menulis. Menulis juga adalah pekerjaan yang nggak nuntut ‘Siapa Kita’. Seorang yang Cuma lulusan SMA mungkin aja tulisannya bisa lebih baik bahkan mungkin jauh lebih baik ketimbang orang yang lulusan S 1. So, siapapun kita, apapun kita, Kita Adalah Penulis!

Jadikan Laptopmu Sebagai Studio Karaoke


Sekarang, hanya dengan menginstal software ini kalian sudah bisa menikmati asyiknya karaoke melalui Laptop. Ada banyak lagu dari berbagai genre musik yang tersedia; POP, dangdut, Religi, Minus one Nasyid, Mancanegara, Anak-anak, Nasional, dll. Ada lebih dari 1.000 koleksi lagu karaoke yang bisa kamu mainkan. Dan tentunya ada liriknya, jadi nggak perlu bingung kalau nggak hafal lagunya.

Evilo...


Lemah dan jenuh seakan menjadi simbol dari hidupku saat ini. Betapa tidak?! Semua yang aku impikan demikian rumit untuk kudapatkan. Aku mengharapkan kebahagiaan, namun duka yang kutorehkan. Aku menjemput keceriaan, namun pilu yang kugapai. Apa yang salah dengan diriku?

Aku Hanya Ingin Diampuni

Membutir embun di ufuk mata
Aku tertumpuk gelimpangan dosa
Tempat mana, Jagad Raya?
Yang menerima hamba penuh nista?

Aku mengharap Surga
tapi bermain dalam Neraka
Aku bergembira di dalamnya
Seakan Neraka bagiku Surga

Menyungkur aku untuk pertama kalinya
Atas sajadah yang mengiblatkan-Nya

Rukuk demi rukuk
Sujud demi sujud
Aku hancur dalam takbir

Aku ingin seribu shalat
Aku mau sejuta rakaat
Berkali-kali aku bersujud
Bangkit takbir dan tersungkur kembali

Biar gugur semua dosaku
Biar luntur semua nistaku
Biar lebur semua maksiatku
Biar saja fajar menenggelamkanku

Aku ingin seribu shalat
Aku mau sejuta rakaat
Aku hanya ingin diampuni
Aku hanya ingin diampuni

Kau Tahu, Dinda?


Aku tahu sayapku kini telah jauh untuk meraihmu. Selimut jarak memisahkan rentang kita. Tapi aku tetap berusaha menjadi sosok terang dalam hidupmu. Supaya hidupmu tidak sendiri, agar binar senyummu tak lagi sepi. Aku takkan kenal jera menjadi penghiburmu, memulaskan kuasku pada kanvasmu yang hampa sepi. Takkan aku mengenal kesah hingga gugur semua kesedihanmu, hingga luntur segala ratapanmu yang di kelam sunyi.

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...