Kau Tahu, Dinda?


Aku tahu sayapku kini telah jauh untuk meraihmu. Selimut jarak memisahkan rentang kita. Tapi aku tetap berusaha menjadi sosok terang dalam hidupmu. Supaya hidupmu tidak sendiri, agar binar senyummu tak lagi sepi. Aku takkan kenal jera menjadi penghiburmu, memulaskan kuasku pada kanvasmu yang hampa sepi. Takkan aku mengenal kesah hingga gugur semua kesedihanmu, hingga luntur segala ratapanmu yang di kelam sunyi.


Ketika mentari telah mengufuk di tepi barat,dan rinai senja menyenandungkanmu, kau terbuai dalam masa lalu dan terbayang cita-cita dan impianmu di masa sekolah. Ingatkah engkau ketika kita duduk di bawah pohon kemuning di samping kelas? Ya, ketika itu aku bertanya tentang cita-citamu. Antusiasmu menggetarkan sendiku karena begitu kuatnya mimpimu ingin menjadi seorang Guru. Dalam renyah canda, tanpa permisi kau torehkan bercak kekaguman di dalam hati. Lamat laun setiap dentang waktuku habis dengan berlomba-lomba denganmu. Percepatan dalam prestasi melangkahkan kita pada ombak mimpi yang tiada bertepi. Ceria kita meremukredamkan kebodohan di masa putih abu-abu.

Tapi setelah putih abu-abu berlalu, semua berubah. Impimu terbungkam. Layaknya kerdip lilin yang mati ditelan kelam. Kau merintih, namun tak bisa berbuat apa-apa. Kau ingin terbang ke jagad cita namun kau belum diizinkan untuk mengepak sayap. Kau ingin menyambut mimpi namun segera sadar bahwa tanganmu jauh dari yang kau kejar. Aku mengerti tentang kesedihanmu. Karena bukan sejenak kesepian yang kau rasa, melainkan setahun. Ya, setahun ke depan kau kan jauh dari menuntut ilmu.

Tumpahkanlah, Dinda. Tumpahkanlah semua buncah kekesahanmu yang mengganjal sanubarimu. Kucurkanlah segala euforia pilumu kepadaku. Ceritakanlah semuanya padaku! Hingga kau lelah bercerita. Hingga tiada lagi beban yang menghimpit dada. Hingga tangisanmu habis di muara berlinang. Dan ketika itu kukatakan kepadamu,

Dinda, janganlah engkau bersedih karena kuliahmu tertunda. Karena satu tahun lagi kau pasti akan menjadi Mahasiswa dan akan mengejarku disini. Mereka pasti terkalahkan, karena aku tahu kecerdasanmu akan melewati ketertinggalanmu selama satu tahun ini. Janganlah engkau mengeluh atas hidupmu yang kau lalui kosong layaknya menganggur, karena harusnya kau tahu itu artinya kau harus mengisinya dengan hal-hal yang baik dan berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk hidupmu.

Kau pernah bercerita bahwa menjalani hidup tanpa ada yang dilakukan adalah derita terhebat yang pernah kau rasakan. Kau murung dan kau mengurung dirimu dalam sudut kamar sepimu. Setiap hari kau habiskan waktu dengan ratapanmu yang melulu membahasakan kegagalanmu melanjutkan S1. Berhari-hari, berlarut-larut, kau bilang kau tidak bisa untuk tidak memikirkan masalah itu. Dan selalu saja perasaan itu menang, menjajah dan menjejal hatimu untuk tidak bisa sedikit tenang. Selalu saja bulir bening menganak di sungai linangan. Kesedihanmu seakan himpitan terberat yang membuatmu tertindih, membuatmu terpuruk hingga menyerpih.

Mungkin hanya di dalam mimpi yang membuatmu bisa berdamai dengan Dunia. Karena di sana, katamu, kau dapat merasakan kebahagiaan bersama negeri angan-angan meski itu hanya bohongan. Sedang realita yang nyata menantimu ketika dirimu terjaga.

Kau bercerita, katamu, setiap kali kau terjaga kau tak pernah membawa nyawa untuk menyambut pagi. Nyawamu kau tinggal saat bermimpi di negeri angan. Tidak ada semangat sama sekali. Tidak ada gairah sama sekali. Dan aku hanya bisa membisikkanmu melalui kata-kata. Namun semua itu tak juga ampuh untuk sedikit saja menyita kesedihanmu dan sebentar menggantinya dengan senyum kebahagiaanmu. Apa lagi yang harus kulakukan, Dinda?

Kau tahu, Dinda? Setiap malam aku berfikir bagaimana caranya agar engkau tidak lagi mengeluh. Kucoba menorehkan penaku, mencoba mengukir kata yang indah nan menyemangati di atas kertas sebelum kubisikkan kepadamu. Kadang juga aku berdiri di depan cermin, adakah yang salah dengan diriku, hingga sampai detik ini belum juga mampu membuatmu berdiri dari keterpasungan. Dalam tengadah selalu kuselipkan doa, agar engkau diberikan cahaya, cahaya yang menyadarkanmu bahwa hidup itu mesti berproses. Dan setiap proses itu butuh pengorbanan, bukan berdiam dalam lamunan dan ratapan.

Tapi kau masih bercerita tentang kesedihan. Ingin rasanya aku marah. Ingin aku memakimu karena tak kau indahkan kata-kataku kemarin, seakan kau kubur ucapanku dan lantas kembali datang untuk mengeluhkan hal yang sama. Aku sejujurnya bosan, Dinda. Tapi amarah dan kebosananku itu sialnya tak pernah kutampakkan. Mana bisa aku memarahi sosok putri yang dengannya hatiku telah tertambat. Mana bisa aku memaki sosok dewi yang karenanya aku bisa melihat keindahan. Dan mana bisa aku bosan dan berhenti untuk menyemangati, sedang ceriamulah yang membuatku jadi berarti.

Dinda, lupakah engkau bahwa mimpimu ialah menjadi seorang guru? Seharusnya, jika mimpimu itu benar-benar masih tertanam maka tidak semestinya kau kurung hidupmu seperti sekarang ini. Karena seorang Guru yang baik takkan membiarkan orang lain dan dirinya terpuruk. Seorang Guru takkan pernah berhenti untuk mengajari dan memberi, bukan berkutat dalam kesendirian. Sosok seorang Guru sejati ialah sosok yang menyongsong pagi, menatap matahari dengan berani, menabur kebaikan tiada henti, bukan sosok yang membungkam dirinya sendiri. Kalau mimpimu ingin menjadi Guru itu benar-benar nyata, tunjukkan padaku, Dinda! Tunjukan bahwa kau bisa bersinar dan benderang meski tanpa ada yang menerangimu. Tunjukkan bahwa tanpa kuliahpun kau bisa menuntut ilmu dan menorehkan karyamu. Karena setiap tempat adalah universitas, dan setiap orang adalah dosen, jika engkau menyadarinya.

Dinda, tetaplah memeluk erat cita-citamu. Karena mutiara kemuliaan kan segera kau sentuh. Maka berbahagialah, Dinda! Usah kau merobek mimpi, karena garis cita-cita tinggal kau lewati. Bersabarlah, Dinda...

#Pemanasan Bikin Novel, Hehehe... ^_^

* * * * *

Way Kanan, 4 Januari 2012
Inu Anwardani

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...