Evilo...


Lemah dan jenuh seakan menjadi simbol dari hidupku saat ini. Betapa tidak?! Semua yang aku impikan demikian rumit untuk kudapatkan. Aku mengharapkan kebahagiaan, namun duka yang kutorehkan. Aku menjemput keceriaan, namun pilu yang kugapai. Apa yang salah dengan diriku?

Lemah. Aku merasa begitu lemah ketika aku telah berusaha besar namun tak sedikitpun mampu menyita perhatian dirinya untukku. Aku mencintai dirinya, wahai Tuhan! Luruhkanlah hatinya! Tidakkah ia tahu bahwa aku sedang mencintainya?

Jenuh. Rasanya hari-hariku semakin dipenuhi dengan aroma kejenuhan. Semua usaha yang aku lakukan, tak berbuah pertanda terang. Malah berbuah kepahitan yang membuatku enggan beranjak, enggan untuk terus berjuang meraih sayap cintanya.

Aku telah menjemputnya dengan persembahan cintaku untuk dirinya. Kuucapkan sapaan yang lembut padanya, agar ia tahu bahwa aku berbeda dengan orang-orang yang memanggilnya bisaa saja, agar ia tahu aku mengaguminya. Kuberikan pengorbanan padanya sebisa yang aku lakukan. Senyumku tak pernah lekang terperikan untuk dirinya meski ia kadang acuh dengan keberadaanku.

Semua daya rasanya sudah habis tertunaikan untuk membuka celah hatinya. Namun ya Tuhan, rekah-rekah itu tak kunjung terbuka. Hatinya masih tertutup untuk kumasuki. Namaku masih terasa asing di hatinya. Retak hatiku setelah semua yang kuhamburkan tak berbuah apapun. Begitu acuhnyakah dirinya atas persembahanku?

Huft… berkali-kali kuhela nafas, mengambil energi yang mungkin hanya tinggal beberapa hari dapat kupertahankan tanpa pertanda cinta yang kunjung menjelma. Aku jadi bosan bercumbu dengan harapan. Aku pesimis untuk terus dapat mencintainya. Kurasa mungkin ini sudah saatnya kunaiki tangga cinta yang lain supaya kesunyian ini berhenti mendera. Tapi aku tak bisa! Mana bisa aku menghilangkan wajah cerah yang menjadi pelangi di hatiku. Aku tak bisa mengenyahkan senyum ayunya yang tumbuh dalam tiap alunan jiwaku. Kehadirannya terus tumbuh subur dalam relungku. Dan tak bisa kuleraikan semua keyakinanku bahwa dirinyalah pengisi hatiku.

Aku hanya bisa berus berharap.
Aku akan menanti. Disini.
Hingga waktuku kan habis ditelan hari.
Aku akan bertahan.
Aku kan terus mengagumi.
Hingga Tuhan buka hatimu.
Hingga terjatuh hatimu, pada diriku…

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...