Semesta Cinta


Aku percaya pada datangnya cinta ketika tatapan pertama. Aku sering merasakannya. Betapa mudahnya aku mencintai seseorang hanya dengan melihat, memperhatikan, dan berpapasan. Aku tak tahu, inikah bentuk lain dari cinta ataukah hanya kekaguman biasa. Tapi, bagiku bisa menikmati sejenak cinta yang bersemi meski dalam semenit itu adalah anugerah.


Aku bisa jatuh cinta pada saat menatap seseorang untuk pertama kalinya. Terlintas kegum, dan kemudian berdesir seluruh sukmaku. Aku bisa jatuh cinta manakala sebuah senyuman terlontarkan dengan ikhlasnya. Dalam hitungan detik aku langsung mengaguminya. Sering aku terjatuh pada hati seseorang yang memiliki sifat ramah. Yang kelembutannya menjadi sihir hingga aku takluk dan terpikat di kakinya. Sering aku tersesat di taman hati seseorang yang mengajarkanku pelajaran yang belum kumengerti. Ia yang mengubah rasa ingin tahuku menjadi pengetahuan tentang ilmu, dan dibalik semua itu terselip rindu. Dan sering pula aku terjatuh bersama rintik hujan, setelah ia menyambarku dengan petir dan jatuhlah guguran cinta.

Begitu mudahnya hati ini terenggut oleh sesuatu yang dinamakan cinta. Yang perlahan-lahan terajut menjadi untaian simpul yang kokoh. Berawal dari pandangan pertama, kemudian tersembunyi rasa mengagumi, membangun imperium kasih sayang, hingga akhirnya dua sayap cinta mengepak bersama-sama.

Cinta selalu menghadiahkan kebahagiaan. Seumpama bentangan langit biru, terasa luas hati ini saat kehadirannya bertandang di dalam kalbu. Ia mengekarkan kaki untuk melangkah, melewati udara pagi yang dingin demi meraih impian dengan semangat membuncah, merebut harapan yang tinggi bersama-sama, hingga berbulat semangat untuk satu tekad: menuntut ilmu dan meraih cita-cita yang tinggi. Oh indahnya...

Betapa mudahnya hatiku terpikat pada sosok anggun bernama Hawa. Sepertihalnya Adam, aku adalah pencari separuh kepingan hati yang lain yang tak kumiliki. Yang kepingan itu hanya dimiliki oleh sesosok perempuan nun di sana. Dia yang memakai siger cinta dengan membawa sekeping hatinya untuk disatukan dengan keping cintaku. Membersamai seiring ayunan langkah kaki, mewarnai dunia di atas takhta suci yang menjadi separuh tegaknya dien agama ini. Ooohh... siapakah engkau, Bidadariku?

Cinta yang bersemi. Cinta yang lahir tanpa dierami. Cinta yang bermekaran tanpa disiram. Cinta yang hadir tanpa mengenal. Cinta yang masuk tanpa mengetuk. Cinta yang mengalir tanpa air. Cinta yang menyatu tanpa bertemu. Ah, di dalam hidupku cinta selalu meranum tanpa permisi.

Aku percaya, bahwa ada yang tersembunyi di balik rimbunnya semesta. Di balik tanda-tanda-Nya saat pagi menyingsing hingga senja dan maghrib tiba. Ada rahasia yang tersembunyi di antara kerlip megampita dunia yang selalu merasa dahaga. Ada keajaiban yang terselip di dalam sili berganti Kebesaran-Nya. Kehidupan tak ubahnya seperti mozaik-mozaik berserakan yang saling mencari pasangan menuju keseimbangan. Dan semesta akan terus berputar, hingga ia temui suatu pasangan yang paling sejati. Yang semua itu termanifestasi menjadi sesuatu yang dinamakan takdir.

Cinta pun begitu. Ia akan terus mencari keping-keping cinta lain dengan sendirinya, menuju keseimbangan, menuju kesesuaian yang paling hakiki. Hingga cinta temui muara, hingga cinta kan bertasbih bersama semesta. Hingga cinta berujung pada Surga.

Cinta, aku tak pernah mengejarmu karena ku percaya engkau kan datang dengan sendirinya. Siapapun dirimu, aku mencintaimu...

1 komentar nih!:

hayatun munawaroh mengatakan...

:a:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...