Ibu, Guru, dan Aku


Oleh: Inu Anwardani

Pagi ini aku ingin menulis sesuatu. Secarik yang sengaja kutulis teruntuk seseorang yang telah membesarkanku dengan penuh arti. Dengan pengorbanan yang sungguh tiada tepi. Seseorang, yang di dalam hatinya tersemat kebahagiaan besar jika buah hatinya bisa meraih mimpinya. Seseorang yang dengan wajah tegar mampu menopang banyak beban meski dalam jerit kehidupan. Seseorang yang senantiasa menyuguhkan kasih sayang yang sempurna, kasih sayang yang dengan lantang tak terbantahkan. Ya, sesosok itu adalah ibuku.


Satu hari, aku telah berpakaian nan rapi berseragamkan merah putih. Dia lah yang pertama kali mengantarku ke sekolah, dan menuntunku dengan genggaman hangat seakan mengisyaratkan bahwa hanya dengan bersekolah lah kehidupan dapat berubah. Bahwa hanya dengan pendidikan aku bisa meraih semua cita-cita dan mimpiku. Di sekolah, aku belajar bagaimana mengeja, bagaimana cara membaca, dan bagaimana menghitung angka. Masa kanak-kanakku yang belum tahu apa-apa, menjadi jembatan rasa ingin tahu dan rasa haus akan ilmu.

Ibu lah yang mengajariku bagaimana cara mengikat tali sepatu. Ibu pula yang setiap hari membenahi seragamku ketika aku memakainya dengan kurang rapi. Ibu membenahi dasi, mengencangkan ikat pinggang, dan memakaikan topi. Hingga ia pakaikan tas di punggungku dan menyuruhku mencium tangannya sebelum berangkat ke sekolah. Ibu lah yang mengajariku arti penting dari seorang guru, betapa mulianya seorang guru, dan ia berkata akan jadi apa aku jika tanpa seorang guru.

Ibuku pernah berkata, “Ilmu itu tidak datang dengan sendirinya. Tetapi ia akan datang jika kita mencari dan berlari mengejarnya. Maka kejarlah ilmu, raih setinggi-tinggi cita-citamu, dan genggam dunia seluas impianmu. Anakku, jangan jemu mendaki ilmu jika ingin pergi ke gunung cita.” Ah, kata-kata itu selalu mengiang-ngiang di telingaku setiap aku belajar dan membuka buku untuk menuntut ilmu.

Hari demi hari, sang waktu terus bernyanyi, tiba lah aku pada masa menginjak remaja. Seragamku telah berubah putih biru. Usai mengenyam pendidikan di tingkat dasar, ibuku seketika menuntunku ke jenjang menengah pertama. Aku bahagia. Betapa warna-warna sekolah yang penuh pelangi, penuh canda dan bahagia terukir dengan indahnya. Aku jadi teringat fantasi masa itu. Aku ingat, ketika di pagi hari bersama para sahabat menyongsong pagi menyambut matahari dengan berani. Seutuhnya terbit semangat untuk belajar dan menjemput ilmu. Berlari mengejar impian, masa putih biru yang penuh kenangan.

Dibalik wajah nan lugu, hati yang pemalu, aku mencoba tegak berdiri di atas kecengengan masa awal remajaku. Aku berangkat pagi-pagi sekali. Bergairah piket membersihkan kelas dengan ceria bersama teman-teman. Dengan tegap hormat kepada sangsaka ketika upacara. Dan patuh kepada ibu dan bapak guru. Menengah pertamaku kurajut dengan indahnya. Ribuan keajaiban hadir bersama wajah-wajah sahabat yang begitu kurindukan. Putih biru yang menyenangkan, putih biru yang penuh dengan kenangan.

Aku menyadari, masih banyak yang belum kuketahui. Dan begitu banyak yang harus kuketahui. Pengetahuan menjadi dahaga terbesar untuk kulahap. Untuk itu usai masa putih biruku berakhir aku lekas bergegas menjemput putih abu-abu. Gerbang impian nan terbuka. Satu harapku untuk meraih cita-cita yang tinggi terasa semakin cemerlang manakala pertama kali melangkahkan kaki di negeri putih abu-abu.

Suatu masa yang paling indah adalah putih abu-abu. Putih abu-abu, bukan hanya sekedar baju yang berseragam warna putih dan abu-abu. Tapi ia melukiskan jutaan keajaiban dan kenangan. Berpacu dalam prestasi. Beramai-ramai mengkhayal tiada tepi. Bernyanyi-nyanyi. Bersahabat bagai pelangi. Hadir rasa untuk peduli. Terbit rasa saling mengasihi. Mencintai. Menghormati. Menghargai. Tiada yang dibagi kecuali kehangatan untuk memberi.

Sahabat-sahabat yang seperjuangan. Seutuhnya bersekolah untuk mendapat kecerdasan dan menggapai kebahagiaan. Putih abu-abu, laksana rantaian hikmah yang selalu datang. Ketika hati bersedih ada jemari sahabat yang menyeka tangis. Ketika emosi yang berbicara ada hati yang bijaksana. Ketika tak mengerti ada sahabat yang mengajari. Dan ketika mengagumi ada cinta yang bersemi.

Coretan-coretan kehidupan di putih abu-abu gambarkan jutaan inspirasi bagiku. Kuas-kuas yang terpulas di muka kanvas menyuburkan hati yang rentan kelabu menjadi hati yang penuh warna baru. Semuanya karena sahabat, karena guru-guru, dan karena masa putih abu-abu...

Sang waktu kembali bernyanyi, menutup lembar naskah putih abu-abu. Aku merenung, mengapa masa yang demikian indah itu harus ditutup hingga kita terpisahkan?

Aku telah melepas seragam putih abu-abu, beserta dasi dan juga topinya. Aku tertunduk. Ibuku mengisahkan tentang suatu profesinya yang dengan bangga ia sandang. Yaitu profesi Guru. Betapa bangganya ia bercerita tentang profesi ini. Ia berkata, “Apa jadinya kita jika tanpa seorang guru? Dia yang mengajari, mengenalkan kita pada hal baru, membuat kita menjadi tahu, dan memberi kita hektaran ilmu. Dia yang dengan ikhlas mendidik dari hati. Dia yang dengan sabar tak henti menempa generasi. Tidakkah kau sadar berapa banyak kebaikan dan pahala yang ia dapatkan? Guru itu mulia sekali. Jadilah engkau guru yang senantiasa menebar ilmu, wahai Anakku...”

Profesi guru tersemat erat di jiwaku. Aku ingin menjadi guru yang berpengaruh dan dicintai oleh siswanya. Yang akan dekat dengan siswanya, membuat siswanya nyaman, yang membuat mereka tersenyum paham. Aku ingin menjadi guru yang mengentaskan kebodohan dengan caraku. Yang menanam bibit-bibit pengetahuan, hingga kelak dengan bahagia kulihat siswaku berhasil dengan menggenggam impian-impiannya.

Kini aku telah dewasa. Kupijaki dermaga untuk segera berlayar. Memberangkatkan nahkoda cita-citaku untuk berlabuh menjadi seorang guru. Cita-cita yang demikian erat menancap di lubuk jiwa. Cita-cita mulia, yang pengabdiannya tanpa tanda jasa. Aku ingin menjadi guru...

Murid, pelajar, siswa, mahasiswa, dan apapun namanya. Adalah periode yang tak terlepas dari sosok seorang guru. Dan semua periode itu telah kurasai. Tinggal satu langkah lagi, gelar guru itu kan kuraih. Aku akan menjadi sosok pendidik yang ditauladani, ikhlas mengabdi, mencetak cerdasnya generasi, hingga guru itu mampu membangun negeri...

* * * * *

Bandar Lampung, 6 Mei 2012
Inu Anwardani
Apapun yang Kamu Lakukan, Hidup di Atas Kebenaran!
http://langitinu.co.cc

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...