Ketika Hati Bersimpuh


Oleh: Inu Anwardani


Pada hati yang tertikam
Ada derai yang tertahan
Ada duka yang menghujam
Butiran tasbih memintal Asma
Hadir deru gebu di sana
Merintih pada selaksa cinta
Berwujud amanah yang himpit dada...

Satu demi satu, kukulum hijaiyah-hijaiyah yang terangkai pada mushaf. Kuucap lantun-lantun Kebenaran-Nya pada Kitab Suci. Kucium Quran-ku dengan syahdu. Hening. Khusyuk. Lirih. Pada Ayat-ayat Cinta-Nya, tertabur hatiku menyemai di ladang takwa, berharap kan tumbuh bibit-bibit keimanan segera kutuai.


Perlahan, butiran bening itu mengalir. Ada sesak yang hadir. Sukmaku mengiba. Betapa derasnya amanah bagai hujan bertempiasan. Silih berganti mengejar-ngejar waktu yang terhunus. Betapa banyaknya yang mesti kuemban, dan begitu banyak yang harus kuselesaikan. Sesungguhnya aku tak ingin mengeluh, tapi remuk hatiku yang berbicara. Ia berkata tak lagi sanggup mendapat pikulan beban, dan membawanya hingga sampai tujuan bukanlah keniscayaan.

Tak mudah, merengkuh hektaran amanah yang menyembul bagai matahari pagi yang merambah bumi. Tak mudah, membawa banyak amanah menuju titik persinggahan. Kalbuku menjerit, tak mampu amanah ini untuk kuterima, namun mereka memaksa. Daya apa yang kupunya? Ah, aku letih.

Aku belum berkenan menggenggam tanggung jawab yang begitu besar. Aku belum sanggup menjadi penggerak yang mampu menggerakkan. Aku belum bisa memimpin barisan di medan perjuangan. Aku takut membengkalaikan amanah yang lainnya, yang lebih dulu kugenggam dan kuemban adanya...

Aku tenggelam dalam renungan yang menggenangi suasana. Terbayang simpul senyum karib sahabat-sahabatku itu. Kulihat cerah semangatnya. Kulihat derap langkah nan tegasnya. Kulihat ghirah membuncah yang terbit dari hatinya... Oh, ya Rabbi... Aku masih jauh dari ketaatan mereka...

Keikhwananku belum semurni itu. Kiprah langkahku belum tegap. Nafasku belum tegas. Aku ingin terbang tapi aku sadar bahwa aku tak punya sayap. Aku ingin mengepak tapi aku tersadar sayapku belum lengkap. Sayapku telah terbagi-bagi untuk yang lain. Untuk amanah-amanah yang lain, hingga menyita waktu lelahku, hingga menyita waktu tidurku, hingga menyita waktu kuliahku. Bagaimana tanggung jawab ini kan kueja satu-satu, jika senantiasa ia bertempiasan, tak tahu mana yang mesti dahulu kuselesaikan. Hingga redam batinku, tapi menggigil membaca ayat-Nya yang mengancam tentang amanah.

Wahai sajadah, biarkan aku berdiri di atas permadanimu bersujud usai Panggilan Cinta-Nya berkumandang. Untuk mengangkat takbir nan keras. Membaca Fatihah nan khusyuk. Rukuk, I’tidal, dan sujud dengan tuma’ninah. Hingga tenggelam dalam ibadah. Sampai kucium keningmu di ujung sajadah. Hingga kenikmatan-Nya menjalar. Hingga membuka salam kiri dan kanan. Dalam sebuah shalat yang penuh ketenangan. Kemudian bersimpuh, menengadah doa mengetuk pinta kemurahan-Mu...

“Ya Rabbi... Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini belum berpadu. Belum berhimpun dalam naungan Cinta-Mu, belum bertemu dalam ketakwaan, belum menyatu dalam perjuangan, dan belum mampu menegakkan syariat dalam kehidupan. Kuatkan aku ya Allah... tegarkan, tunjuki, terangi... Ya Allah, bimbing aku menuju kearifan sejati hingga tiba aku di negeri orang-orang shalih, Riyadus Shalihin ya Rabb... Aku tahu aku tak mampu mengemban semua ini. Hanyalah karena belaian-Mu, hatiku menjadi tegar dan tenang, untuk terus berdiri, dan berbaris di shaf-shaf-Mu untuk mengabdi dan menolong agama-Mu... Amin!”

Rasa futurku...
Menghalangiku...
Menempuh semua perjalanan imanku
Aku pun ingat...
Semua teman-temanku
Yang masih coba membimbingku
(Fatih – Futur)

* * * * *

Bandar Lampung, 18 Mei 2012
Inu Anwardani

0 komentar nih!:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Buat kamu yang udah baca artikel ini, gimana pendapat kamu? Tulis komentarmu yuk!!!

Marquee

## Inu Anwardani ##
Jl. Sahatang 164 Baradatu, Way Kanan, Lampung

Copyright © 2011 - Langit Inu - Powered by Blogger All right reserved...